Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Mulai bicara serius


__ADS_3

Andini memerah mukanya dan pura pura meminum lagi sisa jus jeruknya, pengakuan jujur Arman terlalu mencintainya diakui sendiri oleh Andini begitu melambungkan hatinya,pesona Arman begitu menggoda siapa saja termasuk dirinya dan kebaikannya melelehkan hati siapa saja supel ramah dan sopan,ganteng mapan dan tajir tak lepas semua itu dari seorang Arman.


"Motor kamu sudah bagus lagi kan,enak nggak di pakainya habis servis ?"


"Iya Mas,namanya juga motor tua ya segitu enaknya"


"Ya syukurlah, bilang aja kalau masih mogok mogok kan lagi dan menghambat kegiatanmu biar aku timbang saja di tukang besi tua"


"Iiiiiiiiiih...Mas tega banget,itu juga sudah layaknya suami istri lho sama aku"


"Apalagi gitu aku jadi cemburu nih haaa..."


"Yeeeee...motor aja di cemburui"


"Iya lah aku cemburu pada siapapun yang berani mencuri perhatianmu"


"Mas terlalu dan jadinya lucu,motor aja di cemburui,apa karena selalu dekat sama aku ? haaaa..."


"Ada kejutan buat kamu biar kamu nggak cemburu sama orang lain,semoga kamu senang tunggu ya"


Arman bangkit menuju meja kerjanya dan Andini mengikutinya dengan pandangannya dan dari dalam lacinya mengeluarkan sesuatu di simpannya di belakang badannya.


"Ayo tebak kejutan apa yang aku berikan ini"


"Pokoknya aku nggak bisa menebak Mas semua nggak terpikirkan dan nggak bisa membayangkannya"


"Oke tapi janji kamu harus senang ya dengan kejutan ini"


"Pasti Mas heee..."


"Nih buat kamu Andini tersayang"


"Apa ini Mas ?" Andini memegang kantong kertas yang di sodorkan Arman.


"Buka aja !"


Andini membuka bungkusan kotak dari dalam kantong kertas dan terlihatlah satu merk ponsel terbaru dengan gambar buah hilang satu gigitan,dan Andini terbelalak dan menatap Arman seakan nggak percaya,harga satu motor ini mah pasti.


"Mas,ini buat aku ?"agak syok dan masih meragu.


"Iya lah emang buat siapa ? kan kamu pacar aku"


"Mas"


"Hemght"


"Apa ini tak terlalu berlebihan ? aku jadi nggak enak"

__ADS_1


"Loh loh loh emang nggak suka ?"


"Suka banget,tapi..."


"Ssssst...aku senang dan tulus memberikannya buat kamu,aku bukan orang yang pelit apalagi pada orang yang aku cintai,aku malah nggak senang kalau menolak pemberianku"


"Mas makasih ya" Andini seakan takjub dengan benda itu tak terbayangkan sebelumnya, oh ini memang kejutan yang jauh dari perkiraannya,senyum Andini terkembang dan Arman juga senang luar biasa,Andini menimbang nimbang benda itu dan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya,di letakkan di dadanya sambil terucap kembali terima kasihnya untuk sang pemberi.


"Heemght, sudah jangan terimakasih melulu aku juga terimakasih sama kamu, telah mengisi hari hariku dengan kebahagiaan,mau dong aku jadi ponsel bisa di peluk gitu"


Andini menatap Arman dan mukanya langsung malu,dan mereka tertawa bareng.


"Semoga menjadi pengingatmu padaku dan menemanimu,dan satu pesanku jangan pernah di matiin heee..."


"Pasti Mas" Andini juga mau tidak mau jadi tertawa.


"Andini walau hubungan kita baru kemarin,tapi aku ingin serius menjalin hubungan denganmu, aku ingin kita punya satu tujuan yang pasti,apa aku terlalu cepat menyatakan semua ini ? aku ingin pendapatmu aku ingin kita sama sama mengambil keputusan dan komitmen bersama sama"


"Mas,kuliah aku belum selesai dan aku ingin merasakan dan masuk dulu ke dunia kerja apa aku juga salah punya pandangan seperti itu ?"


"Kerja ? aku sediakan lapangan kerja untuk orang lain juga,dan untuk kamu apa bedanya kelola dan manage dengan baik perusahaan ini atau mau usaha lain ? sebutkan saja mau usaha apa ?"


Andini diam dan memang semua sudah tersedia di sini,dirinya belum terpikirkan mau kerja apa dan dimana sesuai pendidikannya apa begitu mudahnya tanpa koneksi di jaman sekarang ?


"Aku butuh sama orang pintar dan bisa kerjasama dengan baik, aku ingin suatu saat istriku yang mengelola semuanya aku akan persiapkan masa depan keluargaku dengan baik,aku sudah persiapkan satu usaha lagi buat kamu dan aku nggak mau kamu kerja sama orang,aku khawatir ada yang mencuri hatimu,aku nggak rela"


"Haaaaaaaa...nggak usah sayang dan aku yang sebaliknya akan melamar kamu pada orangtuamu"


Andini yang memegang tangan Arman duluan menatap keseriusan di matanya dan menangkap apa ada keraguan di mukanya,dan Andini hanya melihat ketulusan di raut muka Arman.


"Mas,siapa sih perempuan yang nggak suka kalau diajak serius, aku pun juga begitu,aku juga mau serius dengan Mas Arman"


Dini,aku begitu senang dan bahagia ayo kita mulai melangkah dari sekarang ke arah itu,aku telah lama siap, dan menantikan saat saat seperti ini merencanakan masa depan kita,dan momennya telah aku rancang dengan matang aku ingin kebahagiaan kita menjadi satu kenyataan"


Arman memeluk Andini dengan segenap perasaannya,serasa telah memilikinya.


"Terima kasih sayang telah percaya padaku,ingatkan aku jika aku mengecewakanmu"


Andini menenggelamkan kepalanya semakin dalam di dada Arman,dan Arman mengecup ujung kepala Andini dan mengusap usap punggungnya.


"Mas aku juga mencintaimu"


Andini berbisik di dalam dekapan Arman.


"Iya aku tahu itu"


"Langkah pertama selesaikanlah dulu skripsinya dan nanti sidang kamu lulus sudah tenang paling nunggu wisuda baru kita pikirkan lagi yang lainnya ya ?

__ADS_1


"Mas"


"Hemght apa ?"


"Sudah sore banget,aku takut kemalaman"


"Biar nanti aku antar"


"Motorku ?"


"Motor lagi motor lagi"


"Heeee...aku pulang dulu ya"


"Aku mau sampai malam kita sama sama di sini"


"Nginep aja di rumahku"


Andini terkejut dan bangun melepaskan diri dari pelukan Arman.


"Mas jangan menggodaku lebih jauh ya !"


"Haaa... aku bercanda sayang gitu aja marah,nginep di rumahku bukan berarti kita tidur bareng, jangan salah sangka dulu lha di rumahku ada adikku juga sama sudah dewasa,berkunjung sekali kali ke rumahku kamu nggak apa apa biar tahu,aku tahu kamu nggak bakalan mau juga aku malu pada diriku sendiri juga orangtuamu aku kenal semua keluargamu,masa aku akan berbuat tak pantas sama kamu ?"


Andini tersenyum mendengar penuturan Arman satu poin plus lagi dari pribadi Arman masuk di hatinya,berarti ini orang serius dengan dirinya.


"Mas Aku masih muda dalam pengalaman,walau secara usia sudah dewasa belum seperti Teh Rini yang telah banyak pengalaman,seperti di dunia kerja dan pergaulannya luas, tapi aku mau belajar apapun dan siap untuk memasuki dunia kerja di bawah bimbinganmu"


"Aku suka kemandirian mu seandainya mau mengembangkan diri dan punya satu cita cita katakanlah siapa tahu aku bisa merealisasikannya dengan begitu kita bisa mengelola masing masing usaha"


"Banyak sih planing dan harapan yang ada di otakku tapi semua hanya jadi bahan diskusi saja sama teman temanku,karena kami belum bisa bergerak bebas,kegiatan akhir kuliah begitu menyita waktu dan tenaga juga fikiran kami"


"Aku berharap kamu menjadi partner terbaikku baik di kerjaan juga di rumahtangga kita nanti"


"Iya Mas"


"Aku sayang banget sama kamu"


"Kan sudah sering di ucapkan Mas heee..."


"Aku nggak bosan dan tak akan bosan walau kamu bosan mendengarnya"


"Ya sudah pulang dulu ya,nanti kemalaman bukannya aku sudah nggak kangen sama kamu tapi karena sayang aku terlalu besar padamu,aku takut kamu apa apa kalau pulangnya terlalu malam"


Andini membereskan semua barang miliknya dan di masukkan ke tasnya termasuk ponsel atau iPhone barunya,berdandan sebentar dengan menarik tas kecilnya dari dalam tasnya memeriksa semua wajah dan kerudungnya juga membereskan pakaiannya yang kusut karena terlalu lama duduk.


Arman menutup pintu dan menarik Andini ke dalam pelukannya,di tatap wajah itu dengan perasaan sayang yang membuncah.

__ADS_1


Arman melupakan semua masalahnya yang ada hanya perasaannya dan cintanya pada Andini tak terbendung.


__ADS_2