
Merantau ke kepulauan riau
Part 76
"Tapi tidak apa-apa sih, semua berhak berpendapat. Aku akan tetap membujuk ryan agar mau menikah dengan tiara tidak rela rasanya ryan menikah dengan wanita lain. Nanti dia menguasai anak laki-laki ku sepenuhnya." Batin bu ratih.
***
Tidak mau terlalu lama berdiam diri di rumah mendengar papa dan mama membujuk ku menikahi anak temannya. Berangkat ke jakarta menjadi pilihanku. Aku sudah menghubungi teman-temanku untuk membantuku di sana.
Masalah pekerjaan sudah ada dari dosen dulu yang menempatkan aku kerja di perusahaan ternama.
Manusia itu harus mandiri badan boleh berkeluarga tapi uang tidak berkeluarga. Itu kata-kata dosenku dulu.
"Hallo! bro! "Gue sekarang sudah di terminal nih. Lo ada di rumah gak?"
"Ya, sudah gue kesana sekarang."
Memang bukan pertama kali menginjak kaki di kota ini sudah sering malah.
Kerja pertama kali bersaing dengan ribuan karyawan kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh karena di luar sana jutaan pelamar kerja mendambakan pekerjaan kita.
Akan banyak teman penjilat yang siap-siap berbuat dosa demi menyingkirkan kita.
Aku tidak akan mempedulikan itu. Aku fokus sama kerjaan aku agar tidak teledor.
Satu bulan bekerja di sini sama seperti di batam dulu banyak orang dari kalangan berbeda. Aku mulai dekat dengan komunitas anak minang lagi aku mengingat Nana.
Ada seorang gadis seumuran ku memikat perhatianku dia cantik dan terpelajar lagi-lagi aku teringat Nana.
Ingin menghubungi nya tapi aku sudah tidak memiliki nomornya lagi, kartu dan ponselku sudah ku ganti. Selama ku pergi pasti Nana kelimpungan mencari ku. Apa Nana peduli dengan kepergian ku?
***
Menurut teman, Layla nama gadis itu, sayangnya dia sudah ada yang punya akan menikah dalam waktu dekat. Aku terlambat. Tapi, tidak apa-apa toh janur kuning belum melengkung.
"Kamu dari padang, ya?" Ucapku kala itu
"iya. Kamu dari mana?"
"Aku dari depok. Boleh minta kontakmu?"
"Boleh kok, ini." Aku mencatat kontaknya selsai, malamnya kami saling mengirim pesan. Aku lihat profinya berteman dengan Nana tapi sudah lama pernah pula dia ikut berkomentar di setiap foto yang di unggah Nana. sekarang aku baru ngeh bisa bertemu dengan salah satu temannya yang rajin ngobrol di media sosial.
__ADS_1
Kami menjalani kedekatan sayangnya orangtuanya sakit menyuruhnya pulang tidak ke jakarta lagi karena harus mengurus orangtuanya.
"Orangtua ku sakit, aku harus pulang. Hanya aku anaknya yang lepas, yang lainnya berada di luar negeri dan sudah menikah tidak di izinkan suaminya merawat orangtuaku."
"Kapan kamu kesini lagi?"
"Sebentar kok. Aku kan mau kerja."
Gadis itu menurut aku kalah selangkah entah apa yang ku rasakan hingga Tiara menyusul ke jakarta mendekatiku kembali awalnya aku risih tapi mencoba menerimanya sebagai sahabat. Tidak ada niatku untuk menerima bujukan papa dan mama.
Terdengar kabar Layla kabur dari rumah. Orangtuanya tidak sakit justru ingin menentukan tanggal pernikahan tampa sepengetahuan nya.
Hingga terbesit keinginan ku mendekatinya dan melupakan Nana ternyata tidak semudah itu. Tidak semua wanita nyaman di hati. Pesona Nana kuat bangat tertempel di pikiranku.
Lihat sosial medianya tidak ada pembaruan status. Apa kabar Nana sekarang?
***
Waktu itu ada teman yang baru kembali dari padang juga minta bantuan aku memasukkan temannya yang akan bekerja disini. Entah apa yang ku pikirkan tidak berniat untuk menanyakan terangnya terlalu dalam menurut bos, temanku ini sangat teliti mencari calon karyawan terbukti semua pekerjaan orang yang dia masukkan kerja semua bagus. Tidak malas-malasan tidak pula mengganggu teman. Aku terima aja.
Ternyata teman yang dia masukkan itu Nana. Aku tersentak kaget Nana datang ke ruangan ku, tidak tau harus berbicara apa, apa ini yang namanya jodoh?. Nana datang ke perusahaan ini bersama Layla. Manurut cerita mereka berteman dekat dari kecil, Nana dan Layla sama-sama kabur dari kampung halaman karena tidak mau menikah dengan orang yang tidak dia sukai.
Tapi, kenapa Nana jadi sombong, ya? Apa dia tidak ingat aku? Setiap jam istirahat dan pulang aku selalu memperhatikan mereka berempat. Sayangnya Tiara memperlihatkan ketidak sukaannya pada Nana.
"Ryan! Apa Nana masih menjadi wanita yang ada di hatimu sekarang? Lihatlah, dia sombong begitu mana ada mengacuhkan kita. Kamu yang memasukkan dia, tapi lihat, dia tidak menganggap mu ada sama sekali. Aku kasihan padamu."
"Kita ini kan teman sekampusnya. Artinya kita lebih dekat dari keluarga."
"Biarkan saja dulu. Kamu ini kenapa kok seperti tidak suka pada dia?"
"Bukannya tidak suka hanya saja dia tidak mengacuhkan kita."
Benar kata tiara, Nana tidak mengacuhkan kami. Apa Nana sudah melupakan kami? Sekarang tunggu dia fokus aja sama kerjaannya dulu setelah itu baru aku dekatin kembali. Tapi, apa hubungannya sama hanafi ya? Sepertinya hanafi menaruh hati padanya. Aku punya saingan.
***
Meliahat Nana, tiara semakin mendekatkan dirinya padaku. Katanya tiara anak baik anak yang sholeh kenapa mau dekat-dekat dengan yang bukan muhrim mahram, mencurigakan.
"Ryan! Kita makan, yuk!"
"Ayok lah."
Tiba di restoran menjelang pramusaji menyiapkan makanan aku melihat pembaruan status ternyata sudah 1 minggu Nana disni aku tidak tau karena jarang aktif. Tiara kesal mencoba mengalihkan perhatianku mulai menumpahkan air minum, kecap dan saos membuatku kesal. Lihat kiri kanan aku melihat seperti ada sosok Nana yang baru keluar dari restoran ini. Apa Nana melihat kami, ya?
__ADS_1
"Kenapa, tia? Kok semua yang ada di meja ini kamu jatuhkan?"
"Ya maaf, biar aku beresin."
Tidak usah di beresin, mbak! Biar kami aja."
"Makasih, gak apa-apa biar saya aja yang beresin karena jatuhnya oleh saya."
Apa tiara sengaja mengalihkan perhatianku karena melihat Nana? Ke kanak-kanakan bangat. Apa seperti ini sifat orang tidak pernah pacaran? Cemburuannya berlebihan.
"Apa kamu sengaja menjatuhkan air dan botol-botol itu?"
"Maksud kamu? Mana pula sengaja ngapain juga aku melakukan itu."
Tring tring
"Mama." Malas bangga ngangkat nya ku biarkan aja hingga tiara mengangkat hp ku.
"Hallo! Tante. Apa kabar? Ini, kami berdua sedang istirahat makan d8 restoran."
"Kabar Alhamdulillah baik. Kenapa ryan tidak mengalah telpon tante ya? Mana ryan? Tidak sopan bangat tante mengubungi dia, dia selalu mematikan."
"Ini dia." Tiara memberikan hp padaku.
"Ryan! Kamu ini kenapa? Orangtua sedang menghubungi mu tidak kamu angkat. Kenapa kamu?"
"Tidak apa-apa ma."
"Ryan! Dengerin mama. Mumpung kalian sedang di Jakarta bekerja di perusahaan yang sama. Jaga tiara ya? Jaga hati untuk tiara. Jangan bikin tiara sakit hati."
"Iya, ma!"
"Tenang aja tante. Aku akan menjaga ryan juga."
"Nah, gitu dong. Seperti nya kalian sudah mulai dekat lagi sudah ada sinyal-sinyalnya gitu. Jangan lama-lamanya ya! Nanti berubah pikiran lagi."
"Insyaallah tante, jodoh tidak akan kemana. Terima kasih tante telah merestui kami dekat. Tapi, sepertinya hati ryan masih beku."
"Tidak apa-apa nanti akan cair sendiri. Toh, sekeras nya batu akan pecah juga oleh manusia."
"Y, sudah. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
__ADS_1
Tit
Tuh mama mu sangat merestui hubungan kita. Orangyua kita percaya hanya kita ini bisa menjadi menantu terbaik buat mereka. Ingat, surga kamu pada ibumu loh.