
Merantau ke kepulauan Riau
"Part43
"Aira, Aira. Niat hati ingin mempermalukan orang, dia sendiri yang malu." melihat air muka Alda, spertinya, dia sangat menikmati momen sore ini, Dasar.
"Sudah, yuk kita pulang." Mengambil tas, siap untuk pulang. Rasa sakit yang dirasakan dari pagi sampai siang terbalas dengan hal yang tak terduga. Begitu cepat karma datang, tak perlu mengotori diri sendiri cukup diam dan do'a kan dalam hati semoga orang yang menjelekkan aku itu mendapat hidayah agar tidak menghina ciptaan tuhan lagi.
"Nana, gak asyik ah." Melihat tindakanku, Alda jadi kesal. Karena aku bukanlah tipe orang yang mau di ajak basa basi.
"Awas dosa ghibah." Ya, kalau tau menggosip adalah perbuatan dosa, kenapa di laksanakan. Kalau tidak tau apa yang di bicarakan mending dia dari pada menggosip. Kalau ada yang mau d8 tanyakan, tanyalah. Itu lebih baik dari pada sesat di jalan.
Keluar dari pabrik menuju jembatan SS mencari angkot. Tidak susah mencarinya, tiba di rumah tiba-tiba Fatih minta gendong. Mungkin sudah mengerti ada tantenya di rumah nya.
"Fatih, harum bangat kamu, pakai farfum apa sih?"
"Udah pulang, Na!' Tiba-tiba kak shela muncul dari kamarnya.
"Iya, kak. Bang Faisal udah pulang apa belum?"
"Belum."
"Sini, Fatih, tante Nana mau mandi."
Fatih membuntuti ibunya ke kamar nya. Istirahat sejenak sambil berselancar di dunia maya. Lihat teman-teman SMA, Mereka ada yang kuliah, kerja seperti Aku, dan satu persatu sudah menikah, dan satu lagi sedang hamil.
Tutup gawai melangkah ke kamar mandi, makan, sholat dan tidur lagi.
Bunyi klakson motor mungkin itu Bang Faisal. Biasa kak, shela dan Fatih menyambut kepulangan Bang Faisal.
"Assalamualaikum." Bang Faisal sepertinya membawa Bjah tangan. Kalau Bang Fatih dapat bonus pasti selalu membawa makanan dari luar.
"Waalaikumsalam." Biasa kak shela dan Fatih selalu menjabat tangannya sebagai bentuk bakti pada suaminya.
"Fatih belum tidur." Biasa Fatih selalu minta gendong pada ayah nya. Lelah Bang Faisal terobati dengan melihat senyum ceria istri dan anaknya.
"Belum yah." Wah, Abang membawa makanan.
"Iya, buat makan malam kita."
"Aku sudah masak Bang."
"Gak apa-apa, kita makan semuanya."
Bang Faisal menawarkan kami makan, ternyata Bang Faisal membawa ayam penyet, pecel ayam, ikan bakar dan bubur ayam buat Fatih. Aku baru aja selesai makan udah makan lagi. Biarlah menghargai makanan yang dibawa dari luar.
__ADS_1
"Gimana hari-harimu, Na?"
"Biasa bang."
Selesai makan di lanjutkan dengan mencuci piring semuanya. Aku tidak boleh lupa memegang pekerjaan rumah yang namanya numpang tidak boleh berat tangan.
"Na,"
"Iya."
"Ada yang mau abang bicarakan."
"Mau bilang apa bang?"
"Apa kamu dekat dengan dokter Fernando?"
Deg deg deg
Mendengar ucapan Bang Faisal membuat jantungku berdetak tak karuan. Di mana Bang Faisal tau. Kenapa Bang Faisal bisa tau? Selama beberapa bulan ini aku memang dekat dengan dokter Fernando. hanya dekat sebagai kenalan biasa tidak lebih. Tapi, aku berusaha menutupinya serapat mungkin.
"Na, kenapa kami diam? benar kamu dekat dokter Fernando?" Bang Faisal sepertinya tidak suka aku dekat dengan dokter Fernando, apa lagi kami pernah jalan tapi tidak berdua ada Alda yang menemaniku.
"Iyakah, Bang? Dokter Fernando yang dulu? Kak shela kaget dengan penuturan Bang Faisal.
"Iya, la, dokter Fernando yang pernah dekat denganmu itu." mataku terbelalak mendengar penuturan Bang Faisal. Kak shela sama dokter Nando pernah dekat? Ternyata dunia sempit juga ya, kami dekat dengan orang yang sama.
"Lalu sudah sejauh mana kedekatan kalian?"
"Iya, hanya pernah kenal seperti biasa tidak lebih. Pertama kali bertemu 2 bulan yang lalu pada saat aku membawa Diana ke UKS itu, Bang, kak." Aku menundukkan kepala karena tak berani menatap tatapan mereka yang terus menerus mengintrigasiku layaknya maling tertangkap basah.
"Ku rasa bukan waktu itu pertama kali kalian bertemu. kapan pertama kali kalian bertemu?" Bang Faisal tau aku berbohong sama aja dengan kak shela. Lalu aku harus bilang apa lagi?
"ya 2 bulan yang lalu Bang." sudah terlanjur bohong ini kesekian kalinya bohong. Pertama kali sama kak shela.
"Lalu hubungan kalian sejak kapan?" kali ini kak shela yang ikut menginterogasi ku. Jelas kaget karena mereka berdua pernah menjalani hubungan.
"Sejak itu juga, hanya kenal biasa tidak lebih kok." Entah bagaimana perasaanku sekarang antara malu dan sedih campur aduk. Bang Faisal sepertinya sangat marah tapi berusaha dia pendam mungkin karena tangan kak shela selalu menggenggap tangan suaminya dengan lembut.
"Apa kamu menyukai dia?"
"Tidak kak."
"Dari matamu yang lebih besar dari pada sebelumnya menandakan kamu menyukainya, jujur aja lah, kalau kamu menyukainya. Na, ingat niatmu pertama kali kesini untuk apa? pesan ibu dan paman apa? Pesan Abang sama kakak kemaren apa? Kamu jangan coba-coba melanggar perintah kami."
Sekali lagi kamu melanggar, silahkan pulang ke kampung halaman. Abang tidak suka di bohongi, kamu juga tidak suka di bohongikan? Kalau kamu serius bekerja untuk mencari biaya kuliah, kerja aja yang serius tidak usah dekat dulu dengan siapapun.
__ADS_1
Bang Faisal tega mengusirku hanya membuat kesalahan yang kuanggap spele tapi serius menurut Bang Faisal? Aki gak nyangka Bang Faisal begini sifat aslinya.
"Kamu dekat dengan dokter Fernando, sejak awal kalian bertemu di ruangan kalian sedang melakukan medical cek up kan? Abang tau itu. Karena waktu itu kami pernah bertemu kamu bilang dekat dari dua bulan yang lalu?"
Kamu sebenarnya sudah tau Abang juga tau itu. Tapi, kenapa kamu bohong?Jawab."
Deg deg deg
Baru kali ini aku dibentak oleh bang Faisal. Kalau orang lain yang membentak tidak masalah ini keluarga sendiri terasa sakitnya beda.
"Pertama kali bertemu memang sejak menjalani medical cek up. Tapi, bertemu lagi memang benar sejak dua bulan yang lalu, aku tidak bohong bang." sebisa mungkin aku menyembunyikan kegugupanku agar Bang Faisal percaya memang benar apa yang ku bilang hanya gugup nampaknya membuat Bang Faisal mengira aku berbohong lagi.
"Lalu, kenapa bilangnya dari dua bulan yang lalu?" lagi-lagi Bang Faisal harus tau secara detail kedekatan kami.
"Memang waktu itu bertemu pertama kalinya sampai sekarang. Kami tidak dekat kok Bang, kak, sekali lagi aku bilang hanya kenalan biasa." aku masih tetap bertahan dengan pendirianku.
"Lalu kemana kalian seminggu setelah kejadian mu sama Diana itu? Pada saat kami mengajakmu ke Batam centre?" ingatanku mundur ke sebulan yang lalu pada saat dokter Nando mengajakku ke bengkong.
"Itu, Aku ke kos Alda, bantu Alda pindah kos di yang depan,membersihkan kosnya dan membantu dia mengambil barang-barang yang di pinjam temannya ke kos di bawah komplek ini. Kalian kan lihat kami sibuk membersihkan kos yang di depan itu."
"Baiklah, lalu ini apa?"
"Dimana Abang dapat foto itu? Itu kami tidak berdua, Ada Alda yang menemani kami. Sepertinya foto itu di potong sama orang yang mengambil gambar kami." Astagfirullahalazim, entah siapa yang mengambil gambar itu? Perasan waktu itu hanya kami bertiga tidak ada karyawan di bioskop itu, pintu terkunci, hanya saja pada saat Alda ke toilet, apa alda yang mengambil gambar itu? Kalau iya, keterlaluan kamu Alda. Besok aku harus tanya sedetailnya, apa benar Alda yang mengambil gambar itu?
"Kenapa kamu tidak bilang, kalian mau ke bengkong walaupun bersama temanmu aja?" Tidak mungkin jujur waktu itu bisa dilarang hanya kebetulan aja setelah itu membantu Alda pindahan.
"Mendadak bang."
"Na, jawab jujur. Apa kamu menjalani hubungan dengan dia?"
"Lalu waktu itu kalian kemana aja?"
"Hanya nonton di bioskop dan makan di cafe."
"Jujur, tidak sama sekali Bang."
"Mulai sekarng jauhi dia, fokus aja sama tujuanmu. ikuti kata-kata kami, sekali lagi melanggar silahkan pulang ke kampung halaman.
Mereka berdua masuk ke kamarnya meninggalkanku sendirian di ruang TV, Ya Allah, sakit bangat di bentak, belasan tahun tidak bertemu, seperti ini sifat aslinya Bang Faisal.
Bang Faisal sangat marah mengetahui aku dekat dengan dokter Nando.
Aku akan cari tau siapa yang mengirim foto itu, yang pertama kulakukan aku harus mengcek hp Bang Faisal dan Alda. Hanya mereka berdua tersangka utama saat ini.
Kira-kira siapa yang mengirim gambar itu?
__ADS_1
Next...