Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Sampai Rumahku


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Dek Bima yang paling senang dan Mas Hadi kelihatan lebih senang lagi, senyum selalu terkembang dari wajahnya, entah karena keinginannya dari malam terpenuhi atau soal lain, entahlah.


"Dek Bima tadi habis nggak sarapannya?"


"Habis Mama."


"Iya Bi?"


"Iya Neng"


"Terus kita sekarang mau ke mana?"


"Mau ke tempat Kakek sama Nenek"


"Mau apa."


"Mau mancing sama Kakek."


"Papa juga mau mancing ah...mancing adik buat Dek Bima mau nggak?"


"Mau, mau, mau..." Bima bertingkah seperti senangnya saat di kasih mainan baru.


"Adiknya mau cewek apa cowok?"


"Cewek, yang cantik kayak Tante Dini."


"Kok Tante Dini? memangnya Mama Rini nggak cantik?" Bima diam, berpikir mungkin dan nggak kepikiran kalau Mamanya juga sama cantiknya.


Arini, Hadinata dan Bi Minah pada tertawa.


"Senang nggak Dek Bima pulang kampung?" Arini bertanya lagi.


"Cenaaaang..." Bima menjawab dengan antusias.


"Kalau senang, jangan bolak balik aja duduknya mau di depan sama Mama, apa di belakang sama Bi Minah?"


"Di belakang aja."


Bima memang menggemaskan bicaranya sudah fasih. Arini dan Hadi terlalu memanjakannya layaknya anak emas mereka, tiap waktu di timang-timang sebagai anak kesayangan, tetapi jiwa anak-anak nya tak hilang. terkadang bertingkah lucu juga terkadang galak juga terkadang manja ingin di sayang.


"Mama, Tante Dini juga ikut pulang?"


"Iya sayang, nanti juga kita ketemu di rumah Kakek."


"Nanti Bima bakalan punya Om baru, selain Om Arya." Hadi melirik anaknya Bima.


"Nanti Om nya jadi dua ya Papa?"


"Betul itu. Kita lihat siapa yang lebih ganteng Om Arya, apa Om barunya."


"Orang mana katanya Rin calonnya Andini?"


"Mana aku tahu Mas, sejak Dini punya pacar, pacaran, terus belajar usaha, kan dia nggak pernah datang ke rumah. Udah beberapa bulan ini dengan alasan dari awal memang sibuk mungkin skripsi, sidang dan kesininya keterusan makanya aku juga penasaran."


"Kamu nggak pernah nelephon Ibumu barangkali tanya gitu."

__ADS_1


"Si Andini ini, mungkin sama Ibu Bapak juga kasih tahunya mendadak juga mungkin."


"Semoga aja pilihannya Andini orang yang tepat."


"Iya Mas, semoga."


Sepanjang perjalanan Arini seperti menapak tilas perjalanan nya sendiri dari awal berangkat dari rumahnya, kuliah, merantau dan sampai hari ini. Ada berbagai cerita yang mengiringinya.


Pertama bekerja di stasiun radio Riang 14.89 Fm sebagai penyiar amatir, cita-citanya yang kesampaian ingin kerja di bidang penyiaran sebagai penyiar radio akhirnya kesampaian juga.


Seiring waktu berjalan Arini semakin banyak di idolakan, dan jadilah penyiar senior yang punya bakat dan hobi di bidangnya. Menjadikan Arini orang yang di segani sesama penyiar sejawatnya.


Sampai pada akhirnya Arini di daulat menjadi pimpinan karena dedikasinya yang cukup tinggi totalitas dalam bekerja. Kepintarannya menjadikan Arini juga seorang yang tekun dan ulet menggeluti bidangnya itu.


Setali tiga uang, entah ada hubungannya antara jabatan dan perasaan Hadinata saat itu, menjadikan Arini pimpinan nomor satu di perusahaanya itu.


Keduanya sama sama-jatuh cinta dan Hadinata telah mengikuti Arini sejak Arini bergabung di perusahaannya.


Awal cinta dan cerita asmara yang sangat rumit bagi keduanya dikarenakan saat itu Hadinata sudah berkeluarga dan memiliki seorang Istri yang bernama Hesti Hadinata sedangkan saat itu Arini berstatus single "high Quality jomblo' dan masih lajang.


Kontan hubungan keduanya mendapat tentangan keras dari kedua orang tuanya Arini, saat Hadinata melamar ingin mempersunting Arini.


Akhirnya dengan segala daya dan usaha sampai pada titik akhirnya Hadi dan Arini di restui juga, dan tak butuh waktu lama mereka menikah dengan permasalahan yang masih membelit mereka.


Arini tersenyum saat mengingat perjalanan cintanya dengan Mas Hadi, akhirnya kedua orang tuanya mengizinkan mereka dengan berbagai alasan dan usaha Pak Priyo juga ikut andil dalam memuluskan meminta restu kedua orang tuanya.


Mungkin kedua orang tuanya


Arini mengerti kalau dalam pernikahan pertama Hadinata tidak membuahkan kebahagiaan dikarenakan istrinya sakit. Jangankan untuk memiliki anak sepanjang hari sepanjang waktu hanya obat, rumah sakit, dan dokter juga pengobatan yang ada dalam hari-harinya.


Pernikahan Hadinata dan Arini atas seizin Hesti yang waktu itu mereka telah pisah walau tak bercerai. Sampai pada akhirnya maut menjemput Hesti saat Hadinata masih dalam masa-masa pengobatan mengalami lumpuh karena kecelakaan di tabrak orang tak dikenal.


Tak henti-henti Dek Bima bernyanyi dan bertanya tentang segala hal yang dilihat dalam perjalanan mereka. Hingga akhirnya karena ngantuk juga mungkin sudah saatnya akhirnya Dek Bima tidur dengan sendirinya di pangkuan di Minah.


"Pas sampai pas dek Bima tidur."


Kedua orangtua Arini menyambutnya dengan sukacita dan yang paling di kangenin adalah cucu pertama mereka Dek Bima.


Mereka terhenyak saat melihat cucu kesayangan mereka tidur, Akhirnya Dek Bima di pangku Kakek nya di pindahin ke kamar Arini.


Andini yang keluar dari rumah menyambut juga kedatangan Kakaknya dan mencium Dek Bima di pangkuan Bapaknya.


"Dini jam berapa kamu datang semalam?" setelah mereka duduk di ruang keluarga.


"Jam delapan Teh, kenapa memang?"


"Mana orangnya, calon tunangan mu itu?"


"Ya nanti ke sini nya pas acara, kan acaranya malam."


"Bukannya semalam sama kamu ke sininya bareng?"


"Iya, tapi kan dia di rumah orangtuanya."


"Memang orang mana?"

__ADS_1


"Alah nanti juga Teteh bakal tahu, ayo minum dulu nih, Mas Hadi di mana? mau kopi apa teh minumnya?"


"Itu di kamar nemenin Dek Bima tidur."


Arini masuk kamar dimana anak dan suaminya lagi tiduran bersisian.


"Mas, minum dulu atau mau makan? aku belum lihat apa ada makanan yang sudah siap apa belum di belakang."


"Aku istirahat dulu deh sayang, kecapaian naik mobilnya tadi."


"Naik mobil apa naik aku dari semalam yang membuat Mas capek?" Arini menggoda suaminya.


"Haaaaaaaa...kalau naik kamu mah aku nggak bakal ngeluh capek malah lagi dan lagi."


"Dasar, otak nggak beres."


"Sekarang juga ayo kita realisasikan harapan punya adik Dek Bima di sini."


"Mas! jangan mengada-ada deh, ayo kita keluar, masa baru datang kita langsung ngamar."


"Tapi malam nanti ada suasana baru ya di sini."


"Iya, ayo keluar, ngobrol sama Bapak tuh aku mau cek persiapan si Andini, lagi pasang background spot photo."


"Eh Rin, sini dulu dong aku mau cium kamu, sama peluk kamu."


"Mas, ada apa sih sepertinya kelewatan deh tingkah Mas hari ini dari semalam, yang tunangan adikku kok yang seperti terpancing panas Mas?"


"Memang aku nggak boleh kangen sama istriku apa?"


"Bukan gitu Mas, tapi aneh aja."


"Suami pengen peluk cium kok di bilang aneh."


"Sepertinya aku sembuh bener dari sakit itu Rin, pokoknya fit banget, semangat terus dan gairah, juga enak makan enak tidur dan enak yang satu itu, heee..."


"Kan mas sudah lama sembuh"


"Iya, tapi sembuh itu nggak sekaligus, aku seperti kembali ke awal-awal kita baru menikah saat ini."


"Hati-hati gemuk tuh badan."


"Makanya harus banyak olahraga malam."


"Dasar! Push up aja sendiri."


"Maunya di atas kamu!"


Arini mau keluar tapi tangannya di tangkap Hadi, mereka berciuman di balik pintu. Memang benar kerinduan dan kemesraan mereka berdua semakin menjadi semenjak Mas Hadi sembuh, seperti ingin menebus waktu yang terbuang saat kurang lebih tiga tahun mereka nyaris tak berhubungan suami istri.


****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


...Sambil nunggu Meniti Pelangi up, ...

__ADS_1


...Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Sekretaris Dadakan karya terbaik pencil_kecil 🙏...



__ADS_2