Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Ke rumah calon mertua


__ADS_3

Merantau ke kepulauan riau 84


Part 84


Kata orang sebelum menikah memang terjadi banyak badai yang menghadang pertahanan calon pasangan suami istri. Dari orangtua, calon mertua calon ipar, mantan kekasih datang lagi, ada angin-angin akan mendapatkan pekerjaan baru, terkuaknya satu persatu kekurangan dan masalalu calon pasangan.


Kata ustadz itu ujian untuk pasangan yang akan menikah. Setan akan terus menggoda anak adam agar tersesat dan tidak jadi melaksanakan ritual ibadah terlama sepanjang masa. Kalau anak adam itu kuat iman tidak goyah sampai menikah, ketika menikah nanti setan juga akan selalu menggoda lewat ekonomi, suami, istri, orangtua, mertua, ipar, anak, orang lain,pria/wanita lain atau tetangga.


Seorang istri mungkin ikhlas walau batin perih di perlakukan semena-mena oleh suami dan keluarganya. Ulah setan yang sukses membuat suami dan keluarganya membenci seorang istri dan menantu akhirnya istri memilih kalah demi kebahagiaan lahir dan batin.


Begitu juga denganku yang di hadapi dengan kenyataan orangtua calon suami masih belum mau menerima ku dengan beberapa alasan. Di bilang aku yang membuat anaknya menjadi pembangkang padahal anaknya seperti itu sudah dari kecil.


Sebelum bertemu aku dia sudah di jodohkan dia tidak mau malah terjerumus ke pergaulan bebas. Seorang wanita bisa menerima masa lalu calon suaminya sampai sudah menikah tidak akan mengungkit masa lalu suaminya walau tidak yakin suaminya berubah atau semakin menjadi-jadi.


Tapi, belum tentu calon suami mau menerima masa lalu calon istrinya kalau bisa pasti setelah menikah dalam keadaan cekcok, suami akan mengungkit masa lalu istrinya. Harga diri istri menjadi semakin rendah walaupun sanggup melahirkan, sanggup pula menjadi tulang punggung keluarga walaupun suaminya ada malah numpang hidup.


Ada suami pun seperti yang saya lihat minimnya tanggung jawab sebagai wali untuk keponakannya ketika warisan pun tidak berpihak pada perempuan.


Minimnya empati terhadap sesama perempuan miris bangat mereka hanya bisa bilang sabar. Ketika mereka mendapatkan perlakuan yang sama minta solusi pada manusia tidak pernah di dapatkan. Minta solusi pada tuhannya entah kapan masalah akan berakhir.


Aku menjadi galau langkah apa yang harus aku ambil ?


"Sampai juga, Na! Siapkan mental mu ya! Kita akan bertemu orangtuaku." Akibat banyak pikiran aku jadi tidak sudah tiba di Depok.


"Sebelum itu kita pergi ke suatu tempat, ke rumah temanku dulu untuk meminta orangtuanya membujuk orangtuaku." Segitunya ryan ingin minta minta restu orangtua melalui perantara orang lain. Aku manut aja aku juga malas bertemu orangtuanya.


Untuk sekarang aku masih bimbang apa aku akan menikah dengannya apakah tidak? Aku ragu dengan dia, orangtua dan masa lalu nya yang seperti itu. Tidak adil bagi perempuan yang harus menerima dirinya apa adanya seperti itu aja.


Dua jam perjalanan sampai juga di rumah temannya. Aku risih bertemu orang baru.


"Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Waalaikumsalam! Datang juga lo, ray!"


"Iya, dong!"


"Masuk dulu."


"Tidak usah duduk di luar aja, kita buru-buru. Bokap gue sedang kritis."


"Ya, sudah." Duduk di luar mereka asyik ngobrol aku sangat tidak nyaman dengan situasinya bagaimana menikah dan ikut suami ke ke rumahnya.


"Kalian mau menikah tapi belum berani ngomong sama orangtua lo. Ya, sudah tenang aja biar gue bantu. Tapi, ada harga yang harus lo bayar!"


"Berapa yang harus gue bayar?"


"Gak banyak sih. Kasih aja gue kerjaan di tempat kalian."


"Itu mah gampang. Yang penting lo mau kerja aja gak malas-malasan." Kita mengikuti teman ryan yang bernama zeus itu entah kemana kami di bawa olehnya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam! Ternyata kalian ayo masuk."


"Tidak usah, kami buru-buru. Ayahnya ryan sedang sakit. Oh, ya, mana Daniel?"


"Daniel keluar sebentar. Ayahmu sedang sakit? Sejak kapan?"


"Sudah dari setahun yang lalu paman."


"Begini paman kita langsung ke poin nya aja. Mereka berdua ini ingin menikah tapi orangtua ryan belum mau merestui mereka. Ya, takut seperti yang sudah-sudah anak muda seperti kita ini seperti apa. Mereka ingin minta tolong pada paman buat bujuk orangtua ryan agar mereka mau merestui mereka menikah dan mau menerima Nazalia ketika ryan memintanya tinggal di rumahnya ya nanti."


"Iya, paman. Saya mohon sama paman untuk membujuk orangtua saya. Masalah suku tidak masalah bagi saya, saya harap orangtua saya tidak mempermasalahkan asal usul nazalia dan keluarganya. Saya ingin melindungi istri saya agar tidak bernasip sama seperti menantu di luar tidak di terima dengan baik mengikuti suaminya masuk ke rumah mertuanya. Ya, hanya bisa seperti itu yang bisa saya jabarkan. Saya ingin menjalani rumah tangga dengan tenang."

__ADS_1


"Kalau begitu baik lah. Kapan kita kerumah mu?"


"Sekarang mereka di rumah sakit di kota ini."


Lega rasanya mudahan ryan memang benar bisa menjadi suami yang menepati janjinya. Tidak hanya menebar janji ujungnya palsu dan yang rugi pihak istri. Mudahan ryan benar-benar bisa melindungi istrinya dari ancaman maut yang bernama mertua toh ibuku tidak pernah mengusik menantunya.


Sebelum kerumah sakit kami membeli oleh-oleh dulu untuk mereka yang berjaga-jaga di rumah sakit.


***


Tiba di rumah sakit menuju ruang perawatan ayahnya ryan. Jantungku berdetak tak karuan. Ada perasaan takut bertemu orangtuanya. Ketika anak perempuan orang yang di bawa tinggal di rumah suaminya butuh waktu lama untuk mengakbarkan diri. Sedih meninggalkan orangtua dan sanak saudara.


Ketika di rumah suami malah tidak di perlakuan baik malah di bilang numpang. Ingin aku meremas mulut orang yang berbicara seperti itu. Menantu numpang karena anak laki-lakinya belum mampu memberi rumah untuk istrinya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam! Kamu ryan! Eh, zeus, mas Adrian. Silahkan masuk."


"Gimana keadaan bapaknya anak-anak?" Ryan meletakkan oleh-oleh tadi di brangkat rumah sakit.


"Ya, masih kritis mas." Seorang pria paruh baya tergeletak di brangkar dengan seorang infus di kedua tangan dan selang oksigen di mulut dan hidung. Penampakan antara hidup dan mati. Ingin aku bertanya apa penyakitnya tapi sungkan.


"Menurut ryan. Bapaknya anak-anak sakit sudah dari setahun yang lalu?"


"Sakit sih sudah lebih dari setahun yang lalu. Tapi, ketika masuk RS memang dari setahun yang lalu." mereka ngobrol cukup lama aku sudah sesak tak karuan. Ada apa dengan ku? Kalau bertemu orang baru pasti seperti ini. Sejak kapan aku seperti ini? Seperti nya niatku untuk menikah ingin aku tunda dulu.


Ryan sepertinya mengerti dengan suasana hatiku. Apa ryan sudah hafal ya? Sebeb semenjak pertama kali bertemu aku hanya diam mendengar obrolan kalau orang ketawa aku ikut ketawa sering menjadi bahan ejekan orang lain. Aku hanya diam, orang ketawa aku ikut ketawa.


"Begini, bu ratih. "


Next

__ADS_1


__ADS_2