Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Lagi-lagi masih kurang beruntung


__ADS_3

Duduk di ruang tv sambil memakan makanan yang ku beli tadi. Enak bangat, ku lihat Fatih sedang duduk di pangkuan ayahnya serius bangat memperhatikan kami makan. Ayahnya memberikan sepotong lontong untuk Fatih.


"Gimana, Na! Apa lolos?"


"Mungkin tidak kak,"


"Sabar aja, baru sekali, jadikan motivasi untuk semangat lagi kedepannya,"


"Ya, kak."


Selesai makan, Aku bermain keluar bersama Fatih, tak lupa menghubungi Ibu dan Angga. Aku tidak boleh tidak menghubungi Ibu karena do'anya adalah senjata paling tajam untuk kesuksesan anak-anaknya.


"Hallo, Bu!


"Ya, Na, apa kabar? Betah gak disana?"


"Betah aja, Bu, Ibu sama Angga, apa kabar?"


'Baik, Alhamdulillah, oh, ya, Na, kamu baik-baik aja disana ya, gak usah neko-neko.


"Iya, Bu,"


"Jangan berat tangan, sering-sering menolong kak iparmu mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa yang sering kamu kerjakan di kampung."


"Iya, Bu, Aku ingat kok pesan Ibu itu."


"Ada, Fatih cucu Ibu, yang lainnya mana?"


"Iya, Bu, yang lainnya ada di dalam."


"Fatih, gantengnya cucu Nenek.  Nenek kangen sama cucu Ibu,"


"Iya, Nek, Fatih juga kangen sama Nenek, kapan kita bertemu, katanya?'


"Kapan, Fatih pulang ke padang, kita bertemu!


"Ya, siap, Nek, katanya." Emot tertawa.


Azan magrib berkumandang, lekas menyelesaikan perbuncangan kami. Selesai berbincang dengan Ibu dan Angga, masuk kedalam, melaksanakan sholat magrib.

__ADS_1


"Ibu kamu bicara apa aja sama Ibu?" 


"Biasa, Nanyain kabar semuanya, Kangen sama kalian, pengen ketemu cucunya, pengen gendong cucunya. Sayang nya kalian sedang mandi."


"Ya, gak apa-apa, lebaran nanti pulang, kalau kamu udah dapat kerja kayaknya gak bisa pulang."


"Ya, gak apa-apa Bang."


"Resiko orangtua memiliki Anak laki-laki, udah besar pergi meninggalkan rumah entah kapan pulangnya." sela Bang Faisal. Ya, laki-laki Minang sudah dewasa kebanyakan meninggalkan rumah merantau, mencari jati diri setelah menikah meninggalkan rumh dan tinggal dirumah istri atau rumah pribadi yang sudah disiapkan sebelum menikah atau pergi membawa istri merantau.


"Iya, Bang, anak perempuan juga." Ya, kalau anak perempuan Minang sudah menikah tetap tinggal dirumahnya, rumah orangtuanya bersama suminya. Suaminya juga memiliki hak untuk membawa istrinya ikut dengannya. Tidak aneh kok, yang bilang aneh mereka yang sempit pola pikirnya itu sudah menjadi budaya dan kebiasaan masyarakat matriarki. 


"Anak perempuan beda bagi kita, dia tetap menjadi milik orangtuanya walau sudah menikah, lebih dekat ke orangtua kandung dari pada mertua." sela bang Faisal.


"Aku tidak Bang, selama di sini, Aku lebih dekat dengan Abang bukan orangtua atau mertua." jawab kak shela.


"Kamu  memilih merantau jauh dari orangtua sampai menikah juga dirantau."


 Lama kami berbincang, lama pula pula menganggurkan Fatih. Ah, jadi kasihan sama kaponakan ganteng ku ini. Bermain sama Fatih sampai waktu sholat isya. Fatih sedang lucu-lucunya, lincah lagi. Sampai Fatih tidur. Subuh-subuh Fatih sudah bangun. Bermain sendiri dan mengganggu orangtuanya.


***


"Maaf,  kamu menungguku, ya, Na?"


"Iya, kemana aja sih kamu, kok sekarang baru nongol?"


"Masuk, Mall, Thoshiba tidak jauh dari tempat tinggal ku, disana ada buka lowongan kerja, udah kuserahin berkas kita, maaf ya, Na! Gak sempat mengangkat telpon dari kamu."


"Balas SMS bentar, aja gak membuat Aku menunggu! Tentu aja Aku kesal dengan seseorang yang tidak tepat waktu seperti ini, Aku tipe orang selalu menepatkan waktu dan paling kurang menyukai orang yang tidak menepati waktu.


"Ya, maaf, Na! Memangnya kamu tidak berani keliling sendiri? Enggak sendiri loh ikuti aja orang lain dimana rame disitu berhenti. Aku, serung gitu kok." Aku memang tidak pernah tau dia kemana aja, tapi tak apa deh, satu kali ini aku maklumi, dua kali itu sudah mencurigakan. 


"Kalau tau kamu tidak datang atau terlambat datang bisa aja, Aku ikutin mereka."


"Ya, deh! Besok, gak Aku ulangi lagi." Entah lah, pikir ku, sekali orang begitu di akan begitu juga dikemudian hari. 


"Sekarang sudah mau zuhur, orang-orang banyak yang sudah pulang,"


"Ayok! Kita keliling sampai dimana nyampe nya aja,  setelah itu pulang!

__ADS_1


"Ayok!


"Atau kita ketempat kemaren aja, mau lihat siapa aja yang lolos seleksi, interviu dan lolos kerja!


"Ayok! Sampai di tempat, kami lihat daftar-daftar yang lolos, ternyata kami berdua selangkah lagi lolos. Tapi, anak medan itu lolos semuanya. Yang lolos interviu sebagian dari yang lolos tes tulis. Yang lolos kerja sebagiannya lagi. Saingan ribuan yang lolos memang 30 orang. Pergi meninggalkan tempat.


Lagi-lagi masih sama. Datang ke tempat biasa menunggu berjam-jam, Alya tidak datang.


Aku lihat KTI kanan tak kunjung datang


Aku pergi ke cafe, mushola, mall indo bayam tidak ada.


Telpon tidak diangkat SMS tidak dibalas.


Hingga seminggu hanya menunggu di SP, banyak orang tapi tak ada satupun yang mau menyapa. Ingin menyapa segan. Aku hanya duduk percuma.


Hingga seminggu lamanya. Alya sudah diterima kerja di Mall tempat dia melamar kemaren. Ajakan malam minggu dan piknik siangnya sepertinya telah dilupakan oleh Alya.  Kini, tinggal Aku sendiri, Aku harus pintar-pintar cari teman.


Tak lupa menghubungi Alya, kalau ada lowongan, jangan lupa hubungi Aku dan masukkan berkas lamarn Aku yang masih berada satu rangkap padanya. Kata, Alya, Iya."


Ok, lah. Sabar, Nana.


***


Minggu ketiga, berangkat sendiri karena Bang Faisal masuk malam. Jadilah kami bertiga aja dirumah. Biasa berpmitan sama orang rumah.


setiba ditempat, entah bagaimana caranya Aku mencari teman, Ku ikuti orang dari belakang aja. Hari ini benar melelahkan, tidak ada teman diajak ngobrol. Ada beberapa yang buka lowongan, Aku masukin aja.


"Hai! Siapa, nama mau?"  Gabung aja!


"Iya."


Lagi-lagi telpon tidak diangkat SMS tidak dibalas.


Tak lupa datang ke Mall thosiba tempat Alya bekerja. Kutanya SPG tidak ada yang namanya, "Alya larasati. "Lalu di mana dia ?" apa diam-diam sudah diterima kerja ditempat lain tampa sepengetahuanku? tanpa membantuku?" entahlah.


"Hingga ini bulan ke4 sudah 1 minggu Alya menghilang bak ditelan bumi. Aku tidak tau rumahnya dimana. Tak pernah pergi kerumahnya. Entah kemana dia?"


Next.....

__ADS_1


__ADS_2