
Merantau ke kepulauan Riau
#Part37
Piknik kali ini sangat tidak menyenangkan bagiku, rasa risih yang teramat dalam membuat waktu terlasa begitu lama padahal belum zuhur.
Ternyata Aku tidak sama seperti perempuan lainnya yang nyaman aja jalan dengan cowok ganteng dan berkelas. Biasanya cowok seperti itu banyak yang mengantri mendekatinya. Kalau sudah beristri banyak juga yang menyerahkan dirinya sebagai istri kedua dan selanjutnya.
Sepertinya lelaki itu cukup misterius, dingin, calm, cool dan pendiam, idaman kaum hawa. Tidak perlu cerewet menjadi lelaki itu akan membuat wanita ilfeel, wanita sukanya yang calm, santai aja tak perlu berusaha mendekati seseorang wanita dengan gaya yang misterius susah di tebak wanita kebanyakan langsung tertarik.
Aku tidak boleh jatuh cinta padanya, tidak boleh berharap, tidak boleh menginginkan dia menjadi seorang teman. Kalau sudah jatuh cinta, dunia terasa milik berdua.
Kalau di perhatikan terlalu dalam, siapa sih wanita yang tidak mau sama dia? Semua mau termasuk Aku. Apalagi melihat dia memiliki jiwa sosial yang tinggi yang suka membantu orang yang sangat membutuhkan bantuan kita, dia dengan senang hati menolongnya seperti membeli dagangan orang di jalan tadi. Itu cukup membuat batik berdebar. Alda pasti merasakan hal yang sama.
Aku memang menyukainya tapi hanya sebatas kagum aja tidak boleh lebih. Karena rasa cinta itu ada di setiap jiwa yang normal. Di turunkan oleh Allah untuk di jaga dengan baik. Di letakkan di mata turun ke Hati. Kalau salah dalam memelihara cinta tadi bisa membuat Allah murka. Laki-laki memiliki 1001 cara untuk menaklukkan wanita agar tunduk dan jatuh ke dalam pelukannya jangan sampai tunduk dan jatuh jadi cintailah sewajarnya saja.
Tidur dulu Bismillahirrahmanirrahim
Tok tok tok
Pasti itu mereka
"Assalamualaikum." ucap mereka berdua
"Waalaikumsalam." Keluar membuka pintu melihat mereka pulang membawa belanja dan Fatih sedang terbuai di alam mimpi. "cepat bangat pulangnya itu, Fatih nyenyak bangat tidurnya."
"Iya, rewel dia ngajak pulang mulu." ujar Bang Faisal.
"Kamu udah pulang, Na." ujar kak shela.
"Iya, kak. Masuk merapikan belanjanya dan tak lupa menawarkan aku beberapa makanan. Aku masih kenyang dan ingin tidur, karena malam nanti mau kerja.
"Ada makanan, Na, dimakan dulu."
"Nanti aja, Bang, kak, aku tidur dulu." Masuk ke dalam kamar dan melanjutkan tidurku yang sempat tertunda tidak ingin malam nanti ngantuk dan membuat semua orang gaduh.
---------------
Bangun, hari hampir magrib. Kulihat mereka sudah pada bangun. Mandi, ganti baju makan tak lupa memakan makanan yang mereka beli di luar tadi.
Segera berangkat 15 menit lamanya sampai di PT. Masuk, kulihat Alya memancarkan pandangan yang tidak bersahabat. Ada apakah gerangan?"
Tak ku hiraukan mereka, langsung memanggil Alya dan melakukan segala yang di perintahkan oleh leader.
"Na, besok kan jadwal aku pindah ke MKGR, Bantu aku jangan lupa ceritain yang kemaren ya!" Alda menagih janjinya, tentu aja aku kaget mendengarnya. Sebenarnya aku tidak suka bercerita yang tidak perlu.
"Kepo, kamu ini." menundukkan kepala sambil meletakkan barang di mesin produksi. Walau sedang ngobrol, pekerjaan jangan sampai lalai nanti tertinggal.
"Ih, Nana, cerita aja, aku penasaran apa yang kalian omongin pas aku ke toilet." mengingat yang kemaren, membuat perasaanku dag dig dug tak karuan. Apa aku mulai jatuh cinta?
"Ke toiletnya lama bangat tau gak, ngapain aja waktu itu, kami sudah selesai ngobrol baru nongol." Mengingat Alda waktu itu lama di toilet membuatku penasaran, ngapin aja dia, apa diare? Atau sembelit? Atau sengaja membuat kami hanya berdua di dalam satu ruangan?
"Sengaja memberikan kalian ruang dan waktu berdua. Kalian bisa ngobrol yang serius tampa ada aku yang mendengarkan obrolan kalian. Kalau aku dengar mungkin si dokter Nando terganggu." pikiran Alda sampai kesitu. Tapi tak memikirkan Aku yang tidak nyaman. harus berdua aja.
"Tapi gak mikir aku kan, jauh lebih ternganggu kalau kamu ke toilet lama bangat. Tau lama mending aku ikut."
"Santai aja, Na, jangan serius amat nanggapinnya." Alda seperti tau aja perasaanku.
"Udah ah, fokus kerja aja."
------------
Pulang pagi aku ingin segera tidur. Kulihat gawai, benar sepertinya dokter Nando orang yang disiplin, selama kerja, Dia tidak menghubungi ku sama sekali.
__ADS_1
Tring
{ udah pulang, Na?} Baru aja menyebutnya sudah mengirim pesan.
{ udah }
{ boleh vc gak?}
{ boleh}
Tring tring
"Halo, Na, sedang apa?"
"Tiduran aja, capek bangat masuk malam."
"Ya, gitu lah, Nanti ada acara gak?"
"Rencananya mau bantuian teman mau pindahan dekat sini. kenapa?"
"Gak ada Nanya aja. Oh, ya, gimana, Na, apa kamu setuju dengan obrolan kita kemaren, kita melakukan komitmen, berteman aja?"
"Kalau berteman, Aku mau, tapi jangan ngajakin aku jalan ya?"
"Iya, saya setuju, kita berteman seperti saudara. Obrolan kemaren jangan di masukkan ke hati ya, kita sama-sama sudah dewasa. Buka anak kecil lagi yang harus di kontrol obrolannya."
"Baiklah." Banyak yang kami bicarakan tentang kerjaan, teman, keluarga di Batam, di kampung, dan masa depan. Saatnya tidur sejenak, setelah itu mencuci baju, piring, menyapu, ngepel dan menyetrika, setelah itu mau bantu Alda pindah.
{Na, ke kos aku yuk}
{Baik}
Lekas mandi, makan dan berangkat tak lupa pamit sama kak shela dan Fatih.
"Udah selesai, Da?"
"Udah?"
"Apa udah menyewa mobil pick up buat ngantar barang ini?"
"Ayahku sendiri yang membawanya."
"Oh."
"Eh, ada Nana,"
"Iya, om, mau bantu Alda pindahan hehe."
Alda sangat gemar belanja, baju, tas, sepatu, sandal, se lemari penuh tapi yang di pakai itu-itu aja, sepertinya Alda tidak menabung. Ayahnya Acuh tak acuh sama keuangan anaknya.
Berangkat ke MKGR membantunya membereskan debu-debu dan lainnya.
Tidak jauh dari rumah kami, kalau duduk di depan nampak kos Alda, kalau duduk di belakang kosnya nampak rumah kami. Ya ruma kami satu jalan aja.
"Da, apa kamu sudah menagih barang-barang yang di pakai mereka?"
"Udah, hanya baju, tas, sepatu, setrika dan alat dapur aja, mana barangku, kubawa sebagian. Uang yang dia pinjam dulu yang tidak ku ambil, sepertinya hanya tersimpan di ATM Miliknya.
"Berapa yang mereka pinjam?"
"Masing-masing 3 juta.
"Tagih aja, sayang loh uangnya, enggak 1 orang malah ini semua anak kos, kamu di porotin sama mereka yang licik itu tapi diam aja."
__ADS_1
"Dia suka memaksa aku memberinya hutang 1001 cara dia ucapkan 1001 cara pula alasanku gak mau memberinya hutang tetap dia rebut."
"Yq, sudah, biar aku yang menagihnya."
"Jangan, Na!"
"Kenapa? Jangan merasa tidak enakan menjadi orang, tidak semua orang baik seperti mu, orang sepertimu yang mereka cari untuk berhutang. Ayok kita ke kosnya, kita duplikat kunci lemarinya satu persatu tidak mungkin tidak ada."
"Baiklah, kita coba."
------
Tiba di kos, kami melakukan segala cara untuk membuka lemari mereka, membayar Akhli kunci walau tidak ada setidaknya kami telah berusaha dan ada sebagian barang yang di ambil dalam lemari.
"Tidak ada kuncinya, Da? Kita sewa aja ahli kunci mudahan terbuka, kalau tidak ada, pasti ada salah satu barangmu disini."
"Aku ikutan aja, Na!"
Ahli kuncinya curiga pada kami, tapi kami bilang ini lemari kami yang kuncinya di dalam dompet tapi hilang.
"Apa ini lemari kalian?"
"Iya, pak!"
"Kok, sampai semua boxnya tidak memiliki kunci."
"Kuncinya ada dalam dompet tapi hilang."
Memeriksa satu persatu dapat lah apa yang Alda cari, banyak bangat barang-barang Alda yang di pinjam, diambil semuanya masukkan ke dalam kardus.
"Itu semua punyamu?"
"Iya."
Ada uang senilai 1 juta rupiah. Untung Alda ingat berapa uang yang mereka pinjam. Kalau hanya ini, Ambil aja semuanya. Toh, mereka berteman sekampung malah.
"Ini, sepertinya ada uang, Da!"
"Berapa? Ambil aja, Na total 3,5 juta.
"Kamu bilang tadi 3 juta."
"Iya, yang 500RB itu mereka suka meminjam enceran beli Mie telor, sate, lontong, pulsa setiap hari. Kalau di hitung sejak pertama kos mungkin lebih dari itu."
"Kalau tidak ikhlas, ambil semua total yang kamu pikirkan."
"Iya 4 juta aja." heran sama Alda ini kok mau aja di porotin. Teman kosnya ini pasti penjilat, tukang hutang, boros, suka belanja, gaya sosialita. Gaji gak seberapa. Ini yang membuat Bang Faisal tidak mengizinkan aku ngekos.
Setiap lemari box ada uang yang tersimpan, di ambil sampai hutang itu lunas. Rata-rata mereka tidak menyimpan semua uangnya di ATM. Ada uang tunai yang di simpan sepertinya mereka tetap hati-hati kalau dompet jatuh masih ada uang tunai untuk bertahan hidup.
Pulang ke kos Alda memasak mie instan, makan dan nonton tv dan tidur.
Tring tring
Sisca calling
"Teman kos, Na!"
"Ini, jam berapa ?
"Udah magrib."
"Astagfirullah, aku pulang dulu."
__ADS_1
Next...