
Merantau ke kepulauan Riau
#Part 55
Ryan ku akui mahasiswa paling aktif di kampus. Apapun yang acara yang di lakukan pihak kampus selalu ikut. Tidak afdol rasanya kalau seorang Ryan tidak ikut. Acaranya seperti tidak bernyawa.
Lain dengan aku yang jarang aktif, aku hanya aktif di komunitas yang ku suka aja. Aku juga tidak bergantung pada teman, masa gara-gara teman tidak ikut. Kita juga tidak ikut, itu tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan orang baru. Kurang percaya diri, itu bukan tipe ku.
Hening
"Na, kita kan sudah kenal lama, giman sih, aku ini menurutmu?" Ryan memilih memecahkan keheningan di antara kami.
"Biasa aja. kenapa tuh?" Mengalihkan muka ke arah Ryan.
Ryan menghela nafas dalam-dalam. "Gak ada yang lain gitu?"
"Kita memang sudah lama kenal. Tapi, kita jarang bertemu karena beda lokal. Yang lainnya kamu cepat menyesuaikan diri dengan orang lain, nyambung, enak di ajak ngobrol sama mereka." Setahuku memang seperti itu, hanya pernah melihat cara dia menyesuaikan diri dengan mahasiswa lain.
"Bagimu, enak gak, ngobrolnya?"
"Kalau nyambung, sopan. Ya, nyaman-nyaman aja." Ya, memang harus sopan, kalau tidak, wanita mana sih, yang nyaman dengan lelaki nakal?
"Gini, Na! Kita kan sudah lulus. Apa rencanamu selanjutnya?" Rencanaku, entahlah. Entah gelar sarjana kok nganggur akan melekat ke diriku? Menjadi bahan ghibah tetangga.
"Rencanaku, mau pulang kampung. Cari kerja, mau ke Jakarta."
__ADS_1
"Gak ada niat untuk mencari pasangan hidup gitu?" Pasangan hidup? Tentu iya. Tapi, untuk sekarang tahan dulu.
"Ada. Tapi, nanti, aku mau kerja dulu. Bahagia ka orangtua. Setelah itu baru mencari pasangan hidup."
"Umurmu berapa?"
"24 tahun."
"Wah, sudah 24 loh. Biasanya wanita kalau sudah berusia 23 tahun itu. Mereka sudah tidak mau menyendiri terlalu lama lagi, setahuku mereka butuh kepastian dari kekasih ingin cepat-cepat menikah, ikut suami masuk ke rumah mertua jadi IRT biasa."
"Iya, itu mereka bukan aku, aku sih tidak mau terburu-buru. Membahagiakan orangtua jauh lebih penting dari pada mencari pasangan hidup. Kalau cita-cintaku ingin membalas jasa untuk orangtua sudah tercapai baru menikah. Aku bukan wanita yang mau melupakan jasa mereka. Aku kuliah di batam ini dengan penghasilan ku sendiri sama sekali tidak membebankan orangtua. Ingin membalas jasa mereka yang telah merawat ku dari kecil sampai usia 18 tahun. Itu pilihan masing-masing."
"Loh, itu kan kewajiban mereka merawat, membesarkan dan menyekolahkan kita sampai sarjana."
"Ternyata wanita ini perempuan mandiri, tidak malas-malasan, berharap penuh dengan penghasilan keluarga. Sepertinya wanita ini sangat cocok di jadikan istri. Pola pikirnya juga dewasa. Sayangnya masih menutup hatinya. hatinya." Batin Ryan.
"Aku mau mengajakmu menjalani komitmen, kita sudah dewasa, sudah punya tujuan sendiri. Memulai sesuatu dari Nol, merangkak bersama, mendaki gunung, melewati lembah, susah senang bersama dengan gelak tawa dan air mata. Kayaknya memulai sesuatu dari Nol. Lebih menjanjikan menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah dan warrahmah. Adakah keinginanmu untuk itu?"
"Ada. Tapi, nanti. Ada saatnya aku akan menemukan pasangan hidup. Sekarang, aku ingin mengasah skill dulu. Karena bagiku, wanita membutuhkan skill untuk masa depanku. Sudah menikah nanti, aku tidak mau tinggal di rumah mertua. Dia yang tinggal di rumah ku atau kita mengontrak jauh dari orangtua, mertua dan ipar. Karena bagi sebagian orang. Mereka itu maut mematikan, perusak rumah tangga."
"Maaf, kasar ngomongnya. Sejauh pengalamanku kebanyakan rumah tangga orang gonjang ganjing karena mertua dan ipar. Mereka suka ikut campur, suka menyalahkan salah satu pihak. Walau yang di salahkan itu benar. Tinggal di rumah mertua juga tidak wajib juga tidak sunnah, suami wajib memisahkan istri dari mertuanya. Menyiapkan sandang, pangan dan papan yang layak agar tidak asal nikah, istri dan anak terlantar ujungnya berlindung di balik kata takdir. Aku tidak mau itu terjadi, cinta bukanlah segalanya.
"Ekonomi, wanita sanggup bertahan dengan ekonomi yang pas-pasan. Untuk memenuhi gizi anak aja tidak sanggup. Suami berat sebelah, Ibu yang cemburuan tidak tau Anak laki-lakinya punya tangguh jawab terhadap istri dan anak. Mertua juga tidak tau anak laki-laki harus mendahului kewajibannya pada istri sampai cukup baru orangtua. Mertua juga kurang tau kalau anak bukan hanya miliknya. Tapi, milik Allah, istri dan anak."
"Kamu tidak menyukai mertua?"
__ADS_1
"Bukan tidak suka, hanya saja terlalu cinta seorang hamba, hingga menciptakan attitude yang buruk. Menyakiti hati menantu. Aku tidak suka itu pengalaman melihat banyaknya alasan orang memenuhi kantor PA. Tergantung juga, kalau sifatnya baik, tidak ikut campur, tidak menyakiti hati menantu suka-suka aja. Anggap.aja menantu anak sendiri, yang telah bersedia meninggalkan rumah orangtuanya yang nyaman demi berbakti pada anaknya. Bukan malah di bilang orang lain yang numpang hidup pada anaknya. Kalau numpang hidup. Manusia juga numpang di bumi Allah.
kalau menantu tidak mungkin itupun sedikit yang mau mengganggu mertua karena orang tua. yang mana taat dan berbakti sudah di ajarkan dari kecil. Menyayangi yang muda itu yang jarang."
Mendengar penuturan Nana, Ryan sedikit memgerti dengan karakter Nana, seprtinya bukan wanita sembarangan. "Oh, ya. Apa kamu ingin mencari lelaki yang sudah mapan?"
"Tidak juga, hanya saja tidak ingin meneruskan rumah tangga yang kacau seperti mereka yang bercerai, karena ekonomi, mertua, ipar, wanita atau lelaki lain. mengorbankan anak-anak. Seorang ayah yang telah menikah lagi, banyak pula yang lupa tanggung jawab terhadap anaknya. Seorang anak yatim yang menjadi tanggung jawab wali nya. Banyak pula wali yang tidak bertanggung jawab pula. Bukan kisah ku. Pengalaman dari teman-teman, kerabat, tetangga dan sesama perantau aja."
"Gara-gara mereka kamu jadi suudzon."
"Hati-hati aja. Sebelum terjadi. Satu lagi, aku menginginkan lelaki yang setia satu sampai mati, bukan dua, tiga, atau empat. Aku tidak suka dengan lelaki mudah berpaling hati. Mudah mengatakan cinta ingin menikahinya ujungnya melalaikan nafkah. Aku tidak suka."
"Kalau dia mapan?"
"Juga tidak suka, karena lelaki bukan kebutuhanku. Banyak jalan menuju surga. Aku tidak mau mengikuti kata-kata orang yang pola pikirnya sempit, mengatakan hanya satu jalan menuju surga untuk seorang wanita. Cekcok sama yang lainnya. Tapi, menurut pelajaranku lain. tidak ada ilmu yang di dapat orang yang seperti itu."
"Apa kamu mau mendua setelah menikah nanti?"
"Kalau sudah ada satu kenapa harus dua? Aku tidak mau menjadi lelaki yang rakus. Tidak cukup satu, memang halal. Tapi, tidak sembarangan orang yang di perbolehkan poligami. Kebanyakan poligami sekarang juga merusak rumah tangga. Yang pertama pergi, yang kedua juga pergi tinggal kita laki-laki sendiri di masa tua."
"Pengalaman pribadi?"
"Iya, banyak kejadian di keluargaku dan lingkungan seperti itu."
Next dulu.
__ADS_1