
Mereka duduk berhadapan dengan kami, saling sapa, tanya jawab dan berbagi no. Hp. Hatiku mulai gelisah, tidak nyaman berada dikeramaian ini, ditambah ada 5 orang yang bergabung saling cerita seperti tidak ada beban. Aku hanya diam memperhatikan mereka satu persatu. Aku bisa menebak mereka semua termasuk Alya itu bukanlah teman yang baik dan setia. Ah, teman setiaku. Hanya teman-teman dikampung.
Astagfirullah, Aku tidak boleh suuzon.
Oh, ya, kalian ini dari mana aja?" Alya menanyakan mereka dari mana, disini sama siapa, sudah berapa lama.
"Aku dari Makkasar, sela seseorang bernama Syifa.
"Wau, dari sulawesi ke sumatra jauh perjalanan ya, sama siapa disini?"
"Sama kedua orangtua saya yang menetap disini,"
"Sudah berapa lama?"
"Sudah sejak Aku kecil. Tapi, Aku tinggalnya dimakasar, sudah tamat SMK, Kau kesini ikut orangtua."
"Oh, berarti kamu tidak dari dulu disini ikut orangtua ya?" kenapa gak dari dulu?"
"Orangtua ku tidak mengizinkan kami ikut dengannya, lebih menitipkan kami dirumah nenek dari ibu. Kalau disini orangtua kerja tidak ada yang memperhatikan kami,"
"Berapa kamu kakak beradik?"
"3 orang aja, Aku anak pertama,"
"Kenapa kami tidak minta tolong sama orangtua kamu saja untuk dimasukkan ke perusahaan tempatnya bekerja?"
"Udah, katanya lagi belum buka lowongan, sambil menunggu Aku memutuskan sambil mencarinya, oh ya kamu?"
"Aku disini bersama tante, baru sebulan, kata om dan tante, sama ditempatnya belum buka lowongan,"
"Kalau kamu?" Alya menoleh ke seseorang yang bernama sinta.
"Aku dari medan,"
__ADS_1
"Aku dari Aceh,"
"Aku dari Bogor,"
"Aku dari depok,"
Berkenalan dengan orang dari suku, daerah dan agama yang berbeda, sesuatu karunia terintah ciptaan tuha. Tuhan menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa, berbeda agama, Etnis, kota dan negara agar kita saling berkenalan satu sama lain.
'
Alya memang gampang berbaur sama siapapun, tipe ekstrovert nih. Dimana seseorang yang berkarakter ektrovert selalu nyaman berada di keramaian, selalu bisa menyesuaikan diri sama orang lain, cepat beradaptasi dan mencari teman. Sedangkan aku, sebaliknya. Introvert, dengan arti tertutup, kurang pandai bersosialisasi, nyaman dengan kesendirian, kurang nyaman bersosialisasi dan mengakrabkan diri pada orang baru. cepat terkuras energi kalau berada disuatu komunitas. Kalau dipikir, enak jadi penulis aja, melakukannya secara individu bukan kelompok. Pemalu dan pendiam juga.
Entah gimana hidupku kelak.
"Hai, Nana, komong dong jangan diam aja," sapa seseorang yang bernama Rahma.
Aku tersentak dar lamunanku, pengen sih ngomong. Tapi Aku harus ngomong apa?" Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Iya, nanti lah,"
"Ayok, lagian ngapain menunggu disini."
"Kami berangkat mengelilingi wilayah muka kuniang ini. Aku perhatikan, Alya mulai jarang mengacuhkan Aku. Aku merasa sendiri dikala keramaian. Mereka sibuk sama ceritanya masing-masing.
Jarum jam tak berhenti bergerak, panas pagi yang menyehatkan lama-lama berubah menjadi panas menyengat membakar kulit, panasnya kota Batam membuat penduduknya lebih cepat mengeluarkan keringat yang lembab, panasnya dan lembabnyq mampu mengangkat sel kulit mati. Jadi, kita ragu kulit kita tidak akan menjadi gelap kok.
1 jam sekali kami istirahat, minum dan makan cemilan, sudah ke 6 kalinya kami berhenti, bercucuran keringat, pusing dan sakit kepala. Segitunya berjuang. Capek hati capek fisik. Kaki serasa tak lagi sanggup menyatukannya. Ah, Nana, ingat pesan Bang Faisal sama kak shela, Jangan pernah mengeluh, ikhlas menjalaninya lillahita'ala.
Sekarang sudah pukul setengah 2. Belum ada 1 pun perusahaan yang membuka lowongan kerja, orang yang memakai motor tidak susah mengayunkan kakinya seprti ini. Capek fisik dan lelah jiwa, pusing dan sakit kepala. segitunya berjuang. Itu akan dijalani selama belum mendapatkan pekerjaan. Bisa kering badan, berjalan dibawah terik matahari panasnya sang surya menyinari bumi.
"Udah pukul setengah 2, kita pulang yuk! Nana, udah ngebet mau pulang tuh," mereka kompak menoleh ke arahku tentu membuatku malu.
"Ayok, Ayok, Alya, Nana, Nana semangat dong," sela seseorang bernama sinta
__ADS_1
"Heheh iya,"
"Nah, kita masuk dan keluar ke Mall aja yuk, sambil menikmati AC gratis,"
"Iya," serempak menjawab berjalan menuju Mall, Naik life menuju lantai 4 cafe, ya kami menuju cafe.
Tertera tulisan, ada Bakso, siomay, soto, mie goreng dan rebus, nasi goreng, soto padang, soto makassar, soto madura, sate padang, sate madura, ketoprak, pempek, Mie Aceh, lontong, gado-gado.
Aneka jenis minuman jus Alpukat dan sejenisnya, kopi dan sejenisnya. Pop ice dan sejenisnya. Aku merasa pengap disini, bau makanan dan minuman menggugah selera tapi udaranya berputar, antara AC, bau makanan dan hebusan nafas pengunjung bercampur aduk menjadi udara tidak sehat tidak ada jendela, tidak ada lubang untuk membuang udara tidak sehat.
"Kamu, punya uang kan, Na?" kalau gak, biar saya yang bayar, sela teman bernama dewi.
"Ada kok gak usah, makasih," tak enak rasanya Aku menolaknya secara halus, Aku paham itu hanya basa basi.
"Gak usah malu, Na!
"Enggak kok,"
Pramusaji datang menghidangkan pesanan kami, ada Bakso, Siomay, soto padang, soto makassar, soto madura. Kami memesan sesuai yang sering kami makan dikampung halaman masing-masing.
Selesai makan duduk sejenak. Berselancar di dunia maya. Terlihat kedua temanku dikampung mengupload Foto-foto mereka masuk kampus. Enggan untuk menglike atau berkomentar.
"Yuk pulang!
"Yuk!
Bergegas membayar makanan kami, turun dan pulang. Melihat kiri kanan, barang-barang tersusun rapi, tidak ada debu setitik pun karena setiap saat OB dan OG Membersihkan Mal ini.
"SESE SESE"
Riuh suara supir dan bunyi klakson angkot memekik gendang telinga, semua supir menjajakan angkotnya, banyaknya persaingan membuat mereka mati-matian berjuang mendapatkan penumpang di setiap saat. Tidak boleh diam aja ya tidak akan dapat, parkir terpojok mulu. Butuh suara dan perjuangan, apa sih yang gak butuh perjuangan?" semua butuh, semut pun juga berjuang mencari makanan.
"Kami pulang dulu ya! Sela Alya
__ADS_1
"Ya, besok jumpa lagi sela Rahma dan yang lainnya.
Next....