Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Ryan menagih janji


__ADS_3

Merantau ke kepulauan Riau


#Part59


Selama di Batam memang tidak pernah neko-neko. Teman-teman yang ku temui juga baik-baik hanya ada satu atau dua yang datang suka mencari masalah. Kerasnya hidup di kota batam tidak membuatku goyah, bebasnya pergaulan juga tidak membuatku terlena. Untuk apa terlena dengan dunia ini? Itu hanya tipuan ibl*s semata yang menggoda manusia mencari temannya ke neraka.


Aku pernah dengar kalau kita pergi ke suatu tempat kalau niat kita tulus hanya mencari apa yang kita cari hanya itu yang kita temui. Kalau kita mencari kebaikan kebanyakan kebaikan pula yang kita jumpai. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin mencari keburukan maka keburukan lah yang kita jumpai pikiran kita ikut di penuhi oleh keburukan aja.


Aku pernah baca


Ada seorang tamu bersilaturahmi ke Buya Hamka. Tamu itu berkata, "Di arab saudi, pelac*r berhijab dan bercadar."


Namun, Buya Hamka memberi jawaban yang tak terduga. Buya Bilang, barusan pulang dari Los Angeles, dan New York. Di sana tidak ada melihat orang yang tamu sebutkan tadi."


Tamu bilang kok bisa, di LA, dan New York tidak bertemu pelacur*r, Karena yang buya Hamka cari hanya kebajikan dan kebaikannya aja yang buruknya tidak pernah di jumpai entah sembunyi di mana.


"Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya." Buya Hamka


Nah dari cerita di atas di mana pun kita berada awali dengan niat yang baik, minta di lindungan Allah, cari yang baik-baik aja ya, guys Insyaallah, Allah akan melindungi umat-Nya.


***


Tidak lama bermain di pantai marina, kalau lama nanti di omeli Ibu dan di jitak bang Faisal. Malam ini toko masih ramai pengunjung. Ryan hanya mengantarku sampai ke gerbang depan tidak ada waktu mau singgah sebab akan mengantar yang lainnya juga.


"Assalamualaikum, Bu!"


"Waalaikumsalam. Udah pulang, Na! kok cepat."


"Udah, Bu. Ibu ini gimana sih? Orang pulang lambat, di tanyain. Orang pulang cepat juga di tanya." Heran deh lihat sikap Ibu selama di sini. Batin, Nana.


"Ya, kan tanya aja. Apa salahnya sih, jawabnya juga keras kurang sopan bicara sama orang tua."


"Kakak ini kenapa? Kok sensitif bangat. Masih untung orang tanya, kalau tidak, salah lagi entar nganggapnya orang rumah acuh tak acuh."

__ADS_1


Benar juga ya kata Angga, ada apa dengan ku. Kok aku gak suka ya, di tanyain kayak gitu. Aku sudah dewasa bukan anak kecil lagi yang harus di tanyai ke mana? di mana? sama siapa? Berbuat apa? Aduh, Aku gak suka.


***


Capek, pegal tidak ada niat untuk membantu mereka biarlah, ada karyawan yang di gaji. Aku memilih merebahkan diri sudah ada beberapa motor WA dari Ryan.


[Udah tidur]


[Belum]


[Tidurlah]


[Masih membantu Ibu mengurus toko]


[Sering, ya, bantu mereka?]


[Jarang, Selama libur ini doang sering bantu, biasanya kapan sempat aja]


[Sering-seringlah, bantu mereka ya!]


[Tidur lagi. Selamat malam]


[Selamat malam juga]


***


Sebulan lamanya Ryan dan Nana dekat. Ryan tak segan berkunjung ke rumah Nana di MKGR, Ryan mendekati keluarga Nana. Membawa teman-temannya dan ngobrol bersama.


Dengan adanya Ryan, Faisal dan Fatih seperti memiliki teman baru untuk diskusi. Kalau Angga jangan di tanya orang tanya apa dia jawab apa dan sibuk sama dunia sendiri. Kak shela sibuk menjadi guru untuk anaknya. Ibu, di kampung masak, di Batam juga masak. Nana seperti menemukan cinta baru.


Nana semakin rajin beres-beres rumah, mengurus toko dan rumah makan dan merawat diri. Nana nampak lebih ceria dari hari-hari sebelumnya. Benar kata orang, jika seseorang menemukan orang yang dia suka dan menjalani komitmen, Cinta ikut membantu kita memiliki pribadi yang lebih baik lagi atau sebaliknya.


Hal itu tak luput dari perhatian Ryan. "Ternyata, Nana orangnya rajin."

__ADS_1


Ketika liburan keluarga, Ryan juga ikut. Untuk menarik simpati keluarga Nana agar di anggap laki-laki yang baik, Ryan berusaha se kalem mungkin, kalau grasak grusuk, orang seperti Nana bisa ilfil. Sebab, Nana wanita yang cepat ilfil sama seseorang.


Bang Faisal dan keluarga kecilnya tak luput dari perhatian mereka berdua. "Na! Lihat mereka!" Ryan menunjuk ke Arah Bang Faisal.


Nana yang menikmati angin sore menoleh ke arah Ryan. "Iya, kenapa mereka?" Ujar Nana.


"Mereka sepertinya keluarga yang harmonis, ya! Sepertinya tidak banyak beban yang mereka pikul, canda dan tawanya lepas, Fatih akan kehadiran adik baru."


Ryan melihat mereka keluarga yang harmonis, tidak banyak beban keluarga yang di pikul. Kebanyakan yang orang lihat hanya di luarnya aja, tidak tau di dalamnya seperti apa. Rumah tangga hanya orang yang menjalani itulah yang mengalami masalah demi masalah ikut anak jadi korban kalau di ceritakan, kata netizen maha benar "jangan di bongkar Aib keluarga, nanti dosa, bla bla bla." Membosankan. Ryan tidak tau, Bang Faisal dan kak shela sama seperti pasangan lainnya sering cekcok. Apalagi mulut bang Faisal seperti mulut emak-emak komplek.


Nana dan Ryan duduk di tepi taman bunga. Taman ini kebanyakan pengunjungnya yang pacaran dan sudah menikah, yang jomblo datang sama teman ya, hehe. "Menurutku biasa aja, mereka masih sama seperti pasangan lainnya. Kenapa tuh!"


Ryan membuka sosial media miliknya, memperlihatkan foto-foto temannya di Aplikasi logo biru. "Banyak gadis yang memposting gambar keluarga yang bahagia, kamu belum kepikiran untuk mengikuti jejak mereka? Mau sampai kapan lagi?"


"Menunggu sampai ada orang yang tepat datang ke rumah." Nana sebenarnya malas mendengar kata pernikahan, kebanyakan baca novel drama rumah tangga sih, jadi ilfil berumah tangga. juga pengalaman teman-teman yang sudah berumah tangga sering curhat cukup membuat Nana pusing. Seakan menikah itu jalan menuju neraka dunia.


"Aku udah datang ke rumah. Tuh." Memang tidak sering. Tapi, cukup membuat Fatih kangen.


"Berani gak ngomong sama Ibu?" Ujarku. selama ini ku dengar obrolannya hanya seputar bisnis yang akan di jalani Ryan belum pernah bahas pernikahan.


"Ya, berani, kapan tuh? Aku nungguin kamu yang ngomong sama Ibumu, kalau kamu sudah setuju baru aku ngomong lagi. Apa perlu kamu ngomong juga sama Ibuku?"


Ngomong sama Ibu Ryan? Duh, galak gak tuh orangnya? Belum pernah berbicara basa basi sama Ibu-ibu. Belum cukup nyambung berbicara sama orang yang jauh lebih tua. Gimana nikah dan tinggal di rumah mertua nanti? Ini yang membuatku mencari pria yang mau di ajak mandiri agar gak jadi bahan gibahan mertua.


"Kapan ngomong sama Ibumu?" ujar Nana.


"Kapan bagus nya?"


"Jangan buru-buru, kata netizen udah ngebet bangat." Ujar Nana.


"Ngapain dengerin omongan netizen? Toh, menjalani kita bukan mereka, mereka hanya komentar entah benar entah tidak.


"Kapan ya? Tapi penuhi dulu syarat dariku kemaren! Gimana!"

__ADS_1


Nana, efek sering baca novel rumah tangga sudah banyak menghantui para gadis terutama mereka yang sudah dewasa untuk menjalani rumah tangga, Aku sebagai penulis juga merasakannya. Teman-teman yang sudah menikah suka curhat masalahnya semakin membuat ku muak. Maaf ya. Hehe.


__ADS_2