
Setiap kali aku mengerjakan pekerjaanku, satu karyawan baru ini selalu memperhatikan aku dan merebut apapun yang kukerjakan. Mendekati ku, tanya jawab, aku bisa membaca karakternya sepertinya dia ini penjilat bersifat ular. Dia pendiam tapi licik, IQ nya tinggi cepat nangkap pekerjaan dan rajin. Badannya yang gemuk lebih rendah dari kebanyakan orang tapi percaya dirinya sangat tinggi dan pintar. Kalau kerja tidak menghiraukan kiri kanan masa bodo sama orang yang menghibahi tentang bau badan dan tubuhnya. Iya, aku mencium bau badannya sangat aneh sepertinya dia tidak memakai deodorant dimana dia si nggak disitu orang tutup hidung dan lari. Tapi dia tetap percaya diri dan boro amat sama sekitarnya.
"Lo, udah berapa lama disni?" anak baru yang bernama Aira itu sepertinya mencoba mendekati ku, karena aku yang tidak pernah lari di dekatin.
"6 bulan?"
"Pasti udah banyak dapat gaji ya?"
"Ya, gitu deh, umurmu berapa?"
"23 tahun, kamu?" 23 tahun seumuran kakak perempuanku.
"Aku 18 tahun."
"Masih muda ya?"
"Iya," aku manggil kamu kakak aja ya, kakak seumuran kakakku."
"Iya, boleh."
"Kalau boleh tau, selepas sekolah kakak ngapain aja?"
"Kerja juga."
"Dimana?"
"Di ITC Jakarta."
"Kenapa pindah?"
"Udah habis kontrak."
"Lalu kenapa sampai tiba di batam?"
"Ikut paman Aku."
"Hah, ikut paman?"
"Kerja dimana pamannya?"
"Buka usaha sendiri, konter."
"Oh."
"Gajimu berapa?"
"Sama seperti mereka."
"Ya, berapa?"
"Mau tau bangat ya?"
"Boleh lah?"
"3,5juta/bulan diluar bonus dan lembur."
"Oh, banyak juga ya."
"Iya, kalau kerja di ITC berapa gajinya?"
"2 juta.
"Gak termasuk uang lembur kan?"
"Itu sudah semuanya."
Mulai hari itu dia selalu mengikutiku, ke toilet, makan duduk disampingku, sepertinya dia berusaha menggali informasi tentangku.
__ADS_1
"Oh, menurutmu Diana itu Bagaimana?"
"Biasa aja kenapa?"
"Gak ada, nanya aja, kok kamu tidak dekat
dengan yang lainnya?"
"Dekat kok, ada waktunya dekat, kalau kerja ya gak bisa dekat."
"Diana udah berapa lama kerja?"
"Udah 2 tahunan kayaknya?"
"Gajinya?"
"Itu gak tau, privasi."
"Pernah gak dia nyuruh-nyuruh lo gitu?"
"Pernah?"
"Nyuruh apa aja?"
"Nyuruh bantuan dia beresin barang-barang dia banyak lagi."
"Dia ada bantuin lo gak?"
"Enggak, dia hanya mau minta bantu tapi tak mau membantu, semua keinginannya harus di turutin kalau tidak dia akan marah. sudah seperti bos aja."
"Lalu, kamu masih turutin keinginan dia?"
"Dulu iya, tapi sekarang tidak sebab mengganggu pekerjaan ku membuat ku di panggil pihak HRD dan di berikan surat peringatan karena tiba-tiba kinerja ku buruk gara-gara bantuin diana."
"Kalau lo sudah ditegur pihak HRD apa masih mau membantu dia?"
Setelah itu Gue tidak mau lagi disuruh oleh diana. Enak dia harus mandiri harus ngerjain semuanya sendirian boleh minta mantu tapi pakai ot4k juga, ingati dulu orang juga punya kerjaan."
"Kok gitu ya dia."
"Ya gitu lah."
"Apa dia memperlakukan ke lo aja?"
"Enggak ke yang lainnya juga, salah satunya Alda."
"Lalu gimana Alda?"
"Alda karena polos ya diam dan turutin aja kemauan diana, Alda sudah kenyang diancam, dibabukan di bully sama diana and the geng."
"Siapa aja yang mereka bully?"
"Menurut mereka bagi yang lemah dan polos aja seperti Alda."
"Oh. kalau gitu gue ke toilet dulu ya!"
"Ya." Astagfirullah, kenapa aku bilang semuanya ya? Padahal Aku tau Aira itu orangnya polos bangat, omongannya gak bisa direm suka membicarakan apapun yang dia malu."
Diana tunggu....
Hah, Alda memanggil Diana lagi, apa mau ngomongin yang tadi kah? Mati aku mencari masalah sama Diana. Batin Nana.
Di toilet
"Diana, gue dengar dari Nana lo suka menyuruh dia membantu membereskan pekerjaan lo ya?" ujar Aira.
" Dia ngomong apa aja?"
__ADS_1
"Katanya lo suka membuat membabukan dia dan yang lainnya jadi babu lo, membuat dia di panggil pihak HRD dan diberikan surat teguran."
"Terus ngomong apalagi?"
"Katanya lo dan geng lo, juga suka membully Alda dan yang lainnya juga,"
"Terus."
"Katanya, Nana sering jengkel juga padahal Nana sama seperti lo sama karyawan biasa sama bergaji, suka memerintah orang seenak hatinya padahal diana tau yang dia suruh juga banyak kerjaan, dia gak peduli lihatin aja kadang seharian kadang tiap hari. Giliran gua minta bantu enggak mau.
Setelah itu Gue tidak mau lagi disuruh oleh diana. Enak dia harus mandiri harus ngerjain semuanya sendirian boleh minta mantu tapi pakai ot4k juga, ingati dulu orang juga punya kerjaan."
"Ada lagi?"
"Katanya...?"Tiba-tiba Nana muncul mengaget kedua orang itu mereka kompak tersentak karena orang yang di ghibahinnya muncul tiba-tiba.
"Udah selesai ghibahin saya?" ujar Nana, membuat kedua orang itu saling pandang tanpa memandang Nana dan pergi."
"Nana, gue tunggu lo!" Ujar Diana
"Baiklah, gue tunggu!" Nana berlalu dan menyenggol kedua orang itu dan
BRAAKKK...
Kencangnya Nana menyenggol dadanya membuat keduanya jatuh dan merintis karena lututnya sakit. Nana gadis muda tapi tidak polos bangat seperti gadis lainnya.
"Kurangaj4ar."
"Kenapa Diana menungguku disini, ingat ini tempat kerja loh bukan tapak suci!" Nana berbicara sesantai mungkin seperti tidak ada ketakutan sama sekali menghadap Diana.
"OH, JADI LO GAK IKHLAS NOLONGIN GUE KEMAREN-KEMAREN ITU?" Mata Diana menatapku tajam bangga tak kalah seperti silet yang siap menyayat kulit. Tapi Aku tidak takut menatapnya kembali.
"Ikhlas sih, hitung-hitung pahala. Gak kayak sampeyan yang suka melakukan apapun yang lo mau."
"UDAH MULAI BERANI YA LO, EMANG LO SIAPA? APA HAK LO NYURUH GUE NOLONGIN LO, URUSIN AJA SENDIRI." Dadanya sambil naik turun mengahdapiku tapi Aku biasa aja.
"Ya, berani lah, emang lo siapa? Apa juga hak lo nyuruh gue nolongin lo?"
"TERNYATA BENAR LO UDAH MULAI BERANI NGELAWAN YA?"
"Apa lo gak sadar? Lo juga berani ngelawan?"
"EMANGNYA LO SIAPA HAH?" LO GAK SADAR LO ANAK BARU YANG KEDUDUKAN LO JAUH DI BAWAH GUE, JADI GUE PUNYA HAK UNTUK MEMERINTAH BAWAHAN GUE NGERTI GAK LO?" LO ITU BAWAHAN GUE."
"Gitu ya, kemaren gue tanya staf, katanya sesama karyawan baik atasan maupun bawahan tidak berhak untuk menyuruh siapapun apalagi lo. Gue laporin nanti di PHK lo.
"LAPORIN AJA GUE GAK TAKUT, LAPORIN KEPOLISI SEKRANG GUE JUGA GAK TAKUT." Benar-bebar mati rasa ini orang, huh, rasanya percuma ngomong sama dia.
"Duh, NANA, bubar aja entar lo di tegur lagi, mau di PHK lo? gak udah lo ladenin orang gila kayak gitu." Alda berusaha membujuk ku agar menyudahi perdebatan ini mungkin Alda takut aku di PHK gak ada a lagi orang yang melawan Diana.
"APA LO BILANG? GUE GILA? GILA DIMANANYA? NANTI AKU REMAS MULUT LANCANG LO NANTI." Diana maju menghadap Alda, nampak Alda gemetar ketakutan menghadapi nya.
"COBA BILANG SEKALI LAGI LO BILANG APA? BIAR GUE REMS SEKALIAN MULUT BERBISA LO?" mendengar perdebatan ratusan karyawan memandangi kami bertiga.
"Mulut lo itu yang berbisa, jauh lebih hina dari mulut orang tidak berpendidikan kata-katanya semua berbisa tidak memakai rem gak memakai adab! Ujar Nana. membuat Diana kalang kabut ingin meremas mulut Nana.
Tapi Nana dengan sigap mengelak, melindungi Alda memutar kedua tangan Diana menendang punggung, memukul leher, merentangkan ke lantai menginjak perut dan meremas mulut seperti ucapannya tadi Alda meringis kesakitan. Diana kaget dengan perubahan polos Nana. Gadis muda 19 tahun tapi kok bisa seperti ini layaknya orang yang sudah dewasa layaknya mertua jahat di FTV itu. Diana berusaha membalas saling jamb4k, layaknya drama korea.
"ADUH, SAKIT, ANJ!NG, B4B!, ANAK HAR4M, BANGS4T LO." Mendengar sumpah serapah dari Mulut Diana, Nana murka tak pernah Ibunya ajarkan untuk membinatangkan manusia, manusia ya manusia binatang binatang tidak akan sama tapi lain dari mulut Diana, sepertinya kedua makhluk itu sama.
Nana meremas kembali mulutnya sampai sobek berdarah. Menampar pipinua tiba- tiba gengnya diana mendekat menyerang Nana. 6 vs 1, mereka ingin menjambak Nana tapi keburu ditend4ng kakinya mereka jatuh semua. Nana sudah seperti kesetanan tidak peduli dia akan di PHK padahal baru 7 bulan kerja.
"Aduh! sudah Na, sudah tuh, lihat mereka sudah berdarah terutama diana sudah ya, istighfar, nanti di tegur lagi." istighfar ya! Istigfar
Astagfirullahal'azim, Asagfirullshal'azim, Astagfirullahal'azim.
Tiba-tiba...
__ADS_1
Next....