Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Perjodohan untuk Nana


__ADS_3

"Pergi aja dari sini, saya sudah muak dengan kelakuan tante."


Beraninya mengakui tanah ini milik mereka? Selama ayah masih hidup, ayah memang pernah melaut untuk membelikan kami tanah dan rumah itu pernah di bilang ke keluarga nya dulu. Mungkin itu yang membuat tante Yuni yakin tanah ini milik Ayahku.


Tapi, cita-cita ayah tidak tercapai keburu di panggil oleh yang maha kuasa. Sadar kami tidak punya tanah, untung ada warisan kakek dan nenek dari Ibu untuk kami, di sini lah kami tinggal. Ternyata itu semuanya tidak di ketahui oleh tante Yuni.


Sudah ku usir berkali-kali baru pergi untuk apa takut menghadapi seseorang? Toh, kalau kita di usik masa diam aja. Aku tidak mau diam aja ketika di usik, aku bukan lah wanita soleha yang selalu terima di perlakukan semena-mena oleh orang lain.


Mungkin orang seperti ini banyak miris melihat kelakuannya. Untuk kalian yang sedang berjuang untuk mendapatkan jodoh dan momongan bawa enjoy aja ya! Kalau kalian stres menghadapi orang seperti ini, jauhi aja. Tidak ada untungnya meladeni mereka. Tetap semangat.


"Kok tau tante yuni dan anak-anak nya sering ke sini, Bu." Ujarku pada bu Yanti kerabat Ibu.


"Sering dengar dari keluargamu yang lainnya. Mereka juga geram melihat kelakuan tante mau itu. Hutang nya di mana-mana tidak prnah bayar, ketika di tagih ada aja alasannya. Ibumu diam aja melihat kelakuannya."


"Saya tidak mau ribut, dia makan gratis kesini biarlah anggap aja sedekah kalau ikhlas Allah akan ganti dengan yang lebih banyak lagi. Buktinya rumah makan ini semakin maju."


"Selama Ibu tidak di sini, juga sering dia kesini ya, Bu!"


"Makin sering malah kadang tiga kali sehari. Dulu waktu Ibumu ke batam, sempat marah mencaci maki yang lainnya. Dia ingin ambil alih rumah makan ini sampai Ibumu kembali. Tapi, di larang oleh pamanmu."


"Paman? Paman kemana ya? Belum ke sini. Kalau bertemu paman aoa akan mempertanyakan hal yang sama? Mending aku cepat-cepat ke Jakarta deh. Bisa stress menghadapi keluarga." Batin Nana.


"Ya, Allah, bu! Sabar bangat" Ibu selama ini.


"Sudah tidak apa-apa kok." Ibu lanjut dengan pekerjaannya, sedangkan aku masih berperang dengan hatiku. Ibu dari dulu memang pasrah terhadap apapun yang orang perlakukan pada kami. Tetangga juga, sadar kami sering menyapu halaman rumah dan membuang sampah, mereka suka membuang sampah nya ke samping rumah kami tidak ada etikanya sama sekali, aku sering mengadu pada Ibu. Tapi, jawaban ibu tidak ada yang berfungsi aku makan hati sama sifat tetangga.


Pernah ku tegur mereka, mereka marahin aku balik, katanya lebih bersin dia dari pada aku, kalau seperti itu kok buang sampah sembarangan, ke halaman rumah aku pula. Aku berbicara fakta, itu membuat pelanggan jijik dan menjauhi rumah makan kami.


Tapi, Allah maha pemberi rezeki dengan usaha yang jatuh bangun, Rumah makan tetap bertahan utuh sampai sekarang. Rumah juga sudah di pagar tinggi-tinggi, tetangga tidak bisa membuang sampah ke sini lagi.


***


Tring tring


[Assalamualaikum, Nana."] Siapa pagi-lagi mengirim pesan?


[Waalaikumsalam, siapa?]


[Aku hanafi, kamu sedang apa?]


[Sedang tiduran aja. Ada apa tuh?]

__ADS_1


[Salah ya, orang menghubungi mu?]


[Tidak kok]


[Nana, aku di jakarta sekarang]


[Kapan kamu kesana?]


[Malam tadi, aku mau kuliah di sini]


[Jauh ya?]


[Iya]


Hanafi sudah di jakarta? Artinya Nadia ketinggalan! Kasihan Nadia. Sejauh mana hubungan Nadia saka Hanafi? Apa hanya sebatas TTM? entah lah.


Segera membersihkan diri keluar membantu Ibu ku lihat, Ibu sedang berbicara dengan seseorang. Ku dengar mereka menyebut namaku, hatiku tidak tenang Ada apa gerangan?


Perasaan ku ini sensitif bangat bisa merasakan ada hal yang tidak baik yang di tuju padaku. Kalau perasaan ku sudah tidak nyaman, aku kembali ke kamar merapikan baju memasukkan ke dalam koper dan menghubungi Layla aku mengatakan ingin ke Jakarta menginap di kosnya untuk sementara waktu.


NANAAAA


Terdengar suara Ibu memanggilku ada apa ya? Hatiku makin tidak tenang. "Iya, ada apa, Bu!" Keluar, ternyata tante desi adik ibu yang datang.


"Langsung aja ada apa? Saya tak punya waktu banyak."


Tante dewi menarik tanganku, ikuti aja. "Duduk dulu. Gini, Na! Kamu masih sendiri kan? Tante tanya, kapan Nikah?" Duh, kapan Nikah lagi, itu lagi. Gak ada yang lainnya apa? Suka hanya mengusik orang.


"Menikah kapan-kapan aja tante, kenapa tuh?" Gak nyaman bangga ya Allah.


"Ada seseorang laki-laki yang ingin melamarmu mengajak kamu menikah. Dia sudah mapan, sudah punya kerjaan tetap, mobil dan rumah pribadi. Jarang loh laki-laki seperti itu." Aku paling tidak mau di jodohkan maaf, hati tidak bisa di paksa.


"Suami orang?" Yang sudah mapan di negara ini banyak, lebih banyak lagi suami orang. Mereka yang sudah berjuang dari nol bersama istrinya masa aku nebeng. Aku tidak menghalalkan sesuatu demi sebuah ***** duniawi.


" Bukan suami orang dia masih lajang. Terima aja dulu. Toh, kalian sudah sama dewasa."


"Boleh di lihat Foto nya?"


"Duh, tante lupa minta Fotonya. Tante tau bangat dia orang baik, gak neko-neko, bertanggungjawab pula. Menikah lah dengan dia, rumah dan mobil sudah ada buatmu." Lupa minta Foto, Filingku wajahnya hancur bangat.


"Tente mau jual aku sama dia?"

__ADS_1


"Kok, jual? Ya, tidak lah. Kalian kan menikah. Apa lagi yang di tunggu." Menunggu siap secara Finansial ngapain buru-buru.


"Kalau aku sih lebih memilih seseorang yang mau menerima ku apa adanya. Aku tidak menyukai pria berharta, aku ingin mencarinya bersama-sama. Bukan menunggu pria yang sudah berada di atas.


"Kalau sudah ada yang melamarmu ngapain milih-milih lagi. Dia sudah mapan rugi di lepaskan, dari pada kamu dapat yang kamu cintai eh ternyata pemalas yang dia rajin sudah cukup."


"Apakah tante meragukan Allah menjamin rezeki untuk orang yang sudah menikah? Kok tidak percaya Allah akan menjamin rezeki setiap umatnya?"


"Percaya buktinya dia sudah mapan sebelum menikah berarti Allah lebih percaya pada dia dari pada yang lainnya." Astagfirullah, kemaren tante Yuni, sekarang tante Ria besok siapa lagi? sayang nya tekatku bulat untuk tidak sembarang mau di jodohkan, aku tidak mau menjadi wanita yang tidak berprinsip.


"Seandainya dia mapan bukan karena harta yang halal gimana?"


"Kok gitu? jangan aneh-aneh apa salahnya sih menerima perjodohan ini. Toh, dia udah lama memperhatikan kamu sejak SMA loh. kenal aja dulu kalau tidak cocok boleh bubar."


RANIIII


Rani yang sedang menyapu menoleh ke arahku. "Iyaa, Na. Ada apa?"


"Ke sini dulu."


"Kenapa manggil, Rani?"


"Ada hal yang ingin ku utarakan, Tante."


"Duduk dulu! Kamu punya pacar gak? Tante Ria ingin mencari jodoh untuk temannya. Katanya dia ganteng, udah mapan, bermobil dan udah punya rumah sendiri. Mau gak? kamu masih sendiri kan? Ya kan tante!"


Tante Ria geleng-geleng kepala, aku menunjuk rani untuk menjadi jodoh pria itu.


"Bukan kamu. Tapi, Nana!" Aku memberi kode pada Rani.


"saya juga tidak apa-apa tante. Usia saya sudah 26, kakak dan adik saya semua sudah menikah tinggal saya yang belum. Kebetulan saya sangat butuh pria mapan bisa minta tolong untuk biaya berobat orangtua saya."


"Aduh, Rani pintar juga ya." Batin Nana.


"Dia maunya Nana, gimana dong?"


"Kalau Nana gak mau tidak usah di paksa. Di sini saya yang lebih membutuhkan pasangan. Bilang pada dia saya aja."


"Aman ya Allah.". Batin, Nana.


Kulihat tante ria tampak sangat ingin membujuk ku tapi terhalang oleh rani. Rani semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik, yang mau menerima mu apa adanya amiin.

__ADS_1


Next.


__ADS_2