
Genap 1 Bulan berada di Batam, tidak ada ada perubahan. Entah sampai kapan seperti ini, Aku tidak tau. Timbul rasa bosan pada diri ini ini baru permulaan belum lagi nanti.
Baru saja 3 hari, Indira juga ikut menghilang, entah keman perginya. Apa seperti itu wujud asli seorang teman?"
Ah, Aku tidak mau lagi berharap pada teman. Aku ingin berjuang bersama dan sendiri. Aku tidak mau seperti ini dan kemaren lagi ditinggal sama teman yang sama-sama berjuang.
Bismillah,
Semangat 45, memulai lagi dari awal. Tak lupa cek di Internet tentang lowongan kerja di kota ini. Berjalan sendirian menghilangkan gengsi dan canggung. Mengikuti orang-orang di belakang. Sebulan lamanya masih sama seperti biasa. Merek yang Aku ikutipun satu persatu lagi-lagi menghilang.
Ibu bilang kalau 3 bulan disini tak kunjung dapat kerja, pulang lagi. Ah, Ibu biarkanlah putriku itu berjuang semampuku dulu tak ada yang tak mungkin. Kata orang pantang pulang sebelum sukses.
Minggu, Aku pergi jalan-jalan sendirian. Tak lupa izin sama orang rumah, awalnya Bang Faisal ragu. Tapi, Aku berusaha meyakini mereka Akhirnya mengizinkan. Pakai motor Matic milik mereka, Aki pergi. Tak masalah siih sendirian. Selalu minta perlindungan Allah, insyaallah, Allah akan melindungi kita, kalau takut kapan maju?"
Jangan takut berjuang sendirian. Karena orang akan mendekati mu kalau kamu memiliki harta, kalau tidak, orang tidak bersedia mendekatimu. Saat kamu jauh mereka menjauh lagi, saat kamu bangkit dan sukses naik, mereka akan mendekati mu lagi, begitu lah manusia.
Jalan sendiri, duduk sendiri, berselfi sendiri, makan sendiri, entah kenapa Aku merasa mereka sekeliling memperhatikan Aku. Risih sih. Tapi, bodo amat yang penting Aku senang.
Melamun sendirian melihat negara Singapura dari kejauhan, banyak pikiran lain yang muncul. Salah satunya ingat ketika di dalam taksi ngobrol sama supirnya. Supir menceritakan anaknya juga kerja disini. Tak lupa bertukar no. HP. walau kurang yakin tapi kasih aja.
Ingin menghubunginya, tapi takut tidak di gubris dan mereka lupa. Ini semua gara-gara sifat teman yang sudah mendapat kerja eh mudah menghilang dan tak ingat yang lainnya lagi. Ibu berpesan jangan minder coba aja, namanya juga usaha perlu perjuangan. Aku pikir-pikir dulu untuk menghubungi supir taksi dan anaknya itu.
Keesokan harinya
No. Asing calling...
Pagi buta ini entah siapa yang menelpon. Sebenarnya aku malas mengangkat no. Asing itu. Angkat aja siapa tau penting, entah dari kampung, entah dari teman, atau dari pihak perusahaan.
"Hallo! dengan siapa?"
"Hallo, ini Nana, ya? ini Aku anak supir taksi yang mengantar kalian dari bandara sampai ke rumah kemarin!" sapa seseorang dari seberang.
"Iya, oh, Ini anak supir itu!"
"Ya, kamu, apa kabar? udah dapat kerja apa belum?"
"Kabar, Alhamdulillah, baik, belum, BTW, Namamu siapa?"
"Namaku, Alda, kalau gitu, mau gak kamu melamar di perusahaan tempat aku aja! Kebetulan besok membuka lowongan!"
"Boleh juga, dimana?"
"Di xxxxxx, maaf ya baru sekarang aku menghubungi mu! sebab tempat kami belum buka lowongan waktu itu. Kalau udah, udah dari kemaren aku menghubungi mu. Kamu juga tidak menghubungi ku."
"Hehe, iya, gak apa-apa! Aku! Em, ku kirain
kalian tidak akan menggubris ku."
"Coba aja, gak apa-apa, kok!
"Kamu tau gak tempatnya dimana? udah pernah kesitu apa belum? Kalau gak, besok datang pagi-pagi ya, kita ketemu ditempat. Biar Aku yang memasukkan lamaranmu. Tapi, tulisannya jangan ada yang typo sehuruf pun."
"Iya, deh, besok, ya bukan sekarang?"
"Sekarang juga gak apa-apa, biar sekarang aku memasukkan lamaranmu."
"Oh, ya sudah, Aku kesana ya!"
__ADS_1
"Ya."
Entah iya entah tidak, tapi aku senang ada yang mau membantu seperti ini. Ikuti aja alurnya masalah hasil serahkan pada yang maha kuasa.
"Bang! Kak! Aku berangkat dulu, ya!
"Iya, hati-hati, ya!
"Ya."
Berangkat seperti biasa, seperti yang Alda bilang, Aku jalan aja sejauh 1KM Kesana. Ternyata tidak hanya dimuka kuning aja tempat perusahaan-perusahaan berdiri, disini juga.
Mana ya, dia. Aku sudah didepan PT. Phxxxxx IndoBatam.
"Hai, kamu Nana?" Sapa alda. Nah, itu dia cewek berhijab yang menyapa diseberang jalan. Ternyata dia baru sampai juga.
"Iya?"
"Alhamdulillah, ketemu juga,"
"Iya, Alhamdulillah, juga,"
"Mana, surat lamaran mu?"
"Ini, ok, Masuk dulu ya!"
"Ya, tolong dibantu ya?"
"Insyaallah, Kamu sudah pernah tes ya?'
"Sudah?"
"Di, PT. Pxxxxxxxindo Batam."
"Oh, ya, udah, berarti kamu udah tau tes apa
aja dan bagaimana cara melakukannya!"
"Iya, insyaallah."
"Ok, tunggu panggilan, ya, HP, Aktifkan terus gak boleh mati juga silent!"
"siap?"
Mudahan beneran, Ya Allah.
2 hari kemudian
No. Asing calling...
Mungkin itu dari perusahaan. Aku angkat dulu Ah.
"Hallo!
"Hallo, Nana, apa kabar! Sapa seseorang dari seberang. Ternyata bukan dari pihak perusahaan.
"Hallo, Anggun? Kataku siapa tadi, kabar ku baik, kamu?"
__ADS_1
"Kabar ku Alhamdulillah baik juga, udah kerja aoa belum?"
"Belum, Anggun, Aku sedang berjuang mencarinya. Lama kita tidak saling menghubungi."
"Ya, oh, ya, Na, Aku mau menikah besok,"
"Apa, Nggun? Mau menikah? Besok? Lalu kuliahmu?"
"Aku tidak jadi kuliah, jodohnya udah ketemu."
"Pikirkan dulu, Nggun, Menikah itu tak seindah di dalam khayalan, sudah mapan secara finansial baru menikah, kalau belum, gak usah, kejar mimpi dulu yang sudah terlanjur kamu jalani.
Apalgi kamu masih muda masih panjang perjalanan Nggu, cinta yang kamu punya itu manusiawi, bertahan nya hanya sesaat, cinta pelan-pelan hilang, berumah tangga penuh konflik lahir dan bathin yang di selesaikan secara dewasa."
"Nana, kebiasaan menjawab nya panjang lebar. Ya mau gimna lagi, orang jodohnya udah didepan mata. Iya, Aku tau pernikahan itu tak seindah khayalan. Tapi, Aku menikah berniat ingin menyempurnakan separuh agama, ingin bermitra, ingin mendapat pahala, ingin mencari surga bersama."
"Ya, sayang gitu, jodoh itu akan datang di waktu yang tepat, sayang bangat gak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi."
"Ngabisin duit aja, Na, ku lihat, Bapak menjual sapi dan kambing untuk biaya kuliah ku, Ah, mending tidak usah, toh ujung-ujungnya akan jadi IRT biasa."
"ya, gak juga perempuan ujung-ujungnya jadi IRT biasa. Tergantung orang nya juga. Jangan melabeli dirimu seperti itu. Ilmu itukan akan berguna selamanya. Untuk bekal kita berumah tangga untuk menjadi Ibu dan istri yang baik."
Masalah Ayahku menjual sapi dan kambing, mereka beternak hasilnya bukan untuk dirinya sendiri, tapi justru untuk anak-anaknya. Kamu belum paham pekerjaan orangtua semua untuk masa depan anak-anak."
"Ya, Na, Aku paham kok,"
"Lalu? Apa kamu sudah ngebet bangat?"
"Haha, Nana, kan suah aku bilang, aku ingin bermitra, ingin mendapat pahala, ingin mencari surga bersama. Mungin rezeki ku dalm pernikahan ini."
"Coba baca kembali buku biologi, ***** biologis untuk seumuran kita sedang tinggi-tingginya, kalau tidak sanggup menahannya ya menikah, kalau tidak ya berzina atau yang kuat iman, mereka bisa menahan kan sampai waktunya disalurkan."
"Nah." itu juga Na, dari pada berzina nanti mending nikah muda."
"Nah, ketahuan tuh kamu udah ngebet bangat."
"Ah, Nana, coba kamu berada di posisiku, pasti kamu akan melakukan hal yang sama, karena kamu belum berada di posisiku makanya kamu bilang begitu."
Terserah apa yang orang bilang, Aku akan tetap pada pendirianku."
"Ya, udah deh, Menikahlah, tapi kalau tidak seindah khayalan mu, jangan mengeluh, mengadu, atau mewek ya, selesaikan secara dewasa."
"Belum aja menikah udah memikirkan resikonya."
"Ya, memang itulah faktanya, oh ya, yang lainnya gimana?"
"Tetap seperti itu na, kalau Layla, dia tetap kuliah tapi di jakarta."
"Oh, Layla pindah ke Jakarta?"
"Iya?"
"Ya udah ya, kapan-kapan sambung lagi!"
"Ok, ya sudah, Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam.
__ADS_1
Next..