Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Reuni di Jakarta


__ADS_3

Merantau ke kepulauan Riau


Part 71


Nana



Pagi berlalu manusia mulai sibuk dengan kegiatannya. Hari ini Nana akan melakukan tes seperti dulu. Kali ini tidak perlu mengantri bersaing dengan jutaan pelamar seperti dulu. Untung aku punya teman baik yang bisa di andalkan membantuku.


Bayangkan bagaimana caranya aku berjuang sendiri seperti dulu. Entah bagaimana nasip ku kecil kemungkinan untuk lolos seleksi bikin kena mental. Begitulah para pencari kerja di negeri ini. Semakin banyak populasi semakin kecil lapangan pekerjaan. Tapi, bagi sebagian orang. Seseorang itu memiliki rezekinya masing-masing cara menjemput nya saja yang berbeda harus benar-benar berjuang sampai titik darah penghabisan banyak pula orang mengambil jalan tikus demi sesuap nasi tidak perlu halal atau haram yang penting bisa menyambung hidup.


Banyak orang bilang hidup di Jakarta itu keras. Hidup di kota tidak kenal tetangga tapi teman nan jauh di sana banyak yang kenal. Padahal terjadi apa-apa di rumah, orang pertama yang menolong kita itu tetangga bukan teman.


Gak kerja gak makan, nunggak bayar kos hari itu, malam itu, detik itupun kita di usir.


Masuk dunia kerja banyak pembullyan dan teman kerja sinis, suka mengadu domba kalau orang polos, akan mudah terhasut. Mereka mengadu domba kita pada teman dekat, pada atasan pada bos, biasa orang mencari muka. Bagiku orang seperti itu tidak percaya dengan kemampuan nya sendri dan suka mencari perhatian. Itu sering ku alami dulu. Mungkin di Jakarta ini lebih parah lagi.


***


"Wah, gedungnya tinggi bangat. Berapa tingkat ya?" Batin Nana.


"Hei! Jangan bengong. Ayok! Aku kenal ka kamu pada bos-bos yang ganteng muda dan lajang lagi." Ujar Layla.


"Buat kamu aja."


Memasuki gedung menemui pihak HRD mereka membawa kami entah di lantai berapa. Mudahan lolos amiin.


Banyak bangat yang ikut tes, aku tidak boleh kena mental. Hingga seminggu berlalu, no. Perusahaan menghubungi ku mengutarakan aku lolos Alhamdulillah. Besok aku mulai kerja.


***


Hari pertama kerja tidak membuatku pusing karena aku sudah berpengalaman sebelumnya hingga sudah tau apa yang akan aku lakukan tinggal pemimpin yang mengawasi nya. Mereka melihat kinerjaku selalu salah di mata dia. Jari-jariku di bikin seperti robot padahal yang ku kerjakan menurutku sudah benar. Aku di tempatkan di bagian akuntan tentu tidak susah bagiku karena kuliahku jurusan ekonomi akutansi tapi untuk keguruan kerja kantoran juga bisa.


"Salah, ulangi lagi." Ujarnya


"Yang mana yang salah?" Ujar Nana.

__ADS_1


"Semu ya salah, ulangi dari awal baca baik-baik laporannya. Kurang nolnya satu tidak dapat gaji kamu nanti." Baru aja satu jam kerja sudah membicarakan gaji.


"Iya, akan aku usahakan."


"Hei! Anak baru. Namamu siapa?" Ujar seorang wanita ternyata...


"Tiara!" Aku tidak mungkin sudah lupa sama rupa teman-temanku. Iya, dia Tiara teman kuliahku dulu.


"Nana! Kamu beneran Nana! Mataku tidak salah lihat kan?" Tiara kaget tiada tara melihatku.


"Iya, ini aku temanmu dulu. Kamu di sini juga sejak kapan?"


"Aku juga baru." Tidak banyak yang kami bahas karena tidak mau kena tegur. Kami melanjutkan pekerjaan. Hingga tiba makan siang aku mau mengajak Layla pesan ke cafe.


Mata memandang Tiara bersama seorang lelaki? Tapi, siapa? Fisiknya seperti Ryan. Tunggu-tunggu, Fisik seperti Ryan mungkin sudah pasaran di kota ini sebagai standar ke tampanan untuk lelaki lokal.


Tidak mau terpaku dalam kebuingungan mending ke ruangan Layla aja.


Ternyata Layla sedang menerima tamu laki-laki lagi.


Tidak mau membuang waktu keluar sendiri ke arah cafe. Rasa canggung menghantuiku. Karena merasa semua orang memperhatikanku. Mereka semua bersama teman aku sendiri.


***


Tok tok tok


"Masuk." Ujar seorang pria


Ryan



Ceklek


"Permisi pak, saya mengantar laporan keuangan bulan ini." Nana menyatakan berkas nya ke meja sedang si empu masih membelakanginya. Sang empu memutar kan kursinya tiba-tiba...


Mereka berdua terbelalak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka terbengong cukup lama.

__ADS_1


"Nana!"


"Ryan!"


"Ini kamu, Nana! Apa kabar?"


"Kabar ku, ya, seperti ini lah. Alhamdulillah baik." Pertemuan tak terduga kembali membuat keduanya canggung terlebih Nana dadanya kembali sesak seperti sedia kala. Tak tahan dengan perasaannya Nana pergi.


"Kalau begitu saya keluar dulu." Nana keluar tiba-tiba tangannya di tarik Ryan.


"Nana tunggu. Aku tak menyangka kita bisa bertemu di sini."


"Aku juga. Aku keluar dulu, ya! Nanti di cariin pengawas."


"Ya, sudah. Selamat bekerja."


Entah sinyal apa yang di pikirkan nana bisa-bisanya dia ketemu sama dua orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Ryan pergi tidak pernah bilang-bilang memberi kabar pun tidak mungkin Ryan hanya seseorang tamu hanya singgah sebentar setelah itu pergi. Nana sempat kesal hingga menyebabkan dadanya sering panas dingin, sesak dan perih.


Ketika Nana merasa kesepian bayangan Ryan yang sempat mengisi hari-harinya selalu terlintas. Pada saat perasaannya tidak bisa dia kontrol, Nana pergi ke tempat yang pernah mereka kunjungi dulu menceritakan masa dan depan.


Ketika Nana tiba di kampung selalu di bom tetangga dan keluarga bertanya "kapan nikah hingga perjodohan." Nana bingung bayangan Ryan lagi-lagi menari-nari di kepalanya.


Sekarang mereka bertemu kembali secara tidak sengaja bisa-bisanya teman-temanya juga bekerja di tempat yang sama dengan dirinya.


***


Jam kerja habis saatnya pulang


"Nana! Ayok kita pulang bareng." Tiba-tiba Hanafi, Revo dan Layla menjemput Nana di ruangannya.


"Iya, yok!" Keluar bareng tiba-tiba sepasang mata melihat mereka. Dia kaget tak percaya temannya kenal dekat dengan Nana. Sedangkan yang satunya memperhatikan seseorang dari jauh menoleh ke arah Nana dan teman-temannya. Tiba-tiba Nana merasakan seseorang memperhatikannya menoleh ke kiri tidak ada. Menoleh ke kanan ternyata Ryan memperhatikan mereka di belakang ada Tiara yang ikut memperhatikannya.


Nana lanjut ke mobil dan pulang.


"Hari ini aku ketemu lagi dengan dia. Mau marah apa yang aku marah kan. Toh, dia pergi dia bukan siapa-siapa aku. Dia pergi juga karena aku yang meminta syarat macam-macam menurut dia itu memberatkan nya. Menurutku itu aku ingin mengetes sejauh mana dia berjuang untukku tapi dia kalah sebelum berperang. Siapa yang salah? Aku apa dia? Atau kita tidak berjodoh? Kalau bertemu lagi apa sebatas tamu? Atau menjemput jodoh ? Entahlah." Batin Nana.


"Ryan! Seandainya kamu tau kepergian mu menimbulkan luka untukku. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu masih ingat semua cita-cita kamu dulu? Atau kamu sudah mendapatkan pengganti ku? Sekarang ini, memang aku sudah tidak peduli kamu berada di mana. Aku juga tidak ada niat lagi untuk melanjutkan hubungan denganmu kalau minta minta. Tidak apa-apa kita cari pengganti masing-masing."

__ADS_1


Next


__ADS_2