Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Gamang


__ADS_3

Andini menutup rolling door nya tanpa kesulitan dan mematikan lampu juga beres-beres sudah itu berdua naik ke lantai dua lalu Andini melempar badannya ke tempat tidur terlentang di tempat tidur Andini senyum senyum sendiri telephon Arman dengan video call dan Dewi yang melihatnya geleng geleng kepala sungguh si keong ini lagi kasmaran,Dewi langsung meninggalkan Andini masuk ke kamar mandi mau bersih bersih dulu.


"Halo sayang"


"Ya Mas halo juga"


"Sudah tutup ?"


"Iya kan Mas lihat aku lagi di mana ini ?"


"Terasa aku pengen terbang kesana dan ingin ada di sisi kamu"


"Mau apa ?"


"Mau apa ya aku nggak tahu"


"Suka pura pura deh" Andini bicara begitu manja.


"Aku mau yang ini heee...boleh nggak ?" Arman menunjuk bibir Andini yang ada di ponselnya,dan terus Arman menunjuk yang lainnya.


"Boleh tapi dengan banyak syarat"


"Waduh berat nggak ya syaratnya ? jangan pakai syarat dong apalagi yang berat berat kan rindu ini juga sudah begitu berat aku rasakan"


"Ya sudah aku nggak jadi pakai syarat deh karena Mas mencintaiku juga tanpa syarat heee..."


"Terimakasih sayang,berarti kalau aku pulang boleh dong langsung ke tempatmu ?"


"Ya boleh lah ini juga kan tempatmu Mas jadi aku nggak ada hak melarang kamu Mas"


"Heaith...maksudku bukan itu, jangan anggap itu punyaku tapi punya kita biar kamu merasa memiliki juga,aku hanya kangen sama kamu dan boleh kalau aku langsung datang ke tempatmu itu ? aku nggak mau pulang dulu ke rumah sebelum ketemu sama kamu"


"Bo-boleh Mas"


"Kok jawabnya seperti ragu gitu ?"

__ADS_1


"Harusnya jawab apa ?"


"Ya sudah aku tahu kita sama-sama grogi karena sama-sama kangen heee... gimana respon pembeli hari ini sayang ? sudah belanja barang lagi ?"


"Alahamdulillah Mas semakin meningkat walaupun pada awalnya aku merasa sedih dengan pendapatan yang begitu minim tapi sekarang aku sudah bisa sedikit tersenyum"


"Jangan berkecil hati sayang semua juga ada prosesnya apalagi kita belajar dari awal walau segitu juga aku sudah merasa bangga padamu itu berarti kamu sudah bisa menjalankan apa yang aku percayakan"


"Iya Mas ini juga aku bersyukur banget selain aku nggak nganggur nganggur banget masih bisa kegiatan di kampus sekali-kali,juga bisa ada pendapatan dan aku benar-benar ingin memperlihatkan tanggung jawab di hadapan Mas, Mas kan yang memberikan kepercayaan kepadaku dan aku harus bisa menjalankan semua ini dengan baik"


"Jangan dulu banyak beban dan berpikiran yang lainnya, di jalankan aja apa adanya Aku tidak menuntut apa-apa dari usahamu itu berjalan dengan baik lancar juga aku sudah bersyukur"


"Baru besok aku mau belanja dan melihat produk yang baru datang Mas"


"Ya ya ya... hati hati ya"


"Mas kapan pulangnya ?"


"Masih belum pasti sayang tapi dilihat dulu kalau sampai besok semua sudah beres aku langsung pulang tapi kalau masih ada yang mesti dibahas ada sedikit ada ketidak cocokan dianggaran mungkin nanti akan diajukan kembali dan dan akan dicapai kesepakatan emang kenapa ?"


"Pengen cepet tahu surprise nya ya ?"


"Iiiiiiiiiih...nggak Mas malah aku nggak kepikiran sama surprise itu tapi yang aku pikirkan aku kangen sama Mas Arman"


"Ya sudah semoga besok aku bisa pulang,eeeh tadi katanya besok mau belanja jadi toko nya buka siangan ya ?"


"Tahu Mas ini lagi ada teman Dewi nginep di sini nggak tahu dia mau apa nggak nungguin dulu aku sampai aku pulang dari belanja besok sengaja aku ajak nginep malam ini lagian dia juga nggak ada kerjaan di sana dari tadi siang di sininya"


"Waduh ! jadi kita sayang-sayangan kangen-kangenan di denger dia dong ?"


"Nggak apa apa udah gede ini kok, sama dia juga apalagi dia sudah pengalaman pacarannya berkali-kali ganti-ganti sampai mantan yang enggak kehitung"


"Hah ? nggak kehitung gimana ?kalau kamu gimana mantannya sama banyaknya nggak ?"


"Kan kita harus membuat prestasi di bidang apa aja,ya temanku si Dewi memilih jalur ini heeeee..."

__ADS_1


"Bohong Mas Arman nih Dini yang punya julukan si keong karena diam diam menghanyutkan !" Dewi teriak sambil tertawa merasa nggak terima di katakan berprestasi banyaknya mantan.


"Haaaaaaaa...kalian sama sama punya prestasi jongkok rupanya"


"Tenang aja Mas,si keong aku jagain biar nggak ngelayap kemana mana" Andini hanya senyum saja.


"Iya Wi mungkin aku bisa gila kalau dia hilang atau di ambil orang"


"Nggak Mas Dini cinta mati sama Mas Arman katanya" Dewi semakin berani jahil pada temannya.


Andini merebut ponselnya dan tertawa ngakak di hadapan Arman,dan Arman hanya bisa nyengir dan merasa senang mendengar tawa Andini walau dari kejauhan,dan mereka menutup sambungan telephon setelah saling berucap kangen dan cinta berkali kali.


"Ceilaaaaa...yang kangen sebegitu nya,hati hati kalian belum dapat batu sandungan tuh, cinta akan mengajarkan kamu merindu dan tertawa juga menangis dan kecewa Neng keong !"


"Sepertinya nggak ada tangis dan roman roman mendung di hubungan gue sama Mas Arman Wi kecuali gue nangis karena saking kangennya heee..."


"Semoga aja friend kamu yang terbaik dan Mas mu itu yang terbaik pula buatmu"


Andini dan Dewi lanjut ngobrol sampai larut malam,dari mulai drakor yang sudah jarang di tonton Andini juga gossip lainnya.


Sunyi yang tersisa di kamar Arman saat sambungan telephon terputus,hanya perenungan yang yang ada di dalam fikiran dan otak Arman saat ini,di satu sisi ia begitu mencintai Andini dengan segenap hati dan perasaannya, tetapi di sisi lain perasaan bersalah terhadap Kakaknya Andini yaitu Arini yang telah dilakukannya beberapa waktu kebelakang menyisakan penyesalan di dalam hatinya dan juga dosa-dosa lain yang Arman sendiri tak sanggup untuk mengakuinya di hadapan Arini.


Sesal yang mendalam di hati Arman hanya Arman yang tahu dan semuanya itu menuntut Arman untuk berterus terang suatu saat nanti mungkin itu satu-satunya yang akan membuat dirinya tenang dan hubungannya dengan Andini dipertaruhkan, tapi Arman punya keyakinan sendiri kalau Andini mencintainya sama seperti dirinya terlepas dari semua kesalahan Arman terhadap Kakaknya Dini yaitu Arini di masa lalunya.


Berterus terang mungkin itu suatu jalan untuk Arman menuju kedamaian di masa depannya dan Arman sendiri telah mempersiapkan segalanya juga Arman belum memilih waktu yang tepat untuk berterus terang di hadapan orang tua Andini dan Arini sendiri apakah aku ini seorang yang layak dimaafkan atau tidak ? dan apakah aku akan berterus terang setelah aku mendapatkan Andini menjadi istriku atau sebelumnya dan itu yang menjadi pertimbangannya karena saat ini semua masih di timbang-timbangnya.


Arman begitu gamang dengan masa depannya,kesalahan di masa lalunya telah membuatnya seperti masuk dalam buih tak berarah,membawa Andini pada orangtuanya akan ada Kakaknya yang akan menjadi halangan, tidak kondusifnya hubungan Arman sama Arini akhir akhir ini membuat Arman mengulur selalu ajakan Andini ke rumah Arini untuk sekedar mengenalkan dirinya.


Tak terbayangkan apa pandangan Arini pada dirinya mungkin merasa jijik dan benci atau sejenis perasaan benci lainnya.


Arman berpikir lain malah ingin mengajak dulu Andini pada orangtuanya dan menunggu orangtuanya Andini yang memberitahu pada Arini jadi Arman menunggu apa reaksi Arini, mungkin itu yang terbaik.


Ah semua begitu sulit untuk di jalani tapi semua harus di hadapi,


Arman melihat-lihat photo Andini dengan berbagai pose ada yang sendiri juga berdua dengan dirinya,ada senyum di bibir Arman melihat wajah cantik yang sekarang mengisi lubuk hatinya, akankah kita bersatu sayang ? Arman membelai wajah yang teramat di rindukannya.

__ADS_1


__ADS_2