
"Kemana Abang kak, belum muncul, Nah, panjang umur Dia."
"Hai, Ayok, makan!
"Ayok! Ucap kak shela.
Kak Shela menyiapkan nasi dan lauk kepiring suaminya, setelah itu kami gantian dan memakan dengan lahap, selesai, istirahat sejenak. Terdengar suara fatih menangis bangun dari Alam mimpi, baru dua suap, kak shela mengambil Fatih membawa kemeja makan.
Selesai, Aku meletakkan piring-piring kotor ke wastafel, diikuti Bang Faisal mencuci piring dan gelasnya sendiri, Aku mencuci yang lainnya, kak shela menyusui Fatih. Istirahat sejenak badan sudah lelah, Azan isya berkumandang. Jamaah lagi dilanjutkan tidur.
Bangun sholat subuh, kuliah kak, shela sudah berkutat di dapur, menyiapkan makanan, karena suaminya masuk pagi, Aku disuruh menyiapkan berkas-berkas untuk dibawa melamar pekerjaan besok, Aku hanya mengangguk.
Jam 07.00 Bang Faisal berangkat memakai motor matic yang baru dia beli, menyapu rumah, mengepel, menyapu halaman, membersihkan kaca, dan menjemur pakaian.
Aku hendak membersihkan diri, Aku hendak membersihkan diri, setalah itu pergi ke tempat foto kopi untuk membeli sesuatu.
Karena jaraknya dekat, setelah mengunci pintu, kami berjalan, menelusuri jalan setapak, menurun, berbelok, tidak ada yang memperhatikan kami, tidak seperti di kampung, orang memandang orang yang berjalan selama barang menghilang dari pandangan.
Terlalu ramai, karena kota industri ini dipenuhi pendatang dari berbagai daerah untuk bekerja. Tibalah ditempat.
"Beli, Ape dik! Berbibacara dengan kental logat melayu nya, Aku ngerti karena Bahasa Indonesia Rumpunnya bahasa melayu.
"Nak, membeli kertas, HVS, Kertas riwayat hidup, Buku tulis sama pena." karyawan langsung gerak cepat, saingan bisnis bertebaran dimana-mana, karyawan harus bekerja sebagus mungkin. Ya seperti itulah bekerja.
"Nih, HVS, Riwayat hidup, buku sama pena, mau berape?"
__ADS_1
"Masing-masing selusin."
"Mau melamar kerjo yo?"
"Iya, hehe."
Ya, sebenarnya mereka tau untuk apa orang membeli kertas-kertas itu ya, untuk melamar kerja, karena penjual harus ramah, untuk menarik pelanggan.
"Berapa semuanya?"
"Semuanya jadi 25RB?"
"Nih, uangnya." Aku memberikan uang 50RB dikembalikan 25RB.
"Ayoo kak," kami melanjutkan perjalanan ke SS tidak jauh dari tempat fotocopy, menyusuri swalayan, kafe-kafe disepanjang jalan. Macet bangat, Ah, kasihan pula sama kak shela menggendong Fatih, kami gantian menggendongnya.
Tionghoa menguasai swalayan dan toko, dan cafe, orang minang menguasai pasar dan toko dan restoran. Kami memilih baju, membeli beberapa potong baju, celana hitam, sepatu dan tas, untuk kupakai melamar kerja besok. Kak, Shela membeli baju, pempers, susu, roti, makanan dan buat Fatih, Baju Fatih sudah kekecilan. Walau Aku juga membawa baju untuk Fatih. Tapi, Anak seusia Fatih butuh beberapa jam harus ganti baju karena cepat kotor dan berkeringat. Beli cemilan teman tidur.
Setelah puas belanja kami pulang Naik ojek, karena motor hanya satu dibawa oleh Bang Faisal, bagiku itu menjadi PR untuk Bang Faisal, membeli motor lagi buat istri hehe...
Kedua Ojek, membawa kami mutar-mutar entah kemana. Aku memandang kiri kanan. Aku melihat Mesjid, Gereja dan Vihara bersebelahan. Rumah ibadah untuk orang islam, kristen dan Budha. hatiku bertanya "Kok, bisa, Apa mereka tidak terganggu dengan ibadahnya orang berlainan agama?"
Aku bermonolog ingin memebicaraka sama kak shela nanti.
Tidak hanya Mesjid, Gereja dan Vihara bersebelahan.Tapi, Aku melihat perumahan ini menanjak keatas, seperti pegunungan yang sudah gundul lalu dibikin komplek perumahan, sekolahan, tempat, ibadah, sekolahan, dan tempat usaha.
__ADS_1
Sampai dirumah, "letakkan saja disitu pak, kak shela sambil membayar masing-masing ongkos.
Memembuka pintu mengeluarkan barang-barang, merapikan nya, istirahat sejenak, ternyata bersama ipar tak seasyik bersama Ibu, "Ah, Aku rindu lagi sama Ibu. Nanti, Aku hubungi Ah."
Istirahat sejenak Minum Air putih secukupnya. Makan cemilan dibeli tadi. Sambil mengisi kertas-kertasnya tak lupa meminta kak shela untuk mencontohkan surat lamaran nya. Salah satu kata aja diganti. Tapi, Aku tidak ingin menggantinya, bagiku orang perusahaan tidak akan memperhatikan suratnya begitu jauh, banyak hal yang harus diurusnya. Rapi pun tulisan kalau tidak lolos bahan ya jadi sampah juga.
Aku mulai bertanya. "Kak, kok, tempat ibadah disini bersebelahan sama tempat ibadahnya non muslim?"
"Iya, Na, kakak, juga kurang tau, selama kakak disini tempat ibadah itu sudah lama di bangun?" Ada, Apa ,kok tanya itu?"
"Gak, ada apa-apa sih, mau tanya aja, apa mereka tidak terganggu ibadah sama satu sama lain?"
"Ya, terganggu, mau gimana lagi, udah terlanjur, toleransi aja lagi pada umat agama lain."
"Apa selama ini pernah terjadi cekcok?"
"Selama kakak disini, tidak ada, tapi entah lah dibawah itu kurang uptade, menurut cerita dulu sering, tapi sekarang sudah jarang, orang sudah banyak yang mengerti tentang perbedaan."
"Oo, gitu ya, kak, kukira mereka terganggu
"Iya, Na, lagian perbedaan itu ada disetiap individu atau kelompok, ada yang beda warna kulit, beda bentuk mata, beda suku, beda Agama Beda daerah, beda negara beda dunia juga ada. Perbedaan itu kita jadikan pelajaran hidup bahwa kita harus saling menghargai. Semua ini terjadi, karena campur tangan Allah di skenarionya. Terganggu itu manusiawi peda pendapat tidak membuat kita saling menyalahkan.
Allahlah, yang membuat manusia bersuku-suku, berbangsa Agar kita saling mengelak satu sama lain. Agar kita menjadikan sebagai pelajaran untuk menghargai. Hadist Riwayat muslim.
"Asyik bangat ngobrol sama kakak." kak shela tersenyum menanggapinya..
__ADS_1
Next...