Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Romansa masa muda


__ADS_3

Merantau ke kepulauan Riau


#Part 54


Tring tring


[Assalamualaikum, Nazalia]


Pagi buta seperti ini entah siapa yang mengirim pesan WA. Lihat kontaknya, Ryan Nugraha. Tidak biasanya anak itu menghubungiku, melihatnya di kampus aja jarang.


[Waalaikumsalam, siapa]


[Ini, Aku, Ryan. Yang bareng piknik ke Natuna dulu, masih ingat gak?]


[Oh, Ryan yang itu, agak lupa-lupa ingat sih. Ada apa? Kok tiba-tiba menghubungi ku]


[Aku, ingin kenal lebih jauh denganmu, boleh gak, malam nanti kita ketemuan. Ada hal yang ingin ku bahas bersamamu rahasia]


Hah, rahasia? Rahasia apa ya? Kok perasan ku dag dig dug gini. Duh, jangan aneh-aneh dong Ryan. Astaga, usiaku kan setahun lebih tua dari dia ngapain cemas.


[Na, kok ngelamun?]


[Bahas di Ponsel aja, mau bahas apa emangnya?]


[Maunya sih ketemuan, biar lebih leluasa ngomongnya penting]


Malam ini bukan malam minggu atau tahun baru kan? Malam ini malam rabu. Tahun baru masih lama. Biasanya sibuk malam minggu, malam tahun baru ngantri pria menghubungi ku ketemuan, ngajak jalan, belanja, menghadiri konser penyanyi Ibu kota. Bagi yang kesepian butuh cinta, asal pria itu ganteng mau aja. Tapi, aku tidak akan mau di dekati dalam waktu tertentu untuk hal-hal yang tidak jelas. Aku sadar, Tinggal di kota itu keras kalau kita tidak hati-hati, kita mati percuma. Kira-kira apa yang akan di bahas Ryan ya?


[Na, kok bengong lagi, Gimana?]


[Baiklah, jam berapa]


[Setelah magrib]


7 Tahun aku di sini, tidak pernah berpacaran, hanya dekat beberapa hari dengan dokter fernando.


Ingat gak dengan dokter Fernando?Tenti masih dong.


katanya ingin menjadikan aku teman atau adik. Ternyata cuma prank, besoknya menghilang. Setalah itu aku tidak dekat lagi dengan laki-laki, banyak yang datang menawari bunga, coklat, tas, ngajak dinner. Aku tolak, karena tidak mau membuat Bang Faisal marah lagi karena menginginkan aku fokus pada kuliahku.


Pagi ini kulalui dengan biasa, tidak ada yang keluar bekerja. Semuanya di sibuk kan dengan mengurus toko dan restoran. Fatih sedang sekolah. Kak shela sedang istirahat total.


Tidaka ada drama mertua versus menantu, Ipar versus ipar, suami versus istri karena orang di toko ini pikirannya waras heheh.

__ADS_1


"Gaya baru ya Bang? Gak bosan lihatnya, pelanggan yang datang bisa makin tertarik kembali walau barang-barangnya itu-itu aja." Ujar Nana melirik isi toko dan restoran.


"Iya, Abang juga bosan lihatnya, sesekali ubahlah posisi barang, meja, komputer." Ujar Faisal merapikan meja kasir.


"Makan pagi dulu, Sal, Na! Panggil shela juga." Ibu datang menawari makan.


Makan pagi di restoran, anggap aja untuk pelaris pagi biar pelanggan pada datang. Ini hari kedua nganggur. Siang tiba saatnya aku berangkat.


"Bu! Nana pergi ke rumah teman dulu, ya!"


"Iya." Minta izin sama Ibu tak sesulit dengan Bang Faisal banyak mikirnya. Kalau sedang gak mood gak ngizinin.


***


[Na, aku di SS, Nih] Astagfirullah, kok cepat bangat datangnya, rencana mau ke rumah teman dulu, kalau jadi, biar perginya barengan.


[Aku juga. Tapi, mau ke rumah teman dulu. Sekalian mau ngajakin dia]


[Gak usah, kita berdua aja. Sesekali coba lah jalan berdua tidak bertiga mulu] Loh, kok orang ini maksa? Nah, itu dia bukan, ya? Helmnya gak di buka.


"yok, naik,"


"uka dulu helmnya, biar mukanya nampak agar aku gak ngirain penculik gadis-gadis,"


Entah gimana caranya menaiki ninja super ninja ini. Walau besar di kota, tetap aja kampungan. Ih, kok kasar sih.


Motor melaju dengan kecepatan sedang, kami hanya diam tidak ada yang memulai bicara duluan. Dulu, bukannya Ryan sama Tiara, ya! Aku lihat, Tiara mengaguminya, menyimpan foto-fotonya, mencari perhatian, dan suka nempel lagi. Tapi, ulah Tiara itu membuat Ryan tidak nyaman.


Motor berhenti sebuah tempat parkir. Ternyata Ryan membawa ku ke pulau ranoh. Sebuah pulau indah yang ada pantai dan pasir putih. Lihat kiri kanan, depan belakang banyak turis asing yang berkunjug ke sini hanya untuk memanjakan mata sembari bersantai untuk menghilangkan penat.


Kami berjalan entah kemana, panas mendera tubuh menembus kulit. Pulau indah bernuansa tropis ini menyuguhkan pemandangan laut yang sangat indah. Apabila bermain di air maka akan melihat ikan warna-warni berenang bebas di antara terumbu karang yang ada.


Kalau tinggal di kota Batam jangan lupa ke pulau yang satu ini ya guys! Bagus bangat pemandangannya.


"Main ikan, Na! Ajak Ryan.


"Iya, aku suka ikan."


"Bagaimana kita diving aja."


"Baiklah."


Diving itu menyelam

__ADS_1


Snorkeling itu tabung oksigen


Membeli baju renang dan lainnya. Menyewa pelampung dan Tabung oksigen untuk berenang. Kami berenang melihat ikan tentu akan sangat Menyenangkan. Ikan-ikan lucu, terlebih, ikan tersebut sangat bersahabat dan dapat membuat hati menjadi senang.


Jika Anda pandai berenang maka snorkeling atau diving akan menjadi pilihan pas agar pesona alam bawah laut menjadi lebih terlihat. Dengan berenang bersama ikan dan biota laut lainnya tentu akan membuat mata terasa takjub sehingga lebih bersyukur atas nikmat yang sudah Tuhan berikan kepada kita.


Sepasang insan itu berdiri di atas laut. Bisa dong. "Hah, bagus bangat, ingin bawa pulang ikannya." Ujar Nana"


"Sekalian bawa aku juga." Ujar Ryan.


"Marah Ibunya nanti."


"Marah kenapa? Kita sudah besar."


"Kan ada tuh Ibu yang tidak ikhlas anak laki-lakinya memiliki pendamping hidup."


"Kalau tidak ikhlas, suruh anaknya lajang aja seumur hidup." kok bicaranya Ryan jadi seperti ini sih, aku berpikir 1000 kali untuk mengenali lebih jauh.


"Na, jangan mikir macam-macam. Hanya becanda kok."


Selesai berenang kami makan di restoran sekitar pantai. Aku menyukai seafood. Setelah ini kami duduk di sebuah taman indah bangat. Banyak pasangan muda mudi dengan visual yang sangat bagus. Mereka pintar-pintar merawat dirinya. Yang penting ada modalnya. Karena cantik butuh modal.


"Na, selama di sini. Siapa aja pacar kamu." Mendengar soal pacar sungguh tidak membuatku nyaman. Selama di sini aku tidak punya pacar sama sekali. Fokus sama tujuan aja.


"Selama di sini, tidak pernah punya pacar, Tidak pernah sama sekali, jomblo sampai sekarang." Apa yang ku bilang memang benar adanya.


Ryan memandangi ku dalam-dalam ingin mencari tau kebenarannya lewat air muka dan bola mata. Aku lagi merasa tidak nyaman. Cepat ku paling kan muka. " Masa? Kok, aku kurang yakin gitu, orang seperti kamu tidak punya pacar."


Aku menghela nafas dalam-dalam. "Memang tidak pernah ada apa emangnya?"


"Nanya aja, siapa pacarnya, berapa aja, dekat sama siapa aja. Kan kita mau kenal lebih jauh lagi."


"Dekat sebagai teman biasa pasti ada." Lanjut Ryan.


"Teman dekat juga tidak ada. Ibu dan kakakku melarangku dekat dengan seseorang, karena ingin aku fokus ke tujuan awal aja."


"Masa?" Mendengar ulasan Ryan yang kurang percaya dengan penuturan ku kembali membuat ku tidak tenang. Jawaban seperti apa yang di inginkan oleh Ryan? Di Bilang pernah pacaran sama siapa? Memang tidak pernah.


"Terserah kamu."


Susah juga mendekati seorang Nana. Batin Ryan.


Next.

__ADS_1


__ADS_2