
Merantau ke kepulauan Riau
Part 62
Setelah mutar-mutar cukup jauh nyasar di sebuah minimarket yang ternyata milik Hanafi letinganku di SMK dulu. Sudah tujuh tahun tak bertemu ingat sama dia aja tidak.
Sekarang tidak sengaja bertemu benar kata Nadia, hanafi sudah berubah 180 derajat. Dulu cupu, culun, dekil, berkacamata dan kutu buku. Sekarang visualnya sudah sangat bangus seperti B. I Ikon idol boy grub asal korea tentu kpopers tau kan?
Lupakan soal hanafi, sekarang fokus mencari Nadia entah kemana anak itu, niatnya mau olahraga malah mutar-mutar gak jelas. Astaga kenapa mahasiswa yang sedang joging ini perasaanku mirip Ryan?
Duh, mata jangan salah lihat dong, atau perasaanku aja ya? Terlalu memikirkan dia. Ingat kata abang kemaren, Ryan pulang kampung mau buka usaha? Apa gara-gara syarat dariku kemaren, dia buru-buru bikin usaha? Kenapa gak bilang? Ah, jodoh gak akan kemana.
***
Lewat pasar raya ternyata tidak berubah, bunyi klakson angkot membuat telingaku pekik. Menyusuri pasar harganya terjangkau. Keluar lagi mencari Nadia. Lirik kiri kanan, depan belakang, Itu dia sedang duduk manis seperti bertapa.
Berlari mendekati Nadia. "Hei, Nadia! Kamu kemana aja? Aku cari kesana kemari gak ada cepat bangat ngilang nya?"
Nadia mendengar suara memanggil nya menoleh. "Apaan sih, Na! Ganggu aja, justru kamu itu yang hilang entah kemana. Aku cari kesana kemari tidak bertemu sekarang datang gangguin aku." Nadia melanjutkan aktifitas nya.
Duduk dengan memanjangkan kaki agar tidak kaku akibat jalan pagi. "Kamu disini dari tadi? Kok aku lihat gak ada?"
"Iya, aku di sini aja gak kemana-mana? Ada apa tuh? Kok sendu bangat kayaknya?"
"Aku udah mutar 10 kali di sini loh. Ku cari kamu gak ada. Hayo, kamu pakai ilmu apa untuk menghilang kan diri dari mata manusia?"
"Mungkin matamu katarak, makanya gak lihat aku duduk aja di sini, apaan sih kamu ini? Ini zaman berapa? Kok masih percaya dengan hal gituan?"
"Sembarangan aja bilang mataku katarak, masih sehat kok kan masih muda. Becanda, ini minum dulu."
***
__ADS_1
Pulang ke rumah mandi dan membantu Ibu mengurus kedai. Kedai Ibu memang kangganan mahasiswa karena harganya terjangkau dekat kampus dan kos-kosan lagi. Banyak yang bertanya ini siapa? Dari mana? Umurnya berapa? Menurut mereka beda dari karyawan, aku bisa bebas keluar masuk rumah.
"Aku anak pemilik kedai ini. Umurku 24 tahun, aku baru pulang dari batam." Duduk sambil mengetik di laptop.
"Pemilik kedai ini punya anak lain? menurut cerita ada dua lagi di perantauan satu sudah pulang. Tapi, di perhatikan baik-baik, kok kurang percaya kamu kakaknya Angga." Ujar salah satu mahasiswa laki-laki.
Aku mendengar nya hanya tersenyum menanggapinya. kok banyak orang gak percaya. "Gak percaya? Bagi kalian wajahnya Angga tua atau wajahku yang imut?"
"22nya." Kasihan kamu Angga yang tua di muda kan. yang muda di tua kan.
"Anak pemilik warung ini? Kata orang iya, ku kira kamu adiknya Angga, badan dan wajahmu mendukung kamu itu adiknya Angga." ujar salah satu mahasiswa wanita.
Adiknya Angga? Sejak kapan Angga di rumah ini punya adik? "Haha, Angga anak bungsu. Kami selisih usia tiga tahun, Apa kelihatannya Angga lebih tua dariku? hingga banyak yang menyangka aku adiknya."
"Lelaki dan perempuan beda, bagiku kebanyakan wajah laki-laki itu yang cepat dewasa." Yang aku sangat justru kebalikannya. Di drama Asia yang ku tonton banyak aktris dan aktor yang seumuran, ada prianya yang fisiknya lebih dewasa dari wanita begitu juga sebaliknya. Ah, entahlah. Mungkin aku awet muda.
***
"Dari pergi dan pulang lupa bilang tante." Tante Yuni masuk tanpa salam, mengambil piring, nasi dan lauk-pauk yang dia suka. Dulu, sering makan tidak bayar. Anehnya Ibu tidak pernah menagih nya.
"Masa lupa. Kami kan masih keluarga mu. Adik kandung ayahmu." Keluarga sih, keluarga. Kalau mulut ember siapa juga yang mau ngaku keluarga?
"Emang lupa." Dari aku kecil tante yuni sering mencari gara-gara denganku. Sepertinya benci bangat entah apa salahku.
Ingat, dia sering menyuruhku menjaga anaknya karena ingin pergi Arisan tidak mau bawa anak repot katanya. Anaknya mewek dikit aku yang di marahi.
pergi main sama teman yang namanya anak-anak pasti ada berantem. Nangis pulang ke rumah ketahuan sama tante aku lagi yang di tuduh bermain kasar sama teman padahal tidak ada sedikit pun aku menyentuh mereka.
Ingat mau masuk SMK, aku di caci maki Habis-habisan gak ngebolin sekolah, ngabisin duit aja, Ibu seorang janda, ayah udah gak ada, perempuan ngapain repot sekolah ujungnya jadi ibu rumah tangga biasa jadi beban suami.
Hello, anak situ aja yang gak sekolah kenapan yuruh aku?
__ADS_1
Aku hanya diam mendengar nya, Ibu cuma bisa memanjangkan bibirnya tidak ada niat untuk membela ku sama sekali kalau ingat masa itu nyesek bangat.
Selama SMK selalu kepo dengan nilai dan juara ku, setiap kali melihat rapot ku, aku di caci maki lagi, nyuruh berhenti sekolah, kalau gak, baju dan buku ku di bakar.
Padahal aku sekolah tidak memakai uangnya, tidak minta makan padanya justru dia yang minta makan pada Ibu. Biaya yang di gunakan oleh ibu, itu sumbangan dari mesjid untuk anak yatim dan saudara dari Ibu. Seenak jidat dia mencaci maki ku, kali ini aku tidak akan diam lagi, bendera perang siap di mulai.
Huh, sadis bangat masa lalu ku
Selesai makan kebiasaan tante yuni tidak pernah membereskan mejanya kembali. Butiran nasi di mana-mana. lauk pauk di ambil semuanya sisanya banyak pula kan mubazir.
"Kapan nikah? Umur sudah matang tuh. Nanti ke duluan Angga." Nikah lagi, nikah lagi. Ini yang membuat ku tidak mau pulang kampung.
"Kapan-kapan aja tante." Ku lanjutkan mengetik tanpa menoleh sudah hafal sifatnya.
"Kok bilang nya kapan?"
Aku sangat jengkel sama tante yuni ini, pengen menelannya hidup-hidup. Dari dulu hobi bangat mengangguku. "Iya, memang kapan." Orang seperti ini sebenarnya tidak usah di ladenin. Tapi, gak enak sama karyawan dan pelanggan.
"Maryam! Suruh Nana ini menikah. Apalagi yang dia tunggu nanti keburu tua. Gadis tidak boleh sendiri terlalu lama nanti tidak laku-laku jadi Aib keluarga." Astaga, apa-apaan omongan tante ini. karyawan dan pelanggan merasa tidak enak mendengar nya. omongan tante ini memang kelewatan. Emang apa salahnya sendiri terlalu lama? apa hak dia mengatur ku? Aib keluarga bagaimana pula, aku kan gak hamil luar nikah.
"Gimana nyuruh nya? Saya tidak mau ikut campur sama jodohnya. Kalau sudah waktunya mereka pasti nikah." Ibu saja tidak mau pusing masa dia pusing.
"Ya, di desak dong. Masa diam aja, umurnya sudah berapa. Anak saya aja yang usianya di bawah Nana menikah sebulan yang lalu sudah lahir anaknya dua hari yang lalu pas kalian pulang."
Astagfirullah, bangga bangat sama anaknya yang berzina hamil di luar nikah pula. Sedangkan yang sendiri sedang berjuang di sepertiga malam malah di anggap Aib keluarga? yang hamil di luar nikah lebih terhormat dari pada yang berjuang di sepertiga malam?
pelajaran dari mana itu?
Pelajaran dari mana coba, hayoo!!!
Next dulu
__ADS_1