
Merantau ke kepulauan Riau
POV Alda
Aku Alda, perantau dari pulau jawa. Selepas SMA aku memutuskan pergi ke kota Batam, mengikuti ayah yang bekerja di sini pulang sekali setahun atau kami menyusul ayah ke kota ini.
Bekerja di kota ini impian banyak orang. Dulu sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Banyak staf perusahaan manapun yang mencari karyawan. Terserah kita memilih yang mana.
Tak butuh waktu lama bagiku sukup 1 hari 1 rangkap aja lamaran ku serahkan. Besoknya tes dan lusa bekerja.
Baru pertama kali bekerja banyak bangat tuntutan dari atasan kita tidak boleh melawan nanti di pecat walau kita benar dan atasan salah. Bawahan selalu salah atasan selalu benar.
Aku pasrah aja yang penting aku dapat kerja dan uang. Setiap hari penuh drama caci maki, kata kebun binatang, ancaman dan hujatan dari sesama karyawan dan atasan ingin rasanya hengkang. Tapi, kalau hengkang, mereka menang, aku kalah.
Aku sabar walau di injak, mereka suka menginjak orang sepertiku. Saat ngekos, aku selalu menjadi pembantu gratis di kos sendiri, mereka setiap hari meminjam uang, minta bayar mie telor, minyak, baju, jilbab, bumbu dapur tak pernah kembali.
Mereka suka meminjam tabunganku untuk foya-foya tak pernah kembali, hingga aku memutuskan kos sendiri tapi lebih mahal dari ngekos bersama 3 orang.
Kembali ngekos bersama yang lainnya masih sama seperti dulu. Aku sabar menghadapi mereka, teman kos dan teman di tempat kerja.
Mereka mendekati ku untuk dijadikan pelayan pribadi, gajinya mereka yang makan tapi ada jerih payah aku di dalamnya.
Hingga 1,5 tahun lamanya. Aku di beri tahu oleh Ayah, ada seseorang yang di kenal di bandara dan ingin mencari kerja disini.
Awalnya aku menolak, karena seperti biasa orang yang pernah minta kerja ke aku, aku bantu tapi malah jadi benalu, lupa siapa yanh membantunya hingga mendapatkan kerja. Kalian tau kan bagaimana perasaan kalian di hinggapi benalu?
Dongkolkan ? Begitu juga denganku.
Menurut cerita ayah, ayah sering melihat mereka pergi ke SP untuk mencari kerja, ayah desak aku untuk membantunya sebab ayah tidak suka anaknya busuk hati.
Aku memutuskan untuk menghubungi nya. Alhamdulillah, lolos. Ternyata dia sangat cantik, baik, polos, dan unik.
Selama berteman dengan Nana, kinerjaku merasa terlindungi. Bisa menyingkirkan Diana yang suka mencari masalah, membabukan aku seenak hati, menggosip, mengadu domba dan membully karyawan menurutnya lemah.
__ADS_1
Salut sama Nana, masih muda belia tapi dewasa melebihi usianya. Cerdas dan energik.
Hingga suatu hari, teman kos berbondong-bondong ingin minta bayar dan minjam uang lebih banyak dari biasanya. Merek memang tidak tau diri, tidak mengerti keadaan, mereka tidak mengerti aku dongkol, kesal, aku memiliki hak untuk kesal terhadap kelakuan mereka tapi mereka acuj tak acuh.
"Alda! Gue, pinjam duit dong. 5 juta aja." lagi-lagi siska teman kos ku minjam uang, yang kemaren 500RB belum di ganti. Sekarang 5 juta, gaji ku sebulan aja tidak segitu. Dia seenak hati minjam segitu banyak tampa berpikir bagaimana cara mereka mengembalikan uang itu.
"Kamu, waras, siska? Minjam uang segitu banyak, kemaren 500RB belum di ganti, sekarang 5 juta, kapan kau akan mengembalikan nya?"
"Ya, waras, lah, kalau gak waras, masa bisa minjam uang, ada-ada aja kamu ini. Gue pinjam 5 juta, gajian minggu depan Gue ganti, gue juga janji mau menggantinya. Lo, tenang aja." tenang dia. bilang, selama ngekos tidak pernah se senpun dia kebalikan malah tiap hati minjam tampa memakai otak kapan akan mengembalikannya.
"Yakin, kamu bisa menggantinya? Setiap hari kalian minjam minta Bayat tak pernah ganti kok, jangan ke biasa berhutang, nanti terbiasa tidak membayarnya sampai tua."
"Ah, lo gitu amat, pliss, pinjamin gue uang 5 juta itu, gue janji, minggu depan gue ganti."
"Lo, ini maksa bangat, buat apa uang 5 juta itu? Gue juga butuh kelles, apa lo buat membayar sugar daddy lo?" Siksa memiliki kebiasaan yang tidak terpuji suka jual diri, suka pula membayar laki-laki yang bermain dengannya.
"Lancang lo, ya, udah berani sama gue? Gue tend4nh nanti." Siska sangat rajin mengancam akan melakukan kekerasan pad Gue. Tapi, Gue selalu takut pasrah aja sama apa yang mereka lakukan.
"Ganti dulu yang 500RB kemaren, baru minjam lagi."
"Nah, ini ada 3 juta, 2 juta lagi dong."
"Gak, ada."
Dia memeriksa tas-tas gue tanpa izin. Tidak ada apa-apa. Apa gunanya gue kerja selama ini hanya untuk memeprkaya orang lain.
"Lo, bersihkan kosan kita! semuanya ya! termasuk halamannya. Agar Buk kos gak ngomel terus. Sekalian baju, tas, sepatu lo gue pinjam ya." udah merampas uangku, suruh aku jadi pembantu lagi. Segitunya punya teman. Kalau seperti ini terus sama aja gali lobang tutup lobang buat orang lain.
Tring tring
Ternyata Nana menghubungi, mengajak jalan. Mending jalan aja dari pada membereskan kos. Tapi, nanti ibu kos marah lagi, baju juga belum di cuci, mereka yang meminjam barang Gue tidak mencuci kembali.
Tiba di kos, Nana heran melihat kos kami, melebihi gudang, Nana heran, gadis kok malas membereskan kos. Gue ceritakan semuanya, Nana geram, memberikan solusi menurut ku cukup bagus.
__ADS_1
Gue memutuskan untuk jalan aja, sesekali tubuh juga butuh piknik agar gak bego amat.
Ternyata jalan bukan berdua, tapi bertiga bareng dokter Fernando. Awalnya Gue menolak, tapi Demi Nana memaksa dan ayah yang tiba-tiba datang membuatku memutuskan melanjutkan perjalanan sambil menemani Nana ngobrol sama dokter Nando.
Mobil melaju entah kemana, kami bertiga diam membisu sibuk sama dunia masing-masing. Dokter Fernando ganteng bangat. Tapi, apalah daya gue tidak berani mencintainya gue minder duluan.
Tiba di sebuah bioskop, Dokter Nando membawa makanan enak makan sambil nonton. Anehnya hanya kami bertiga orang lain entah kemana. Entah Film apa yang kami nonton membuat Gue sering menguap.
Sunyi bangat tidak ada yang mau bicara duluan. Kalau gini, mending gak usah ikut tadi. Tapi, kasihan Nana harus jalan berdua yang ketiganya setan.
Memutuskan berselancar di dunia maya, tiba-tiba sebuah chat dari akun Fernando dirgantara82 mengirim Chat lewat pesan Aplikasi warna biru. Menyuruhku kebelakang sebentar ada hal yang akan mereka obrolkan berdua, Gue manut aja. Gue bawa beberapa cemilan masukkan kedalam tas pergi kebelakang sambil mengambil foto.
Hati gue bertanya entah apa yang mereka bicarakan. Nana pasti berpikir "kok lama bangat Alda ke toilet, ngapain aja dia."
Penasaran apa yang mereka obrolkan gue ngintip, suaranya sangat pelan, Nana sepertinya sangat tidak nyaman. Lihat kiri, kanan, depan, belakang, pegang HP, tapi di rampas dokter Fernando. Lucu bangat kamu Na. batin Alda.
Sejam lamanya dokter Fernando kembali chat menyuruh kembali ke depan. Nana sudah hampir demam di tinggal berdua dalam sejam lamanya. Segitu banyak kamu Na.
Akhirnya kami pulang, tak lupa menagih janji akan menceritakan apapun yang mereka ceritakan tadi. Tapi, sepertinya, Nana kurang percaya diri, kurang tertarik menceritakannya.
Besok masuk malam, siangnya tidur sejenak, minta Nana membantu berkemas, dan membersihkan kos baru. Kalau uang yang di pinjam Siska dan Novia, biarlah, Gue tetap akan menagih nya setidaknya pindah mereka tidak akan minjam lagi. Hari ini dan seterusnya akan terbebas dari benalu.
Nana memintaku menagih uang yang mereka pinjam selama ini. Entah bagaimana caranya menagih nya, mereka semua pada kerja. Nana, memiliki ide yang brilian, meminta juru kunci untuk menduplikat kunci lemari mengacak isi lemari sama seperti kemaren yang dia lakukan. Dapatlah 3 juta sepertinya mereka belum memakai uang itu. Nana, juga menyuruh Gue mengambil semua apa yang menjadi hak Gue, uang terkumpul 4 juta. Kalau di pikir ulang sebenarnya lebih dari ini sih, belum lagi di kos pertama Menginjak kaki di Kota ini. Tapi, gak apalah anggap aja sedekah yang penting uang yang siska ambil dari lemari tanpa izin dan yang di pinjam Novia secara receh pun kembali lagi.
Kali ini Gue menang, mendapatkan kembali apa yang menjadi hak gue, biarlah mereka merongrong seperti kucing merebutkan makanan.
Ngekos tidak jauh dari rumah Nana, hari ini dan selanjutnya bisa berangkat bareng.
Ada hikmah di balik semua kejadian yang kita alamai, dulu, Gue merasa rugi bangat membantu teman untuk mendapatkan kerja tapi kebayakan mereka malah jadi benalu, jadi musuh dalam selimut, dan lupa daratan, siapa yang membantu mereka tiba di titik ini.
Tapi sekarang, seseorang yang Gue bantu tidak mengharapkan balasan. Dia menjadi penolongku pula dalam suka dan duka, melindungi Gue dari ancaman musuh di pabrik dan menyelamatkan dari benalu di kos-kosan.
Buat yang baca, jangan ragu untuk berbuat baik, walau kadang menyakitkan, ada Allah akan memberikan kita hadiah berupa pahala dan orang baik selalu datang di waktu yang tepat.
__ADS_1
Next...