Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Reuni


__ADS_3

Sampai juga di rumah, mengeluarkan semua barang-barang di bawa ke dalam rumah. Para karyawan Ibu membantu menyusunnya.


"Nana pulang lagi makin cantik makin berisi pula, jauh dari beberapa tahun silam masih kurus. Bahagia bangat di batam ya?" Ujar Rani salah satu karyawan Ibu. Astaga dia belum menikah setahuku lebih tua dari aku.


"Makash pujiannya, kamu apa kabar? Juga makin cantik dan berisi sayangnya belum punya pemilik hatinya." Ujarku.


"Iya, sibuk kerja nyari biaya buat pengobatan kedua orangtua makanya belum memiliki pemilih hati, kamu gimana? Udah punya belum?" Ujar Rani Sambil menyusun barang-barangku.


"Kayaknya belum deh. Hehe."


"Nana udah pulang." Ujar uni Irma.


"Iya, uni."


"Kok, gak bawa abang nya?."


"Abang nya ketinggalan."


Uni irma membawa barang ibu ke rumah. "Jangan lama-lama ya, Na! Yang muda akan terus dewasa nanti, laki-laki sekarang doyan yang muda-muda." Apaan sih uni irma ini, kalau soal lelaki aku itu sensitif bangat. Urusan hati tidak bisa di paksa.


"Apaan sih, Uni, aku percaya kok, jodoh gak akan kemana."


"Iya, dicari juga, kuliah udah, kerja udah, apalagi yang di tunggu?" Makin tidak nyaman dengan kata-katanya.


"Nunggu suami uni." Tak mau meladeninya lagi, aku gegas pergi ke kamar, ternyata sudah di bersihkan oleh karyawan. Selama tidak ada Ibu dan Angga ada kakak perempuan dari Ibu yang mengelola rumah makan dan kolam ikan.


"Ih, orang ngomongnya serius malah pergi." Ujar Uni irma kalau bertemu orang seperti ini kalau tidak nyaman rasanya pergi aja, gak usah di ladenin nanti semakin menjadi-jadi.


***


Mendengar Kepulangan kami semakin menjadi-jadi orang datang ke rumah, mereka terlalu kepo terutama tentangku yang tak kunjung mendapatkan jodoh. Aku aja sebagai pemilik tubuh tak memikirkan jodoh kok mereka yang repot. Jiwa menjaga privasi seseorang itu masih minim. Tidak tau ucapannya menyinggung seseorang.


Aku lebih memilih ke kamar mengunci pintu mendengar musik, menulis dan chattingan sama temanku.


Siapapun di luar yang mengetuk pintu tidak aku dengar, selagi mereka di sini aku tidak akan keluar. Dengarin lagu karena sudah sudah sekencang disco.


Hingga malam tiba menhintio keluar mereka sudah tidak ada, syukur lah.

__ADS_1


POV Faisal


Hari ini toko semakin ramai dari hari biasanya, Nana membawa teman-temannya ternyata membawa hoki yang besar terhadap pelanggan.


Ada satu teman laki-lakinya sepertinya menyukai Nana. Nampak dari gelagatnya dia juga tidak segan mengajari Fatih belajar dan membantuku menghitung omzet.


Namanya Ryan, katanya dia mau belajar bisnis disini kau ajarin bagaimana cara membangun bisnis yang baik.


Katanya besok mungkin jarang kesini atau tidak sama sekali katanya mau pulang le kampung halamannya mau membangun bisnis atau bekerja. Ibunya menyuruhnya pulang.


Empat bulan ibu disini saatnya pulang ada usaha yang harus di urus. Tiga orang berangkat meninggalkan kota batam serasa habis kematian. Sepi, sepi, sepi.


Hari tetap berlalu tidak mau larut walau ramai tetap aja merasa sepi membawa istri dan anak piknik agar tetap waras.


***


[Hallo! Nadia, aku udah di padang, Nih, kamu di mana?]


[Kamu udah pulang kampung? Aku di rumah, main ke sini yuk! Kita reuni.]


[Besok gimana? Hari ini capek bangat.]


Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Tiba saatnya bermain ke rumah Nadia dosen termuda di UNP. Sudah banyak berubah rumahnya berganti cat dan keramik, dan berpagar Nadia juga makin cantik visualnya dari biasa aja cupu sudah semakin cantik.


"Akhirnya kamu pulang juga, dulu kita gak ketemu, kami pulang ke kampung halaman ayah di aceh."


"Iya, kemana lagi aku pulang kalau gak ke kampung."


"Masuk dulu, Na! Ayah dan Ibu tidak ada di rumah mereka kerja."


"Kamu sendirian?"


"Iya, kamu udah ada jodohnya belum?"


"Belum, kamu."


"Belum juga, eh, ada seseorang yang pernah menyukaimu dulu, dulu dia kan dekil, sekarang dia sudah berubah, semakin ganteng baru pulang dari jepang membuka usaha mini market, konter dan kuliah juga, loh. Eits, sekarang dia untukku." Nampak Nadia mengagumi sosok hanafi siswa yang diam-diam menyukaiku dulu. Tapi, ku biarkan aja enggak mood untuk mendengar namanya waktu itu.

__ADS_1


"Siapa sih? Hanafi? Ambil aja,"


"Iya, hanafi, ayok kita jalan. Satu persatu teman-teman kita sudah susah di hubungi entah berada di mana mereka, banyak juga yang udah nikah banyak juga yang cerai."


"Semakin dewasa, pertemanan semakin tipis, semakin susah pula mencari teman, semua sudah sibuk sama dunia masing-masing." Lanjut Nadia."


"Iya, memang begitu, masa yang indah itu ya masa sekolah. Alumni kita yang sudah menikah tapi bercerai, apa alasan mereka cerai?" ujarku


"Ya, karena ego masing-masing. Darah masih panas tidak mau mengalah. Udah ah, yok kita pergi."


Tiba di taman Imam bonjol dekat pasar raya, masih sama seperti dulu. kami olahraga mengitari sekitarnya. Nampak seseorang laki-laki yang sedang joging dari bentuk fisiknya aku mengingat Ryan, ah tidak mungkin Ryan, ngapain ke sini? Dia bukan orang sini.


Tiba-tiba seorang wanita cantik datang, tak puas memandang mereka kuputuskan untuk mengikutinya susah pula menoleh ke belakang, sampai keduanya hilang dari pandangan. Nadia kemana pula, apakah aku yang jalan terlalu jauh?.


Aku kangen Ryan, di mana dia sekarang? Tiba-tiba dada ini sesak lagi, Ya, Allah rindunya. Kuputuskan untuk membeli minuman tiba di sebuah mini market kesannya ke koreaan gitu.


Tak lupa membeli minuman untuk Nadia.


"Berapa?" Kasir wanita ini sangat cantik.


"24RB." ku sodorkan uang 100RB.


"Belum ada kembalian mbak, ada yang pas?" ku periksa dompet tidak ada sama sekali, aku chat Nadia tidak dia balas entah dimana anak itu.


"Biar saya tukar dulu mbak." Ujarku


"Tidak usah." Ujar seorang laki-laki. Ku perhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala, tubuh itu terus mendekat memasuki tempat kasir meletakkan pecahan seribu sampai dua puluh ribu.


"Hanafi? Apa aku tidak salah lihat? Iya, itu Hanafi, kok beda bangat dia sekarang jauh berbeda dari dulu."


"Hanafi?" ujarku


Hanafi menoleh ke arahku. "Nana? Apa kabar? Kamu kemana aja? Kita berjumpa lagi udah 7 tahun tidak bertemu loh, kapan pulang?"


"Kabar baik, Alhamdulillah. Kamu apa kabar? Kemaren, beda bangat kamu sekarang ini?"


"Kabarku baik. Beda apanya masih sama seperti dulu? Ini kembaliannya." Hanafi menyerahkan kembaliannya padaku.

__ADS_1


"Ya, sudah aku pergi dulu, sukses, ya!" ada satu kata do'a yang ku ucapkan pada teman-teman atau siapa pun itu, insyaallah do'a yang baik juga akan kembali ke diri kita.


"Amii, sukses juga buat, Mu. Oh, ya, minta kontaknya." Kusodorkan sebuah kartu berisi nama, alamat dan nomor ponsel. Benar kata Nadia, hanafi sudah banyak berubah.


__ADS_2