Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Minta restu Ibu


__ADS_3

"Ibu, Ayo cepat! Nanti terlambat." Sahutku pada ibu yang masih sibuk Putar sana Putar sini karena paman belum kunjung datang mengantar kami ke bandara."


"Iya, Na, Ibu sedang menghubungi paman yang belum mengangkat telpon Ibu. Angga, jemput paman ke rumahnya suruh cepat nanti terlambat." Ibu menyuruh Angga menjemput paman. Duh, apa tidak terlambat nanti?


"iya, bu!


tit tit


bunyi suara klakson mobil yang berhenti di depan rumah. Pelanggan bertanya-tanya, kami mau kemana?


"itu, paman bu! sahut Angga.


"iya."


"Mau kemana, Bu!" Tanya seorang pelanggan."


"mau ngantar, Nana ke bandara, mau ke Batam."


"Sama siapa di sana?"


"Ada Abangnya."


"Siap, Uni! Nana! Angga!"


"Sudah paman!

__ADS_1


Banyak juga barangmu?"


"Iya. Baju sih sedikit, yang banyak barang-barang yang minta di bawa oleh Bang Faisal.


Paman memasukkan semua dus-dus ke bagasi mobil, banyak bangga mungkin akan kena ongkos lebih untuk membawanya.


"Ayo masuk!"


"Tunggu dulu, pamit sama tetangga." Sahut Ibu.


"Bu, pak, Nana, pergi dulu, kalau ada salah, maafin Nana, ya!" Satu persatu ku salami dan pamit. Hanya teman-teman yang belum tau, tidak usah lah tidak punya waktu.


Satu persatu masuk ,Mobil Avanza yang mengantar kami ke Bandara International Minangkabau. Merantau untuk pertama kalian ya membuat perasaan campur aduk antara senang atau sedih meninggalkan kampung halaman dan keluarga. Kota padang dimana tempat Aku dilahirkan. Kenangan, keindahan panaroma alam, pantainya dan kuliner nya pasti akan selalu diingat oleh anak perantau.


Modal Ijazah, KTP, dan 10 lembar uang merah di dompet, Aku berangkat diantar oleh orangtua, Adik, dan Pamanku menuju bandara International Minangkabau. Selama di bandara banyak yang kami bincangkan. Tak lupa Aku meminta do'a restu pada ibu.


"Iya, Na, Ibu merestui pilihanmu pergi ke kota Batam, do'a ibu akan selalu menyertaimu. hati-hati disana ya, jaga diri baik-baik, jangan tinggalkan sholat.


Aku dan Ibu saling berpelukan. Untuk pertama kalinya jauh dari ibu, yang mana nanti suara Ibu pagi hari membangunkan aku sudah tidak terdengar, ocehan ibu, ocehan adik, berantam sama adik tidak lagu kurasakan. Karena Akan berada  jauh dari mereka.


"Na, ingat pesan Ibu, ya, hati-hati disana, jaga diri baik-baik, jangan tinggalkan sholat 5 waktu. Pesan paman, "sering-sering hubungi ibu ya, jangan biarkan Ibu rindu dengan suaramu.


"Kak, kalau udah kerja jangan lupa kirim duit ya, kirim baju, tas, sepatu, HP, tambahan jajan buat Aku. Aku terbengong mendengarnya. Angga Adik laki-laki ku tak lupa mengutarakan keinginannya ke Aku, belum apa-apa udah minta ini itu.


"Angga, kakakmu pergi bukan cari kerja untuk berfoya-foya. tapi, mencari biaya untuk kuliahnya.

__ADS_1


"Hehe, tak apalah, Bu, kak, sesekali aja.


Aku, Paman dan Ibu hanya tersenyum menanggapinya. 


"iya, Ibu!"


"Iya, Paman!"


"Terima kasih, kalian sudah merestui pilihanku. Aku akan selalu mengingat petuah kalian dan tidak akan meninggalkan sholat. Ga, kalau ada rezeki Insya Allah, Aku beri apa yang kalian inginkan semampuku aja."


"Ah, tak usah repot-repot fokus aja untuk tujuanmu. Nah, Ayo cepat, orang udah berlari menuju pesawat tuh "


"Iya,  salam dulu, Bu, Paman, Ga, aku pergi dulunya." Assalamualaikum


"waalaikum salam."


Tidak ku sangka, aku akan melakukan perjalanan sejauh ini, jauh dari orang tua dan keluarga. Teman-teman tidak ada yang tau, karena selepas pengambilan ijazah kemaren, hari ini langsung pergi padahal berkas-berkas belum lengkap. biarlah ku urus di Batam nanti.


Di Batam, nanti aku akan tinggal di rumah Bang Faisal kakak kandungku dan Shela kakak iparku. Aku akan tinggal di rumah mereka selama belum mendapatkan kerja. duh, gimana ya? di sana ada ipar. kata orang ipar itu maut mematikan.


aku akan mencoba menjalani sesuai kemampuan ku yang namanya manusia tidak mungkin cocok semuanya adakalanya cekcok sama teman bisa, sama suami atau istri, sama saudara kandung, sama tetangga dan lainnya.


Mulai hari ini aku jauh dari ibu, aku akan berusaha bertanggung jawa terhadap diriku sendiri, biasanya kalau capek karena belajar, ada ibu yang mensupportku, mungkin kedepannya tidak lagi, bang faisal kerja, aku akan mencari kerja, menelpon ibu tidak mungkin setiap menit dan detik.


sudah 10 tahun tidak bertemu bang Faisal, karena jiwa penggembalanya membuat dia jarang pulang. Asyik dengan dunia sendiri jarang menghubungi ibu, padahal padahal masih ibu yang kangen pada dirinya itulah resikonya untuk seorang perantau.

__ADS_1


Next.


__ADS_2