Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Pernikahan ryan


__ADS_3

Merantau ke kepulauan riau 90


POV ryan


"Sayang! Aku mau pernikahan kita di adakan mewah nanti. Karena menikah itu untuk sekali seumur hidup. Biar mengabadikan kenangan yang paling bagus." Ujar jihan.


"Orangtuaku maunya sederhana aja yang penting SAH."


"Gak asyik. Yang menikah kan kita. Bukan orangtuamu, masa belum apa-apa udah ikut campur sama pernikahan kita."


"Bukannya ikut campur tapi orangtuaku maunya sederhana aja. Untuk apa menikah dengan resepsi mewah, biayanya dari mana? Mengambil uang di bank resikonya setelah menikah kita membayarnya bertahun-tahun. Riba pula."


"Kita kan bisa bekerja toh yang membayarnya bukan orangtuamu tapi kita. Kok, masih kuno aja sih. Pokoknya aku mau resepsi kita mewah."


"Aku tau pernikahan impianmu itu seperti apa. Maharmu aja udah berapa. Di tambah resepsi juga. Pernikahan kita tetap memakai resepsi tapi sederhana aja kayak orang lain. Coba lihat situasinya sekarang ini tidak memungkinkan kita mengadakan resepsi yang ada kita di bubarkan pihak kepolisian."


Sebelum menikah dengan jihan kami sering cek cok masalah resepsi. Jihan maunya mewah, aku dan keluarga ku maunya sederhana. Karena harus memikirkan biaya dan situasi pandemi sekarang masih meraja lela. Banyak teman di PHK.


Tidak mungkin selamanya aku memiliki pekerjaan bagus, ekonomi sedang lesu. Aku tidak mau setelah menikah kami membayar hutang selama bertahun-tahun di bank. Maharnya aja sudah menguras dompet ku.


Dia bilang lelaki yang tidak memberikan mahar yang besar itu lelaki yang pemalas tidak bertanggung jawab. Padahal biasa membesarkan dirinya dari kecil sampai dewasa dan pendidikan juga sampai sarjana tidak ada apa-apanya dengan mahar yang kuberikan.


Anehnya orangtuanya minta ganti biaya membesarkannya selama ini.


Orang bilang sebaik-baiknya perempuan adalah yang paling murah maharnya dan tidak memberatkan calon suaminya. Katanya sebaik-baiknya lelaki adalah yang paling baik terhadap istrinya. Jadi, saya serba salah.


Katanya lagi banyak perempuan yang tidak memberatkan calon suaminya tapi setelah menikah miris kebanyakan suami memberatkan istrinya jauh dari kata laki-laki baik. Ustadz pun mendukung. Jadi, aku harus bagaimana? Apa tetap mengikuti keinginan hatinya? Aku tidak mau jadi pria gagal.

__ADS_1


"Baiklah, kita ke bank sekarang."


"Iya. Bawa berkas-berkasmu. Biar atas namamu aja."


Setelah sampai di bank. Pihak bank akan mengadakan survei ke rumahku. Mereka mau lihat ada usaha apa aja yang sedang ku jalani dan sebuah surat yang menjadi jaminan untuk di gadaikan. Semakin besar dana yang kami pinjam semakin semakin besar pul surat yang kami gadaikan.


Aku mengadaikan BPKB mobil.


Orangtuaku marah besar kami meminjam uang di bank sebanyak itu. Artinya kami akan membayar uang di bank selama sepuluh tahun. Mereka jadi tidak merestui pernikahan kami. Jadi, aku harus apa? Aku tidak mau menjadi lelaki tidak bertanggung jawab.


"Jihan! Bisa gak, kalian menikah sederhana aja! Lihatkan ibuku keberatan dengan rencana kita."


"Aku tidak mau."


***


Hingga hari H tiba. Ibuku tidak mau ikut campur urusan kami. Dari pertama kami merencanakan akan menikah ibu mendadak tidak setuju karena orangtua jihan minta biaya ganti rugi membesarkan anaknya selama ini. Mereka takut anaknya akan tersakiti makanya minta ganti. Orangtua macam apa tidak ikhlas membesar kan anak perempuan selama ini.


Jihan tak kuasa menahan perutnya yang bergejolak. Jihan mual kata orang persis seperti orang hamil. Jihan hamil! Padahal kami tidak pernah melakukan sesuatu.


Hueek


"Kamu kenapa?"


"Mag ku kambuh, akhir-akhir ini sering terlambat makan."


"Mag mu kambuh? Tapi, sepertinya bukan karena mag."

__ADS_1


"Sudahlah aku mau ke toilet dulu."


Ruang akad nikah ricuh, mereka yang hadir berteriak jihan hamil. Karena percaya mualnya orang hamil beda dengan yang sedang sakit. Ibuku tidak terima dan membatalkan pernikahan, sebelum terlambat, ibuku memerintah kan seseorang membeli tes peck.


Jihan tidak mau mengecek, di paksa oleh ibuku mau gak mau harus mau, hasilnya negatif. Tes kedua juga negatif. Jihan dan keluarganya malu tidak terima telah mencoreng mukanya di tempat umum.


Calon mertua ku tidak memperbolehkan anaknya tinggal di rumah kami nanti karena takut di sakiti seperti ini. Ibuku memang cerewet aslinya baik.


"Saya tidak terima anak kami di perlakukan seperti ini. Kami malu, di taruh di mana muka kami setelah ini? Setelah menikah nanti saya tidak akan mengizinkan anak kami tinggal di rumahmu, biar tinggal di rumah saya aja tau biar saya membuat kan mereka rumah."


Setelah keluar dari belakang, akad nikah akan di lanjutkan. Tapi, datang seorang laki-laki membawa bukti foto dan vidio tidak senonoh mereka persis seperti yang ku lakukan dulu. Jihan bilang dia sudah tidak suci lagi itu sudah lama ketika pertama kali mengenal cinta.


Tapi kali ini nyata di depan ku sebelum kami merencanakan pernikahan, jihan telah menghianatiku. Aku di bohongi oleh sifatnya yang manja selama ini. Aku aku malu pada diriku sendiri, malu sama orangtua karena lagi-lagi tidak manut pada nasihatnya. Aku malu sama teman-teman se kantorku.


Jihan berusaha mengelak bukti-bukti itu tidak asli semua itu editan. Bukti yang lain lebih kuat adanya bukti jihan berusaha menggugutkan kandungannya.


Untuk sekarang ini aku mengalah dulu. Aku batalkan pernikahan ini dan biarkan mereka menikah. Jihan tidak mau dia memohon agar aku tidak membatalkan pernikahan ini. Aku, ibu dana adikku pergi.


Selama ini aku terlalu terlena dengan kecantikan seseorang. Padahal luarnya saja cantik tapi dalamnya busuk layaknya buah mangga mulus di luar busuk di dalam.


"Mama sudah bilang sama kamu untuk hati-hati dalam memilih wanita tetap ngeyel. Sudah bagus tiara, sekarang lihat apa yang terjadi? Dari pertama kamu mengenal kan dia pada mama, gajimu melayang entah kemana, minjam uang ratusan juta ke bank sampai mengadaikan sertifikat mobil, betapa bodohnya kamu selama ini."


"Mas, sih gak percaya apa kataku kemaren. Kak jihan jalan dengan lelaki lain, mereka ke hotel gak percaya. Setelah di telpon gak jihan di rumah."


Mereka berdua berhenti mengoceh sepanjang jalan membuat telingaku pekik, ingin teriak tak enak sadar kami sekarang di perjalanan pulang.


Tiba di rumah, mereka yang berada di rumah sudah tau aku tidak jadi menikah. Calonki hamil, banyak ibu-ibu menawarkan anak gadisnya padaku. Sekarang aku sedang pusing. Terlalu mudah mencari pengganti inilah ujungnya.

__ADS_1


Nana, aku teringat Nana, apa kabar dia sekarang? Apa dia sudah memiliki calon suami? Satu persatu temannya sudah menikah. Biasanya gadis 26 tahun tidak mau pilih-pilih lagi yang penting menikah karen allah.


Next


__ADS_2