
Alda sudah kembali ke kampung halamannya, katanya dia juga ingin melanjutkan pendidikan nya oe jenjang yang lebih tinggi. Atas keinginanku dulu ke kota ini ingin mencari biaya untuk kuliah dan tidak membebankan orangtua. Orangtua kerja memang untuk anak. Tapi, kalau Aku merasa sudah dewasa sudah bisa mencari sendiri, kenapa harus minta orangtua, aku harus berjuang demi masa depan. Masa depan kita, kita sendiri yang mencarinya bukan orangtua atau saudara.
Alya dan Indira melanjutkan kontraknya masih sebagai karyawan biasa, karena mereka yang boros, jadi selama tiga tahun ini mereka tidak punya banyak uang. Malu pulang kampung, mereka memperpanjang kontrak.
Cek saldo di Bank, ternyata banyak juga hampir 100 60 juta. Tabunganku terbanyak dari yang lainnya. Aku banyak masuk lembur, kerja di hari minggu dan hari raya selepas sholat Ied itu hanya lebaran haji karena gak pulang kampung. Dapat bonus kerajinan dan gaji skill.
"Alhamdulillah, 60 juta."
"Banyak amat, Na." Ujar Alya. Iya aku dan Alya kembali berteman sejak 2 tahun silam.
"Iya, aku kan menabung."
"Sayang bangat duitku cuma 5 juta." ujar Aira.
"Duitku 3 juta." Ujar Alya.
"Kalian belanja mulu gak mikir tabungan. Tuh, lihat semua merek terbaru pasti kalian beli, mau kirim ke kampung banyak bangat. Mau jual lagi sayang jatuhnya nanti murah."
Pulang singgah ke kos Alya dan Indria sebentar mau mengambil semua barang-barang yang mereka pinjam. Awalnya rugi memberikan mereka barang yang baru kubeli kadang memakainya saja belum ini sudah di pinjam. Aku putuskan untuk tidak belanja lagi demi masa depan. Hanya saja tas, baju dan sepatu ku beli sama Alda dulu yang dia pinjam.
"Iya, Nih. Nyesal bangat aku tuh boros-boros. pinjam duitmu, Na, 3 juta aja. Nanti kalau aku memperpanjang kontrak aku ganti." ujar Alya memelas minjam uang, ini sudah kesekian kalinya minjam uang tapi jarang ku kasih dengan Alasan tabungan. Menggantinya kalau sudah memperpanjang kontrak. Sayangnya aku sudah tidak lagi disini. Aku sudah kembali ke kota padang. Iya, kalau mereka dapat kerja. Cari kerja saat ini susah bangat banyak yang di PHK, dan musim PHK.
"Oh, tidak bisa, aku mau pulang kampung mau kuliah." Mereka berdua ini seperti teman kosnya Alda dulu, seperti benalu suka meminjam-minjam.
"Tenang aja nanti aku ganti." ganti-ganti, yang kemaren belum di ganti biarlah ikhlasin aja. Toh, rezeki gak kemana-mana.
"Tidak bisa, Ya. Ini aja masih kurang masa kamu minjam kebiasaan deh ujungnya juga gak ganti. Ganti dulu duit yang kemaren!" Alya tersentak mendengar aku menagih uang ribuan yang sering mereka pinjam kalau di hitung banyak juga dapat ongkos pulang kampung.
"Nanti aku ganti dua kali lipat." yang seribu aja enggak di ganti ini ingin mengganti dua kali lipat, BASI.
"Kamu gitu mulu, minjam setiap hari tapi gak ganti, sekarang mau mengganti dua kali lipat mending gak usah, Aku pergi dulu Bay." Ambil semua barang yang di pinjam Alya dan Indira persis yang kami lakukan sama teman Alda dulu. Duh, dimana-mana tinggal benalu selalu ada.
"Eh, Nana tunggu!"
"Gimana Al, Nana kasih gak?"
"Kali ini enggak Aira."
"Pelit bangat dia. Dia teman terpelit dan paling susah di manfaatkan. Tajam bangat instingnya, kayaknya dia tau temannya mau minjam uang dia sebelum itu dia keburu lari
"Ya, Biasalah, orang padang. Orang padangkan pelit."
Terdengar suara mereka sedang membicarakan aku, masih bisa ku dengar walau tidak jelas karena bising nya suara motor tetangga dan lainnya biarlah mereka ngomong apa yang penting aku lepas dari mereka. Mereka bukanlah seperti orang yang ku kenal pertama kali dulu yang begitu baik dan perhatian, sekarang jadi si tukang hutang. Hutang, hutang, hutang mulu tak ada hari tanpa hutang. Kebiasaan shopping membuat gaji drop di tempat.
__ADS_1
-------
Selama disini aku menutup hati untuk pria manapun. Dokter Fernando hanya datang ketika aku memblokir semua aksesnya. Bertanya kenapa di blokir? Ada apa? Kenapa? Apa salahnya?
Flashback
"Hai, Nana. Apa kabar?"
"Hai, juga, Pak kabar baik, Bapak apa kabar?"
"Ya, seprti ini lah, pak. Baik-baik aja."
"Oh, ya, to the poin aja ya. Kenapa kamu memblokir semua akses kita? Ada apa? Kenapa? Apa salah saya sama kamu?" Tiba-tiba Bang Faisal muncul di depanku di kafe di lantai 4 Mall top 100.
"Maaf, Pak, tidak ada maksud dan salah apa-apa. Hanya ada orang yang mengirim foto kita berdua di bioskop ke HP Bang Faisal. Dia marah besar padaku untuk tidak berteman dengan lelaki manapun karena Bang Faisal hanya mau aku Fokus ke masa depan aja."
"Saya rasa bukan itu masalahnya, Apa saya ada salah sama kamu?"
"Tidak ada salah apa-apa pak, saya hanya manut pada Bang Faisal aja."
"Saya yakin ada sesuatu yang kamu sembunyiin, jujur lah, Na."
"Tidak ada kok pak. Maaf, ya aku sudahin aja obrolannya saya mau pergi dulu."
-------
Tidak ada salahnya hanya saja aku mau fokus ke masa depan. Bang Faisal sudah membentakku habis-habisan makanya tidak berani neko-beko walau setitik lumpur pun. Kata-kata dokter Nando di bioskop dulu tidak berlaku setelah itu dia sendiri yang tidak member lakukan nya kenapa aku harus menuntut.
Biarlah berjalan apa adanya.
"Bang, besok aku mau pulang kampung." Bang Faisal sedang membuat warung kecil-kecil di dekat sini, karena kontrakan sudah pindah ke tepi jalan dan sekolahan membuat penghuninya berlomba-lomba ingin membuka usaha disini terutama untuk mereka yang terkena PHK agar istrinya tidak merasa berjuang sendirian.
"Gak ada Niat mau kuliah di sini?"
"Enggak, Bang, lagian Abang tidak kerja, kak shela sendiri yang masih kerja segan Bang. Lagian di kota padang kampusnya tak kalah bagus kok." Saat ini di tahun 2014 Ribuan karyawan baik kontrak maupun permanen terutama laki-laki di PHK besar-besaran hanya wanita yang tidak di PHK, Jadinya kak shela yang kerja untung nasip baik masih memihak mereka.
"Abang juga kerja, nih mau buka usaha. Kamu bisa membantu Abang jualan, di kampung juga ada Angga yang menjaga Ibu. Disini kak shela kerja, Fatih terpaksa Abang yang jaga kalau Abang sibuk melayani pelanggan takutnya Fatih terlantar."
"Jangan sampai terlantar juga kan, Bang."
"Kamu kuliah Disni aja. Sambil bantu Abang. Nanti kamu bisa ngambil upahnya kok. Di kampung banyak kerabat yang membantu Ibu, tapi di sini tidak."
"Ku pikirin dulu, Bang."
__ADS_1
Di satu sisi Aku ingin pulang, di satu sisi Abang menyuruhku kuliah disini, bimbang. Bisa sih aku kuliah disini, tapi Bang Faisal tidak kerja. Aku tidak mau kak shela menjadi terbebani karena keberadaan aku disini yang kehidupanku di tanggung oleh dia. Kuliah bisa aku mencari beasiswa ku usahain sampai dapat. Kira-kira usaha apa yang akan di jalani Bang Faisal?
"Bang! Abang mau buka usaha apa?"
"Jajanan anak-anak, martabak dan warung biasa."
"Oh,"
Kembali ke kamar ku hubungi Ibu mau minta solusinya.
"Hallo, Bu."
"Hallo, Na, gimana kabarmu?"
"Kabar ku, Seperi biasa bu. Ibu, gimana?"
"Alhamdulillah, baik. Gimana putusanmu, Na. Apa, mau pulang apa tetap disitu?"
"Belum tau, Bu. Abang bilang, Aku kuliah disini aja sambil bantu dua jualan, kak shela kerja karena Bang Faisal di PHK."
"Menurutmu?"
"Menurut Ibu gimana?"
"Menurut Ibu terserah kamu, mau pulanh ya sudah, mau bertahan di situ ya sudah."
"Emang, Ibu tidak keberatan?"
"Kenapa keberatan? Anak-anak Ibu sudah dewasa, sudah bisa mencari jati dirinya sendiri, Ibu setuju-setuju aja kok, yang penting ada tujuan. Ibu disini tidak apa-apa. Ada Angga dan kerabat yang membantu Ibu. Bang Faisal juga buka usahakan?"
"Iya. Ya, sudah, Aku bertahan disini aja."
"Bila kamu tidak memiliki uang, hubungi Ibu, biar Ibu yang mengirim uang."
"Memangnya Ibu masih menyimpan uang yang ku kirim dulu?"
"Masihlah, tidaka da sesenpun yang Ibu pakai. Kamu, kan tau Ibu juga punya usaha, semua itu juga untuk kalian."
"Baiklah bu."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Next....