Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Andini


__ADS_3

Cinta bukan sekedar rindu lalu bertemu


juga bukan hanya hasrat yang menggebu


tapi satu keyakinan dalam kalbu


terkadang dalam sunyi ingin mengadu


tentang hati yang tak pernah menyatu


jika hadirku buram tak seperti pijaran lampu


yang tak beri arti seperti butiran debu


biarlah angin menyapu terbangkan ku


tapi bila ada secercah terang dari hadirku


jaga dan simpanlah walau jauh di sudut hatimu...


Arini tersenyum membaca tulisan tangan adiknya Andini di kamar depan,meja yang berantakan bekas cemilan bekas minuman juga buku buku dan alat tulis yang belum di rapihkan,begitu puitis apa Dini lagi jatuh cinta ? seperti goresan tangan orang yang lagi kasmaran.


Arini memandang Adiknya yang lagi pulas tidur,seperti dirinya suka puisi suka musik.


Andini sudah dewasa potongannya seperti dirinya posturnya menjulang lebih tinggi dari dirinya.


Rasa sayang pada adiknya adiknya bagian dari penanaman dari orangtuanya,begitu melekat menciptakan dirinya sebagai seorang ibu dan sahabat bagi adik adiknya,tak ada jarak yang membuat adik adiknya segan atau malu,seperti saat Arini memberi nasehat panjang kali lebar,juga saat adiknya ada keinginan ya merengek dan meluk meluk merayu manja.


"Din...Dini bangun siang sholat dulu"


Tapi yang di bangunin tak bergeming.


"Anak perawan tidur kesiangan pamali tahu, kamu kuliahnya pagi apa siang ? bangun dulu nanti tidur lagi"


Karena adiknya nggak bangun bangun mungkin hanya karena malas aja,tapi Arini tahu Dini sudah bangun cuma malas melek aja,ketahuan dari kakinya yang bergerak gerak kecil di dalam selimut.


"Bangun,lagi sholat nggak ?"


Arini menggoda adiknya dengan mengagetkannya menempelkan telunjuk di pinggang nya dan menekannya,dan memang manjur banget.


"Teteh ini nggak ada kerjaan apa ? geli tahu..."


Andini kaget terperanjat tapi bukan bangun malah membungkus seluruh badannya dengan selimut.


"Hai,anak gadis itu kalau sudah melek bangun jangan malah ngelamun,ngelamun apa hayo ? pasti ngelamun jorok ya ntar ke sambet lho...heeeeee"


"Enak aja,emang Teteh"


"Kamu di bilangin nggak percaya"


"Aku lagi nggak sholat,terus kuliahnya libur Aku mau tidur sepuasnya"


"Tidur sepuasnya yang ada sakit kepala tahu,bangun ajak main Bima maunya ke taman main ayunan"


"Iya teh tapi nanti siangan masa pagi gini main ayunan"


"Dasar,biarin nanti Dek Bima yang bangunin "


Arini keluar dan meneruskan aktifitas paginya, Hadi tersenyum mendengar cara istrinya membangunkan adiknya ada kelucuan tersendiri.


"Bi saya berangkat dulu ya hati hati di rumah Dek Bima udah sarapan jangan lupa bangunin Dini biar nggak malas malasan,masa mentang mentang libur waktu habis pake tidur yang bener aja.

__ADS_1


"Hehehe... kalau Mamamu sudah pergi kita nggak berisik ya Dek"


"Papa ayo main bola di depan"


Rengek Bima nyamperin Hadi sambil mendekap bola.


"Ayo tapi Papa jagain di sini ya Bima yang nendang dari sana"


"Iya Papa..."


Hadi berusaha belajar berdiri tegak tanpa tongkat penyangga badannya dan bisa bertahan,Datang Andini dan Bi Minah yang kaget melihat Hadi mulai bisa melepaskan tongkat penyangga badan dan mulai melangkah walau pendek pendek.


"Ya ampun Mas Hadi mulai sembuh ya"


Bi Minah melongo kaget juga senang.


"Alhamdulillah Mas udah ada kemajuan,apa teh Rini tahu ? Andini menimpali.


"Ssssst sementara belum kita rahasiakan ini semua biar jadi kejutan buat dia di hari ulangtahunnya"


"Ok Mas siap Aku bantu segala rencananya,kita kerjain sedikit biar bawelnya agak berkurang heeee..."


"Haaaaaaaa,tapi bawelnya bikin Aku kangen Dini"


"Memang bener begitu ?


"Bener...lama lama pasti kamu juga kangen bawelnya haaaaaaaa..."


"Heeee"


"Tar siang kita jalan jalan sama Pak Priyo kamu ikut sama Bi Minah sekalian aku terapi penyembuhan ya tapi jangan bilang kakakmu ini juga jadi kejutan lho"


"Sebenarnya aku kasihan sama kakakmu Dini,berawal dari situ Aku melihat kesibukannya dari pagi sampai malam,ngurus anak,suami,kerjaan juga yang lainnya yang sebagian adalah tanggung jawabku, Aku ingin membahagiakannya dengan caraku sendiri"


"Iya Teteh seperti nggak ada capeknya"


"Aku sepakat dengan Pak Priyo juga Bi Minah sekarang sama kamu Dini untuk memberi kejutan di hari ulangtahunnya dan kado terindahnya yaitu kesembuhan ku"


"Mas sayang banget sama Teteh ya ?"


"Nggak bisa di ungkapkan dengan kata kata Dini, memilikinya,dan sekarang sudah ada Bima adalah anugrah terindah dalam hidupku"


"Aku ingin seperti Teteh, Aku suka kemandiriannya,tapi Aku kayaknya tak sepintar teteh heeeeee..."


"Dini tolong bimbing aku tanpa tongkat aku mau duduk di kursi,ini sudah pegal kelamaan berdiri"


"Oh iya Mas,ayo..."


"Ngomong ngomong temen cowokmu nggak pernah di ajak main ke sini ?"


"Baru aja putus"


"Kok putus ?di kenalin juga belum"


"Modus semua,fokus aja dulu kuliah cape fikiran kalau udah nggak sejalan buat apaan,


pacaran kan untuk spirit,tapi malah menghabiskan waktu dan konsentrasi..."


"Haaaaaaaa pinter kamu,mungkin mudanya kakakmu prinsipnya begitu juga kayaknya,Udah sana mandi dulu keburu Pak Priyo nyamper"


"Ya Mas,bye Bima... Tante mandi duyu"

__ADS_1


"Bye Tante cantik"


Bi Minah hanya tersenyum mendengar pembicaraan dan rencana Hadi dan Dini,semoga jadi kado terindah buat Neng Rini yaitu kesembuhan Mas Hadi.


"Mas mau minum saya ambilkan ya"


"Boleh Bi,Bibi sama Dini sarapan aja dulu ya"


"Iya Mas"


Bi Minah kedalam dan tak lama balik lagi dengan segelas gede air putih dan di simpan di atas meja teras,Bima anteng main sepeda di halaman Hadi mengawasi tiap gerak geriknya.


Selang setengah jam Pak Priyo datang menjemput,Hadi berdiri menyambutnya sambil berjalan pelan pelan.


"Perkembangan luar biasa Pak Hadi..."


Pak Priyo turun dari mobil lari kecil nyamperin Hadi menjabat tangan Hadi dan membimbing tangan nya menuntunnya pelan pelan.


"Alhamdulillah Pak Priyo,bener pesat banget ini,cuma masih ada ngilu ngilu nya"


"Itu pasti Pak, ya berangsur aja pelan pelan dulu jangan sekaligus,saya senang sekali melihatnya Pak Hadi"


"Apalagi saya Pak Priyo,tak terhingga terimakasihnya,ini pasti jadi kejutan besar buat istriku Pak hehehe..."


"Semoga,semoga,semuanya lancar"


"Mas kita udah siap jalan sekarang ?"


Andini dan Bi Minah datang dari dalam dengan tentengan tas kecil makanan juga susu Bima, Pak Priyo menyalami semua


"Neng Dini nggak kuliah ?"


Pak Priyo bertanya pada Andini sambil tersenyum.


"Lagi libur Pak habis ujian semester"


"Bi rumahnya udah di kunciin semua ? juga nggak ada yang lupa keperluan Dek Bima ?"


"Udah Mas"


"Bima,kita terapi Papa dulu ya,nanti pulangnya kita jalan jalan"


"Bima jalan jalannya mau sama Mama Rini,kacihan Mamanya nggak di ajak"


Hadi memandang Bima sambil tersenyum, sedih rasanya hatinya juga mendengar keinginan anaknya.


"Bima,mamanya kan kerja dulu,nanti kalau mama Rini udah kerjanya kita jalan jalan lagi ya,kan sekarang sama papa dulu,ada Bi Minah,ada Tante Dini juga sama Pak Priyo"


Iya Dek Bima kan sama Tante jalan jalannya kalau mamanya libur Dek Bima baru jalan jalan sama Mama Rini"


Bima hanya memandang orang orang di hadapannya sepertinya belum mengerti kenapa kok Mamanya nggak ikut.


"Coba Dek Bima tanya pak Priyo tadi ketemu mama nggak ?"


Dan Bima memandang pada pak Priyo.


"Iya Dek Bima tadi Pak Pri ketemu Mama Rini di kantor katanya Dek Bima sama Papa,sama Bi Minah juga sama Tante Dini dulu mainnya ya ?"


"Iya kan Dek Bima ?"


"Iyah Tante Dini...."

__ADS_1


__ADS_2