
"Kenapa, Nana?" tiba-tiba kak shela bersama Fatih duduk bersamaku didepan.
"Alya, kak, entah dimana dia sekarang."
"Kok, sampai tidak tau dia kemana ?"
"Nah, itu kak, kayak menghilang ditelan bumi."
"Apa , dia sudah pulang kampung tapi tidak membilangnya ke kamu?'
"Nah, itu dia kak, tidak tau, entah udah pulang, entah diam-diam udah kerja, terakhir kami bersama sehat sudah tes itu, dia datang datang sudah jam 11 ke SP lama bangat Aku menunggu."
"Kamu, ada hubungi dia?"
"Ada kak, udah ratusan kali tapi tidak direspon sepertinya kontakku udah dia blokir."
'"kakak, sebenarnya sudah merasakannya dari awal kamu menyebut nama dia." Iya, Aku masih ingat kak shela bisa menebak sifat Alya dulu.
"Terus, Aku harus gimana kak?"
"Ya, tetap semangat, do'a, ikhtiar, usaha. Ikhtiar bersama teman itu bagus lebih bagus lagi sambil berjuang sendirian. Dia tidak ada berjuang bersama teman tapi juga sendirian. Dia punya paman dan tante untuk membantunya. Kamu juga punya kami untuk membantumu."
"Apa, Alya, sudah dimasukkan oleh tantenya?"
"Belum tentu, PT. tempat tante nya kerja itu kebanyakan emak-emak, jarang bujang gadis kerja disana."
"Lalu Tante nya?"
"Mungkin tantenya masuk setelah dia habis kontrak di PT. lain."
"Oh, gitu ya kak." lalu dimana dimana dia sekarang ya?" batin Nana.
"Ya, mulai lagi seperti biasa jangan terlalu berharap sama teman, suatu saat nanti ke kcewakan kamu akan sakit hati terlalu dalam."
"Iya, kak."
Kata-kata kak shela selalu benar, dimana kak shela belajar itu dulu. Aku jadi penasaran. Pengen belajar sama kak shela.
"Na, benar kata kak shela itu."
"Iya, Bang. Apa ditempat Abang juga belum buka lowongan?"
__ADS_1
"Belum, Na."
Besok nya, kembali lagi berpetualang. Aku merasa hidupku di bulan ini monoton belum ada perubahan. Sabar nanti pasti ada saat itu.
Hai! Kamu masih ingat, Aku yang menyapamu kemaren?" tiba-tiba seseorang menghampiri ku.
"Siapa, ya?" aku ingat dia orang yang menyapaku kemaren tapi lupa menanyakan namanya.
"Namaku, Indira! Kamu?" oh, namanya indira.
"Aku, Nana."
"Ikuti, Aku yuk!
"Ayok!
Sambil jalan sambil berbincang . Indira dari kebumen jawa tengah. Di sini udah 3 bulan. Orangnya ramah dan bersahabat. Dia disini bersama tantenya, sama seperti Alya. Dia juga bertanya, Aku dari mana? sudah berapa lama disini ? sama siapa? dan banyak lagi.
"Aku dari padang, disini udah 1 bulan, tinggal sama kakak , istri, dan anaknya."
Hingga seminggu lamanya tidak ada perubahan. Masih sama seperti biasa. Dibatam ini membuatku cepat dewasa. Aku harus benar-benar berjuang.
"Nana, kamu sudah pernah jalan-jalan dikota ini belum."
"Minggu besok kita jalan ya?" sama seperti Alya dulu, seminggu kenal udah ngajak jalan tak apa sama-sama wanita.
"Ayok! Hingga Minggu tiba, Aku jalan-jalan bersama, Indira. Menyusuri laut. Kami pergi ke Taman Habibi 1000 tangga. Namanya diambil dari nama presiden indonesia yang membangun kota batam ini dulu.
"Oh, ya, Na! Kamu disini bersama kakak dan ipar, emang Ipar mu tidak terganggu dengan kehadiranmu?"
"Terganggu kayak gimana?"
"Ya, terganggu, Ipar itu maut loh, nanti kalian sekeluarga jadi cekcok biasa beda pendapat, ada aja salahnya nanti, karena banyak aku lihat yang namanya ipar jadi setan berprawakan manusia perusak rumah tangga orang. Setan akan melakukan apapun untuk menghancurkan rumah tangga orang."
"Kalau terganggu, kalau ku kerja nanti Aku ngekos, tergantung orangnya juga, gak semua ipar itu maut pemisah rumah tangga orang. Saling berpositif tingking aja, kalau gak suka itu manusiawi. Itu hak orang untuk menyukai atau membenci."
"Bagus lah, Na, kalau kamu ingin ngekos. Biarlah kita bayar mahal kos, untuk menabung uang bisa dicari. Rumah tangga rusak tidak akan bagus lagi."
"Insya allah, ipar ku baik, tidak seperti yang lainnya."
"Iparmu itu istri, Mas mu. kamu, itu yang bisa menjadi maut untuk mereka walau kamu merasa baik-baik aja, kamu tidak mengadu domba mereka, ipar mu tidak mengadu domba kamu sama kakakmu. Kalian seperti adik-kakak. Kamu tidak tau entah bagaimana perasaan iparmu, tidak mungkin dia bilang, nanti dia tersingging. Tapi, sekali lagi ku bilang, ipar itu maut mematikan untuk sebuah rumah tangga.
__ADS_1
"Iya, Aku ngerti. Ibuku juga menyuruh Aku ngekos, Awal Aku menginjakkan kaki di rumah itu, Aku juga ingin ngekos. Selain disuruh Ibu, dirumah juga tidak ada kamar. Aku, tidur diluar. Besoknya sudah ada kamar, ternyata gudang kecil penyimpanan barang-barang mereka masih ngekos dulu udah dipindahin ke dapur diletakkan dikolong-kolong. Sudah rapi sudah kinclong, ada kipas angin, lemari, kasur buat 1 orang dan meja tv."
Ngekos sepertinya, kakakku agak keberatan. Karena Aku ini masih masih menjadi tanggung jawabnya. Ibu sudah menitipkan Aku pada mereka untuk dijaga baik-baik, apa kakakku membolehkan Aku ngekos Aku tidak tau. Lagian sekarang udah ada kamar. Kata-katamu tadi aku tambah semangat untuk ngekos."
"Nah, gitu dong, kos dekat aja, gak usah jauh-jauh."
"Terserah kakakku nanti."
Melihat dari ketinggian duduk dirumah pohon, kami berbincang panjang lebar. Ternyata Indira sudah tidak nyaman berada di kota ini. Berada dirumah tante nya sama seperti Alya, tapi Alya, nyaman-nyaman aja tapi tidak tau aslinya.
"Kenapa kamu tidak nyaman?"
"Aku capek, sudah 3 bulan disini, belum dapat kerja, udah tes sana sini hasilnya nihil. Terakhir kemaren terima panggilan tes tapi aku tidak tau tidak di angkat pula."
"Kenapa begitu?"
"HP nya silent,"
"Berarti masih belum beruntung."
"2 bulan lagi juga gak kunjung dapat. Aku pulang."
"Yah, pulang, semangat jangan menyerah dong. lalu dirumah tante kamu ngapain aja?"
"Aku ngerjain semua pekerjaan rumah, seperti memasak, menyapu, mengepel, dan lap kaca 2x sehari sudah seperti ART tau gak. Enak jadi ART ada gajinya. Ini, jadi pembantu dirumah saudara sendiri." Aku bisa melihat dari bola matanya sepertinya Indira sudah sangat jenuh disini, tertekan dan ingin segera pulang. Menikmati hari-hari ya sebagai seorang gadis muda.
"Sabar ya, ikhlasin aja, ada pahalanya sendiri buat orang sabar dan ikhlas. Aku aja seminggu disini juga jenuh gimana 3 bulan nanti. gak apa-apa sih, namanya jug numpang dirumah orang. Hanya dirumah Ibu kandung aja yang nyaman selain itu tidak ada. Aku juga melakukan hal yang sama, Ibuku yang nyuruh gak boleh berat tangan bantu lah meringankan pekerjaan orang.
"Benar, Na. Tapi, Aku ini beda. Selama disini, orangtuaku hanya memberikan Aku tiket berangkat aja. Biaya hidup, tempat tinggal, ongkos dan jajan tenteku yang nanggung. Entah bagaimana orang menilainya."
"Aku masih memakai uangku untuk jajan dan ongkos. Karena Aku tidak mau minta uang sama kakakku selagi Aku punya uang Aku usahakan untuk tidak minta pernah Kakakku kasih tapi Aku simpan aja, kalau kepepet baru dipakai."
"Tanteku melarang Aku minta kirim uang sama Ibuku. Karena Ibuku sudah menitipkan Aku disini itu atas pilihanku.
Kata tante. "Kamu sudah berada disini, dirumah ini biar kami yang menanggung biaya hidup mu jangan minta orangtuamu."
Ya, gak apa-apa bersyukur aja, kamu ada tempat tinggal ada yang ngasih. Gimana sama mereka yang ngontrak, bayar kontrakan, makan sendiri, cari kerja sendiri. Ngidupin diri sendiri. Ada juga yang ikut orang lain terkena tekanan terus dari orang rumah."
"Ya. Na. Makasih ya! Udah nyemangatin Aku."
"Sama-sama."
__ADS_1
Next....