Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Piknik ke Natuna


__ADS_3

Merantau ke kepulauan Riau


#Part50


Alif ston park, Kepulauan Natuna


Libur semester ini biasanya pulang ke kampung. Tapi, kali ini tidak, teman-teman mengajak liburan ke pulau Natuna terletak paling utara selat Karimata, Laut China selatan 2020 kepulauan Natuna Utara, Vietnam, Kamboja dan malaysia.


 Lebih dekat ke Malaysia tapi masuk ke Negara Indonesia unik memang. Pulau ini sering menjadi sengketa perebutan negara lain yang paling Ambisius itu china karena menurut mereka pulau Natuna berada di laut china selatan. Semenjak presiden sekarang menjabat dengan debat mengubah nama menjadi kepulauan Natuna utara karena masih berada di wilayah Indonesia.


"Setelah sekian lama sibuk kuliah Akhirnya kita traveling juga." Ujar Ryan mahasiswa paling tegas di kampus.


"Libur telah tiba saatnya jalan-jalan, menghabiskan uang untuk kesenangan pribadi. Jangan terlalu mengekang diri di rumah karena Indonesia sangat luas rugi tidak menjelajahnya satu persatu." Ujar Tiara, dia yang paling merasa bahagia ketika tau kita akan berlibur ke kepulauan Natuna.


"Iya, setelah sekian bulan di kelilingi oleh tugas dan kerjaan yang menumpuk. Kini saatnya menghibur diri dengan traveling agar tetap waras. Tubuh butuh Travelling. Pikiran butuh obat agar gak retak sama kerjaan." Ujar Masya, mahasiswi paling tegas setelah Ryan.


Sebelum keberangkatan, kami menyusun baju dan lainnya yang akan di bawa. Aku ngekos karena kampus sangat jauh dari rumah. Ngekos kita bisa bebas bisa kerja kelompok di kos teman dan dosen.


Tak lupa membawa kamera, HP, gitar dan Topi, karena di pantai sangat panas demi menghemat biaya, apa-apa di bawa dari rumah.


Kami di sini tidak ada anak orang kaya, semua sedang-sedang. Karena kita ikut kerja untuk menambah uang saku. Uang kita kerja untuk ongkos, jajan dan traveling. Uang orangtua untuk membayar biaya sisa semester yang tidak 100% di bayar Universitas.


Kami sekitar 20 orang, 10 laki-laki 10 perempuan. Menggunakan Bus antar kota ke Pelabuhan Internasional Batam. Sudah memesan tiket di jauh hari, kami menyewa sebuah kapal elit. Tidak apa mahal, yang penting nyaman.


Di kapal ada yang berselfi, makan, dan menyanyi menggunakan gitarnya bagi yang laki-laki. Keluar masuk untuk mengambil gambar.


"Ke mana, kamu ver?" ujar Tiara.


"Kita ke luar, yuk! Mau lihat pemandangan dan berselfi!" uajr Vera sambil menarik tangan kami keluar di ikuti oleh semua mahasiswi. Kali ini sangat gembira, live di Facebook, berselfi dan menguploadnya. Aku tidak ketinggalan ikut nimbrung dan melakukan apa yang orang lakukan. Banyak komentar. 


"Kemana? Hati-hati di jalan! "Wah, seru bangat." Ikuuuut."banyak lagi komentarnya.

__ADS_1


Sampai di pelabuhan, tempat utama yang kami cari adalah teman penginapan atau homestay. Meletakkan barang di sini. Istirahat, mandi, makan dan melanjutkan perjalanan.


Tempat pertama yang di kunjungi adalah Alif ston park, taman bebatuan yang terletak di tepi pantai. Ribuan batu besar yang tersebar kita hanya memilih ingin duduk di mana mau foto di mana. Lebih mirip dengan suatu pantai di kepulauan Bangka belitung. Banyak wisatawan dalam negeri dan mancanegara yang mengunjungi tempat ini.


"Fotoin aku dong!" ujar wulan.


"Kita menyewa jasa fotografer aja, Nanti kirim ke grub. Ujar Doni yang menyewa jasa fotografer.


"Wah, Ayik, Nih! Fotoin kami berdiri di batu gramik ini, di kolam, di resto, dan bukit nanti.


Semuanya berselfi, ragam style dan gaya yang kami contoh dari sosial media. Dari bersama, sebagian, berdua dan sendiri. Lanjut mandi di laut yang jernih. Kami sangat bahagia. Ada yang sedang berpacaran sangat menikmati momen ini.


------


Mandi dalam panas matahari membuat tubuh kami gelap. Selesai, karena jam sudah menunjukkan pukul siang. Berangkat lagi ke homestay ganti baju, istirahat sambil menikmatinya semua gambar yang di ambil tadi. Semuanya di upload ke sosmed. 


"NANA......  di mana tuh, jalan-jalan gak ngajak, pemandangannya bagus bangat. Aku juga pengen ikut." komentar Nadia.


"Ini di pulau Natuna, Nadia. Kami sedang liburan semester lain kali kita ke sini, jangan nikah dulu. Hahah." ujarku.


"Kapan, ya..?" ujarku.


"Nana, Aku iri melihat ini. Pengen liburan juga kayak kalian. Tapi, apa daya aku sudah terikat bocil." Emot menangis. ujar Anggun yang mengeluhkan keadaannya yang sudah terikat dengan adanya anak tidak bisa lagi menjalani hari seperti seorang gadis.


"Jalan-jalan, lah, sama Abangnya. Ucapku.


"Udah gak punya Abang."


Nadia dan Layla tak lupa berkomentar panjang lebar. Anggun juga ikut nimbrung, mereka iri karena kami di sini sangat bebas mereka tidak dengan alasan yang macam-macam.


"Kita kemana lagi, Nih?" ujar vera.

__ADS_1


"Kita makan aja, kita makan aja udah lapar bangat. uajr Aini, Rania, Najwa, Fiva, Shelin, Santi, Mita dan Laura.


"Ayok kalau gitu, Aku juga lapar." ujarku. Keluar dari homestay tak lupa di ikuti oleh yang laki-laki.


"Kalian kemana?"


"Cari makan, yuk!" Ujar ku.


"Ayok!"


Menuju salah satu restoran dekat sini ternyata banyak orang luar pulau yang makan di sini. Pulau ini bagus dan unik tak kalah dari pulau lainnya. Tapi, minim perhatian pemerintah.


"Nak, beli apo dek?" ujar sang empunya restoran dengan bahasa dan logat melayu yang lebih kental dari yang orang sumatra lainnya. Bahasa dan logatnya melayu persis seperti di malaysia karena letaknya strategis lebih dekat ke Malaysia.


"Letakkan semua menunya ya, Buk! Biar nanti kami yang memilih lauknya!" Ujar Rendy.


"Minumannya?"


"Air putih."


Pramusaji datang membawa semua menu yang kami pesan. Masakan padang dan nusantara ada, masakan Asli pulau Natuna juga ada. Tak lupa memesan minuman. Aku hanya menyukai minuman ringan seprti Air putih, tes es, dan jus jeruk.


Hampir separo menu yang maki makan, cabe sama kerupuk juga ludes. Kalau ada uang, kita tidak perhitungan bukan karena boros, karena uang bisa di cari, rajin-rajinlah berusaha semua untuk kita ada masa depan yang menanti.


 sepertinya kami benar-benar kelaparan. Karena sudah berjam-jam di laut membuat perut cepat keroncongan. Ketika membayar berapa harganya sudah tidak kaget di telinga karena dari yang murah sampai yang mahal sudah kami cicipi.


Istirahat sejenak. Melanjutkan perjalanan ke Mesjid Raya Natuna. 30 Menit perjalanan menggunakan mobil rental. Di dominasi warna hijau dan kuning telur, Mesjid terbesar yang pernah ku kunjungi setalah Mesjid raya di jantung kota padang. masjid ini punya empat menara dengan ketinggian masing-masing 17 meter. Selain itu, desain masjid ini juga cukup unik dengan adanya lubang angin yang membuat suhu udara tetap sejuk. Masjid Raya ini jadi ikon bagi Kabupaten Natuna. Bentuknya besar dengan luas keseluruhan mencapai 5.500 m2 dan bisa menampung hingga 5000 orang.


Masjid ini terletak di Ranai, ibukota Natuna. Sekilas, kamu pasti akan merasa bahwa masjid ini punya kemiripan dengan Taj Mahal di India.


ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR. 

__ADS_1


Azan Ashar berkumandang saatnya kami wudhu dan sholat. Yang nonmuslim mereka menunggu di luar sambil mengambil gambar.  Di antara kami tidak semua muslim tapi tidak pernah cekcok membenarkan agama masing-masing. Cukup toleransi sama semua perbedaan, menerima dengan lapang dada insyaallah damai dan indah. Untuk aoa cekcok? Tidak ada gunanya hanya membuat kita Krisi moral aja.


Next...


__ADS_2