
Merantau ke kepulauan riau
#Part42
Teman sinis
Bekerja seperti biasa entah kenapa perasaan aku lesu bangat, kurang semangat. Melihat pandangan sinis satu pabrik membuat semangatku makin berkurang. Apa sih, maunya mereka? Seperti iri bangat.
"Pagi, Na, kok, kami lesu bangat, ada apa? Tidak seperti biasanya! Apa ada masalah sama dokter ganteng?" Baru sampai Alda sudah menanyakan hal yang Paling tidak ingin ku ingat.
"Enggak kok, sedang datang bulan." Alda sepertinya tidak percaya dengan ucapanku barusan.
"Sedang datang bulan kok nampak nya galau bangat. Kayak orang patah hati." Ini mulut Alda ember juga, ucapannya membuat semua orang mengarahkan ke kami.
"Apaan sih kamu, apa yang membuatku patah hati? Pacar aja gak punya." Tentu aja aku gak punya pacar tujuanku ke sini bukan buat nyari pacar. Tapi, setiba di kota ini, membuat seseorang singgah di hati ini.
"Jangan bohong, Na, Gue tau kok, semalam apa lo lihat status orang dari grub? Mereka mengunggah foto dokter ganteng sama seorang wanita cantik bangat. Itu kan yang membuat kamu lesu?" Ternyata, Alda tau tentang foto itu makanya Alda yakin kalau aku sedang badmood karena dokter Nando. Tapi, memang benar tidak mungkin di bilang sebenarnya. Bisa malu mau di taro di mana muka ku.
"Apa-apaan, kamu ini, Da, Gue lesu bukan karena itu. Gue sedang badmood karena sedang datang bulan. Foto itu gue lihat kok, tapi bukan di grub, melainkan ada seseorang yang mengirim ke via chat. Udah, ah, yok kita masuk.
Buru-buru pergi meninggalkan Alda sendirian. Gak mau lagi di tanyakan hal yang tidak penting. Tiba di dalam, lagi-lagi mereka memandangku dengan pandangan entahlah. Ada yang sinis, ada yang tertawa, ada yang menggunjing, ada yang mengejek, macam-macam lah.
Astagfirullah, Ya Allah, kok jadi begini? Masa hanya gara-gara laki-laki dan orang se pabrik udah lesu. Semangat dong, Nana, semangat. Huh.
Menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya sedikit membuatku lega. Tapi...
"Nana, lo udah lihat grub kan? Ada foto dokter Fernando sama seorang wanita cantik, berkelas, dan bening bangat. Seperti Artis korea. Gimana perasaan lo." ujar Aira.
"Nana! pasti lo udah jatuh cinta bangat sama dokter Nando ya. Ingat! Na, dia siapa! dia dokter, ganteng lagi, kamu siapa? Sama seperti kita hanya karyawan pabrik yang tidak berpendidikan tinggi." ujar seseorang. Tega bangat mereka berbicara seperti itu. Aku memang belum berpendidikan tinggi. Tapi, aku berkerja juga untuk itu. Mereka tau itu.
__ADS_1
"Betul tuh, jangan berharap sama dia, dia gak selevel sama lo." Ujar Aira lagi agi-lagi membuat semangatku jatuh. Apa salahnya sih, lagian cinta itukan gak memandang kasta.
"Dia juga tidak sederajat sama lo beda jauh 360 derajat." ujar seseorang lagi. Mataku fokus memandang mereka satu persatu yang terus membicarakanku. Rendahnya diriku dimata mereka, mereka gak sadar derajat mereka juga rendah di mataku.
"Kayaknya dokter Nando deketin lo karena dia gampang menyesuaikan diri sama siapapun. Tapi lo malah kebawa perasaan." Iya, dong. Coba mereka berada di posisiku. Pasti mereka juga merasakan hal yang sama.
"Kuburkan mimpimu buat dapatin dia, gak cocok sama sekali." ini lagi. Memangnya mereka siapa yang mengatur urusan hati? Urusan hati hanya pemiliknya yang tau. Tidak bisa di paksa.
"Kayaknya Nana udah berharap bangat sama dokter Nando , ujungnya di prank hahahha."
"HAHAHA, NANA DI PRANK, HUUU."
Mereka menertawakan aku. Membuatku malu, menundukkan padangan dan beralih bekerja seperti biasa.
"Sabar ya, Na, jangan di tanggapin." Ujar alda.
"Tentu saja enggak ku tanggapin, apa gunanya menanggapin mereka? Gak ada gunanya."
"Sadar aja, Lo jelek, jauh dari kata cantik. Mana mau seorang dekter Nando sama Lo." ujar seseorang. Menyebut rupa fisikku, mereka tidak sadar mereka juga tidak cantik dan tidak pula ganteng. Tapi, kata-kata itu hanya terucap dalam hati. Ingin ku ucapkan tapi takut muncul kegaduhan.
"Hahah, iya, pacar aslinya Nando cantik bangat. Nana kalah jauh." ujar seseorang lagi.
"Kalau lo patah hati, jangan nyumpahin kita dalam hati ya! Mau marah, marah aja, luapin emosinya, Hahah." ujar Aira
"Tau, diri dong, Na."
sampai jam makan habis mereka tetap semangat bergosip membuat emosiku sudah sampai ke ubun-ubun. Sabar, Nana, saba. Anggap aja mereka kurang waras. Kamu jangan kalah sama mereka. Biarlah mereka menggunjing mu sampai mulutnya berbusa. Tuh, kan mulutnya berbusa membuat karyawan lain tidak ***** lagi makan. Rasain lo.
Aku hampir menangis di buat nya. Mataku berkaca-kaca tidak terima apa yang mereka bicarakan. Ku putar lagu, pasang hendset. Suara mereka tidak ku dengar lagi, menyisihkan diri tidak aku tanggapi mereka biarlah mereka menggunjing ku sesuka hati. Toh, yang ada pahalanya di transfer ke aku, dan dosaku pindah ke mereka.
__ADS_1
"Ih, Aira jijik bangat lihat mulut lo, bisanya banyak bangat. Menceret keluar membuat gue gak ***** lagi makan tauk. Hueek." ujar seseorang laki-laki. Ku lepaskan headset, ingin tau apa yang mereka bicarakan. Sepertinya bukan untukku lagi.
"Iya, nih, jorok bangat lo Aira. Cewek kok kayak gitu." ujar seseorang laki-laki lagi.
"Aira, Aira, keasikan memghosip, gak sadar diri lo seperti apa. Makan aja sampai busa mulutnya keluar, masuk kr dalam Nasi. Jijik Gue lihatnya tau gak. Kalau gitu gue duluan ya! Udah gak *****." ujar seorang wanita.
Satu persatu mereka pergi rasain kamu Aira. Makan ya makan aja, menggunjing ya menggunjing aja. Karyawan yang paling semangat menggunjing ini pun menjadi bahan gosip se pabrik. Membuat Aira malunya sampai ke ubun-ubun. Mata dan mukanya memerah. Tes, dan Air mata membanjiri pipinya.
"Gue gak nyangka. Orang sekelas Aira, orang terkeras, terpolos berbicara, suka mengucapkan kata-kata mutiara dan isi kebun binatang. Mudah mengeluarkan air mata. Ternyata kamu cemen Aira." Ujar Alda.
"Iya, Akupun juga gak nyangka, hanya sedikit orang mengegurnya dia udah nangis meraung-raung. Menendang dan melempar apa yang dia lihat. Temprement juga saka seperti Diana."
"Menggunjing gak sadar dengan kekurangan diri sendiri. Ibarat kata pepatah, Gajah di pelupuk mata tidak nampak, semut ujung lautan nampak."
"Benar bangat. kita juga gak sadar malah menggunjing Aira, Da."
"Iya, gak bisa gak menggunjing kayaknya. Apalagi yang kita bicarakan kalai gak menggunjing. Hehe."
"Astagfirulloh."
Biar saja orang menghosip sesuka hati, orang emang suka bangat mencari keburukan orang lain bodoh mencari keburukan diri sendiri. Tidak sadarkah mereka? Manusia itu tidak ada yang sempurna? Derajat manusia sama di mata Allah. Hanya iman dan takwa yang berbeda.
Melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Sama sekali tidak menanggapi kicauan manusia di pabrik ini. Salah sedikit, Leader akan mengur karyawan habis-habisan. Aku tidak mau itu terjadi lagi. Sudah cukup 2 bulan yanh lewat kena tegur. Hari ini jangan.
seseorang yang gemar menggunjing adalah seseorang yang sebenarnya tak percaya akan dirinya sendiri dan menjelekkan orang lain adalah cara yang dianggap tepat untuk menaikkan dirinya.
Bergunjing ibarat memakan daging Saudara Sendiri. Bagaimana pendapat kalian tentang memakan daging saudatanya? Tentu kalian jijik kan. Makanya jangan suka bergunjing. Itulah hukumnya menurut agama islam.
__ADS_1
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.
Next....