
Merantau ke kepulauan riau 87
Aku tidak akan membiarkan mereka berzina.
Tok tok tok
Tok tok tok
Setelah mengetok pintu aku pergi sayangnya aku menendang botol minuman kaleng.
"Siapa itu?" Terdengar suara dari dalam, aku segera kabur jangan sampai ketahuan. Aku tidak akan pergi dari kota ini. Setidaknya sekarang sudah lega sudah mengetahui tabiat ryan yang sebenarnya. Pantesan dia kurang percaya aku tidak pernah berpacaran dirinya saja seperti itu.
"Nana! Tunggu!" Tidak hiraukan teriakan ryan memanggil ku. Tetap pergi sekarang ini aku butuh refreshing. Aku merasa lega namun juga sakit hati airmata jatuh membasahi pipi. Baru kali ini hatiku merasa sakit bangat. Apakah firasat seorang ibu itu tidak pernah salah, sampai sekarang enggan untuk memberi restu.
Aku sudah tiba di pantai ancol tempat pertama yang kami kunjungi bersama ryan ada tiara yang ikut kami dari belakang. Aku malu pada tiara. Aku malu pada ibu dan juga bang faisal.
Entah sudah berapa lama aku tersenyum, menulis sudah lama tidak ku lakukan. Menumpahkan semua curhatan dan keluh kesahku ke sebuah tulisan menjadi sebuah cerita. Tiba-tiba.
"Nana!" Tiba-tiba ryan datang dan seorang wanita yang bernama amelia mantannya ryan ketika di batam dulu memperhatikan kami dari jauh. Dia memalingkan muka.
"Ada apa?"
"Maafkan aku!"
"Kamu pasti marah karena hal tadi. Biar aku jelaskan ya! Semua itu tidak benar, semua tidak seperti yang kamu dengar. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa."
__ADS_1
"Sebenarnya sih, tidak perlu kamu jelaskan. Aku sudah mengerti sepertinya kita memang tidak berjodoh."
"Apa maksudmu kita tidak berjodoh? Lalu bagaimana dengan perjuangan kita untuk mendapatkan restu orangtua kita? Bagaimana dengan orangtuaku dan orangtuamu? Sampai aku membatalkan perjodohan dengan tiara demi kamu?"
"Itu kamu tau. Lalu kenapa kamu berulah?"
"Biarkan aku menjelaskannya. Amelia datang dari batam karena dia sudah lulus kuliah. Ingin mengelola perusahaan milik orangtuanya di Jakarta tidak lebih. "
"Kamu tau gak? Waktu pertama kali kamu melihat aku, aku memang pendiam. Waktu pertama kali kamu mengungkap kan rasa mu padaku ingin menikah dengan ku tanpa pacaran. Mungkin aku biasa aja waktu itu."
Ketika kamu menanyakan siapa pacarku, aku bilang aku tidak pernah pacaran justru kamu tidak pernah percaya. Pada saat kamu mendekati keluarga ku sampai mereka yakin hanya kamu itu pria yang baik. Aku memberikan syarat padamu tapi kamu malah keberatan dan pergi."
Waktu itu perasaan aku hancur bangat mencari kamu kesana kemari, ke kos mu, kesemua teman-temanmu di batam tapi zonk. Hatiku sakit, mungkin kamu keberatan dengan syarat yang ku ajukan, sedangkan di waktu bersama ada seorang wanita cantik yang memperjuangkan kamu."
Aku sedih hingga banyak melamun hingga depresi karena memikirkan kamu yang tidak kunjung datang. Sampai pulang kampung orang sibuk menjodohkan aku kesana kemari yang aku pikirkan hanyalah kamu. Aku risih seandainya aku menerima mu tanpa syarat, pasti aku tidak di jodohkan seperti it."
Perempuan bisa menerima lelakinya apa adanya tapi beda dengan lelaki yang jarang bisa menerima kondisi istrinya apa adanya. Pada saat berantam, suami akan selalu mengungkit masa lalu istri harga diri istri semakin rendah."
Aku rutin sholat istikharah, minta jawabannya pada sang pencipta tidak butuh waktu lama. Allah membuka jalan untukku entah kenapa aku ingin ke kosmu ternyata Allah sendiri yang membuka rahasia mu. Ibu ku sampai sekarang masih enggan memberi restu walaupun akan di buat perjanjian hitam di atas putih dan Alhamdulillah firasat aku dan ibu ternyata tidak salah."
Sekarang siapa yang menjelaskan keadaan? Kamu apa aku? Bagiku tidaka adil untukku menerima ku kembali ternyata kamu juga tidak bisa menerima ku apa adanya. Jadi, lupakan kisah kita carilah yang lain yang lebih baik menurut mu."
Akhirnya unek-unek yang ku pendam ku minta jawabannya di sepertiga malam tercurahkan juga walaupun sesak yang penting aku sudah lega. Sekaramg terserah mereka lagi mau ngapain aja. Diriku terlalu suci untuk mereka.
"Tadi itu kami tidak pernah melakukannya. Aku mohon sama kamu. Maafkan aku, aku benar-benar tidak pernah melakukannya. Soal kata-kata itu. Aku juga minta maaf, semuanya di luar logikaku. Aku sebenarnya tidak benar-benar membicarakan itu. Hanya untuk menghibur amelia aja yang sedang patah hati."
__ADS_1
"Amelia mantanmu yang dulu. Sudah berapa kali kalian melakukannya? Apa kalian sudah memiliki anak?"
"Astagfirullah. Kok pikiranmu jauh bangat?"
"Iya, siapa tau aja." Membuka cincin emas di jari manis aku pulang ke lagi ke pemiliknya. "Ini cincin milikmu aku kembalikan lagi."
"Kenapa kamu kembalikan? Ini punyamu!"
"Itu bukan punyaku itu punyamu. Berikan ke Amelia. Aku pergi dulu. assalamualaikum." Pada saat pergi sayangnya ryan menarik tanganku.
"Nana tunggu."
"Apa lagi?"
"Berikan aku hukuman agar kamu mau memaafkan aku!"
"Hukuman dariku, menikahlah dengan amelia ata tiara."
"Tidak ada yang lain dari itu?"
"Tidak ada lagi."
"Nana tunggu! Nana! Tidak aku hiraukan ryan mengejarku pergi membawa tangis, sekuat-kuatnya aku rapuh juga masalah cinta. Belum juga menikah sudah di buat menangis apalagi sudah menikah nanti.
Ini sudah ketiga kalinya ryan mengecewakan aku. Target ku di kecewakan cuma tidak kali seteha itu aku tidak akan mengizinkan diriku di kecewakan oleh orang yang sama.
__ADS_1
Ibu, bang faisal. Maafkan aku yang tidak bisa pergi dari cinta palsu ku sekarang hubungan kami sudah berakhir. Aku akan mencari jodoh lainnya saja yang mau menerima ku apa adanya. Tiara, maafkan aku. Kamu yang baik juga tidak cocok bersanding dengannya.