Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Di interogasi kak Shela


__ADS_3

Merantau ke kepulauan riau


#Part32


Alhamdulillah, ya allah, aku masih diberikan kesempatan kerja disini, bayangkan kalau di keluarkan, akan memulai lagi dari awal belum tentu dapat kembali atau pulang ke kampung. Malu lah aku, merantau belum sampai setahun sudah pulang. Auto di nyinyirin sekampung. 


Banyak bangat pengalaman yang kita dapatkan ketika merantau, masalah demi masalah, kerasnya hidup, tidak kerja tidak makan, mata kita tak luput dari pandangan 1001 orang mau melakukan apapun untuk sesuap nasi. kita harus membiasakan diri dewasa sebelum waktunya. 


Entah apa yang ada di pikiran mereka segitu terobsesinya membenci seseorang, padahal orang yang di benci hanya diam tak pernah mencari masalah dengan siapapun. Memang orang yang nampaknya diam di pandang ahli dosa bagi pembenci. Padahal rasa suka dan benci itu diturunkan oleh Allah sebagai ujian  dan ada iblis yang menggoda agar kalah melewati ujian membuat iman  manusia goyah. Tapi mereka kebanyakan kalah atas hasutan iblis.


Entah bagaimana nasip Diana sekarang. Menurut cerita Alda, dia sendiri di kota ini, tidak punya sanak saudara, datang kesini pun di bawa oleh temannya yang hanya memperalat dia sebagai teman jalan doang. Tiba di bandara di tinggalkan begitu aja. Ih, membayangkan nya saja ngeri seorang perempuan gadis lagi di telantar kan oleh sesama perempuan lagi. Entah di mana hati nuraninya perempuan itu. 


Entah kenapa Diana orangnya tempremen. Mudah sekali emosi dan marah, pandangannya kulihat banyak kebencian yang dia simpan di dada, suka memfitnah, membabukan sesama karyawan, mengancam, bermuka dua,  berteriak melebihi pemburu di hutan dan  membully membuat semua takut pada nya, tapi aku biasa aja ngapain takut. Toh, sama-sama manusia itu sungguh bukan contoh orang yang beradab. 


Lupakan soal Diana sekarang harus fokus bekerja. Jangan sampai di tegur lagi. Selesai pulang kerumah.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam! udah pulang, Na!"


"Udah, kak! meletakkan tas sembarangan tempat, duduk sejenak berselancar di dunia maya dan lainnya.


"Na! Kenapa, kerah bajumu sobek dan ada darah lagi! Ini darah apa?" oh, iya, aku lupa kalau bajuku sobek dan ada sedikit darah, seharusnya aku mengganti baju sebelum pulang.


"Ini, bajuku sobek karena tersangkut mesin kak dan yang warna merah ini bukan darah kak! Tapi, tetesan cat warna merah di cafe kak!" mungkin terdengat kurang masuk akal, entah kak shela percaya entah tidak, kak shela paling pintar membaca ekspresi seseorang itu jujur entah tidak.


"Benar?" tuhkan kak shela pasti tak percaya dengan ucapan ku.


"Iya, kak, benar, kebetulan cafe tempat kami biasa nongkrong sedang mengganti cat dindingnya gak sengaja menyenggolnya makanya bajuku jadi seperti berdarah kebetulan catnya warna merah." Duh, kok jadi ngelantur, malas bangat mendengar pertanyaan kak shela harus tau dari awal sampai akhir.


"Kalau cat, kok sepertinya agak ganjal, awalnya kerah bajumu sobek kamu bilang karena tersenggol mesin, seharusnya kepala kamu juga kena, baru kerah baju, kalau kerah yang duluan ditarik mesing, otomatis kepala kamu juga kena, ini enggak sama sekali." Tuh, kan kaka shela curiga dengan kebohonganku, lagian mana mungkin aku bilang aku berantam,  bisa sampai ke telinga Bang, Faisal nanti.


Yang kedua, ada warna merah di bajumu, kamu bilang kena cat dinding cafe, perasaan kakak, cat merah tidak seperti ini, ini bukan cat tapi darah, jauh beda antara cat dan darah, kamu mencoba membohongi kakak ya? Apa kamu berantam?" Iya, lah, mana mungkin cat merah sama dengan darah anak TK juga bisa membedakannya.

__ADS_1


"Enggak kok, kakak kan tau selama ini bagaimana aku! Mana pernah aku berantam." udah terlanjur bohong ya dengan mudahnya kak shela membaca itu semua. Aku harus membicarakan apa lagi?


"Jujur aja, apa kamu berantam?"


"Iya, kak." Percuma mengelak tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada setelah ini kak shela kurang mempercayai ku lagi.


"Sama siapa?"


"Sama, Diana yang mantan teman kakak dulu."


"Diana? Dia satu perusahaan dengan kamu? Kok sampai berantam sama dia?"


"Dianya yang duluan, kak, dianya kayak benci bangat sama semua orang, suka mencari masalah padahal orang gak pernah menggangu dia."


"Lalu, kenapa kamu bohong? orang kalau sudah bohong sekali dia tetap akan bohong loh! Apa salahnya jujur walau itu menyakitkan, kalau bohong hanya menutupi kesalahan hanya sesaat, setelah ini bisa membuat orang tidak lagi percaya padamu."


"Ya, kakak, kan tau aku selama ini, mana pernah aku berantam, kakak juga tau aku memiliki cara sendiri untuk membela diri."


"Ya, tapi gak bohong juga! Kenapa harus bohong?" Ya, udah, lupakan yang itu! Kenapa Diana sampai mengganggu mu?


"Iya, tau, kakak hafal karakternya 3 tahun bersama, se kos pula. Dia memang seperti itu orang nya seperti iri hati, dengki dan busuk hati, egois, suka mengancam agar orang takut, suka mementingkan diri sendiri, suka menuduh, memfitnah, suka melakukan kekerasan fisik dan mental. Semua keburukannya ada pada dia."


"Seram bangat kak, kok bisa bertahan selama 3 tahun berteman sama Dia? Apa kakak sering di gituin sama Dia?"


"Iya, gitu lah, semua hal yang sudah kakak bilang di atas sudah pernah dia lakukan pada kakak, tapi kakak tidak takut, kakak hadapi dengan tenang, tetap memberinya support kalau dia minta, kalau sudah kelewatan kakak diemin."


Dia suka mencari masalah juga sering di keluarkan di tempat kerja.


"Kebetulan tadi dia juga dikeluarkan juga kak."


"Oh, ya! Siapa aja yang dia bully membuat dia di keluarkan?"


"Aku sama Alda kak, dia suka menghasut semua orang untuk membenci kami, dia juga suka mendekati Alda menjadi teman, menjadi pembantunya dan mengadu domba kami, untung Alda, cukup cerdas tak terpengaruh sama omongannya."

__ADS_1


"Ternyata, dia tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti dulu, dia jadi temperemen itu karena lingkungannya itu yang menjadikan dia seperti itu, orangtua bercerai, di sekolah dan di keluarga di bully. Kasihan sebenarnya tapi, bukannya dia belajar dari pengalaman kelam malah dia mengikuti sifat ayah dan ibunya."


"Benar, kak? Kasihan sih, tapi, nasi sudah menjadi bubur, gara-gara dia juga memperlakukan aku seperti memperlakukan Alda aku tidak terima, aku balas dengan mengeluarkan semua unek-unek yang ku pendam, dia tidak terima sering kali mengancam, terakhir dia ingin melakukan kekerasan aku merasa terancam, ku keluarkan jurus bela diriku, dia jadi babak belur bersimbah darah. gengnya juga menyerangku, Aku seperti kerasukan dia seperti antara hidup dan mati. 


"Lalu?"


"Diana, dibawa ke UKS, Aku di panggil pihak HRD. di introgasi ku jawab sedetail mungkin, setelah pihak perusahan membuat petisi suara siapa yang paling banyak dialah yang bertahan sebaliknya dia keluar. Ternyata Diana di keluarkan  aku tetap bertahan kak."


"Wah, di keluarkan lagi dia, memang tidak pernah belajar dari pengalaman dia itu."


"Entah kemana dia selanjutnya kak."


"Dia orangnya tangguh sudah terbiasa kerasnya hidup disini. Dia selalu mudah dapat pekerjaan kok."


"Jadi, dia tidak akan terlantar kak!"


"Insyaallah, tidak."


"Jangan bilang ke Bang Faisal ya kak!'


"Kenapa emangnya?"


"Gak ada kok kak, masalah pribadi di perusahan jangan di libatkan Bang Faisal.


Ya, Bang Faisal tidak boleh tau aku berantam menyebabkan salah satu di antara kami di keluarkan, nanti Bang Faisal marah melalaikan waktu di tambah berantam lagi, hal yang paling tidak di sukai oleh Abang dari dulu. Aku ingat setiap nelpon Bang Faisal selalu bilang "Jangan melalaikan waktu dan jangan berantam." Tapi nyatanya sekarang aku abaik


 dengan nasihatnya.


Kalau nanti Bang Faisal tau, apalagi Bang Faisal sepertinya pernah berteman sama Dokter Fernado, entah sampai sekarang entah tidak, apa mungkin dokter itu mau mengadu hal yang tak perlu? Entah lah.


"Assalamualaikum!" Panjang umur, baru di sebutin sudah nongol.


"Walaikumsalam,"

__ADS_1


"Lagi ngomongin apa nih kok mukanya serius banget?"


Next.


__ADS_2