
Merantau ke kepulauan Riau
Part 49
Universitas Internasional Batam
Jln. Gajah Mada, Sei Ladi, Tiban Indah.
Selesai menyusun barang tak terasa sudah pukul 17.00wib. Waktunya kak shela pulang.
"Assalamualaikum." Ucap seseorang.
"Waalaikumsalam. Udah pulang kak."
"Udah, dong. Ini banyak banyak bangat, hari ini udah mulai jualan ya?"
"Iya, kak. Bang Faisal sedang di kamar mandi."
"Oh, ya sudah. Cepat banget selesainya?"
"Iya, Bang Faisal gitu loh. Katanya tidak suka menunda dan membuang waktu."
"Udah pulang, La!"
"Udah."
"Fatih! Fatih berlari mendekati Ibunya, Biasanya tidak pernah jauh dari Ibu, sekarang membiasakan diri jauh tentu anak seusia Fatih sudah merasakan kangen yang luar biasa sayangnya momen jadi IRT muda di anggurin dulu karena sesuatu hal oleh kak shela.
Malam ini aku masak cumi balado sama ikan bakar. Kalau ada uang, tidak pelit soal gizi tubuh. Fatih nempel ke paha Ibunya. Ibunya memberikan kelonggaran.
"Besok aku mau mengunjungi kampus-kampus Bang, kak!" ujarku menatap mereka satu persatu.
"Ya, sudah. Abang tidak bisa ngantar ya, Abang mau masak dan jualan."
"Besok, Na?"
"Iya kak."
"Rencana mau daftar di mana?"
"Belum tau bang."
-----
Keesokn harinya berangkat bersama kak shela, aku mengunjungi kampus-kampus terbaik dan kak shela kerja.
Selama di SP, Berselancar di dunia maya melihat universitas yang ada di kota ini, semua bagus hanya saja pusing memilih yang mana. Pilih yang A tidak ada jurusan yang cocok, kuliah harus dengan jurusan yang di minat kalau tidak, ya kita juga yang kewalahan mengerjakan yang bukan minat kita jatuhnya jadi "salah jurusan."
__ADS_1
Ada beberapa kampus yang ku kunjungi akhirnya nyantol ke Universitas Internasional batam, Pergi ke lokasi. Mendaftar untuk pertama kalinya rencananya mengambil jurusan Ekonomi Akutansi.
Aku usahakan mendapatkan mahasiswa Bidikmisi agar tidak memberatkanku membayar biaya kuliahnya.
------
Beberapa bulan kemudian
Alhmdulillah selesai. Kuliah pertama kalinya ternyata banyak mereka kuliah sambil kerja. Aku tidak mau ketinggalan, aku harus kerja juga.
"Bang, Aku mau kerja lagi." izinku pada bang Faisal yang sudah selesai melayani pelanggan.
"Kerja lagi? Memangnya tidak terganggu kuliahmu nanti?"
"Tidak, Bang. Mereka anak kuliah juga banyak yang kerja." Bang Faisal membalikkan badannya kearahku.
"Kalau sudah semester tertentu sudah tidak banyak mata kuliah lagi boleh kerja, mereka juga sepeti itu. Sekarang kuliah aja dulu yang benar, isi waktu yang kosong untuk belajar."
Sayangnya Bang Faisal tidak mengizinkan aku kerja. Baiklah tabunganku masih banyak kok.
Tring tring
Ternyata Nadia yang mengubungiku. Ada apa ya, tidak biasanya dia menghubungiku.
"Hallo, Nadia. Apa kabar? Gimana kuliahnya, udah kelar belum?" Perasaan sekarang entah gimana gitu antara kangen dan minder.
"Hello, Nana. Kabar ku Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar? Dengar cerita kontrak kerja kamu udah habis, ya? Gimana kelanjutannya? Apa jadi kuliah apa tetap stay di batam? Aku, Udah dong, Na, udah jadi dosen di UNP." Nadia membrondongku dengan segala pertanyaan membuatku ngos-ngosan mendengarnya.
"Hahahah, kenapa emangnya. Justru aku menunggu momen ini, kamu pulang kumpul lagi sama kita satu persatu sudah tidak di ketahui jejaknya. Kamu salah satu yang paling susah di lacak keberadaanya. Dan ingin tau bagaimana perasaanmu kuliah disini temanmu di sini jadi dosennya."
"Gak asyik, Nadia. Lucu deh."
Banyak yang kami obrolkan terakhir tentang pasangan hidup. Nadia dekat dengan sesama dosen. Anggun sudah beranak 1 tapi cerai. Layla masih kuliah di Ibu kota. Kapan kami bertemu ya? Aku harus kejar target 4 tahun tidak boleh lebih kurang gak apa-apa udah tamat nanti usiaku masih di bawah 25.
Ah, Anggun, cepat Nikah cepat pula cerai. Darah masih sama panas, Ego masih tinggi. Anak jadi korban. Orangtua juga yang repot. Mau gimana lagi jodoh hanya sampai disitu.
Tring-tring
Ternyata Layla yang menghubungi ku.Apa dari Nadia yang memberi tahu Layla ya?"
"Hallo, Layla. Apa kabar?"
"Kabar Alhamdulillah baik, kamu?"
"Kabar ku Alhamdulillah baik juga. Kamu, apa sudah selesai kuliahnya?"
"Masih nyusun skripsi. Oh, ya, kamu gimana? Menurut Nadia, kamu masih stay dan kuliah di Batam ya? Kenapa gak di UNP aja? Bertemu Nadia yang udah jadi dosen di jurusan yang sama lagi."
__ADS_1
"Ngaco kamu, teman sendiri kok jadi dosen kita. Apa kata dunia?"
"Biasalah, Na. Di sini juga banyak yang kayak gitu."
Gimana menurut kalian teman sendiri yang jadi dosen kalian? Sebagian memang biasa aja tapi aku malu bangat.
Bayak juga yang kami obrolkan, insyaallah aku akan mengunjungi Ibu kota. Tapi, nunggu kuliah kelar 3 tahun lagi.
Kuliah seprti biasa. Ternyata teman-teman banyak yang sambil kerja apa aja yang penting halal. Jualan online, jual gorengan dari warung ke warung. Menjadi penyapu jala dan menjadi muazin bagi yang laki-laki.
"Ini berapa belinya, Tiara?" ujarku menunjuk salah satu stelan tidur jualan Tiara."
"Ini 50RB, yang ini 75RB. Tas ini 100RB cocok buat ke kampus atau manapun, Belilah, Na."
"Aku pilih dulu ya?" Memilih salah satu yang mau ku beli. Satu aja itu sangat berarti bagi dia."
"Aku pilih stelan, jilbab, sama sepatu, ya!"
"Iya, tas atau lainnya tidak, Na?"
"Tida, ini aja." selesai membayar lekas pulang. Di jalan pulang kali ini pandanganku kembali miris melihat anak-anak usia SD, menjual gorengan, cilok, dan kerupuk untuk membantu ekonomi keluarga. Usia ini seharusnya mereka sekolah tidak melakukan pekerjaan orang dewasa seperti ini."
Aku memutuskan untuk membeli semua dagangannya takut tidak sehat aku berikan ke pemulung. Melihat anak gadisnya tidak memiliki baju yang layak di pakai aku memutuskan memberikan semua belanjaanku ke Tiara dan anak-anak kecil tadi ke mereka. Awalnya mereka melolak merasa harga dirinya di lecehkan. Tapi aku tegaskan ini sengaja ku beli untuk mereka. Mereka menerimanya. Mereka juga mendo'akan ku semoga sehat selalu dan di lancarkan rezekinya. amiin.
Setahun berlalu kini aku sudah semester ke 4. 4. Semester lagi selesai. Kuliah bukanlah hal yang mudah, kita benar-benar menggunakan waktu dengan baik tidak membiarkan kosong begitu aja.
"Hai, Nazalia. Kamu cantik bangat. Minta WA nya." ujar seorang laki-laki.
"Nazalia. Ini ada coklat buatmu." dimakan ya!"
"Ini ada tas. Di pakai ya."
"Nana, Ini sepatu. Di pakai ya?"
"Ini ada baju di pakai ya!"
"Ini ada bunga buat mu."
Banyak yang mendekat tapi tidak ku kubris bukan sombong hanya saja belum ingin memiliki komitmen dengan laki-laki. Tingginya pergaulan bebas membuatku memilih-milih teman. Kapan perlu tidak punya teman sekali.
Aku terima semuanya tapi tidak ada yang ku pakai atau makan. Aku memberikannya ke pemulung dan pengemis. Tentu tanpa sepengetahuan mereka.
"Dek, ini ada hadiah buat kalian. Di pakai ya!"
"Ini ada makanan juga di makan ya!"
Aku tidak mau memakai sesuatu yang bukan nafkah buatku. Mereka memberiku karena tertarik bukan niat mau memberi hadiah.
__ADS_1
Makanan aku tidak mau memakan sesuatu dari seseorang. Entah apa yang terkandung di dalam makanan di berikan ke orang bukan berarti ku tega, memberikannya seikhlas hati insyaallah mereka terjaga. Karena memberikannya untuk kita bukan orang lain.
Next...