Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Setiap peristiwa di tulis menjadi sebuah cerita


__ADS_3

Merantau ke kepulauan Riau


#Part 57


Malam berlalu katanya Ryan akan ke sini. Tapi, mana? Tidak terlihat batang hidungnya. Ah, sudah lah. Ini yang tidak aku suka, kok aku kesal ya? Ah, sudahlah, mau datang ya sudah kalau gak ya sudah.


Tit


Itu dia tapi tidak sendiri bersama teman-teman kampus. Ada Fero, Kris, Claudya sama Tiara. Yang lainnya sudah pulang ke kampung halaman, ada yang sudah menikah ada pula ke kota lain. Yang tinggal hanya mereka yang sudah lama menetap di Batam.


Tiara, Ah, bukannya Tiara mengagumi Ryan. Tapi, Ryan mengajak aku jalan. Sepertinya cintanya bertepuk sebelah tangan. Setahu aku laki-laki itu tidak suka di kejar, dialah yang mengejar wanita. Tapi, sekarang ini banyak juga laki-laki sudah mau di kejar wanita.


Turun dari motor meletakkan helm di luar, masuk kebingungan mencari tempat duduk karena sudah ramai, kerlip lampu menyerupai cafe cukup membuat siapapun merasa tenang dari bising nya suara kendaraan.


Aku putuskan membersihkan sebuah meja kosong memindahkan menghadap jalan raya.


"Tida usah, Na! Biar kami aja." Ujar Ryan


"Tidak apa-apa ini tugas tuan rumah, kalian tamu harus di jamu." Ujarku


Tampa menghiraukan kata-kataku mereka merebut meja dan kursinya, membersihkannya sampai kinclong. Menyemprotnya memakai pewangi karena setiap sudut ada pewangi ruangannya.


"Tiara, Claudya, masih di sini. Ya?"


"Iya, ogah pulang kampung, jadi gibahan tetangga." Ujar Tiara.


"Aku pulang kemana? Kampung halaman ku di sini." Ujar Claudya.


"Bukannya kamu mau ikut Cello kemaren tuh?"


"Ikut kemana? Gak jadi, gak mau ikut laki-laki memangnya dia siapa? Cuma kekasih yang tak halal, belum tentu jodoh."


"Akhirnya kamu sadar juga."


"Kamu ini, Na."


"Gak usah letakkan semuanya, Ya, Na! Kami mau ikan bakar aja semuanya. Kalau nambah biar kami minta lagi." Ujar Ryan.


"Ya, minumannya?"


"Teh telur, kamu apa, Ro!"


"Sama." Ujar Fero.


"Aku jus pukat, kamu, Dea?" Dea sebuatan untuk Claudia.

__ADS_1


"Jus mangga."


"Ok, teh telur dua jus pukat sama mangga satu ya!" Aku memutuskan mengantar dan membuat pesanannya sendiri tanpa melibatkan karyawan. Setelah itu duduk dan nongkrong sama mereka. Biar Ibu, dan yang lainnya mengurus pelanggan.


"Enak bangat. Jarang makanan seenak ini."


"Siapa dulu, abangnya Nana gitu loh" Ujar Ryan.


"Abang mu pintar masak, Ya, Na!" ujar Fero.


"Gak juga, biasa aja."


"Nana lama merendah pula." Ujar Tiara.


"Ajarin aku masak nanti, ya, Na!"


UHUK UHUK


Ujar Ryan membuat Tiara tersedak. Minum air putih segelas besar habis tak tersisa. Tiara menundukkan kepalanya merasa tidak tertarik dengan obrolan ini.


"Sadar gak, Na! Ryan sudah menyukaimu dari dulu." ujar Fero. Ryan mendengar itu merasa tidak nyaman. Aku dan Tiara apa lagi, Apa Ryan menjaga perasaan Tiara ya?"


Selesai makan karyawan membersihkan meja, salah satu karyawan menarik perhatian Fero.


"WA, ku cuma satu." Selesai membersihkan karyawan itu pergi.


"Hahah rasain tuh, di mana aja bertemu cewek cantik pasti matanya jelalatan." Ujar Claudya.


"Mana ada, kan cuma becanda."


"Ujungnya jomblo juga."


"Itu lebih terhormat dari pada punya pacar tapi malah merusak anak orang."


"Ada juga lelaki yang sadar ya!"


"Masih banyak, hanya saja di antara kalian banyak menyukai lelaki yang salah."


"Gak sadar menyalahkan kaumnya sendiri."


"Malam minggu nanti kita berlima jalan, ya! Memakai mobilku." Ryan mengalihkan pembicaraan.


"Lihat aja nanti."


"Jangan lihat aja nanti Na! Kita butuh yang pasti." Ujar Fero.

__ADS_1


"Aku tergantung temannya, ada wanitanya aoa tidak, kalau gak ada aku gak ikut. Masa aku sendiri."


"Ya, Tiara, Meisya, Laura dan Claudia juga ikut.


Ngobrol sampai larut malam saatnya kedai tutup, mereka semuanya pulang. Tiara sama sekali tidak berkutik. Perasaannya kacau bangat. Dia sudah lama mengungkap perasaannya ke Ryan. Tapi, Ryan tidak menampiknya. Hal itu di sadari oleh yang lainnya Fero dan Claudya malah menggoda Tiara.


"Cie kamu kenapa Tiara, kita perhatikan dari tadi kamu diam aja. Kamu cemburu sama Nana?" ujar Claudya.


"Ngaco kamu siapa yang cemburu. Biasa aja kalik. Apanya yang aku cemburukan?"


"Ya, kamu kan menyukai Ryan dari dulu. Bahasa tubuhmu mengungkap kan kamu itu sebenarnya cemburu."


"Siapa yang cemburu?"


"Gak ada yang cemburu." ujar Tiara.


"Jujur aja, lo kamu yang cemburu Tiara."


"Yuk! Kita pulang, apa kamu mau nginep di rumah Nana?" ujar Tiara.


"Tiara kamu cantik kenapa mengemis cinta." batin Nana"


Malam semakin larut selama lulus kuliah entah kenapa aku jadi sering begadang. Memilih berselancar di dunia maya, menulis cerita dari setiap peristiwa menjadi sebuah Novel puluhan ribu kata. Sudah tiga tahun peristiwa yang ku alami ku tulis tidak ada satupun yang belum membuahkan hasilnya.


Di aplikasi berhuruf awal W menunggu cerita di serbu pembaca di pinang penerbit kalau laku baru dapat uang. Aku merasa menulis hanya membuang waktu. Kata admin seorang penulis senior di negeri ini, menulis itu anggap aja sebuah hobi tidak mengharapkan uang nanti kecewa. Perbaiki tulisan insyaallah rezeki akan datang sendiri. Baiklah.


Di setiap waktu ku mencoba menulis Ibu sering menegurku terlalu sibuk dengan ponsel sampai mata merah. Ibu tidak tau aku menulis bukan menonton drama korea.


"Sibuk terus dengan ponselnya, Na! sampai Ibu panggil tidak di jawab." ujar Ibu.


"Suruh karyawan, Bu! mereka di gaji, aku tidak, aku kan punya ponsel Bu! buat apa ponsel kalau tidak di mainkan."


"Kamu ini, sejak kapan berani membantah?"


"Aku bukan membantah, Bu! aku itu bosan mendengar suara Ibu. Suruh lah karyawan tau Angga dia duduk manis aja selama di sini. Aku terus yang di panggil."


"Gimana tinggal di rumah mertua kalau kamu di panggil tidak jawab. Bosan dengar suara Ibu, Apa Ibu harus mati dulu agar kamu tidak lagi bosan mendengarnya?"


"Sudah, Bu, aku ga mau ribut." Itu lah kata-kata Ibu paling sering ku dengar selama berada di kota ini. Aku main ponsel buat menulis bukan buat selfi, nonton youtube atau main tiktok. Ibu tidak tau itu yang tau hanya sibuk main ponsel. Aku menulis butuh ketenangan, kalau bising nanti ide ceritaku hilang. Kalau aku bilang ke Ibu apa Ibu percaya.


Hingga malam minggu tiba sesuai perjanjian kami akan pergi ke sebuah tempat wisata di kota Batam. Setiap hari kami terus komunikasi, aku sempat tanya dekat sama siapa, pacaran sama siapa? sejauh mana hubungannya dengan Tiara. Apa pernah mengungkap kan perasaan pada Tiara? Sebab anak itu sepertinya sangat mencintai Ryan.


Next.


***

__ADS_1


__ADS_2