Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
POV Faisal


__ADS_3

POV FAISAL


Pada Juli 2010 sudah 5 tahun penuh di kota Batam. 5 tahun di kalimantan 5tahun pula di Batam.  Banyak perjalanan yang ku tempuh disini. Kerasnya hidup di kota membuat ku melakukan segala cara halal yang penting bisa bertahan hidup di manapun berada. Memang tidak ada satupun makhluk melata di bumi ini tidak di jamin rezekinya oleh Allah. Tapi, kalau tidak dicari ya tidak akan dapat kalau duduk manis aja di rumah menunggu rezeki itu jatuh dari langit, ya coba aja kalau bisa.


Hidup di kota tidak kerja tidak makan, selama Aku meninggalkan kampung halaman hanya dua kali pulang kampung. Satu kali waktu pulang dari kalimantan yang kedua sesudah menikah 2 tahun yang lalu. Yang penting Aku udah melihat Ibu dan adik jadilah karena harus mencari kehidupan sendiri. Aku bukanlah lelaki manja yang mau berada di bawah ketiak Ibu, Aku sama seperti lelaki lainnya yang memilih meninggalkan kampung halaman demi mencari kehidupan sendiri. Sebab kita berada di rumah orangtua hanya sampai usia tamat kuliah setelah itu kita dituntut untuk mandiri bagaimanapun atau kemanapun kita pergi makanya orang Minang itu identik dengan merantau.


Tak lupa sesering mungkin Aku menghubung Ibu dan yang lainnya. Teman masa sekolah entah di mana. Teman semasa berjuang di kalimantan juga entah dimana. Mereka seperti menghilang di telan bumi tidak ada kabar Berita sama sekali.


3 tahun di kota ini Aku bertemu dengan seorang gadis cantik dari seberang namanya Shela Aurora nama yang cantik memang. Dia menjadi primadona di tempat dia bekerja. Kenal lewat teman yang memiliki kekasih di sana. Kenal, saling memberi kabar, ketemuan, PDKT, tak lama lagi menikah. 


Menikah dengan sederhana di kota ini. Orangtuanya datang sayangnya orangtuaku tidak ada yang datang. Mereka hanya memberi kabar lewat telpon katanya tak bisa datang sebab banyak pekerjaan yang beliau urus.


Pasca menikah, Shela tak kularang bekerja itu haknya dan hak orangtua. Aku sebagai lelaki memang berhak melarang tapi di satu sisi juga tidak berhak melarang karena sekarang kita berada di zaman modern. Perempuan juga memiliki kewajiban untuk menafkahi ornagtuanya yang miskin dan sudah sepuh dan Adik-adiknya yang masih kecil tidak bekerja tidak makan tidak mungkin.


Aku selamanya akan sehat selalu atau kerja selalu, ada saya nya  Aku sakit, di PHK, atau meninggal. Nah, itu dia di zaman sekarang perempuan juga di wajibkan bekerja dalam agama juga tidak melarang kerja kenapa para lelaki melarang istrinya kerja?


Kalau mau resign biarlah dia yang memutuskan sendiri. Kita sebagai suami juga bertugas untuk menasehatinya dalam hal yang baik-baik tidak ada niatku untuk menguasainya secara untuk sebab dirinya hanyalah milik Allah seutuhnya. Begitu juga orangtua, suami/istri dan anak semua milik Allah tidak ada yang milik kita seutuhnya.


Mereka hanya titipan dari Allah untuk kita jaga dan kita rawat sesuai perintah Allah hingga waktunya mereka di kembali lagi ke pangkuan sang illahi.


Kata Ibu, besok Nana, akan kesini mau bekerja mencari biaya sendiri untuk pendidikannya. Aku heran sama anak itu. Kenapa mau aja dia ikut Aku kesini, tidak kerja dan nganggur beberapa tahun pun dia tetap bisa kuliah karena Ibu punya banyak tabungan dan usaha salah satunya Rumah Makan padang yang di kelolola setelah Ayah meninggal dunia. Ada Aku yang tiap gajian mentransfer uang untuk mereka.


Apa Nana kurang bersyukur? Katanya tidak! Karena dia ingin mandiri, mencari sendiri biaya untuk pendidikannya, ingin mencicipi jerih payah sendiri dan tidak mau membebankan orangtua. Baiklah, tidak apa-apa sih karena kebanyakan semua perempuan di kota ini bekerja tidak ada yang tidak kerja kecuali hal yang mendesak seperti hamil, melahirkan, dan anak masih kecil, atau sakit.

__ADS_1


"Dek!" memanggil shela dengan sebutan dek sudah sejak dulu sejak  pertama kali bertemu. 


"Iya! Bang, ada apa?" 


"Besok, Nana mau kesini,"


"Nana, Adek Abang itu? Oh, ya sudah, jam berapa dia tiba disini?"


"Tiket keberangkatan nya pukul 13.00wib kalau tidak delai tiba di bandara pukul 14.15wib. Kamu, tidak apa-apakan, Nana tinggal di sini sama kita?'' ya, kalau ingin memasukkan seseorang ke rumah harus izin dulu walau kita tuan rumah karena dengan selalu meminta izin itu tandanya kita orang beradab. Entah orang akan mau menerima tamu apalgi ipar entah tidak tetap ada izinnya.


"Oh, ya sudah, Bang, kalau gitu Adek masak dulu ya!"


"Ya, sudah! Abang main sama Fatih dulu." Fatih adalah Anak kami yang baru berusia 9 bulan. 


Keesokan harinya tepat di pukul 14.15wib. kebetulan Nana berangkat hari minggu jadi aku bisa menjemputnya tampa datang sendiri ke rumah. Sampai di bandara ku lihat pesawat landing tepat waktu, buru-buru masuk mencari koper dan barang-barang Nana yang sudah ditulis namanya. Dapat tinggal menunggu orangnya di pintu keluar.


Nah, itu dia. Nana!" sayangnya dia tidak mendengar teruakanku karena antrian yang panjang dan suara yang riuh memekikkan telinga.


"Bang! Assalamualaikum."  sambil bersalaman, "Gimana kabarnya, sudah lama ya menungguku?"  Wah, ternyata Adek perempuan ku ini sudah beranjak dewasa ya, baru 2 tahun lalu kami bertemu tingginya tidak segini dan kulitnya tidak secerah ini. Tampak bangga dia sedang puber-pubernya.


"Waalaikumsalam, Kabar Alhamdulillah, baik, ya seperti inilah, tidak kok, Abang kesini sejam yang lalu ketika kamu sudah dalam pesawat."


"Kok, tau aku udah dalam pesawat, Abang kesini."

__ADS_1


"Ya, tau lah, sesuai jam keberangkatan, kamu upload ke Aplikasi berlogo biru."


"Oh, iya, iya, hehe."


TAKSI TAKSI


Baru keluar dari Bandara suara riuh supir taksi yang berjuang menawarkan tumpangan nya. Itulah hidup di kota penuh-penuh berjuang melakukan segala cara halal tak hiraukan hujan panas melanda kota. Seorang tulang punggung keluarga terus berjuang untuk mendapat cuman demi keluarga di rumah.


Masuk ke dalam taksi paling depan paling pertama yang menawarkan tumpangan. Tak etus memang kita mencari taksi sesuka hati lebih memilih yang belakang padahal yang depan ada memang itu hak kita tapi tetap aja kita tidak boleh seperti itu itu menandakan kita tidak sopan. Aku suka menyesal kalau tidak sengaja menyakiti hati orang lain.


Dalam perjalanan supir tak berhenti mengorek informasi tentang penumpang nya. Memang supir harus ramah pada setiap orang untuk menarik minat pelanggan. Tak lupa meminta no. Kontak kami katanya ada anaknya yang seusia dengan Nana bekerja di kota ini siapa tau mereka bisa membantu.


Hingga tibalah di rumah disambut oleh istri dan anakku. Membantu sopir mengeluarkan barang-barang dan membayarnya.


"Assalamualaikum, dek!"


"Assalamualaikum, kak!"


"Waalaikumsalam."


Membawa barang ke dalam rumah ada lauk-lauk dan oleh-oleh dari Ibu dan yang lainnya. Kami memang suka meminta masakan Ibu untuk dikirim ke Batam. Sebagai wujud kangen pada orang rumah.


Tak lupa menghubungi Ibu mengatakan bahwa Nana sudah tiba dirumah. Ini wajib tampa kecuali. Biar Ibu dan orang dirumah tidak kepikiran. Ah, Ibu entah kapan lagi kita bertemu mudahan tahun depan dan selanjutnya. Sebab kita masih punya orangtua yang ingin dekat dengan kita, cucu, dan menantunya. Dan kita juga ingin sering menemani orangtua dimasa tua nya.

__ADS_1


Next....


__ADS_2