
Merantau ke kepulauan Riau
POV Ryan
10 tahun mengikuti orang tua ke kota batam setelah itu mereka pulang ke kampung halaman tinggal aku sendiri kuliah sambil bekerja.
Aku kesepian tidak mau larut dalam keheningan apapun komunitas yang di lakukan pihak kampus dan perusahaan aku selalu ikut. Tidak susah melakukan sosialisasi aku selalu bisa menyesuaikan diri dan menguasai keadaan di manapun aku berada.
Sampai terjerumus pergaulan bebas sangat memprihatinkan di kota besar. Aku suka gonta ganti pasangan tapi tentu memakai pengaman tidak sampai bocor. Rata-rata perempuan muda yang aktif bersosialisasi mau aja di iming-iming dengan cinta.
Entah sudah berapa kali melakukannya dengan satu orang begitu juga dengan perempuan lainnya.
***
Tiga semester kuliah baru aku tau ada mahasiswa cantik, cerdas dan pendiam di kampus. Itupun kenal nya waktu traveling ke Natuna. Jadi, selama ini aku kemana aja"
Walaupun satu alumni bukan berarti kita saling kenal, dia orangnya tertutup.
Sayangnya orangtuaku sudah terlebih dahulu menjodohkan aku dengan salah satu anak teman setianya dan juga sekampung. Namanya Tiara, . Tiara ikut mengikuti orangtuanya ke batam hingga pulang, Aku dan Tiara tetap tinggal di kota ini. mendengarkan itu membuatku miris. Sekarang zaman apa? Perjodohan masih berlaku.
Aku tentu menolak perjodohan itu dengan alasan aku sudah punya bisa mencari jodoh yang baik dari kalangan pesantren. Se brengs*k-brengs*k nya laki-laki dia tetap mencari wanita yang baik, bersih, dan berasal dari keluarga yang baik-baik. Karena kami tidak mau menciptakan generasi yang dididik oleh ibu yang pernah terjerumus ke pergaulan bebas apalagi tidak bertobat. Kalau ada itu hanya di novel.
Orangtua tidak memaksa hanya memintaku untuk kenal dan berteman dulu kalau cocok lanjutkan kalau rasanya tidak cocok tidak udah. Tapi, Tiara butuh ke pastan, dia sangat mencintaiku sedangkan aku belum berbagai cara yang dia lakukan tetap aja hatiku masih beku untuk dia.
Tiara
"Ryan! Orangtua kita menjodohkan kita. Bagaimana pendapatmu?" Tanya tiara waktu aku
__ADS_1
Aku menjawab" Kamu mau di jodohkan?"
"Tergantung orangnya menuturtku baik, penyayang, hormat sama ayah dan ibu dan bertanggung jawab itu aja. Hubungan spiritual bisa di perbaiki bersama tidak mungkin hubungan manusia sama allah akan buruk selamanya." Aku pandangi dalam-dalam seperti nya Tiara sangat menyetujui perjodohan ini, apa Tiara menyukaiku?
"Apa kamu punya pacar?"
"Tidak pernah sama sekali." Tidak pernah sama sekali menurut Ibu Tiara di larang oleh Ibunya pacaran. Apa anak muda akan manut?"
"Tiara! Ujarku. Tiara nampak serius menanggapinya. "Jujur ya! Apa kamu mau menerima perjodohan itu?"
Tiara memejamkan matanya sejenak. "Jujur, aku sudah memperhatikannya sejak masih di kampung tapi aku tidak pernah berharap kita berjodoh. Pada saat ayah dan ibu kita menjodohkan kita aku mulai memperhatikan mu lebih dalam di tambah mereka membicarakan sifatmu. Jujur lagi, aku mau di jodohkan. Karena pilihan orangtua tidak semuanya salah. Entah kenapa aku percaya hangat ssma mu."
Ryan tidak tau harus berkata apa, Ryan tidak menyukai perjodohan. Di satu sisi ada wanita yang berharap dengan kepastian. Entah dari mana Tiara menyukaiku hingga menerima perjodohan ini.
"Kita jalani saja dulu berteman baik kalau cocok lanjut kalau tidak. Kita cari yang lainnya."
Mendengar itu membuat Tiara agak kecewa. Sebab Ryan adalah tipe kelak idaman nya.
"Sampai kapan? Aku butuh kepastian."
***
Sama saat itu Tiara selalu menghubungi ku memberikan aku support di kala jenuh akibat kerjaan dan tugas kuliah, memberi perhatian apa sudah makan apa belum, jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Tiara juga sering membersihkan kos aku.
Hingga tiba saatnya Tiara mencurigakan aku tertarik pada Nana teman sekampusnya. Tiara tidak menunjukkan sifat cemburu nya walaupun ingin menanyakannya namun gengsi mengakuinya semakin tetap memberiku support.
"Kalau boleh tau, Nana itu temanmu? Kok aku tidak tau?" ujarku waktu itu.
Tiara nampak tersinggung aku menyebut namanya. Ternyata wanita gampang tersentuh. "Iya, dia temanku. Tapi, dia anak rumahan jarang aktif seperti yang lainnya. Kenapa tuh?"
Nana anak rumahan dan jarang aktif? Bagus sih, menurutku sebagai perempuan tidak perlu aktif bangat dari pada salah pergaulan. "Tanya aja, siapa pacarnya?"
__ADS_1
"Tidak tau. Apa kamu menyukai nya?" Waktu pertama kali memperhatikan dia mungkin bukan pada pandangan pertama. Aku lihat dia unik, banyak yang lebih cantik Tiara tak kalah cantik entah kenapa perasaan ku tertuju pada Nana.
"Sebagai lelaki normal iya. Jangan tersinggung ya? Toh, janur kuning belum melengkung."
Tiara menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya. "Dia lebih tua darimu."
"Tidak apa-apa. Umur tidak masalah bedanya aku telat lahir."
***
Susah bangat menghubungi Nana entah apa yang salah dari nomornya. Apa Nana memblokir ku tapi untuk apa? Di kampus jarang bertemu karena kesibukanku sering berkumpul dengan berbagai komunitas dan bolak balik ka jawa menjenguk ayah yang sedang sakit. Ayah menagih janjinya apa mau di jodohkan sama anak temannya.
Sampai sekarang ini aku belum memiliki perasan apa-apa kadang. Sifat perhatiannya selama ini justru membuatku ilfil. Nana seakan menghilang kita kuliah di tempat yang sama tapi paling susah di temui.
Hingga tiba saatnya wisuda, aku perhatikan Nana membawa keluarganya. Ku lihat mereka keluarga yang harmonis tidak banyak konflik yang terjadi, ku lihat mereka juga pendiam. Kakak laki-lakinya juga sayang pada keluarganya.
Selesai wisuda Tiara menagih janji aku bilang belum siap karena ingin membalas jasa orangtua dulu. Kata Ibu membalas jasa tidak perlu di lakukan hanya berbakti sampai mati itu aja. Kasihan sama anak orang. Jujur aku belum memiliki perasan apa-apa padanya. Tiara memang sukses menjauhkan ku dari pergaulan yang salah tiara tidak tau aku sudah menodai anak perempuan orang sebanyak sepuluh kali. Tiara juga tidak bertanya.
Hingga ketahuan kalau no. Ponsel Nana terblokir entah siapa yang melakukannya. Apa aku yang salah pencet? Niat menghubungi nya malah terblokir. Suatu hari aku pernah mendengar dari teman sakit, Tiara cinta mati padaku berharap akan berjodoh tapi hatiku masih beku sampai memblokir no. Nana di ponselku. Baru aku tau Tiara pelakunya.
Aku tidak marah hanya ke ke kanak-kan akan bangat main blokir.
"Jadi, kamu yang memblokir no. Nana di ponselku? Ke kanak-kan akan bangat."
Tidak mau berbohong terpaksa jujur."Iya, aku melakukan itu supaya kamu fokus sama perjodohan kita kalau menyimpan nomor wanita lain perhatian mu tidak fokus pada perjodohan itu."
"Kamu cemburu? Atas dasar apa? Kita ini belum terikat pernikahan tapi cemburunya berlebihan sampai memblokir orang. Tiara, jujur ya, selama ini kamu support aku, beri perhatian. Sayangnya belum mencairkan hatiku yang beku karena setelah di pikir, kita sudah bersama sejak kecil, rumah kita dekat, kita satu sekolah, kuliah dan kerja. Aku sebenarnya sudah lama ingin membicarakan ini tapi menunggu waktu yang tepat."
Tiara menundukkan kepala sebab tutur katanya ini sangat membuat dia kecewa
"Tiara! Ryan memegang pundak Tiara. "Lihat aku," Ryan menatap Tiara dalam-dalam Tiara pelan-pelan menatap Ryan. "Kita sudah bersama sejak kecil. Jadi, aku memutuskan untuk membatalkan perjodohan ini. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang sudah lama ku kenal. Aku bebaskan kamu mencari pria lain.
__ADS_1
Tiara terguncang lalu
Next.