
Merantau ke kepulauan riau
Part 80
Ryan
"Apa? Kamu mau menikahi gadis minang? Yang benar aja kamu. Mama tidak setuju pokoknya kamu harus menikah dengan tiara titik."
"Aku mencintai Nana bukan Tiara. Tidak usah memaksaku menikah sama orang pilihan Mama."
"Lupakan cinta, cinta itu hanya sebentar, memangnya kenapa tidak mau menikahi dengan Tiara? Tiara cantik, kita sudah tau bibit, bebet dan bobotnya. Kenapa kamu mencari orang seberang yang tidak tau asal usulnya."
"Justru asal usulnya sangat baik. Aku sudah pernah bertemu keluarganya mereka sangat baik welcome sama siapapun tidak seperti keluarganya Tiara sombong terhadap sesama."
"Ryan! Lancang kamu. Kamu itu yang sombong sama sesama. Mereka kesini aja tidak pernah kamu acuhkan."
"Karena aku tidak mau di jodohkan. Kalau mama tidak mau merestui kami, biar kami kawin lari."
"Papa kamu sedang sakit loh. Kalian mungkin bisa menikah karena kamu tidak butuh wali. Coba kamu pikir bagaimana caranya kamu membawa dia kesini sedangkan mama kurang suka."
"Yang menikah itu kami. Kalau mau menikah ya harus mau berumah tangga. Harus mau menyediakan sandang, pangan, dan papan yang layak untk istriku kelak. Aku akan membawa istriku jauh dari keluarga ku. Aku tidak mau kalian menyakiti dia nanti ujungnya aku jadi suami zolim."
"Lalu bagaimana dengan mama? Kamu itu anak laki-laki, kenapa kamu harus pergi dari rumah? Kalau terjadi apa-apa sama kami bagaimana? Jangan memikirkan diri sendiri pikirkan juga kami."
"Ma! Mama tau gak. Anak itu akan dewasa. Setelah itu kami pergi mencari kehidupan sendiri. Kenapa mama takut terjadi apa-apa? Mama itu harus mandiri tidak selalu membutuhkan anak. Mereka yang hanya memiliki anak perempuan lebih makmur dari pada memiliki anak laki-laki tidak ada kesulitan sedikitpun karena mereka dididik mandiri tidak bergantung pada orang. Sudah lah. Apapun kata mama aku tidak akan pernah menikahi Tiara tidak pula membawa Nana ke rumah ini.
"Kamu mau jadi anak durhaka?"
"Mama lah orang tua durhaka." Aku menutup kan sambungan telpon. Apa sih yang ibu lihat dari Tiara? Bagiku gadis itu tidak memiliki skill. Tidak se pemikiran, tidak sejalan dengan ku. Tidak pula bisa di ajak diskusi. Aku tidak hanya membutuhkan teman tidur. Tapi, Aku butuh wanita yang dewasa yang bisa di ajak diskusi masalah apapun.
***
__ADS_1
Nana
N
Pagi masih bekerja seperti biasa. Layla kebiasaan bangun kesiangan. Aku tidak akan membangunkannya biarlah dia bangun sendiri.
Hingga tiba di kantor orang pertama kali ku jumpai dialah ryan. Mana Tiara? Biasanya mereka selalu nempel.
"Pagi, Na!"
"Pagi juga." Kami bekerja seperti biasa. Walaupun satu kantor kami jarang bertemu karena beda ruangan. Sebagai anggota baru aku harus benar-benar hati-hati dalam bekerja agar tidak teledor.
Ryan mengajakku makan siang. Sayangnya Tiara mengikuti kami berusaha mencari perhatian ryan. Seperti menyiapkan kursinya, membantu menyediakan apapun yang ryan butuhkan. Disini aku merasa menjadi nyamuk.
"Kamu duduk disini aja." Tiara menyiapkan kursi untuk ryan.
"Iya, Nana! kamu duduk di depan saya aja." Duduk di depan ryan aku lihat Tiara sangat keberatan dengan keberadaan ku.
"Ini untuk kamu aja Nana, biar ini untuk aku." Ryan memberikan pesanannya untuk aku. Tiara kesal sendiri.
"Ini saos dan kecapnya biar aku tuangkan." Uja Tiara
"Tidak usah. Aku bisa sendiri." Tolak ryan tapi Tiara tetap memaksa. Setelah itu Ryan memberikan botol-botol itu dan menuangkan pada ku tapi ku larang aku bisa menuangnya sendiri." Lagi-lagi tiara kesal.
Restoran sedang ramai tapi kami hanya diam tidak tau harus berbicara apa. Ryan juga tidak mengajak kami bicara.
"Oh, ya, ryan! Semalam ibumu menghubungi aku. Katanya kamu jarang menghubungi mamamu. Papaku sedang sakit juga tidak pernah kamu hubungi. Jangan seperti itu lah jadi anak. Kamu anak laki-laki mereka satu-satunya loh."
"Justru malam tadi kami berbicara."
"Iya, tapi kata mamamu jarang bangat kalau tidak di hubungi duluan kamu tidak akan menghubungi mereka."
__ADS_1
"Kalian bicara apa aja."
"Ya, katanya kamu harus menjagaku selama aku di sini."
"EHEM." Mereka berbicara aku di anggurin. Kenapa ryan ngajak aku kalau hanya untuk di diamkan.
"Nana! kamu sudah selesai. Habisin aja nanggung tuh. Bukankah kamu tidak suka menyisakan makanan?" Aku terpaksa menghabiskan makananku walaupun rasanya jadi hambar.
"Aku ke belakang dulu." Mereka mengangguk, Tiba di belakang aku hanya berdiam diri. Situasi tadi membuat mood ku hancur. Menarik nafas dalam-dalam keluarkan setidaknya membuat perasaan ku lega. Keluar tiba-tiba. Tiara mengajakku ke suatu tempat.
***
Tiara
"Na! Aku tau ryan mencintaimu. Aku lihat perhatiannya begitu besar padamu. Apa kamu mencintainya juga?" Tiara mengikuti ku ke belakang hanya untuk membicarakan ini.
Aku diam memikirkan jawaban apa yang harus ku jawab. Aku bilang tidak, aku sangat terluka ketika ryan pergi tampa kabar. Ketika kami bertemu lagi mata kami saling memandang hatiku jatuh, jantungku berdebar, badanku berkeringat dingin. Apa kamu jatuh cinta padanya? "Iya." Hanya itu yang ku jawab
Tiara memandang ku tajam setajam silet yang siap melukai penggunanya. "Kamu pasti tau aku juga mencintainya dari semenjak kuliah karena kami sudah di jodohkan. Mati-matian saya memperjuangkan cinta saya tapi hati ryan masih beku belum bisa sukses ku cairkan. Karena dia mencintaimu."
Tidak perlu di bilang tentu aku tau dari cara memandangnya, dari cara mencari perhatian. Cukup mudah menebak lawan jenis menyukai temannya.
"Orangtua kami bersahabatan memiliki bisnis dan kerja sama. Mereka menjodohkan kami karena ingin mempererat hubungan silaturahmi kami. Orangtuanya sangat mempercayaiku bisa menjadi menantu yang baik untuk mereka. Begitu juga orangtuaku percaya sama dia bisa menjadi imam yang baik untukku. Aku mohon sama kamu. Bisa gak, kamu jauhi ryan!"
Deg, menjauhi Ryan. Maksud nya apa? aku harus menjauhi ryan? apa itu tandanya kami tidak berjodoh? menjauhi Ryan. "Kenapa kamu tidak melarang ryan mendekati ku?"
"Sudah pernah ku bilang tapi tidak pernah menggubris omonganku. Omongan orang tua nya saja tidak di gubris demi kamu apalagi aku."
Aku tau kamu gadis yang baik. Makanya aku mohon sama kamu jauhi ryan. Berikan ryan untukku. Lagian orang tua nya sudah menjodohkan kami berharap kami menikah dan kamu belum tentu di terima di keluarganya karena kamu orang jauh. Ku lihat lelaki sekelilingmu juga menyukai mu karena mereka tau ryan menyukaimu kalian sudah dekat mereka urungkan niat itu. Tapi, aku tidak ada yang menyukai ku karena aku membatasi diri manut sama orang tua hanya untuk ryan seorang. sekali lagi aku minta. "JAUHI RYAN."
Baru aja kami merencanakan masa depan aku tau ada seseorang patah hati. Aku juga memikirkan itu. Karena mereka belum halal makanya aku tidak ragu bangat menerima ajakan ryan untuk menikah ternyata sekarang orang di depan aku memintaku untuk menjauhi lelaki pujannya. Aku justru kasihan padanya, aku juga kasihan pada diriku susah bangat untuk bersatu.
__ADS_1
Next..