
Merantau ke kepulauan riau
Part 32 *** APP
Assalamualaikum!" Panjang umur, baru di sebutin sudah nongol.
"Walaikumsalam,"
"Lagi ngomongin apa nih kok mukanya serius banget?" Ujar Bang Faisal.
"Salim dulu Bang! Kak shela selalu menyalami tangan suaminya. "Duduk dulu, setelah itu mandi, makan baru cerita.
Paling tidak suka bangat apa yang ku bilang diceritain kembali ke seseorang walau itu keluarga sendiri aku tidak suka sepertinya aku harus hati-hati ngomong sama kak shela.
Ngatri mandi, makan, duduk sejenak diruang tv sambil bermain dengan Fatih kak shela menceritakan semuanya yang aku alami di tempat kerja.
"Itu tadi, Diana temanku dulu, Abang kan juga kenal sama dia bagaimana tabiatnya. Bagaimana kelakuannya di kos dan tempat kerja, itu dia lakukan ke Nana dan teman nya, memang tidak pernah berubah itu orang suka bangat mencari masalah."
"Ehem, ghibah nih, ingat dosa."ujar ku.
"Hari gini mana yang tidak ghibah, Na!" ujar kak shela
"Iya, kah? Lalu dia apain aja kamu, Na?"
"Seperti yang kakak bilang."
"Diana kali ini sudah sangat kelewatan, dia membully, Nana dan Alda, dia sudah di keluarkan tadi."
"Iya, kah?Tidak kapok dia ya? Hari ini sudah keberapa kalinya dia keluarkan? Mungkin sudah tiga kali."
"Iya, gitu lah, Bang."
"Nana ini ternyata cukup pintar membela diri loh, kalau merasa terancam, Nana pasang jurus bela diri, bagus sih, buat dia jera agar tidak melakukannya lagi ke orang lain."
"Iya, kah, Na, kalian adu jotos?"
"Iya, Bang, dia yang duluan suka bangat ngancam orang, sekalian saja aku buat dia shock mental. Lagian gak mikir dulu tidak semua orang itu kelihatannya lemah di mata orang."
"Lain kali jangan di lakukan lagi ya, Na, Abang gak suka, Negara ini negara hukum, nanti orang itu akan melaporkan kamu dan menuntutmu secara hukum, kamu bisa di penjara nanti. Kalau merasa terancam pakailah akal sehat untuk mengalahkannya. Jangan seperti itu lagi."
__ADS_1
"Iya, Bang." Huft, aman, kukira Abang akan marah ternyata tidak, walau kena teguran itu untuk kebaikan ku juga, nanti aku akan jadi terbiasa melakukan kekerasan walau dia yang salah, sebab Negara ini Negara hukum. Kita bisa jadi tersangka walau untuk membela diri.
Memilih masuk ke kamar ternyata sudah ada WA dari dokter Fernando. Entah kenapa jantungku berdetak kencang, panas dingin, bercucuran keringat membasahi pipi. Ingatan waktu medical cek up muncul kembali, cepat ku melupakan itu semua agar tetap waras.
"{Lagi apa}."
"{Lagi santai aja, cerita Bareng Abang dan kakak}."
"{Cerita apa}."
"{Biasa}."
"{Cerita yang tadi ya}."
"{Iya, kok tau}."
"{Apa sih yang tidak di ketahui oleh seorang Fernando}." Emot tertawa.
"{Sejak kapan kalian kenal?}".
"{Sudah lama, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Hang Nadim, Sebenarnya aku sudah memperhatikan kamu dari pertama kali melihatmu di ruangan itu, kok wajahmu mirip seseorang. Tapi, dia laki-laki, kamu perempuan, saya yakin perempuan itu saudaranya Faisal yang pernah dia bilang sedang mencari kerja it"}.
{Nana, kok diam! Santai aja} Ah, aku gak boleh gagal fokus.
{Iya, Nah, ku harus memanggil, Pak, dokter apa ya?}."
"{Terserah kamu manggilnya apa, Dokter Nando juga boleh, Abang juga boleh kita sama-sama orang sumatra, tapi jangan paling pak, ya, tua bangat}"Emot tertawa. Dia gak mau di panggil Bapak padahal itu bahasa formal untuk seorang bergelar.
"{Aku panggil dokter Nando aja, sumatra nya dimana?}."
"{Lampung, kamu kan dari Suku Minang, suku Minang sumatra barat pasti pintar memasak rendang dong!}." Dari, Lampung? Memori ku lagi-lagi berputar ke 8 bulan silam, dimana aku kenal sama Alya yang sama-sama dari Lampung, Lalu menghilang entah kemana, terakhir kali aku lihat masuk ke sebuah Mall yang ada di SP.
"{Nana, kok bengong lagi}."
"{Bisa dikit, gak paham bangat masak rendang itu, sering lihat ibu memasaknya sering memprakteknya aja tapi rasanya kacau}."
"{Ya, gak apa-apa, gimana kita vc aja?}."
"{Ada mereka berdua di luar, kalau aku nelpon atau vc sama siapa mereka jadi kepo, malas kalau mereka jadi tau!} Ya, aku tidak mau, Abang sama kakak jadi curiga aku telponan sama salah satu temannya bisa di tanyain dari A-Z.
__ADS_1
"{Kenapa segan kalau mereka tau? Biasa aja jangan terlalu kaku}."
"{Enggak, kok, takutnya mereka terganggu, kapan-kapan aja deh}."
"{Ya, sudah}."
Lekas ku akhiri obrolannya, kumatikan waktu terakhir kali di lihat agar tidak ketahuan kapan aoa aku online, padahal WA ku kali ini seperti asrama putri banyak pesan masuk di grub menanyakan tentang aku. Tak ingin memperpanjang obrolan, lekas matikan lampu ucap bismillah dan tidur.
Keesekan harinya masuk kerja seperti biasa. Sepertinya perusahaan tempat ki kerja membuka lowongan kerja, besok akan ada beberapa karyawan baru yang kerja di sini, mudahan semua baik. Amiin.
Pekerjaan kali ini cukup tenang, tidak seperti biasa yang hari-hariku penuh tekanan karena Diana, gengnya dan karyawan lain. Mungkin mereka sudah pada tobat. Gak mau mengganggu sesama karyawan lagi takut di keluarkan.
Kini ada yang mengganjal, mataku memandang ada sosok Alya, dan jauh di belakangnya Indira yang memakai seragam hitam putih, sepertinya Bahannya lolos. Keesokan harinya seperti nya Alya dan Indira juga lolos tes tulis. Mereka berdua sepertinya tak mengenali ku, karena aku memakai masker dan rambut makin panjang dan sudah di ikal kan.
"Halo, Dokter, Nando, apa besok dokter piket di perusahan?"
"Tidak, Nana, ada apa?" Ujar Nando dari seberang.
"Tidak, Dokter, sebab sore ini calon pekerja akan melakukan medical cek up, makanya aku tanya dokter piket gak sore ini? Sebab ada beberapa teman aku yang akan melakukannya."
"Oh, tidak, awalnya iya, tapi saya ada praktek hari ini, ada pasien yang akan melakukan operasi sesar kalau tidak mungkin piket disana, ada dokter lain yang juga piket disana menggantikan saya."
"Oh, ya, sudah dokter, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Baik-baik kerja ya, Na."
"Iya, dokter."
Huft. Mimpi apa aku selama di kota ini, kok bisa-bisanya berteman sama seorang dokter?" Entah gimana perasaan kami selama 1 minggu ini. Kalau di pikirin jadi eror entar, pendam aja, anggap aja tidak pernah terjadi. Sekarang mulai lagi dari awal.
Bismillahirrahmanirrahim.
Sore harinya saatnya mereka melakukan medical cek up, tapi menurut Dokter Fernando. Bukan dia yang bertugas hari ini, tapi dokter yang lainnya, ku lihat sepertinya dokter itu sudah berumur tidak sepertiku dulu.
Keesokan harinya ternyata mereka berdua lolos, kemana mereka kemaren hingga bertemu lagi sekarang, besok masuk di jam yang sama pula, aku ingin tau bagaimana perasaan mereka bertemu ku kembali?
Jujur, Aku kurang suka sama teman yang seperti itu, banyak kurang sukanya sama sifat seseorang bukan berarti aku sempurna, tidak, semua orang punya sifatnya masing-masing kita punya hak untuk suka atau tidak, Jadikan pelajaran aja bahwa aku tidak akan lagi berharap sama makhluk yang bernama teman, selagi bisa berusaha sendiri berusahalah, kalau ada teman itu bonus kalau mereka mau membantu bertambahlah bonusnya.
Next..,
__ADS_1