
"Kamu mau jalan jalan ke mana Din ?"
"Aku nggak tahu Kak, terserah Kak Arman yang penting nanti aku jangan di tinggal aja dan antar pulang ke kost an aku"
"Nggak lah biar aku sekap kamu dan culik kamu haaa... biar nanti cowoknya nyusul dan cariin aku"
"Aku belum ada cowoknya Kak Arman,paling juga cewek Kak Arman yang maranin aku nanti bikin geger satu RT"
"Haaaa...nggak lah aku juga sama sama kamu jomblo, ceweknya kabur semua di bawa cowok lain"
"Serius Kak Arman jomblo ?"
"Berarti kita sama dong haaa..."
"Aku nggak percaya cewek secantik kamu nggak ada yang punya"
"Kalau ada cowoknya nggak mungkin motorku seperti itu Kak,minimal ada yang tahu kenapa mati dan memeriksa lah barangkali cowok lebih tahu penyakitnya,apa kabel nya putus,atau apanya"
"Haaaaaaaa...baru aku percaya"
"Aku lagi menunggu seseorang juga Din di umurku yang sudah bukan ABG lagi,tapi jodohku nggak kunjung datang,tapi sudahlah ayo kita jalan jalan aja yang penting kita senang ya kan ?"
"Iya Kak,kalau kata orang tua mah jodoh itu jorok nggak tahu joroknya di mana,yang pasti di kejar-kejar dia malah berlari dan kalau kita berhenti juga menunggunya jodoh juga malah berhenti jodoh hanya menjadi rahasia Allah Yang Maha Kuasa"
"Ayo kita turun"
Arman membukakan pintu untuk Dini dan Arman menyodorkan tangannya memegang membantu Dini untuk turun dari mobil yang lumayan agak tinggi, ada rasa tersendiri di hati Arman entah perasaan apa yang pasti mungkin hatinya bahagia dan gembira bisa bertemu dengan seseorang yang dulu masih kecil mungkin SD waktu dirinya SMA berteman sama Kakaknya.
"Din karena kamu masih jomblo jadi aku bebas mentraktir kamu, silahkan mau apa,atau kita makan saja dulu gimana ?"
"Terserah Kak Arman saja"
Arman menarik perlahan tangan Dini dan menggandengnya seakan mereka sudah lama bertemu dan sudah terbiasa berteman,di hati Andini juga ada rasa tersendiri yang entah apa itu sesungguhnya daya tarik seorang Arman begitu menarik hatinya juga kebaikannya,dengan uangnya Arman nggak pelit kelihatan orangnya begitu perhatian, walaupun seusia dengan Kakaknya sesuatu yang ideal bagi dirinya perbedaan usia paling 5 tahun 6 tahun tidaklah mencolok cukup bagi seorang perempuan dan seorang laki-laki dewasa untuk berteman.
Berdua duduk berhadapan di salah satu stand makanan siap saji,cukup bagi keduanya untuk saling mengagumi dan memandang jelas wajah di hadapannya.
__ADS_1
Andini orangnya tinggi langsing dengan kerudungnya hitam polos dan setelan almamater terlihat lebih cantik, tinggi semampai seperti halnya Kakaknya Arini, kulit lebih putih cantiknya sama saja,seperti hal nya juga Dini menilai kepada Arman seorang yang tampan pria dewasa matang dan mapan dengan penampilan masa kini dalam hatinya mustahil Kak Arman tidak punya cewek, dan pada kenyataannya sama saja jomblo seperti dirinya.
"Ayo mau pesan apa lagi habis ini ?"
"Udah ah Kak aku kenyang"
"Buat di bawa pulang,bawa aja apa kek"
"Siapa yang makan ?"
"Buat tetanggamu barangkali heee..."
"Pokoknya aku makasih banget ya Kak,jangan kapok bawa aku jalan jalan lagi heee..."
"Nggak lah nggak kapok asal kamu nya ada waktu dan nggak ada yang marah"
"Terus kita pulang sekarang Kak heee...?"
"Aku sih terserah kamu saja,mau nonton boleh mau jalan jalan lagi boleh mau pulang langsung juga boleh"
"Eith... jangan dulu biar kita nikmati perkenalan ini,nanti aja dan aku akan bikin surprise buat Kakakmu,gimana kamu setuju ?"
"Maksud Kak Arman apa ?"
"Dini aku itu dari dulu di mata Kakakmu adalah orang yang gak bisa dipegang omongannya, plin plan,banyak mantannya heee... seorang yang nggak sabaran seorang yang terburu-buru sampai aku di juluki seorang perusuh di sekolah itu,tapi sekarang walaupun dulu aku banyak mantannya semua sudah pada kelaut,aku sekarang jomblo alias sendiri sudah lama,dan kesibukanku hanya bekerja dan bekerja,sampai pada suatu hari aku berniat meluangkan waktu untuk diriku sendiri untuk menikmati apa saja yang ada di hadapanku dan ujung-ujungnya kesadaran telah datang pada diriku ini aku ingin seperti orang lain Aku ingin bahagia aku ingin punya keluarga punya istri dan anak, apa lagi sesuatu yang diinginkan seorang laki-laki ? selain itu semua, bermuara pada hal itu terus terang aku bertemu kembali dengan Kakakmu beberapa tahun yang lalu,tapi ujung ujungnya aku kecewa, Kakakmu telah memilih jalan hidup dan masa depannya sendiri, apa kamu mengerti di ini ceritaku ini ?"
"Apa Kak Arman pernah menjalin hubungan dengan Teh Rini ?"
"Belum dan mungkin tak akan pernah,karena aku melihat sinyal Arini hanya memandang aku sebagai sahabatnya,walau pada awalnya aku dan Kakakmu bertemu kembali di kota ini aku menyimpan harapan yang begitu besar"
Andini mengangguk angguk.
"Dini bolehkan kalau kita mulai sekarang jadi teman ? dan rahasiakan dulu semua ini pada Kakakmu ya takutnya Arini salah faham padamu juga padaku gimana ?"
"Nggak apa apa Kak aku setuju aja,memang pandangan orang kadang lain lain,tujuan kita begini di tapsirkan orang malah lain lagi"
__ADS_1
"Oke makasih ya Dini telah menemaniku hari ini"
"Yang terimakasih itu aku Kak, Kak Arman yang sudah bantu dan traktir aku hari ini"
"Sudahlah ayo kita pulang,tapi sebelum pulang aku mampir dulu ke kantorku ya aku mau beres-beres sebentar nanti sebelum pulang aku antar kamu dulu ke tempat kost kamu gimana ?"
"Ya Kak"
Arman berjalan berdampingan dan tanpa sadar mereka bergandengan tangan keluar dari Mall itu,dan saat Dini menyadarinya Dini menarik perlahan tangannya sambil tersenyum,dan Arman juga sama tersenyum menyadari kesalahannya dan meminta maaf.
Sampai kantornya Arman, Dini merasa kagum akan semua pencapaian dan kerja kerasnya, ternyata Kak Arman begitu maju dalam usahanya,punya kantor sendiri begitu megahnya dan Kak Arman sendiri adalah pimpinan sekaligus pemilik di perusahaan ini,pantesan keheranan Dini terjawab sudah,mobil yang di naikin nya tadi adalah mobil seorang pemilik perusahaan kontraktor ini.
Arman masuk ke ruangannya di sambut senyum senyum asistennya yang langsung batuk batuk dan ber dehem kecil,Dini tahu itu hanya menggoda nya dan semua itu biasa,Arman hanya melotot pada sekretaris yang juga asistennya itu,dan Dini hanya tersenyum saja.
"Silahkan duduk dulu Din"
"Makasih Kak"
"Maaf Din boleh nggak kalau manggilnya jangan "Kak" panggil aja namaku atau Mas saja terasa kedengarannya enak kan kita bukan Kakak adik kan ?"
"Oh boleh aja tapi kalau aku masih kagok kagok maaf ya soalnya aku kepikiran masa masa dulu Kak eeeeh...Mas"
"Nggak apa apa tenang aja, kamu mau minum apa tinggal bilang aja nanti aku pesankan"
"Nggak usah Mas kan kita nggak lama lama di sininya"
"Heee...gitu dong manggilnya Mas kan kita jadi akrab lama lama juga akan biasa"
Dini hanya senyum saja dan masih merasa malu.
"Kan Dini sekarang sudah tahu kantorku di sini,jadi jika suatu saat Dini mau main kesini tinggal datang aja, tau kan sekarang datang ke sini tahu jalannya nggak kalau pakai motor kalau enggak nih aku kasih kartu nama aku aja ya biar mudah mencarinya di belakangnya ada peta wilayah dan lokasinya"
"Iya Mas"
"Ayo kita pulang nggak enak keburu sore banget ini"
__ADS_1
Dini berjalan duluan dan Arman mengiringinya.