Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Usaha baru


__ADS_3

Merantau ke kepulauan Riau


Part 48 *** APP


Selesai berbicara dengan Ibu, hati ini menjadi lega, entah kenapa Ibu merestuiku jauh darinya. Apa Ibu tidak kangen? Di mulut bisa ikhlas berada jauh dari anak. Tapi, dalam hati? Aslinya nyesek. Ibu mana sih, yang betah jauh-jauh dari anak? Tapi, ibu berusaha berpikir dewasa. Sebab, Anak bukan hanya miliknya. Tapi, milik pasangannya dan Allah, seorang Ibu tidak boleh egois mengekang anaknya.


Tring tring


Ternyata Alya yang menghubungiku, malas mengangkatnya palingan minjam uang lagi. Kebiasaan deh. Kok, aku jadi kayak Alda sih, mau aja di kibulin. Tapi, aku tidak mudah siih banyak nilainya dari pada memberikannya.


Tring tring


Udah ketujuh kalinya Alya menghubungiku, sudah tidak mau meladeninya sudah capek hati capek pikiran. Sejak tau tabunganku 60 juta,  mereka berdua berebuan menghubungi ku, biasa ada uang ada teman, gak ada uang gak ada teman.


"Na, angkat dulu, Gue mau ngomong sama, Lo"


"Na, plisss, Angkat!"


"Na, ke kos kita sebentar ada yang mau kami omongin."


"Na, kenapa satupun telpon dan SMS dari Gue gak lo angkat sama Balas."


"Na, kasihlah gue minjam uang lo 5 juta aja, nanti udah kerja gue ganti, plisss Na, Ibu aku sedang butuh uang banyak buat berobat."


 Membaca pesan dari Alya keras juga itu anak, suka minjam gak ganti-ganti udah puluhan kali Aku bilang. Ini alasannya Ibunya sakit lagi. Keluarganya Ada, Ayahnya ada, kenapa minjam ke Aku? Nampak banget jiwa parasit nya. Udah, Ah. Matiin aja.


Satu SMS masuk mau berapa kali kalian menghubungiku tidak akan lagi aku ladenin kalian. Tabunganku sampai banyak begitu padahal hanya karyawan pabrik biasa sudah di jelaskan sebelumnya, banyak lembur dan bonus bulanan. Hanya dari itu aku memakai untuk jajan, ongkos, shopping dan kirim ke Ibu. Gaji pokok aku simpan di ATM Pribadi. Hanya bulan pertama dulu aku memakai gaji untuk shopping kalau makan, Air dan listrik di tanggung Bang Faisal. Tapi, aku harus bantu kak Shela beberes rumah, masak, mencuci dan momong Fatih. Sesekali kasih jajan Fatih dan beli bajunya itu semua dari gaji lembur dan bonus bulanan.


Flashback


"Kalian shopping lagi?" Ujarku pada Alya dan 2 orang lainnya. Melihat mereka di akhir bulan sekali kehabisan uang dan awal bulan gajian dalam sekejab menghabiskannya. Tapi, mereka belanja bulanan untuk kebutuhan dapur harus bertahan sampai akhir bulan lagi. Kalau gak sampai, mereka terpaksa hutang dan makan seadanya.


"Iya, gak bisa nahan selera, kita kerja ya untuk ini. Minta sama orangtua tidak mungkin ada sebanyak ini." ujar Alya, melihatkan belanjaannya.


"Gak nabung?"


"Ngapain Nabung, toh masih ada orangtua masih muda lagi. Nikah pun nanti tanggung jawab kita beralih ke suami. Udah bersuami belum tentu suami itu mau menjatah istrinya belanja, Kalau tau kita punya tabungan, nanti dia ambil lagi. Laki-laki itu kebanyakan parasit."  Mendengar penuturan mereka aku hanya geleng-geleng kepala tak habis pikir mereka sama sekali tidak memikirkan hari esok.

__ADS_1


"Ya, gak semuanya kalik. Kita itu harus mikirin masa depan bukan masa sekarang aja, kasih orangtua biar makin berkah. Tabung buat bikin usaha."


"Kamu ini, Na, usaha mulu, kalau gak kuliah mulu, capek tauk dengar nya itu-itu mulu." Lagi-lagi mereka tidak menerima kata-kataku.


------


Mengingat hari itu hati ini miris apapun yang ku bilang ke mereka tidaka da satupun yang masih ke hati, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Sekarang saatnya mereka menikmati apa yang mereka tanam dulu. Kerja untuk foya-foya padahal ada orangtua dan adek di kampung halaman mungkin ingin mencicipi jerih payah kita. Apalagi Ibu yang janda butuh bantuan dari sanak saudara biar merasa tidak berjuang sendirian.


Sekarang maha mau hutang gak tanggung-tanggung lagi. 5 juta, dari mana mengganti uang sebanyak itu? Yang receh aja tidak dia bayar.


----


Pagi ini awal dari aku menganggur, pagi-pagi kak shela sudah berangkat. Meninggalkan Fatih pada kami. Biasanya Fatih merengek minta ikut tapi Ibunya diam-diam pergi tampa sepengetahuannya.


Aku memilih bermain sama Fatih membawanya ketempat Ayahnya kerja. Warung ini udah hampir 90% tinggal ngisinya aja.


"Udah hampir selesai ya Bang!"


"Iya."


"Atas penuturan Ibu, depan ini mau menjual Nasi Ampera harganya lebih ekonomis rasanya sama aja dengan Nasi padang."


"Abang mengikuti jejak Ibu."


Saatnya makan pagi, hanya bertiga di menja makan.Fatih sudah bisa memakan aoa yang di makan orang dewasa.


Perasaanku sekarang ini entah lah masih tidak enak dengan kak shela.


"Kapan rencana mau pendaftaran?"


"Rencana besok."


"Pas bangat."


Hari ini kami keluar mau ke gudang membeli barang. Warung kecil-kecilan kalau di kerjakan sepenuh hati insyaallah akan menjadi besar.


Beli barang kebutuhan dapur dan kulkas. Selesai menyewa mobil di gudang mengantarkan ke rumah.

__ADS_1


Tiba di rumah Fatih sudah tertidur sejak di gudang tadi berat bangt dari pada tidak tidur.


"Kalian keluarga yang harmonis sepertinya tidak banyak masalah yang menimpa kalian. Pertahankan, jangan rusak rumah tangga yang dibangun dari Nol." ujar seorang Ibu pengurus gudang ini.


"Ah, tidak kok, Bu, kami ini saudara." Ujar Bang Faisal.


"Oh, saudara gimana, apa suami istri?"


"Kakak beradik, bu dan ini Anaknya Abang saya, istrinya ada di rumah." ujarku.


"Kakak beradik dan ini Anak Abangnya, Ibunya di rumahnya? Apa Adek ini bukan istri kedua atau simpanan? Apa selingkuhan?" ujar yang lainnya.


"Ya, Allah, Bu. Tidak pernah berpikir kearah sana. Benar kok Ini adek saya, ini Fatih Anak saya. Mau punya istri dua, satu aja udah bersyukur entah becus entah enggak membahagiakannya."


"Sebab banyak yang seperti itu di sini."


"Udah, Bu. Biarin aja itu mereka yang gak cukup satu. Kita lain lagi."


"Jangan tersinggung ya."


Banyak yang membilang kami suami istri dan keluarga yang harmonis. Salah besar orang tidak ada yang tau kami saudara. Bawa anak kecil lagi.


Selesai membayar kami pulang menunggu barang datang. Bang Faisal ngomel tidak akan belanja di sana lagi cukup pertama dan terakhir kalinya belanja Di situ. Bang Faisal Jarang berbicara sekali bicara panjang lebar melebihi Ibu-ibu komplek. Apa mereka pernah berantam hebat dulu ya? Sebab Bang Faisal seperti ini Aslinya. Hati Bang Faisal cukup sensitif membahas seorang wanita.


"Udah, jangan di pikirin, Bang."


"Enggak mikirin sih, yang punya gudang kok seperti itu tidak ramah sama pelanggan. Dia abai kata-kata menyinggung seseorang."


"Yang penting Abang tidak seperti itu. Ya, sudah, tuh mobilnya datang, kita siap-siap cek barang aja."


Satu persatu barang di turunkan oleh sopir dan knek. Cek, sesuai catatan apakah ada yang kurang atau ketinggalan. Satu jam lamanya selesai juga. Kami berdua menyusun barang Serapi mungkin. Lama juga menyusunnya. 


Satu persatu datang pembeli sayangnya belum di bandrol harga. Harga sama dengan warung lainnya. Lebih mahal dari yang di Minimarket atau supermarket karena disini juga  mau ngambil untung. Hanya orang yang paham yang mau belanja ke warung kecil.


Mudah-mudahan berkah Amiin.


Next.

__ADS_1


__ADS_2