Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Memulai sesuatu yang baru


__ADS_3

Sore puku 17.30 Bang Faisal pulang seperti biasa kami melakukan rutinitas setiap umat muslim. Malamnya Aku tidur diluar di ruang tv, karena kontrakan hanya punya 1 kamar, 1 ruang dapur, 1 Ruang luar/tv, 1 kamar mandi. 


Suara Ayam berkokok, Azan subuh berkumandang, melakukan rutinitas umat muslim, kulihat kak Shela menyiapkan sarapan untuk suaminya. Biasa, pukul 07.00wib, Bang Faisal berangkat kerja.


"Nana, mandi sana, ganti baju, siapkan berkas-berkas nya, Sekalian pergi bareng." Aku hampir lupa kalau hari ini Aku sudah mau melamar kerja, Lekas mandi kilat, ganti baju, membawa berkas-berkas nya. Memeriksa ulang jangan sampai ada yang ketinggalan. 


"Mmuaach...


"Kak, kami pergi dulu."


"Pergi dulu ya, Dek, Jangan nakal dirumah ya."


seru Bang Faisal mengajak Anaknya berbicara.


"Iya, siap, Papa! Hati-hati ya pa! Pinta kak shela mengajak anak semata wayangnya menjawab pembicaraan papanya.


"Ya, Hati-hati ya." 


"Siap kak," Sebelum berangkat tak lupa, Aku mencium pipi Fatih dan pamit pada kak shela


.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Motor melaju dengan kecepatan sedang, sengaja pergi dari pagi agar tidak terjebak macet. 


15 menit lamanya sampai di SP. Dimana tempat orang mencari lowongan perjaan, tempatnya asri, pagi-pagi sudah ramai menempati wilayah ini, datang dari berbagai daerah. 


"Nana, Abang hanya mengantar mu sampai di sini, setalah itu kamu harus berjuang dengan cara kamu sendiri, pikirkan lah bagaimana caranya, Abang percaya kamu pasti bisa berjuang tampa Abang bantu."


Bang Faisal hanya mengantar ku sampai gerbang masuk ke SP. Ya, SP Nama wilayah ini, 


Aku melihat sekeliling banyak orang yang mengantri entah apa yang mereka tunggu.


"Iya".

__ADS_1


Sayangnya, bang Faisal urung membantuku karena harus kerja. Berarti Aku harus berjuang sendiri untuk mendapatkan sesuatu yang cukup sulit bagiku. Memulai sesuatu yang baru di negeri orang. Duduk termenung otak berpikir entah apa yang harus Aku lakukan. Aki lihat mereka ada yang pergi berkelompok. Lah, Aku mojok sendiri.


"Nah, itu Dia, itu Dia,"


"Ini Pak, punya saya,"


"Ini Pak,"


BRAK 


Aku melihat ada beberapa yang terjatuh karena didorong beberapa orang.


"Aduh, siapa sih yang mendorong Aku, lihat lihat dong, orang didepan."


Aku lihat seluruh orang di SP ini berbondong-bondong mengerumuni seseorang berbaju kemeja biru muda, dasi biru langit dengan celana dan sepatu senada layaknya bos-bos besar atau  CEO di Novel-Novel,  yang Aku baca dan Drama-drama yang Aku tonton.


Mereka menggerutu kesal karena saking padatnya pelamar saling dorong mendorong, sampai CEO itu kualahan dan angkat tangan. Map-map baru bertebaran, dipungut oleh beberapa pelamar dan memberikannya.


Aku masih berdiri tegak memandangi nya.Ternyata hanya beberapa menit mereka singgah setelah itu pergi. "Oh, mereka yang mengambil surat lamaran disini, Aku ketinggalan.


"Aku gak tau apa yang harus Aku lakukan,"


"Kamu baru berada di sini ya?"


"Hehe, iya, makanya Aku bingung Apa yang harus Aku lakukan."


"Kenalkan Namaku, Alya, kamu?"


"Namaku Nana,"


Irit bangat dia ngomong, kayaknya Aku harus sabar nih menghadapi orang irit bicara seperti Dia. Batin Alya.


"Oh, iya, lihat mereka, kita ikutin yuk!


"Kemana?"


"Kita berkeliling di kawasan muka kuning itu, oh ya, Muka kuning nama tempat Perusahaan-perusahaan itu berdiri," ujar Alya.

__ADS_1


"Ok, yuk! Kami berdua berjalan mengikuti mereka, mereka ada yang bercerita panjang lebar, dan tertawa,seperti tidak ada beban yang mereka pikul beda sama Aku, penuh beban yang kurasakan.


Banyak bahasa yang Aku dengar, Ada bunyi bahasa Batak, Nias, Melayu, Jawa, sunda, dan bugis. Ya, Aku mengerti bahasanya sedikit karena Aku gemar membaca buku tentang budaya lokal. Aku perhatikan, Adat istiadat, Budaya, tradisi, bahasa dan bentuk fisiknya. Melalui bahasa,  Aku tau mereka orang mana aja. Tapi, enggan untuk menyapa. Apa Aku sombong?"


Terserah orang mau bilang apa, karena kebiasaan Aku yang irit bicara atau pendiam orang bilang, dari kecil Aku sudah dilabelkan seperti itu oleh orang-orang, termasuk keluargaku, tentu Aku risih setiap kali ucapannya itu-itu mulu, suka memaksa apa yang mereka mau padahal, orang punya cara sendiri, tidak bisa dipaksa apalagi mengikuti kata orang lain, itu bukan tipeku tipeku ya caraku sendiri, Aku cukup senyumin aja, kalau gerah, Aku minggat. Bukan pengecut, hanya sudah karakter orang pendiam seperti itu. 


"Oh ya, kamu dari mana?" Aku memulai pembicaraan terlebih dahulu untuk menghidupkan suasana kami yang tidak seperti mereka.


"Aku dari lampung, kamu?"


"Aku dari padang, kalau boleh tau, kamu sama siapa di sini?"


"Aku di sini, bareng Tante Aku."  oh ya, mulai sekarang sampai dapat kerja boleh lah kita barengan! 


"Boleh juga Aku juga belum punya teman, kenapa kamu, gak minta tolong sama Tanteku aja," Aku ingin tau, Dia di Sini kan bareng keluarga nya sama kayak Aku, Aku kan disuruh mencari sendiri oleh Abangku, Dia entah kenapa tantenya enggan untuk membantunya, setau Aku, mayoritas pelamar kerja harus punya orang dalam untuk menariknya bekerja, ada orang dalam malah enggan membantu.


"Aku, sudah minta tolong sama tanteku, nunggu panggilan aja, kalau nanti Aku lolos, Aku kabarin kamu, tukaran no. Hp dong," Alya tak lupa meminta hp ku.


"Ini, oh, udah minta tolong, terus, kenapa masih begini, rela mengikuti mereka berjalan tak tau arah ini mutar sana, mutar sini, lihat sana lihat sini," 


" Kata orang, tidak cukup 1 aja untuk mendapatkan pekerjaan itu, kita harus mencari sendiri dan mencari teman untuk menemani kita dan berbagi informasi tentang lowongan kerja, tidak berharap sama 1 orang. Karena saingan itu banyak, kita sendiri, gak dapat-nanti."


"oh, Aku ngerti, berarti kita itu harus memperbanyak teman untuk mencari informasi ya."


"Ya, gitu lah, jangan diam bae jadi orang, sesekali sapa lah siapa yang mau disapa, ajaklah berteman sama siapapun biar ada teman ngobrol, berbagi info, curhat, dan biar gak suntuk sendirian,"


"Insya Allah, Aku ngerti," ingat ucapan Bang Faisal, Aku harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, bagaimanapun caranya, Bang Faisal berpikir Aku pasti bisa ya, Ini lah, yang Aku lihat.


"Nah, disitu kayaknya orang ramai, Ayok kesitu yuk, berlari aja, Nanti kita terlambat,"


"Ayok!


Next..


 


 

__ADS_1


__ADS_2