
Merantau ke kepulauan Riau
Part 61.
Nazalia Nazeefa
"Mana temanmu itu, Na? Kok tidak pernah datang lagi?" Ujar Bang Faisal.
"Sibuk kerja Bang."
"Kerja apa? Katanya kemaren mau membuka konter di kampung halamannya." Buka konter di kampung halaman? Kok, aku gak tau?
"Katanya seperti itu, bang" Malas mendengar pertanyaan Bang Faisal, aku lebih memilih menulis sebuah cerita di laptop.
"Ryan, sudah sebulan kamu menghilang, aku kasih kamu waktu sebulan lagi, kalau tidak juga menghubungiku, membicarakan kamu kemana tidak bilang-bilang, aku akan pergi ke kota jakarta, aku tidak mau tau kamu berada dimana. Aku tidak suka di bohongi." Batin, Nana.
"Na, kak shela sepertinya mau lahiran, kamu sama Angga jaga toko dan rumah makan ya?" Ujar Ibu. Aku lupa kalau kak shela sudah mau lahiran. Aku akan kehadiran kaponakan baru.
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan."
"Jaga semuanya, Ya, Na! Jangan ngelamun. Akhir-akhir ini abang lihat kamu banyak ngelamun."
"Ngelamun apa Bang?"
"Iya, hati-hati di rumah juga." Bang Faisal percaya aku sedang tidak baik-baik aja.
Mereka pergi ke rumah sakit terdekat tinggal aku dan Angga di rumah. Capek juga mengurus semuanya. Tiba di waktu lengang, Lagi-lagi Nana merasakan sesak di dada entah sampai kapan rindu ini berada dalam tubuh seperti dendam yang harus di balas.
Nana jadi linglung, setiap waktu banyangan ryan selalu menari-nari di pikirannya.
__ADS_1
Rindi rindu rindu
"Kemanakah kamu? Sedang apa? Sama siapa? Aku rindu dirimu. Bisakah kamu memunculkan sedikit aja wajahmu cukup membuatku bahagia. Aku tidak nyangka, kata-kataku kemaren membuatmu tersinggung. Kemarilah, aku minta maaf tidak akan memberatkan mu." Tulis Nana di buku diary.
Tiga hari berlau kak shela sudah pulang ke rumah, kak shela melahirkan bayi perempuan yang manis. sayangnya Ibunya tidak hadir, karena jauh dan ada adiknya kak shela yang akan melahirkan di waktu dekat.
"Cantik banget, siapa Namanya kak?"
"Namanya Nazila Azzahra."
"Nazila, kok beda tipis sama namaku?"
"Neneknya yang dari bandung kasih nama."
"Nazila, panggilan nya siapa nih? Tante panggil Zila aja ya."
Sudah lewat dari sebulan tidak ada tanda-tanda Ryan akan datang. Selama menghilang pula Nana merindukannya, siang malam bayangan ryan selalu menari-nari di pikirannya. Ada penyakit aneh yang di rasakan. Ingin memeriksa ke dokter. Tapi, Nana takut dokter akan memvonisnya macam-macam. Nana memilih tidak memikirkan yang macam-macam, memilih olahraga dan makan yang teratur.
***
Batam kota industri dengan lapangan pekerjaan, biaya hidup, pusat perbelanjaan dan gaji terbesar di pulau suamatra. Banyak perantau memenuh kota ini. Bagi mereka yang pengangguran, Batam kota yang paling bagus menampung pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan.
1001 kisah yang ku alami di sini, banyak teman yang datang yang hanya numpang singgah, numpang berhutang tak pernah Bayar lalu menghilang. Cinta yang singgah sesaat lalu menghilang. Orang seperti Ryan bukan pertama kalinya ku jumpai, sebelumnya sudah ada yang singgah lalu menghilang.
Aku mungkin kurang beruntung dalam dunia percintaan. Tapi, aku yakin dengan cara yang seperti ini, Allah sudah menyiapkan yang terindah untukku.
***
Tiba di bandara internasional Batam lagi-lagi aku sedih meninggal kan Fatih dan Nazila. Aku cukup dekat sama Fatih, kalau Fatih takut berada di kamarnya sendiri sedang kan Ibunya sibuk, ada aku yang menemaninya tidur. Membantunya menyelesaikan PR dan mendengarnya curhat aku kasih solusi.
__ADS_1
Flashback
Pada saat ke kamar, Fatih mengikuti ku "Tante! Gak usah pulang kampung, tidak ada lagi orang yang menemaniku ke atas." Ujar Fatih. Fatih memang belum berani pergi sendirian ke lantai dua.
"Yah, tante harus pulang, mau bantu nenek sendirian di sana, Om Angga mau kuliah jauh dari kampung. Kasihan kan nenek tidak ada yang nemanin. Kalau Fatih takut, minta bantu sama karyawan ayah, ya!" Ujarku selembut mungkin pada Fatih.
Anak-anak, kita harus mengajarkan kebaikan pada mereka, memorinya cukup tajam mengingat peristiwa apapun yang mereka lalui di waktu kecil akan teringat sampai dewasa. Kalau orangtua menciptakan keburukan dengan alsan dia masih anak-anak, stop. Itu salah, justru mereka akan mengingatnya sampai dewasa.
Nazila, bayi itu baru berusia 30 hari belum pernah melihatku.
***
"Bang, kami pergi dulu ya?" Ujarku dan Angga menyalami bang Faisal.
"Iya, hati-hati di jalan, ya! Angga sering-sering Bantu ibu, ya!" Ujar Bang Faisal memeluk kami Berempat.
"Hati-hati di sini ya! Apapun yang terjadi pertahankan rumah tangga, jangan merusak nya." Ibu melepaskan pelukannya beralih ke Fatih. "Fatih, rajin-rajin belajar, ya! Buat Ayah sama Ibu bangga. Jangan nakal, bantu Ibu buat jaga adek, ya!" Memegang pundak Fatih.
"Insyaallah, Bu."
"Iya, Nek!"
Setelah Bang Faisal dan Fatih pulang aku termenung sedih rasanya meninggalkan kota ini. Penuh kenangan kebahagiaan dan air mata, entah kapan aku ke sini lagi.
Pulang kampung entah sampai kapan aku bertahan, aku tidak mau mendengar pertanyaan tetangga dan keluarga sudah lumrah di kampung mah. Kalau di kota orang jarang mempertanyakan privasi seseorang.
Saatnya pesawat take of, sedih Ya Allah.
45 menit berada di udara sampailah di Bandara Internasional Minang kabau, naik taksi sampai ke rumah di Ulak karang tidak jauh dari pandai padang dan mesjid raya, hanya naik angkot bayar empat ribu sudah sampai.
__ADS_1
Tujuh tahun di batam hanya sekali pulang, kali ini kedua kalinya bagiku. Teman-teman yang dulu entah di mana, sedih bangat.
Next.