Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Surprise yang menyakitkan


__ADS_3

Andini selesai berdandan, berdiri di depan cermin dengan stelan kebaya modern serasi dengan kerudungnya dengan modifikasi hasil penata busana ahli.


Tampak cantik langsing tinggi melebihi Kakaknya Arini, terlihat sempurna. Andini memang begitulah keinginannya selalu ingin tampil sempurna dalam segala hal.


Semua keluarga telah bersiap dengan dandannya masing-masing juga mempersiapkan diri untuk acara penyambutan tamu calon besan yang akan datang sebentar lagi.


Kerabat, keluarga dekat tokoh masyarakat, dan pemuka agama juga tetangga terdekat telah hadir di rumah nya keluarga Arini.


Kebahagiaan terlihat dari sorot mata semua anggota keluarga. Sepertinya semua bersuka cita menyambut keluarga calon besan, tak lupa persiapan makanan persiapan tempat, sudah sedari awal disediakan dan satu lagi spot foto yang paling diinginkan Andini menjadi yang paling istimewa.


Semua siap dengan tugasnya masing-masing. Andini menarik nafas di dalam kamar, berusaha menahan perasaan dan menenangkan dirinya.


Andini ingin sekali melihat Mas Arman kagum dengan dandanannya, dan ingin segera melihat kekaguman itu terpancar dari laki-laki yang begitu di cintainya.


Dua mobil datang masuki halaman rumah, kalau saja satu mobil isinya 6 orang mungkin akan ada sekitar 12 orang hanya keluarga inti saja yang datang, atau kerabat dekat sebagai perwakilan dan kedua orang tuanya.


Atau bisa saja kurang, mungkin karena berhalangan


hadir atau ada keperluan lain.


Mas Hadi datang ke kamar sambil menuntun Dek Bima memberitahukan kepada Arini dan Andini kalau tamu yang ditunggu telah datang. Andini disuruh untuk menunggu sedangkan Mas Hadi mengajak Arini untuk menyambut tamu yang datang.


Yang pertama di lihat Arini adalah orang yang baru turun dari mobil pertama yaitu Ibunya Arman. Arini mengerutkan keningnya mencoba mengingat memori masa SMA nya dulu.


Perasaan Arini antara ingat dan samar lalu lupa lagi, mencoba mengingat kembali, mengingat ibu-ibu itu entah kapan dan dimana juga pada waktu kapan.


Seorang ibu-ibu yang pernah menyambutnya dengan baik, pernah berbincang dan ngobrol dengan akrab siapakah ibu itu dan di manakah kala itu?

__ADS_1


Masih dengan tatapan tak yakin Arini melihat seorang Bapak-bapak juga pernah di kenal dan terasa lekat di ingatannya walaupun tidak akrab dan sedekat dengan Ibu-ibu tadi, tapi Arini mulai berpikir itu adalah Ibu Bapaknya sahabat SMA-nya Arman.


Lalu yang ketiga Itu mungkin Ardi adiknya Arman satu-satunya, sudah tinggi besar ganteng pula yang dulu masih kanak-kanak saat Arini dan Arman masa-masa SMP dan SMA.


Astagfirullah...ada apa ini? siapa mereka? sedikitpun tidak ada yang memberitahuku orang yang akan datang hari ini adalah keluarga Arman jadi siapakah calon tunangan adikku Andini? Arman kah? Ya Allah, Ya Allah kenapa semua jadi begini kenapa, kenapa?


Belum hilang kaget rasa Andini seseorang yang begitu lekat di hatinya selalu berputar di dalam otaknya selalu ada di setiap pikirannya, seseorang yaitu Arman turun dari mobil dengan gagahnya memakai setelan jas


lengkap. Arman adalah benalu di otak dan kehidupannya.


Astagfirullah kenapa aku tidak sedikitpun curiga terhadap adikku kenapa aku tidak pernah mengecek keberadaan adikku, tidak pernah bertanya langsung siapa orangnya, siapa pacarnya selama ini, kok aku jadi Kakak bego banget tak berpikir jauh tentang hubungan adikku sendiri dengan siapa dan orang mana, begitu bodoh amat terlalu sampai aku tidak tahu.


Arini masih berharap bukan Arman calon tunangan adiknya. Tetapi semua itu hanya ada dalam harapan hatinya saja, saat dirinya masih terkaget-kaget bengong dengan keadaan, melongo dengan suasana, terpaku dalam kekagetannya Mas Hadi menggoyangkan lengannya dengan rasa terkejut yang luar biasa.


"Rin apa itu Arman sepertinya yang akan menjadi tunangan adikmu? apa Aku nggak salah lihat ini?"


"Tahan emosimu Rin kendalikan dirimu, hati-hati dalam bicara, pernyataan mu, keterangan mu tidak untuk di buka dan dikatakan hari ini dan saat ini, jangan permalukan mereka semua orang tidak tahu, kita harus tetap menghargai mereka yang punya niat baik terhadap keluargamu."


"Mas! di hadapanku betapa tak bermoral nya Arman dulu, Astaghfirullahaladzim apa Andini telah salah langkah apa aku yang salah kurang kontrol dan tidak mengontrol tidak tahu adikku pacaran dengan siapa pacarannya seperti apa dan orang mana."


Hadinata hanya diam memandang istrinya dengan rasa terkejut yang di rasakannya.


Dalam terpaku Arini tak ada yang bisa diperbuat, semua sudah jelas adiknya pacaran dengan Arman, seseorang yang telah menorehkan luka di hatinya. Seorang dari masa lalu temannya sendiri semasa SMP dan SMA yang telah membuat hatinya berdarah dengan pernyataan-pernyataannya.


Sungguh Andini tidak tahu semuanya, ada apa dengan Arman ada apa dengan Andini? sungguh semua ini ingin aku korek lebih jauh. Aku tidak tahu tujuan Arman terhadap Adikku, saling cinta? sejak kapan? jangan sampai Arman punya niat tidak baik hanya itu yang diharapkan Arini.


Masih dalam terkejutnya Arini tiba-tiba Arman menghampirinya mengajaknya bersalaman sambil tersenyum, terlihat kemenangan di raut wajahnya kalau dirinya telah memenangkan hati adiknya Andini.

__ADS_1


Dengan segala kemampuannya, daya pikat Arman telah memperlihatkan kalau dirinya lebih mampu dan bisa menaklukan adiknya Andini termasuk memenangkan hati Andini.


Hati Arini berdarah lagi sakit sesakit-sakitnya. Kembali terngiang percakapan pernyataan Arman dulu menawarkan dirinya untuk berkencan satu malam masih menyisakan luka di dalam hatinya, penghinaan nya saat dirinya membutuhkan seorang sahabat, membutuhkan uang untuk menyelamatkan perusahaannya Arini datang dengan rasa persahabatan, Arini datang sebagai teman tetapi Arman menganggapnya itu adalah sesuatu yang salah.


Arman telah menghina dirinya mencabik hatinya hingga terluka, telah melecehkan dirinya merendahkan dirinya dengan serendah-rendahnya tetapi kini Arman berbalik, Arman ingin bertunangan dengan Adiknya sendiri.


Arman berdiri dengan senyuman khasnya di hadapan Arini menyodorkan tangan tapi Arini tak menyambutnya malah menatap Arman dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis.


"Tak mengapa Arini, mungkin karena kamu masih terkejut aku maklumi semuanya. Sengaja aku sama Andini ingin memberikan kejutan buat mu, tetapi satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu aku berniat tulus terhadap adikmu ingin menjadikannya seorang istri yang teristimewa di hatiku, akan aku jadikan dia ratu di dalam rumah tanggaku karena aku sama Andini sama-sama saling mencintai itu modal kami."


Arini tak menjawab sibuk dengan gejolak hatinya, serta rasa marahnya juga rasa bencinya, semua itu masih belum hilang dari hatinya.


Arman berlalu bersama rombongan kecil keluarganya, masuk menempati tempat yang telah di sediakan.


Arini juga bergegas masuk kamar adiknya, Andini masih mematut diri di depan cermin dengan senyum yang sangat tulus terpancar dari suasana hatinya kelihatan begitu bahagia.


Arini menghampirinya dengan hati menangis melihat kebahagiaan adiknya, Andini jelas bahagia terpancar dari raut mukanya kalau Andini begitu senang dengan pertunangan ini.


Haruskah aku katakan semuanya? haruskah aku buka aib Arman di hadapan Andini yang begitu bahagia?


****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


...Sambil nunggu Meniti Pelangi up,...


Rekomendasi Novel yang sangat bagus MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU karya terbaik Haryani, jangan lupa baca, dan tinggalkan jejak fav, like dan vote nya ya🙏

__ADS_1



__ADS_2