Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Innalillahi...


__ADS_3

Merantau ke kepulauan riau 88


"Assalamualaikum. Bu!"


"Walaikumsalam. Ada apa?"


" Bu! Ryan selingkuh dia hampir berzina dengan mantannya ketika di batam dulu, seandainya aku tidak datang ke kosnya mungkin aku tidak akan pernah tau aslinya dia seperti apa."


"Itulah ibu bilang juga apa. Jangan sembarang percaya pada laki-laki. Sekarang terjawab sudah keraguan kamu dan ibu selama ini. Lain kali hati-hati mencari jodoh."


"Iya, bu." Alhamdulillah lega bangat.


***


Semenjak dari ancol tadi sudah ratusan kali ryan menghubungi ku tapi tidak pernah aku angkat. Aku memanjakan diriku dengan belanja dan ke salon selagi bisa mencari uang silahkan mempercantik diri dan menabung untuk setelah menikah nanti.


Biasanya aku kusam kata Layla dan Nadia akan aku buktikan seperti apa nana yang sebenarnya.


"Nadia sudah pulang ke kota padang. Dia tidak bisa meninggalkan jadwal mengajar nya, Nadia sudah terikat kontrak tidak bisa di putuskan begitu saja bisa-bisa pihak kampus melayangkan gugatan." Ujar Layla.


"Lalu bagaimana dengan hanafi"


"Gak tau. Sama aja kalian mencintai orang yang tidak mencintai kalian."


"Ya, cinta itu normal. Jodoh kita yang milih kalau dia tidak mau ya gimana lagi."


"Semakin bertambah usia semakin susah nyari jodoh. Kita udah tua."


"Kasihan kita." Saatnya pulang.


Tit tit


"Siapa itu?" Kami ngintip di jendela ternyata hanafi. Mau apa lagi itu anak. Sekarang aku tidak akan lemah lagi aku harus kuat.


"Layla! Pergi keluar bilang aku gak ada di kos"


"Pergi aja keluar hadapi aja."


"Plisss. Aku mohon sama kamu bantu aku."

__ADS_1


"Ya, sudah." Layla berbicara pada ryan tapi sepertinya ryan tidak percaya ingin masuk ke kos keburu di tegur ibu kos. Rasain hahah.


****


Bekerja seperti biasa, ryan dekat dengan beberapa wanita cantik. Aku tidak peduli sama sekali. Aku, Layla, hanafi dan revo semakin dekat. Kita harus menjaga hubungan pertemanan layaknya persaudaraan bukan berarti percaya 100% oh tidak.


Batalnya pernikahan kami sudah terdengar ke telinga tante ratih dan ayahnya. Ayahnya sempat sadar ketika terdengar anaknya batal menikah kembali kritis dan di larikan ke RS Jakarta. Kami ikut menjenguknya walau bagaimanapun, mereka orangtua teman kami.


Tiba di rumah sakit kami di bom pertanyaan oleh ibu dan saudara ryan yang lain. Ibunya malu anaknya batal menikah. Semua tetangga sudah tau, aku membatalkan sepihak karena ulah nya aku bilang kami tidak jodoh sampai ayahnya kembali kritis.


Ryan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak tahan dengan pertanyaan nya memilih keluar. Ryan mengikuti ku.


Brak


"Siapa ini." Lihat dari ujung kaki sampai ujung kepala ternyata dokter fernando. Dokter specialis penyakit dalam yang aku tabrak barusan.


"Pak dokter! Ma'af." Aku pergi meninggalkan dokter itu yang menatapku lama. Tidak percaya akan bertemu lagi. Biasanya aku hanya melihat mirip aja tapi sekarang nyata di depan mata.


Ryan hanya menatap kami dari jauh entah apa yang di pikirnya.


Layla mengikuti ku kami pulang. Sekarang tante ratih tidak percaya lagi padaku ulah anaknya. Kata orang se salah apapun anak laki-lakinya tetap wanita yang salah. Aku paham itu.


***


"Yang sabar ya ryan! Semoga amal ibadah ayahmu di terima di sisi allah dan di ampunkan segala dosa-dosa ya. Amiin."


"Sabar ryan! Doakan ayahmu selalu!"


"Terima kasih semuanya." Seandainya kita tidak putus mungkin saat ini aku berada di samping mu. Tapi, sekarang bukan aku, bukan pula tiara dan amelia entah siapa wanita cantik itu. Aku semakin terbelakang. Ah, sudah lah.


Saat ini aku dan Layla masuk beda shif. Aku memanjakan diriku dengan jalan-jalan. Aku tidak takut kesana kemari sendirian. Toh, aku akan berusaha menjaga diriku semampuku. Aku tidak mau hanya karena omongan orang lain kita tidak berani kesana kemari layaknya katak di dalam tempurung.


"Hp ku mana ya?" Tiba di restoran cepat saji makan sebentar hpku ketinggalan. Entah di mana benda itu. Harganya tidak seberapa tapi banyak kontak di dalamnya.


"Ini!" Tiba-tiba seorang lelaki dan seorang anak perempuan datang menyerahkan hpku. Seorang itu ternyata dokter fernando. Aneh aja jakarta yang luas padat penduduk bisa bertemu dokyer fernando dengan tidak di sengaja.


"Terimakasih. Pak dokter!"


"Sama-sama." Setelah mengambil hpku lekas pergi dan. "Tunggu! Kamu di sini sama siapa?"

__ADS_1


Aku berhenti "Sama teman."


"Kita bertemu lagi. Apa kamu sudah menikah?"


"Alhamdulillah belum. Iya, kita bertemu lagi hampir tujuh tahun lamanya tidak bertemu." Aku pergi, biarkan saya dia membilang aku sombong. Anak perempuan tadi siapa? Apa itu anaknya? Entahlah tidak ada niat untuk bertanya.


"Boleh aku minta kontakmu?" Aku pura-pura tidak mendengar lekas pergi memanjakan diri belanja ke tanah abang.


Hari semakin hari berlalu katanya ryan ingin menikah ternyata batal. Kekasihnya lagi-lagi hamil sama pria lain. Kata ryan, mereka tidak pernah melakukannya. Ryan dan revo sama-sama di tipu.


Entah aku harus sedih entah gembira. Biarlah aku tidak ada urusan apa-apa dengannya lagi.


Tring tring


"Nomor siapa ini? Angkat aja siapa tau penting."


[Hallo! Ini siapa]


[Hallo! Ini saya dokter fernando. Masih ingat gak? Kita pernah bertemu di RS dan restoran kemaren] Dokter fernando? Ya ampun. Dari mana doa dapat nomor aku?


[Oh, ingat ada apa ya, pak]


[Gini, Na! Aku gak nyangka kita bertemu lagi. Gimana kabarmu]


[Kabar ku alhamdulillah baik. Bapak]


[Ya, seperti inilah. Boleh gak aku ngajakmu jalan] Jalan? Memangnya dokter fernando gak punya istri? Atau dia ingin mencari istri kedua?


[Lalu istri bapak?]


[Kami sudah bercerai. Kapan kamu libur kerja kita jalan, ya]


[Aku sibuk bangat]


[Loh, kemaren]


[Hari minggu libur]


[Ya, sudah hari minggu aja. Saya juga tidak praktek]

__ADS_1


[Akan ku pikirkan lagi] Aku ingin mencari orang baru. Duda bukan seleraku. Maaf, ya! Dokter. Aku harus membohongi mu. Sekarang langsung blokir nomormu.


Next


__ADS_2