
POV FAISAL
Selepas berbicara bersama Ibu dan Angga, lanjut membereskan barang-barang yang dibawa Nana. Tau lah ya apa aja oleh-oleh yang dibawa dari Padang.
Istriku pasti sangat suka sama oleh-oleh yang di buatkan oleh Ibu ini sebab istriku sangat menyukai makanan padang. Tak lupa Ibu juga membeli baju Fatih sepertinya kebesaran, biarlah Fatihkan akan gede juga enggal lama kok menunggu Fatih gede dikit.
Berbincang dengan Nana yang katanya akan bekerja disini aku hanya mengangguk, sebab kurang yakin dengan kemampuannya Nana, dia sangat pemalu dan pendiam. Bekerja disini perlu komunikasi yang kuat kepada sesama pekerja, nyaman bersosialisasi bersama siapapun dan pandai menguasai keadaan sekitar.
Biarlah dia coba dulu kan semua harus di coba sambil belajar mandiri dan mengasah skill ini berguna untuk masa depannya kelak. Karena usia muda mentukan nasip kita dimasa tua, walaupun perempuan, jangan takut untuk mencoba segala hal, tidak ada suatu dalil pun yang melarang seorang perempuan tidak boleh bekerja yang tidak membolehkan mereka hanyalah orang yang pikiran nya tidak maju.
Besok ku suruh Nana istirahat lusa baru pergi mencari lowongan kerja, ku biarkan saja Nana berjuang sendirian dulu sambil mengajarinya mandiri, biarlah dia mencari jalannya sendiri. Toh, dia juga akal dan pikiran untuk berpikir bagaimana cara dia harus berdiri di kaki nya sendiri.
"Nana, Abang hanya mengantarkan mu sampai disini! Setelah itu kamu harus berjuang sendiri bagaimanapun caranya, Abang yakin kamu pasti bisa! Ucapakan ku pada Nana, hanya mengangguk menanggapinya. Bukannya Aku tidak mau membantu, tapi biarlah dia berjuang sendiri dulu sampai dimana dia sanggup.
"Apa, Bang! Nana Abang biarkan sendiri aja di SP itu?" tanya shlea yang nampak kurang yakin tindakan aku tadi pagi.
"Iya, kenapa emangnya?" kulihat shela menggeleng kepalanya dengan ucapan ku barusan.
"Kok, gitu bangat sih, Bang! Sendiri aja gitu, emang bisa dia? Apa dia tidak kebingungan nanti? Biasa shela nampak khawatir terhadap tindakanku barusan mungkin dia pikir aku ini tega ke saudara sendiri.
"Bingung pasti, tapi ini buat kebaikan dia juga, biarlah dia berjuang dulu sampai mana dia sanggup kalau tergantung sama Abang, nanti dia susah mandiri,"
"Tapi, Abang tunjukkan caranya kan?"
"Enggak, Menurut Abang, biarlah dia berjuang menurut caranya sendiri dulu, Abang mau lihat seberapa sanggup dia menjalaninya tampa bantuan Abang. Kalau beberapa bulan ini dia sudah tidak sanggup, baru Abang bertindak.
"Ya, tidak segitu juga, Bang! Abang juga carilah informasi dari siapa kek! teman gitu! Kalau ada lowongan di manapun nanti, jangan lupa kasih tau Nana, biar dia juga merasa di bantu oleh saudaranya." Aku tau shela sangat khawatir dengan iparnya tersebut, karena shela pun sudah pernah merasakan bagaimana sulitnya berjuang sendirian dengan ketatnya persaingan tidak ada sanak saudara yang membantunya.
__ADS_1
"Iya, insyaallah. Untuk sekarang ini biarlah dia mencoba seperti yang orang lain coba, kalau sudah 1 bulan nanti tak kunjung dapat, Abang sendiri yang bertindak." Lagian tak mungkin juga aku membiarkan Nana menjalaninya terlalu lama seperti itu, Apa gunanya punya saudara?"
"Baiklah, tidur lagi!
"Yuk! Bismillahirrahmanirrahim."
Keesokan harinya kembali bekerja seperti biasa. Mengantar Nana ke tempat semula tak lupa memberikan nya petuah dan uang saku, tapi Nana menolak dengan alasan dia memiliki uang tabungannya yang dia pakai untuk uang saku. Aku tetap memaksa tapi tetap menolak ya sudah lah aku hargai keputusannya.
Dia beda dari gadis lainnya yang dengan senang hati menerima uang dari saudaranya dan mau aja menguasai uang kakak laki-lakinya mengabaikan ipar nya lebih berhak menerima uang kakak laki-lakinya. Beruntung bangat memiliki adik seperti Nana yang tidak gembor-gembor seperti gadis lain dan beruntung juga memiliki istri seperti shela yanh pengertian pada keluarga dan iparnya juga beruntung bangat memiliki ibu yang sudah sukses mendidik anak-anak menjadi anak soleha, berbakti pada orangtua dan mendidik agar menghargai perempuan sama seperti diri nya karena menurut Ibu, laki-laki yang zolim terhadap istri hukumnya sama seperti zolim pada Ibunya begitu juga sebaliknya.
Ibu telah mengajarkan kami bertanggung jawab terhadap diri sendiri, Ayah, Ibu, istri, suami dan anak. Laki-laki harus lebih dewasa dari wanita karena laki-laki adalah yang tertua, pemimpin dalam rumah tangga. Terima kasih Ibu.
Seminggu lamanya sepertinya Nana belum menemukan satupun perusahaan yang membuka lowongan kerja. Tapi, Nana sepertinya sudah memiliki teman dan juga akrab. Tapi sepertinya aku pernah melihatnya, tapi entah dimana, mungkin dia sudah lama disini dan ikut mencari kerja seperti Nana di muka kuning.
Aku dan shela terus menyemangati Nana agar tidak semangat dalam berjuang. Mencari teman, saling berbagi informasi mungkin satu antara temannya ada yang tulus mau saling membantu. Hingga minggu kedua Nana minta izin mau pergi piknik sama temannya awalnya kau ragu karena mereka sama-sama baru disini dan belum tau sudut-sudut kota ini.
Dalam sibuk bekerja di pabrik, tiba-tiba Fernando temanku yang dokter itu menghubungi katanya di PT. Plastick Indo Batam. Perusahaan yang bergerak di industri membuat plastik membuka lowongan untuk senin besok, kebetulan aku pernah menghibunginya ada saudara ku dari padang yang mencari kerja disini. Fernando seorang dokter yang dipercaya beberapa perasaan untuk melakukan medical cek up. Termasuk di perusahaan itu.
"Hallo! Cal, ini gue Nando, kemaren lo bilang ada saudara lo yang mencari kerja disini. Nah, ini besok, suruh saudara lo sama temannya datang ke PT. PlastickIndoBatam untuk menyerahkan surat lamaran nya besok, suruh mereka datang lebih pagi karena kalau telat sedikit orang sudah mengantri!" ucap seseorang dari seberang telpon.
Itulah yang dia bilang ditelpon tak sempat ngobrol berlama, aku ucapkan aja terima kasih karena dia juga pasti mengerti sekarang jamnya kerja bukan jam istirahat.
"Terima kasih! Ya, jangan lupa kabarin gue kalau lo tau dimana aja perusahaan yang buka lowongan."
"Iya, gue gak janji ya!
"Ok, yang penting lo mau bantu! Gue kerja dulu ya!
__ADS_1
"Iya."
Tit
Entah senang entah apa, kalau lulus tes Nana akan diperiksa oleh dia, seharus nya yang melakukan medical cek up itu dokter yang sudah tua, yang laki-laki diperiksa oleh dokter laki-laki yang perempua yang memeriksa perempuan juga. Tapi tidak, ini malah yang muda yang dipercaya oleh pihak perusahaan. Kalau dipikir-pikir, memilih di perusahaan lain seperti itu juga yang ada Nana tidak dapat pekerjaan.
Ternyata Nana tidak lolos dan memulai lagi dari awal. Menurut shela sayangnya teman satu-satunya pergi entah kemana. Tapi, biarlah memang seperti itu seorang teman suka datang dan pergi sesuka hati kami berdua sudah merasakan hal yang sama jadi kan pelajaran aja agar lebih selektif mencari teman dan agar tidak terlalu berharap kepada seorang hamba yang bernama manusia.
Fernando calling....
"Hallo!"
"Hallo! Cal! Gimana! Saudara lo lolos gak?"
"Engak! Do! Belum rezekinya."
"Oh, ya sudah, nanti gue usahakan mencari yang lainnya."
"Gak usah repot, biarlah dia mencari sendiri, entar menganggu kerjaan lo lagi." gue ingat kemaren gue minta tolong Nando mencari lowongan untuk Nana siapa tau dia mau membantu.
"Ya, enggak juga, gue kan selalu kontak sama semua perusahaan disni, mereka yang butuh gue duluan, gue juga butuh mereka buat ngasih kerjaan buat kerabat gue."
"Sok, lo ya!"
"Bukan sok emang, fakta.'
Minggu ketiga sepertinya Nana tidak ikut keliling seperti yang lainnya mungkin tidak mau sendiri atau malu. Karena itu anak tidak mau ada orang yang pernah melihatnya memperhatikan nya berjalan seorang diri di tempat yang sama. Sebenarnya Nana orangnya cukup berani untuk melakukan perjalanan sendiri dan gampang menaklukkan lawan.
__ADS_1
Next....