
Selesai makan lanjut bicara serius berunding soal pernikahan, walau sebelumnya sesudah tunangan ada bahasan tentang itu.
Hans Wijaya pulang duluan setelah solidaritas teman ikut menghadiri acara wisuda Andini sebagai calon istri sahabat dekatnya.
Belum sempat ngobrol dekat dan akrab sama Andini, karena nggak adanya waktu, padahal begitu ingin Hans Wijaya dekat dengan calon istri sahabatnya itu, siapa tahu Andini punya sahabat atau teman dekat yang bisa direkomendasikan dan dikenalkan kepada dirinya.
Sulitnya di saat usia telah dewasa mencari pasangan hidup merasa lebih sulit karena mungkin lebih selektif dalam memilih dan mempertimbangkan baik buruknya.
Memberikan resep pada temannya memang begitu mudah daripada mempraktekan sendiri.
Hans Wijaya merasa lucu melihat kisah temannya, mereka taruhan dengan nilai fantastis mengikuti ambisi masing-masing, saat usia tak lagi ramah menyapa. Dalam sulitnya mencari kecocokan pasangan.
Ikut di acara wisuda tunangan temannya Arman hanya cuci mata saja siapa tahu ada kesempatan, tapi ternyata salah, mereka sibuk dengan acaranya masing-masing dan yang paling ingin tahu Hans adalah pengen lihat kakaknya Andini yaitu Arini entah untuk alasan apa.
Ingin saja Hans tahu walau Arini sudah bersuami dan punya anak, konyol memang, tapi mendengar cerita temannya Arman merasa tertarik saja hanya ingin tahu saja.
Yang paling ingin tahu kenapa temannya sampai tergila-gila dan seperti susah untuk melupakan, apa Arini secantik artis-artis?
Kenyataannya memang iya sama cantiknya seperti adiknya Andini.
Semua tak jadi penasaran lagi jadi ya semua jelas, kenapa temannya Arman begitu sulit melupakan seorang Arini yang mempesona dan kini tak berkutik di hadapan adiknya pula Andini.
Arini setengah ngomel di hadapan suaminya dalam perjalanan pulang mengomentari sahabatnya sendiri Arman yang sok pamer banget membuat tertawa suaminya Hadinata.
"Sayang, apa sih nggak guna banget menilai jelek orang, orang begitu baik dan ganteng masih aja kurang harus gimana emangnya? seperti aku ini yang paling cocok di hatimu?"
"Alah semua penuh kepalsuan."
"Jangan-jangan ada rasa lain di hatimu, aku jadi cemburu nih gimana? ingat benci dan cinta itu tipis banget bedanya."
"Apaan sih Mas? nggak lucu aku sudah bersuami, punya anak masih cemburu sama adik sendiri sesuatu yang nggak mungkin."
"Tapi perlihatkan muka bersahabat mu."
"Aku pernah sakit hati dan tak akan pernah lupa dengan seorang Arman. Dia pernah begitu sombong dan melecehkan aku Mas! itu yang sekarang selalu ku ingat tentang dia."
"Arini sayang, dia akan jadi bagian dari keluarga kita sekarang, aku juga pernah sakit hati karena telah melecehkan istriku tetapi ada hati adikmu Andini yang harus kita jaga."
"Semua ini begitu tak adil buat aku, serasa aku belum bisa menerima semuanya walaupun di satu sisi hatiku terpaksa menerima dan bisa ikhlas, tetapi di sisi lain sisi terburuk hatiku aku membencinya Mas."
"Tak mungkin kita membuka kejelekan Arman diambang pernikahan mereka, kita do'akan Arman telah berubah atau adikmu Andini akan merubahnya."
"Aku masih ingat saat itu, saat aku datang sebagai sahabat meminjam modal kala usaha kita lagi terpuruk,tetapi apa yang dia katakan kepadaku berapa yang kamu inginkan apa kompensasi yang kamu berikan untukku?"
__ADS_1
Hadi melirik istrinya yang lagi emosi.
"Dia menawarkan satu pilihan kepada ku untuk bisa tidur dengannya walaupun hanya satu malam, aku masih ingat dengan kata-katanya aku masih ingat dengan muka sombongnya saat itu."
"Sudahlah sayang... jangan di ingat-ingat lagi, Arman di pertemukan dengan adikmu Andini karena mungkin sudah ditakdirkan agar Arman bisa menyadari semua kesalahannya dan menyadari semua kesombongannya."
"Semoga Mas, selalu tenang saat aku bicara sama Mas."
"Aku bicara tadi sama si perusuh itu, kalau aku akan jadi saksi rumah tangganya semoga bukan kesombongan yang yang dia perlihatkan padaku suatu saat nanti, tapi perbaikan akan janjinya padaku."
"Sudahlah jangan emosi nggak baik buat kesehatanmu."
"Iya Mas, semoga Andini tak salah memilih orang seperti Arman."
"Sayang, tidak baik buat kita belum tentu buat adikmu, jadi positif kan pikiranmu, ada aku yang selalu sayang kamu. Lihatlah betapa Andini begitu bahagia dan Arman juga begitu kelihatan mencintainya mereka pasangan yang serasi seperti kita cantik dan ganteng."
"Alah...alah ujung-ujungnya apaan nih?"
"Jangan biarkan aku mengagumimu saja haaa..."
"Gombal."
"Tapi kamu suka kan, juga cinta banget."
"Jangan bohong yang paling tau hatimu adalah aku, sayang gimana kalau kita nostalgia... kita pergi ke tempat dimana banyak kenangan kita mumpung banyak waktu gimana?"
"Nostalgia? kemana Mas?"
"Aku ingin kita pergi Radio Riang FM 14,89 di mana pertama kali saat itu kita berdekatan dan tanpa batas, aku mencium kamu dan kamu begitu ketakutan."
Arini mendelik lucu, sambil mengerutkan dahinya mungkin mengingat semuanya.
"Iya ya Mas, begitu lama kita nggak ke sana berdua, sebenarnya aku kangen banget. Apalagi ke kantor kontraktor Mas, saat itu Mas cemburu buta sama Arman dan mengerjai aku sampai pingsan aku sebel banget dan marah banget waktu itu."
"Haaa...masih ingat sayang?"
"Aku malah ingin ke kost kost-an kamu dan aku memeluk kamu di balik pintu, juga kamu marah padaku saat aku masuk kamu lagi tidur hanya pakai tangtop saja haaa..."
"Terus kemana lagi Mas?"
"Ke Kamar Hotel waktu kamu minta restu orangtuamu, dan aku waktu itu curi start lupa diri sampai kebablasan membuka kancing baju kamu."
"Itu kenangan ter-mesum kamu Mas."
__ADS_1
"Haaa... aku kangen banget sayang kita ke radio saja yuk gimana? mau ya biar buat mengobati rasa kangen kita di tempat-tempat lain."
"Ada Lusy Mas."
"Ya nggak apa-apa."
"Mas, Lusy kan kenal juga sama Arman dari aku, tahu nggak ya kira-kira sekarang Arman malah mau menikah sama adikku Andini?"
"Kalau di kasih tahu ya pasti tahu, kalau nggak di kasih tahu ya kemungkinan nggak tahu."
"Mas, terlalu banyak kenangan kita ya, untuk bisa kita kenang saat sekarang, dan terlalu indah juga."
"Semua juga punya kenangan, sepertinya kamu nggak mau kalah sama adikmu juga mantan seperti nggak mau tersaingi."
"Apaan Mas? siapa mantan aku? aku nggak merasa punya mantan."
Arini sewot sendiri sambil turun di halaman kantor radio Riang 14,89 FM menggandeng tangan suaminya bikin iri yang melihat.
Lusy menyambut mereka yang datang dengan ciri khas antusiasnya yang super heboh.
"Ya ampuuuuun...ada angin apa ini mesra-mesra begitu lagi merusak konsentrasi semua orang aja!"
"Ada angin rindu buat kamu Lusy, biar kamu merindu seseorang yang di tunggu nggak pernah bersatu."
"Jangan begitu Bu Rini sayang...jangan biarkan aku dalam perasaan semakin terbanting."
"Haaa...siapa yang membanting kamu?"
"Perasaan hatiku saja Bu Rini, Ngomong ngomong dari mana mau ke mana ini datang siang-siang gini berdua?"
"Kita habis nostalgia ya Mas!"
"Astaga yang serius kalau di tanya Bu Rini, juga jangan bicara begitu mesra kalau di hadapan jomblo! itu melanggar hak azasi dan lalulintas jalanan dan tenggang rasa juga menjaga perasaan hati yang tak bertuan."
Lusi nyerocos sendiri memakai bahasa yang kadang puitis kadang juga susah di mengerti.
*****
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Cinta Karmila By Nazwa Talita. fav, like dan vote ya 🙏❤️
__ADS_1