
"Wudhu dulu yuk, kita berjamaah!
"Iya, Bang."
Lama berbincang sampai tidak ingat waktu Ashar tinggal sedikit. Fatih sedang terbuai di alam mimpi, gantian berwudhu lalu sholat berjamaah, Bang Faisal jadi Imam."
Allahu akbar.
Assalamualaikum warahmatullah
Selesai salam tak lupa mencium punggung tangan suami menandakan anak, saudari, dan istri berbakti. Berdo'a minta pada tuhan, minta pengampunan dosa, diberikan kesehatan, dimudahkan rezeki dan diberkahinya kehidupan ini. amiin.
Sambil menunggu azan magrib tiba, kami mengaji, suara Bang Faisal tambah merdu, mungkin selalu mengaji agar tak lupa dengan bacaan Alqur'an. Biasanya orang yang sudah mencintai dunia suka lupa sama kewajiban ya pada yang maha kuasa. Tapi, sebagai hamba yang baik, usahakan tidak kufur dengan nikmat yang diberikan yang maha kuasa.
Azan magrib berkumandang. Kami sholat sunnah 2 Raka'at dilanjutkan sholat magrib. Setelah itu mandi karena sudah gerah dengan perubahan cuaca yang kualami, panas kota batam bersifat lembab bisa mengucurkan peluh lebih cepat dan mengangkat sel kulit mati.
Sambil menunggu isya, Aku merapikan baju-baju dikamar, kamar yang sudah dibersihkan sebelum aku datang, dilengkapi lemari 4 pintu yang biasa digunakan oleh remaja dan kipas Angin, mereka punya 2 kipas Angin, yang kupakai milik Bang Faisal, mereka memakai milik kak shela. Aku tinggal merapikan barang-barangku dan rebahan sambil meng-upload Foto di Aplikasi logo biru.
Aku melihat, Bang Faisal benar-benar sangat menyayangi istrinya, kekuatan cinta mereka juga kuat. istrinya juga makin cantik, biasanya kalau sudah menikah itu kecantikannya akan pudar ternyata tidak karena, kak Shela rajin perawatan, Bang Faisal juga memberikan modal yang cukup untuk membeli skincare.
Aku lihat, kak, Shela juga istri yang solehah. Entah sampai kapan hubungan kami seperti ini. Aku tinggal bersama ipar, kata orang ipar adalah maut. Sering terjadi cekcok dengan beberapa sebab. Jarang yang yang akur, setan sering mengganggu hubungan suami istri lewat mertua, dan ipar.
Aku lihat keluar, nampak kak Shela merapikan makanan di meja makan. Meletakkan piring, gelas, nasi, lauk yang kubawa tadi, dan gulai nangka kesukaan kami yang sengaja dibuat oleh kak shela untuk kami.
__ADS_1
"Yuk, Nana, kita makan."
"Bang yuk, kita makan."
"Ayok." ujar Bang Faisal.
"Na, ini kakak bikin gulai nangka kesukaan."
"Wah, terima kasih, kak, gak perlu repot.
"Gak apa-apa kok santai aja, Ibu juga sering mengirim masakan padang kebatam.
"Iya, kak, selagi punya, Ibu juga gak tega kalau makan enak punya rumah makan pula. Suka teringat anaknya entah udah makan entah enggak, makan sambal apa?" punya duit apa tidak?"
"Ya, namanya orangtua, orangtua mana sih yang tidak memikirkan anaknya, beda kita anaknya entah memikirkan orangtuanya entah tidak."
"Amiin."
"Ya, mereka memiliki alasan tertentu, terlalu memikirkan pekerjaannya, keluarga barunya sampai lupa memikirkan orangtuanya yang telah berjasa pada anaknya."
"Banyak bangat kak, Aku sering membaca beritanya di sosmed, kasihan bangat mereka kak, orang tua menjadi pengemis, gelandangan, tinggal sebatang kara di gubuk repot, di wc umum, di jalanan, di kolong jembatan, ditepi kali dan di hutan. Entah kemana anak-anaknya, entah kemana saudaranya kok tidak peduli, pedulikan sedikit ajalah dengan memasukkannya ke panti jompo."
"Kadang pemikiran orang tidak sampai kesitu Na, mereka besar pisah sama orangtua ya gitulah banyak yang lupa sama yang lainnya.
__ADS_1
Mereka punya alasan sendiri, takut repot, menyusahkan, padahal mereka kecil juga di urus, merawatnya, membesarkannya, menyekolahkannya setinggi mungkin, menjual rumah, tanah, kebun, sawah, warisan, apapun dilakukan oleh orang tuanya asal anaknya mendapatkan kehidupan yang baik, sudah dewasa mereka melupakan semuanya. kecuali orangtuanya meninggalkannya diwaktu kecil juga diurus orang lain makanya hidup. Tidak akur sama anak-anak dengan menelantarkannya diwaktu kecil, tidak bertanggung jawab, bercerai melupakan tanggung jawab pada anaknya.
"Terus, gimana menurut kakak orang seperti itu?"
"Ya menurut kakak, anak yang tidak ingat jasa orangtuanya ya anak tidak tau diri, memang orangtua yang baik dia tidak akan meminta yang macam-macam, bertanggung jawab sama anaknya apapun yang terjadi, memikirkan masa depan anaknya dan dirinya dimasa tua berusaha melakukan yang terbaik setelah itu pasrah kan semuanya pada Allah.
Sebagai anak, tetap berbakti pada orangtua, seperti apapun orangtuanya tetap orangtua, karena dialah kita ada didunia ini. Masalah dosa pasrah kan pada Allah, hukum tabur tuai itu berlaku, tidak didunia, diakhirat nanti berlaku.
"Pernah Aku baca, kalau yang mengurus orang tua itu anak laki-laki, karena anak laki-laki milik orangtuanya sampai kapanpun. Kalau anak perempuan lebih mengutamakan suami dari pada orangtua, kalau suami tidak mengizinkan istrinya berbakti pada orangtuanya, ya istri harus manut tidak boleh tidak manut, ada dalilnya loh tentang itu."
"Menurut kakak, itu suami yang tidak tau diri, mau sama anak orang tapi tidak mau sama keluarganya, padahal menikah kan, menyatukan kedua keluarga asing dalam bentuk pernikahan, bukan mengambil anak perempuan orang dari orangtuanya doang. Memang ada dalilnya, tapi, mengimani dalil disertai adab dan attitude sesama manusia habluminannas, hubungan antara manusia dan manusia lainnya.
"Apa mereka salah kak?"
"Salah, karena mengunakan dalil tidak disertai adab, bahkan menurut agama, memakai adab dulu baru ilmuu."
"Apa lagi ada dalil yang semangat diperbincangkan orang-orang, kalau orangtua sakit dan meninggal, kalau suaminya tidak mengizinkan istrinya menjenguk orangtua yang telah melahirkannya. Ngenes bangat dengar nya kak, pengen bangat aku nyumpai mereka kalau mereka tidak memiliki anak laki-laki, hidupnya melarat dimasa depan, ingin tau gimana perasaannya tapi, aku ingat kalau doa yg buruk akan kembali ke yang mengucapkan amit-amit."
"Ya, memang ada dalilnya, tapi itukan zaman dulu yang mana perempuan hanya, di dapur, disumur dan dikasur, kalau sudah menikah 100% hidupnya mengabdi pada suami. Tapi, suami yang mana dulu, suami yang mengedepankan adab baru ilmu. Suami yang baik pasti mendidik istrinya berbakti padanya dan orangtuanya. Seperti itu yang kakak pelajari dihukum pernikahan dan Alhamdullilah lah abangmu juga mengajarkan hal yang sama."
"Ya, kak, karena menurut orang minang dan matriliineal, orangtua itu diurus oleh anak perempuannya, anak perempuan pula menjadi hal milik ortunya sampai kapanpun, kalau anak laki-laki sudah dewasa mereka menikah meninggalkan rumahnya tinggal dirumah mertua dan merantau kemanapun yang mereka mau, pulang entah kapan, mengirimkan biaya untuk orangtua dan saudara yang akan mengurus orangtuanya. Alhamdulillah lelaki minang tidak membedakan mana orangtua dan mana mertua, bukan hanya minang disetiap daerah pasti ada, tergantung orangnya. mudahan kita tidak menjadi anak yang tidak tau diri Amiin."
"Iya, Na, Amiin."
__ADS_1
"Alhamdulillah kakak mendapatkan suami yang baik, tidak melarang kakak berbakti ke orangtua kakak, mudahan kamu juga seperti kakak, Amiin!!
Next..