Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Nana atau Diana yang di keluarkan ?


__ADS_3

Merantau ke kepulauan riau


Part 31


POV Diana


BRAK, PRUK, BRAK


"HUHU, AMPUN YAH, AMPUN, DIANA TERPAKSA MENCURI DIANA PENGEN JAJAN, SAMA SEPERTI YANG LAINNYA HUHU AMPUN, AMPUN." 


Jeritan tangis Diana yang sedang di siksa oleh ayahnya karena mencuri sang ibu hanya diam melihatnya tidak membela anaknya sama sekali, di susul adik-adiknya yang ketakutan melihat amarah ayahnya.


 Bunyi suara kaki dan tangan ayah yang sedang melecutku memakai payung sampai patah empat. Kakiku berdarah karena ketahuan tetangga sedang mencuri HP, HP nya sudah ku lempar ke loteng.


Aku Diana berasal dari Cirebon jawa barat. Memiliki garis kehidupan yang broken home membuatku harus melakukan apapun sendiri tanpa ada orangtua yang menyokongku. Mereka lengkap tapi bercerai karena ayah sering melakukan KDRT  Kami lah jadi korban nya.


"Mas, minta uang dong! Gas habis, pulsa listrik habis, sabun-sabun juga habis, lusa Diana mau ujian juga butuh uang untuk bayar SPP nya!"


"Halah, kamu ini uang, uang, uang mulu, uang 20RB kemaren itu sudah habiskan?"


"Uang segitu mana cukup untuk bayar air mas, kamu mikir dong, jangan judi aja yang mas pikirkan!"


"PLAK, PLAK, PLAK, KURANG AJ4R KAMU YA! NGELAWAN SUAMI TERUS," Begitu lah sifat ayah yang suka melakukan kekerasan fisik pada ibu dan anaknya.


"Mas, apa salahnya sih, kamu pikirkan keluarga ini sekali saja, banyak kebutuhan yang harus Mas penuhi, Mas masih tidak tau kewajiban Mas sebagai kepala keluarga sedikitpun. aku tidak punya uang menutupinya."


"MAKANYA KAMU KERJA DONG, KAN KAMU YANG BERANAK BUKAN AKU, BUKAN, AKU, KENAPA AKU PULA YANG KAMU TUNTUT UNTUK MEMBIAYAI KALIAN HAH."


DIANA TIDAK TIDAK USAH SEKOLAH NGAPAIN SEKOLAH UJUNGNYA JUGA KAYAK KAMU.  SURUH SAJA DIA KEKEBUN BIAR JADI ANAK YANG BERGUNA GAK NYUSAHKAN ORANGTUA MULU."


Itu lah kata-kata yang sering di ungkapkan ayah kalau Ibu menuntut hak tentang uang sekolah aku. Serasa tidak berguna punya ayah yang tidak tau kewajiban nya.

__ADS_1


Ayah pergi entah kemana tidak pernah menjenguk kami apalagi mengirim kabar dan mengirim uang nafkah, tidak ada tanggung jawabnya sama sekali, ayah sangat pemalas, gemar berjudi dan tempremental. Keluarga pihak ayah tidak pernah mau tau. Aku harus menjadi IRT sebelum waktunya.  Mengurus adik yang rewel. Di Rumah lalai aja sedikit aku disiksa berdarah-darah oleh ibu, di sekolah, keluarga dan lingkungan selalu membullyku membuatku jadi tempremental sering membully orang lain mencaci, memaki, memfitnah, dan berteriak dan merusakkan barang sesuka hati.


"Ih, ! Diana, pergi dari sini badan kamu itu bau bangkai." pergi, pergi." Ujar teman sekolah.


"Diana, selain badanku yang bau, bajumu sempit bangat, sobek dimana-mana, gigimu kuning bangat ujar teman sebangku membuatku malu sampai ke ubun-ubun. Tidak ada yang mau duduk denganku.


"Diana bau, Diana bau." Aku pulang sambil menangis, mencari kerja apa aja yang penting halal, menjadi tukang cuci piring di Cafe, pulang. Ibu menyiksaku memakai senj4t4 t4jam habis-habisan.


"ADUH, IBU AMPUN BU, HUHU HU, DIANA TIDAK KELUYURAN, DIANA KERJA NYARI UANG BUAT BELI BAJU DAN SABUN AMPUN BU HUHUHU."


Ibu tidak pernah memperhatikan kebutuhan kami, kalau salah sedikit ibu akan memukul kami habis-habisan. Puncak dari kemarahan ku adalah, pada saat adik-adikku  ku kedapatan mencuri es krim di minimarket vidionya viral, aku jadi marah besar memukul mereka sampai babak belur itu kedapatan oleh ibu aku hampir mati berada di tangannya.


Waktu itu sudah tamat SMA, Aku di usir oleh Ibu, numpang dirumah saudara mereka mengusir ku. Dalam gelap gulita dengan sisa tabungan yang ada karena semasa sekolah aku tidak pernah jajan layaknya anak-anak lainnya. 


Ada teman yang mengajakku ke batam. Malam itu juga berangkat sayangnya tiba di bandara dia meninggalkan aku, aku sendiri di bandara.


Ku lihat di internet di HP yang diam-diam ku ambil dari tas seseorang sewaktu sekolah. Aku bukannya pencuri, tapi sangat ingin memiliki benda tersebut.


Hingga 1 tahun lamanya tak lupa aku mengirim uang ke kampung. Walau bagaimana pun seorang Ibu, tetaplah Ibuku, wanita yang telah melahirkanku, surga utamaku, karena Ibu, aku ada di dunia ini. 


Melalui rekening tetangga mereka minta setengah dari yang ku kirim. Tak mau di bodohi kukirim ATM ku ke mereka ku buat yang baru.


Tapi, mereka yang dulu mengasingkan kami, tiba-tiba datang mengaku saudara minta kirim uang bla bla tapi tidak aku gubris.


Mereka bukannya berterima kasih malah berfoya-foya. Aku pangkas jatah bulannya, Ibu marah melabeli ku anak tidak tau diri, anak tidak tau balas budi, anak durhaka dan lainnya. Kata teman sekos yang bernama Shela, kita harus hemat tidak boleh berfoya-foya, kita kudu menabung entah kita mau buka usaha atau atau melanjutkan pendidikan. Aku belum berpikir kesitu.


3 tahun berlalu, aku bertemu seorang pria, 2 tahun di atas aku, namanya Fernando, karyawan di sebuah perusahaan sekaligus kuliah di jurusan kedokteran di kota Batam. 


Dia tampan, wajahnya sejuk, enak dipandang, cerdas dan gentelmen. Sayangnya dia tertarik dengan Shela, teman sekos yang bertemu di pabrik. Mereka menjalani hubungan terang-terangan namun putus karena dia habis kontrak melanjutkan kuliah ke Jakarta.


Shela patah hati hebat, kinerjanya jadi buruk, karena shela selalu mendukung ku dalam hal apapun, giliran aku yang membantunya move on.

__ADS_1


Puncak kekesalanku adalah, ketika aku bertemu seorang pria bernama Faisal. Diam-diam menjalin hubungan dan ketemuan. Pada saat ingin menikah sayangnya Shela merebut Faisal dariku, Faisal bilang dia tidak berpacaran denganku hanya teman biasa. Lalu, hubungan dan perhatian dari masing-masing selamanya ini apa? Memang tidak pernah mengungkapkan hubungannya tapi aku pernah minta penjelasan hubungan ini, katanya, iya! Aku merasa di bohongi.


Mereka dekat membuatku cemburu. Shela yang menjadi primadona di perusahaan tempat kami kerja, merebut Faisal dan cintanya dariku. Shela merebut apa yang aku punya. 


Aku memilih pergi mencari kos yang lain. Terima kasih Shela berkatmu aku selalu mengingat yang mahakuasa dan melakukan apa yang kamu ucapkan dulu, kamu sahabat baik ku, guru untukku sekaligus teman brengs3k ku.


Aku memutuskan memperpanjang kontrak, tapi perusahaan tidak menerimaku dan malah menerima shela yang jelas sudah menikah, kenapa sudah menikah masih kerja? Apa suaminya pelit dan perhitungan sama seperti ayah dan saudaranya? entah tidak tau, lagi-lagi shela merebutnya.


 Memulai semuanya dari awal. Nasip baik menghampiriku, bekerja di perusahaan baru hingga bertemu dengan seseorang teman yang mengajakku ke sini dulu, dia sedang kesusahan mencari kerja setelah kehabisan kontrak. Dia minta maaf, menuntut Aku membantunya karena telah membawaku ke kota ini. tapi aku enggan memaafkan nya, aku anggap telah membayarnya dengan menelantarkan aku di bandara hingga dia bosan dan pulang. 


Kerja ditempat baru rasanya lebih menantang dari tempat lama, terutama sifat karyawannya yang suka membullyku seenak hati. Aku makin menjadi tempremental saling bully, fitnah, caci maki, menjadikan aku Babu mereka dalam pabrik dan akhirnya aku mewarisi sifat-sifat mereka dan di keluarkan.


Mencari yang lain lagi-lagi nasip baik menghampiriku. Tapi, aku menjadi terobsesi membenci beberapa orang. Aku tidak mau dibully lagi, aku mendekatkan semua orang mana yang lemah sekaligus ku jadikan babuku, kata-kata kasar, caci maki, bod*hpun tak luput keluar dari mulutku yang paling sering menjadi korban ku adalah Alda. Alda sangat bod*h, dungu, lelet, penurut dan lugu.


Hingga masuk karyawan baru, sedangkan Alda tidak mau lagi aku manfaatkan. menurut cerita, dia adik kandung Faisal Ramadhana iparnya Shela Cowok idaman ku dulu dan ipar rivalku Namanya Nazalia Nazeefa, nama yang indah sepertinya dia polos dan lugu.


Aku memanfaatkannya dan selalu mengancamnya. Dia mau aja sampai 6 bulan kemudian suda tidak mau, mendiamiku sampai kemarakanku sampai ke ubun-ubun. Hingga tak sabar lagi, aku akan memberikannya pelajaran, ancaman tak membuatnya gentar. Ku gunakan kekerasan yang tapi, si4lnya aku mudah dia kalahkan, tidak pernah membalas hanya mengelak, aku merasa orang bod*h dan kalah.


Besoknya masuk karyawan baru, Namanya Aira. Aira mengingatkan aku yang dulu yang badanku bau bangkai sama seperti Aira. Sering memakai masker. Aira ini sepertinya mudah di manfaatkan. Aku memanfaatkannya untuk mendekati Nana.


Aira menyusulku ke toilet menceritakan semua yang Nana katakan. Aku menjadi emosi, lagi ingin memberikan Nana pelajaran, tapi ternyata Nana tidak sepolos yang ku kira, dia licik 11 12 sama Shela. Tutur katanya tajam sukses menamparku dengan keras, tak terima, menggunakan kekerasan lagi tak lupa mengajak teman segengku untuk membuatnya jera ternyata Nana sangat mudah mengalahi kami.


1 vs 6. Nana ternyata pintar bela diri tapi tak pernah menunjukkan kekuatannya, dia menyembunyikan keahliannya hanya mengeluarkannya ketua mendesak. 


Tubuh Diana babak belur bersimbah darah dan teman gengnya sukses di kumpulan hanya sekali gerakan. Diana dibawa ke UKS ditangani oleh Dokter Fernando yang ternyata juga bertugas di perusahaan itu tampa sepengetahuan Diana. Ya, Diana tidak tau.


 Mereka di panggil pihak HRD. Di interogasi satu persatu, pihak perusahaan melakukan petisi siapa yang paling banyak suaranya dialah yang bertahan ternyata, Mana lah yang bertahan karena peroleh suara Nana, jauh lebih unggul dari Diana. Diana di keluarkan lagi. Diana merasa frustasi, di waktu sidang dia melihat dokter Fernando pujaan hatinya telah kembali lagi. Tapi, sayang nya Diana malah keluar. Mungkin sudah bukan rezekinya Diana di perusahaan itu dan takdir mereka hanya bertemu bukan untuk bersatu.


Lagi-lagi Tuhan memisahkan mereka, walau sudah di PHK, Diana tidak akan menyerah sampai di situ, walau usia sudah 25 tahun.  Diana berencana ingin melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi demi masa depan, martabat keluarga dan cintanya. Semua itu tak luput dari shela yang selalu mensupport nya.


Next....

__ADS_1


__ADS_2