
"Mamanya siapa?"
"Mama Rini."
"Papanya?"
"Papa Hadi."
"Kamu pinter banget sayang ini om, om Arman." Arman menunjuk dadanya sendiri meyakinkan Bima dalam kenalannya.
"Om baru Bima ya jadi dua om nya sama om Arya?"
"Haaaaa...iya Bima, nanti seterusnya jadi om kamu."
Bima lari lagi kemana dia suka, tertawa dan bergaya seperti super hero kesukaannya yang lagi beraksi. Arini keluar sama Mas Hadi tapi tak bergabung dengan Andini dan Arman mereka membikin satu lagi kumpulan orang-orang seperti kubu-kubuan gitu.
Arini merasa tak ada perlunya berbasa-basi dengan perusuh Arman, hatinya mungkin masih kaget atau masih sakit dan belum bisa terima semua ini.
Ingin rasanya acara ini segera selesai dan semua pulang, biar dirinya merasa longgar untuk bernafas.
Ibunya Arman malah datang ke hadapannya dengan sengaja, yang tadinya Arini tak ingin berbasa-basi dengan siapapun dengan keluarga Arman juga Orangtuanya.
"Neng Rini masih ingat Ibu kan? Ibu nggak tahu asalnya kalau Neng Dini itu adiknya, mungkin karena kita juga sudah lama tak bertemu."
"Iya Bu, maaf saya juga baru tahu kalau adik saya pacaran sama anak Ibu."
"Maaf malah dulu Ibu mengira anak Ibu mau pacaran sama Neng Rini, tapi sampai dewasa malah nggak nunjukin riak-riak akan serius berumahtangga."
"Heeeee..."
"Selalu alasan, mau sukses dulu bekerja biar semua gampang nanti sudah siap segalanya."
"Sama, Bu karena kita jarang ketemu, jadi nggak tahu perkembangan masing-masing, apalagi saya, tahunya tadi saja waktu keluarga Ibu pada datang ke sini."
"Ah masa Neng Rini baru tahu mereka pacaran? mereka lama pacaran, pernah anak Ibu Arman entah kapan dia memberitahu Ibu kalau sudah menemukan yang serius dan memohon kepada Ibu untuk merestuinya, karena yang Arman pilih adalah masih satu daerah dengan dirinya."
Arini diam, mencoba menemukan satu makna dari obrolannya dengan Ibunya Arman, kalau Arman begitu serius dengan adiknya Andini dengan satu keyakinan Arman melibatkan kedua orangtuanya.
"Waktu itu Ibu heran dan menebak-nebak siapa orangnya sampai pada suatu saat Arman pulang dengan sengaja memberitahukan kepada Ibu sama Bapak, dan bertanya pada Ibu apa Ibu masih kenal dengan teman semasa SMP sama SMA ya Neng Rini ini, jadi Arman berhubungan dengan adiknya sungguh Ibu tidak tahu yang mana orangnya. Ibu tahu hanya Neng Rini saja, tak ada kata penolakan dari Ibu sama Bapak Ibu sama Bapak merestui niat baik mereka untuk melangkah ke gerbang rumah tangga mereka.
__ADS_1
"Iya Bu, kita do'akan saja."
"Neng Rini semakin cantik saja, anaknya sudah berapa?"
"Ah Ibu, jangan berlebihan, anak baru satu, itu yang lari-larian."
"Neng Rini kerja juga?"
"Iya Bu, kerja hanya ngebantuin suami."
"Apa Neng Rini tahu kalau Arman juga tinggal di Bandung?"
"Dulu tahu Bu, tapi semenjak saya menikah dan karena kesibukan masing-masing kami putus komunikasi."
"Kita do'akan mereka ya Neng Rini semoga mereka berjodoh dan jodohnya itu yang terbaik buat mereka."
"Iya Bu, semoga mereka bahagia."
"Neng Rini mau lama di sini? main atuh ke rumah Ibu, masih ingat kan?"
"Ingat lah Ibu, terimakasih mungkin lain kali, saya juga paling nginep semalam di sini besok siang sudah berangkat lagi."
Andini dan Arman sibuk berfoto bersama di background yang sudah tersedia, begitu nampak kebahagiaan dari wajah mereka.
Biarlah mungkin ada saatnya nanti, pasti suatu saat Andini akan curhat dan mengadu kalau ada kekecewaan, tapi semoga aja nggak ada hal seperti itu.
"Mama kata Tante Rini di foto katanya." datang Bima mengajak mungkin Andini yang menyuruh.
"Iya nanti sama Papa juga Nenek."
"Kata Tante Dini sekarang."
"Iya, nanti Mama ajak Papa dulu."
Mau tidak mau Arini memenuhi ajakan adiknya untuk berfoto sekedar untuk kenangan, dan langsung meninggalkan mereka setelah selesai.
Ada gelagat tak enak di mata Arini saat melihat sosok Arman kini, entah karena dirinya masih membencinya atau ada hal lain yang begitu cemas dan tak tenang hati Arini melepas adiknya untuk hidup bersama Arman.
Bayang-bayang waktu dirinya datang ke kantor Arman begitu jelas terbayang dan terngiang di telinganya. tapi semua harus di tahannya demi satu hati dan hati hati lain yang akan tersakiti.
__ADS_1
Arini menjadi bimbang, seperti apa dirinya harus menyikapi semuanya.
Arini duduk di teras depan dengan Hadi suaminya, menikmati suasana malam yang terasa nyaman, angin semilir dedaunan dan pohon terasa sejuk memanjakan mata, sementara di dalam rumahnya masih sibuk tamu orangtuanya dan Andini masih pada ngobrol.
Selang setengah jam baru tamunya pada pamitan setelah mereka mendapat kepastian dan tanggal yang mereka telah sepakati bersama.
Meraka berpamitan dan bersalaman dan di antar sampai mereka naik ke mobilnya masing-masing.
Arman mencium tangan Arini saat pamitan dan tangan sebelahnya menggandeng Andini yang tersenyum di sampingnya.
"Makasih atas kehadiran dan do'a nya buat kita berdua Rin."
"Iya, semoga ini titik awal baik buat kalian berdua."
"Semoga Rin, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa depan kita, dan hari ini mungkin Yang Maha Kuasa telah membimbingku ke arah yang benar."
"Kita tinggal bersyukur, bukan takabur dengan apa yang kita miliki."
"Terimakasih Arini, atas semuanya dan maafkanlah aku, aku bukan teman yang baik buatmu." Arini tak menjawab, walau hatinya ingin menunjuk muka Arman dan mengatainya dengan kasar tapi semoga saja Arman kini bukan Arman yang dulu begitu sombong, arogan dan egois dengan semua yang di milikinya.
Hingga melupakan arti persahabatan mereka, dan menganggap persahabatan itu tak memiliki arti lagi.
Arman sekarang memang sudah sukses dan berhasil, pengusaha kontraktor sukses dan di segani, berlimpah harta aset dan kekayaan tapi di mata Arini Arman tetap seorang kerdil yang sombong.
Arman dulu menganggap cinta bisa di beli dengan hasil keberhasilannya, tapi tak mudah bagi semua orang, karena cinta adalah kata hati yang hanya hati bisa menjatuhkan pilihannya.
Arman berlalu naik ke mobilnya diantar adiknya Andini dan kedua orangtuanya.
Acara usai, menyisakan perasaan hati mereka masing-masing.
Andini yang begitu berbunga satu bulan lagi dirinya akan resmi jadi nyonya Arman dan tinggal di rumah impian mereka.
Semua akan menjadi kenyataan, berdampingan hidup dengan orang yang di cintai dan mencintai dirinya itu dambaan semua orang. Dan semua itu akan Andini jalan sebagai istri yang baik.
Hati Andini sangat berbunga, membayangkan persiapan selama sebulan akan menjadi satu pengalaman yang paling menyenangkan bersama Mas Arman.
*****
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
__ADS_1
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pesona Aryanti karya Enis Sudrajat🙏❤️