
Merantau ke kepulauan Riau
"Kita berlima aja?" Ujarku melirik ke arah Fero, Claudia, dan wulan.
"Iya, yang lainnya udah susah di hubungi." Ujar Ryan.
"Oh, bentar lagi aku juga susah di hubungi." Batin Nana.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tiba di pantai Marina. Tidak jauh memang, banyak wisatawan yang memenuhi kawasan ini, kerlip lampu di malam hari memanjakan mata. Kami memisah meninggalkan kami berdua.
"Suka tempatnya, Na!"
"Suka bangat."
Hening di antara kami tidak ada yang mau berbicara terlebih dahulu. Tiara, kok anak itu tidak ikut?
"Kenapa Tiara tidak ikut?" Aku memecahkan ke heningan.
Ryan menoleh ke arahku. "Tidak tau dia, malas katanya." Malas apa tidak mau?
"Oh,"
"Oh, ya! Gimana dengan tawaranku kemaren?" Tawaran yang kemaren? Entahlah, saat ini aku malah memikirkan perasaan Tiara, gimana perasaan anak itu sekarang.
"Kamu dekat sama siapa aja selama ini? Pacaran sama siapa aja? Sudah sejauh mana hubungan kalian?" Ujarku membuat Ryan gugup, apa Ryan tidak nyaman dengan pertanyaan ku? Obrolan kemarin di WA tidak di jawab.
"Dekat hanya sebagai teman biasa aja, teman wanita sekampus seperti yang kalian lihat. Pacaran hanya sama Amelia junior kita."
"Sudah berapa lama pacaran?"
__ADS_1
"Sampai tiga tahun."
"Lama, ya!"
"Kamu beneran tidak pernah pacaran selama berada di kota ini?"
Astagfirullah, apa perlu ku ulangi 1000 meyakinkan Ryan bahwa aku sama sekali tidak pernah berpacaran di kota ini?
"Apa perlu aku ulangi sekali lagi. Ku harap terakhir kalinya kamu menanyakan itu." Ujarku
"Ya, ingin memastikannya aja, jarang pula yang tidak berpacaran di kota ini. Kota ini masyarakat nya bebas, tergantung orangnya." ujar Ryan.
"Menurutmu aku gimana? Apa percaya dengan omonganku barusan?"
"Ya, aku bisa percaya bisa tidak. Kejujuran itu ada pada dari orang itu sendiri."
"Apa kamu pernah dekat dengan Tiara?"
"Tidak pernah, ada apa tuh?"
"Tanya aja, sepertinya dia menyukaimu sejak lama, apa kamu tidak tertarik padanya?"
"Kami dekat sudah dari kecil. Rumah kami dekatan, aku tidak bisa menyukai tetangga sendiri. Tetangga sudah seperti keluarga."
"Oh, kalian tetanggaan. Bagus lah, tuh bisa saling lirik sana sini."
"Apaan kamu ini. Dulu dia memang pernah menyatakan perasaannya padaku. Tapi, ku tolak, kita sudah dekat dari kecil, lebih baik kita temanan aja tidak lebih. Aku sukanya kamu, sudah menyukaimu sejak pertama kali berangkat ke Natuna."
"Gimana, Na! Mau gak kita menjalani komitmen? Siapa tau jodoh gitu, jangan kaku lah jadi orang."
__ADS_1
"Aku mau kita seperti kayak temanan aja dulu. Kalau cocok kita menikah. Kalau menunggu mapan sepertinya sulit. Lebih baik kita memulai dari Nol aja. Agar kita merasakan arti pernikahan yang sesungguhnya nikmatnya berjuang dari Nol bersama sebelum menikah."
Sepertinya tekat Ryan kuat untuk menikah kenapa tidak sama Tiara aja. Usiaku sudah 24, memang sudah tidak remaja lagi hingga menunda menikah. Tapi, yang kulakukan untuk melindungi diriku sendiri dari pernikahan yang salah. Bukannya aku tidak percaya rezeki dari tuhan untuk umatnya. Justru aku sangat percaya takdir tuhan dengan menunda pernikahan, Allah sudah menyiapkan seseorang yang terbaik dalam hidup. Untuk Sekaran ini, belum bangat.
"Aku setuju aja, kalau pacaran, aku tidak mau pacaran, membuang waktu. Aku hanya menunggu orang yang tepat aja yang mau menerima aku apa adanya, tidak memandang bulu dan profesi, mau menerima profesiku juga. Tidak hanya mau sama aku aja, tapi harus mau menerima orangtuaku juga."
"Terus?"
"Zaman yang sudah memodern ini kan masih banyak laki-laki yang mau sama anak perempuan orang doang. Tapi, tidak mau sama orangtuanya. Kalau perempuan sudah pasti kebanyakan mereka ikut suami tinggal di rumah mertua. Kebanyakan laki-laki melupakan istri juga punya orangtua yang telah melahirkan, membesarkan, dan menyekolahkannya sampai sarjana. Lelaki dan orangtuanya hanya tau laki-laki yang di lahirkan dan di besarkan oleh seorang Ibu. Memisahkan istri dari keluarganya. Misal, orangtua sakit dan meninggal, butuh biaya untuk pengobatan dan di dampingi oleh anak. Tapi, suami melarang istri menyambangi orangtu. Hingga orangtua terlantar. Aku tidak suka lelaki seperti itu, mending kembali ke zaman dahulu atau jangan mau samaku.
"Bagiku, menikah itu menyatukan kedua keluarga asing membentuk keluarga yang sakinah, bukan memisahkan induk dan anak mending nikah sama anak ayam. kalau dia mau sama aku harus mau sama keluargaku juga."
"Ya, kita berdua menjalani kehidupan berumah tangga, jangan hanya berjuang di awal sebelum halal. Tapi, mengabaikan perjuangan mempertahankan rumah tangga ketika sudah halal. Sudah menikah akan banyak maut yang akan menganggu rumah tangga kita nanti termasuk mertua dan ipar. Kebanyakan lelaki melupakan itu semua. Karena lelaki memakai egonya, perempuan yang berjuang sendiri menghadapi badai rumah tangga. Perempuan sebagai tulang rusuk yang bengkok beralih fungsi menjadi tulang punggung. Aku tidak suka."
Uajrku panjang lebar sepertinya Ryan keberatan menerima usulan dariku. Ya, sebelum menikah lebih baik cari tau dulu bibit, bebet, dan bobot seorang yang akan menikahi kita. Usulkan dulu atau buat surat perjanjian pranikah. Kalau melanggar bisa juga di gugat pengadilan agama. Kita perempuan tidak perlu terlalu memakai perasaan terlalu dalam hasilnya tau itu akan menyakiti kita. Ujungnya kita nangis, curhat sama orang yang salah, tidak ada gunanya. Mungkin cerita ku yang ini banyak menyindir beberapa orang. Ketahuilah ini unek-unek yang harus ku keluar kan sebelum berumah tangga.
"Satu lagi, aku tidak menganut paham patriarki, abang dan adikku juga tidak, wali-waliku lainnya juga tidak. Aku tidak menyukai sifat seorang."
"Jujur, aku sebenarnya keberatan dengan usulan kamu itu, menurutku begini. Anak milik orangtua, anak perempuan milik ayahnya, tanggung jawab selama gadis di tanggung ielh ayahnya kalau ada sampai dia menikah. Makan benar anak perempuan berhak bertanggung jawab terhadap orangtuanya sampai mati. Tapi, perlu izin suami.
"Anak laki-laki milik ibunya sampai mati. Beda sama perempuan. Benar katamu, tidak ada kewajiban seorang istri tinggal di rumah mertuanya kalau suami maksa bisa di tolak, menolak tidak dosa, kalau suami memaksa suami yang dosa. Benar katamu, suami harus menyediakan sandang, pangan, dan papan yang layak untuk anak dan istri. Yang belum mampu menyediakannya bukan berarti dia bukan suami yang baik."
"Aku akan berusaha menyiapkan itu semuanya. Gimana menurutmu?"
"Baiklah, biar aku pikir dulu."
"Jangan terlalu banyak berpikir siapa tau setan masuk kedalam imajinasi mu menggagalkan rencana halalmu. Jangan terlalu bernegatif thingking itu semua juga cara setan menggodamu menjalani ibadah terlama sepanjang masa. baik lah, aku terima usukanmu.
Next dulu
__ADS_1