
Hai! Nana,"
"Alda! Ya ampun, kamu datang juga! terima kasih banyak udah memberi Informasi loker padaku." Ya, berkata Alda lah yang membuat aku mnginjak kaki di gedung ini.
"Iya, sama-sama! Oh, ya gimana pekerjaanmu kemaren!"
"Alhamdulillah lancar." ya, gak mungkin Aku mengatakan yang sejujurnya.
'Beneran?"
"Benar kok! Kamu masuk pagi juga?"
"Iya, kita barengan masuknya. Nanti biar Aku yang mengajarimu cara mengerjakannya dengan baik dan benar."
"Baiklah!"
Semingu masuk pagi seminggu masuk malam dan seminggu pula masuk second. Dijalani dengan setulus hati, tidak mengeluh walau capek, tidak melanggar protokol perusahaan.
Minggu kedua masuk malam, kok tidak ada tidur sama sekali ya Allah, tidak terbiasa dengan begadang seperti ini, mata ngantuk, kepala pusing, ingin pingsan. Tapi, Nana tidak boleh lemah, Aku harus kuat. Mending ke toilet dulu untuk mencuci muka.
Astagfirullah, ini ada apa sih kok pada tekapar?" masih sadar gak sih ini oran?" Mereka masih bernafas, apa mereka tidur ya? Mending aku ikut aja deh.
1 jam lamanya kami di bangun kan oleh leader yang mengawas, untung gak di siram pakai air segayung. Mendingan lah menghilangkan ngantuk walau sekejap. Ngantri mencuci muka, memakai masker dan kembali bekerja. Tapi mataku memandang kalau mereka tidak ngantuk, apa sudah tidur ya tadi?" Batin Nana.
"Cie, Nana, lo tidur di toilet, ya?" loh, dimana Alda tau aku tidur di toilet? Apa alda juga ada di toilet? Kok aku gak tau?
"Iya, kok lo tau?"
"Iya, udah jadi kebiasaan karyawan mah, kita di bolehkan tidur sejam aja."
"Oh, gitu, ya? baru tau,"
"Kamu gak nanya sih?"
"Kami udah tidur? kok aku gak lihat kamu di toilet!"
"Udah dong! Aku tidurnya di UKS.
" Kok, gak bilang aku?"
"Mana boleh!'
Minggu ketiga masuk second, Bang Faisal siap siaga mengantar aku ke lokasi. Sebenarnya, aku tidak enak mengangu jam tidur orang. Tapi, Bang Faisal memaksa takut Anak perempuan keluar malam kenapa-kenapa. Apa aku seterusnya merepotkan Banh Faisal?"
Hingga sebulan kerja tanggal 1 nerima gaji. 3 juta/bulan sangat banyak bagiku, baru kali ini aku kerja nerima gaji biasanya tenagaku dipaksa gratis aja oleh Ibu.
Tak lupa mentransfer ke Ibu, aku ingin Ibu mencicipi jerih payahku. Karena sekaranglah saatnya benar-benar membalas jasa Ibu sebelum baktiku beralih ke seseorang kelak.
Tring tring
"Hallo!"
"Hallo, Nana! Kamu ada acara gak? kalau gak! Kita jalan yuk!
" Insyaallah, tidak, boleh kemana ?"
"Ke Nagoya!"
"Ke, Nagoya? wah, boleh juga!"
"Ya, Di bolehkan! Gak, sama orang rumah kita jalan-jalan?"
"Insyaallah, boleh kok Aku udah sering jalan-jalan disini mah."
"Ya, Baguslah, Artinya lo gak di kekang mojok di rumah aja, hahha,"
"Mojok, gimana? aku udah terbiasa jalan-jalan, jadi mereka enjoy aja, aku bukanlah anak rumahan yang banyak di rumah dan di rumah, dunia itu luas, ngapain di rumah aja, rugi bangat tauk."
"Baik, lah, siapa tau kita dapat jodoh disana." Heheh!
"Ah, kamu ini, aku belum kepikiran kesana."
"Ya, sudah kita jalan aja, tubuh ini butuh hiburan loh, masa tiap hari kerja tubuh ini gak dihiburkan."
"Ok, deh, kapan berangkat?"
"Pukul 08.00wib nanti."
Ok, Aku mandi dulu, kamu punya motor gak? Jangan lupa jemput aku!
__ADS_1
"Ya, sudah."
Kali ini Alda mengajakku piknik ke Nagoya, setahuku itu sebuah nama kota di Jepang. Tapi, Nama Nagoya juga ada di Negara tercinta ini yaitu, di kota Batam Kepulauan Riau, sumatra. Baiklah, selama disini akan aku jelajari setiap sudut negeri ini.
Sambil menungu, mandi dan runitinas segala macam, Alda sudah sampai aku sudah selesai. Tak perlu lama-lama dan mewah yang penting badan dan baju bersih, visual bagus itu sudah cukup.
Tring tring
"Hallo! Alda, kamu dimana?" tepat pukul 08.00wib Alda menghubungi ku.
"Aku udah di jembatan SESE nih! Kamu datang aja kesini ya, Aku tunggu!
"Naiklah ke atas tidak jauh dari gereja, kita harus minta izin sama orang rumah!" Aku harus mengedepan kan adab dari pada ego sendiri.
"Ya, sudah."
"Nah, tu dia, Masuk dulu! Da."
"Iya, Alda masuk dan menyapa semuanya orang rumah, Alda sepertinya tidak canggung tidak seperti Alya dan Indira, ah dimana kedua orang itu sekarang? Apa masih ingat denganku? Entahlah!
"Assalamualaikum, Kak! Bang!
"Waalaikumsalam! temannya Nana ya?" sapa Bang Faisal.
"Ya, Bang."
"Oh, ya Bang, Kak, ini Alda, anak supir taksi itu!
"Oh, ini dia! Ayahmu apa kabar?"
"kabar baik, Alhamdulillah."
"Ternyata masih ingat dengan kami! Kalau gitu sampaikan terimakasih pada Ayah karena sudah bersedia membantu Nana, dan untukmu juga ya!"
"Iya, sama-sama."
"Oh, ya! Bang kak! Kami minta izin mau ke Nagoya ya!"
"Iya, hati-hati ya!"
"Ya, Ayok! Da."
"Ayok!
Nagoya
Uniknya dulu, aku tidak menyadari bahwa Bandara Hang Nadim berada di Nagoya.
Benar-benar indah kota yang satu ini, sebagai pusat pemerintahan, administrasi dan pusat bisnis semua berkumpul di Nagoya. Gedung-gedung menjulang tinggi Serasa berada di Jepang. Restoran yang menjual berbagai makanan laut. Pusat kota ini juga berdekatan dengan Singapura dan malaysia , perairan nya di gunakan untuk perdagangan lintas internasional ketiga negara tersebut.
"Na, kita kemana dulu nih, Apa masuk mall-mall apa makan dulu? Kamu udah makan apa belum?"
"Aku, udah makan, Da." Kalau kamu mau makan ya, sudah Aku temenin kamu!
"Aku juga udah pagi tadi, ya sudah kita jelajahi dulu daerah sini yuk!"
"Ayok!"
Sejam lamanya mataku tak puas memandang aneka barang-barang branded di sekitar ini, harganya fastastis tidak mendukung kantong. 1 harga baju setara gaji sebulan, beli baju ya gak makan selama sebulan. Ini belanjanya kelas sosialita.
"Duduk dulu, Da."
"Ayok!"
"Na, lihat tuh, barangnya bagus-bagus bangga, pengen beli." Alda sepertinya sangat ingin belanja di kawasan elit ini tapi sayang gaji setahun itu tak cukup membeli baju, tas, dan sepatu.
"Beli lah,"
"Nanti aja lah Na, kita puasin jalan-jalan dulu!'
"Aku, ikut aja"
"Bagus kan, Na?"
"Bagus bangat, serasa berada di luar negeri!"
"Iya Na, serasa kayak di malaysia, singapura, sama jepang ya? Karena kota ini menjadi pesaing bisnis singapura dan malaysia." bukan hanya Alda, tapi semua pengunjung juga pasti takjub melihat ciptaan tuhan lewat kaki tangan dan otak manusia yang satu ini.
"Aku, juga merasa hal yang sama, lihat kiri kanan banyak orang Asing sepertinya bukan perantau, bule, mulai dari kulit sawo matang, putih cerah kemerahan, kuning langsat, mata sipit, bergamis, sorban di kepala dan kulit hitam."
__ADS_1
"Iya, Na, berarti kota ini udah gelar international bangat ya, mereka pasti kebanyakan nyebrang dari Malasia, singapura dan vietnam.
"Iya, kebanyakan dari sana. Tapi, dari pulau lain juga banyak kok, Ayok! kita jalan lagi."
" Baiklah."
Harbour Bay
Mengambil gambar di tiap tempat menguploadnya ke sosial media. Sejam kemudian tibalah kami di sebuah Harbour Bay. Di sini, banyak wisata perbelanjaannya, kuliner dan bisnis besar-besaran. Lokasi ini di penuhi wisatawan mancanegara yang menyebrang dari 2 negara tersebut. Padat, sesak dan merasa kerdil di antara orang - orang Asing.
Mereka lomba berbelanja dan segala macam, menelusuri sudut kota industri ini. Dimana singgah disitu bermalam, karena disetiap tempat ada hotelnya sendiri untuk parawisata. Blusukan ke setiap kota benar-benar masa muda yang indah yang kita jalani. Pebisnis muda pun sangat menikmati me time ya.
"Makan yuk! lapar nih."
"Ayo! Da."
"Dimana bagusnya Nih?"
"kita cari yang sepi aja!"
"Kenapa yang sepi!"
"Biar mereka gak merasa Iba pada diri sendiri karena sedikit yang menempati restorannya."
"Oh, gitu! Ternyata Nana ini sangat perhatian ya, ku kira karena gak mau ngantri tadi."
"Enggak! Da." Mereka yang ramai itu karena restoran bintang lima, lokasi menghadap ke laut, nampak kapal lokal dan Asing, Dua Negara Itu. Dengan lokasi yang strategis yang membuat pengunjung ngantri ditempat itu. Yang menjual makanan nusantara dan Asing harga fantastis kalau rasa tergantung selera. Mending kita cari tempat yang sepi aja membantu mereka untuk melariskan dagangannya, dengan adanya kita, satu persatu pelanggan lain akan datang memenuhi restoran kecil."
"Tuh, kan, kamu ini perhatian bangat, Ibumu pasti sering mengajakmu cerita ya?"
"Enggak juga kok, Aku tau karena sering membaca cerita dan berita aja."
"Selain suka piknik, kamu suka baca juga ya?"
"Iya, Da, piknik dan membaca itu dua hal yang tak terpisahkan. Piknik untuk menjelajahi sudut negeri bisa membantu kita untuk menyehatkan badan, menambah ilmu pengetahuan dan dengan berpiknik, kita akan menemukan jutaan hal dan masalah yang kita lihat, kita akan mencari sendiri cara menyekesaikan masalah hingga menciptakan kedewasaan dalam segala sikap. Sama dengan membaca buku sama-sama bisa berpetualang dengan hanya membaca.
"Aku, setuju dengan kata-katamu tadi, Na. sejauh pengalaman Aku, orang yang suka berpiknik, dan merantau itu yang lebih mandiri dan dewasa dalam bersikap, mereka yang anak rumahan lebih manja, suka berdebat dan menangis seperti orang kurang ilmu aja."
Bukan berarti mereka yang Anak rumahan seperti itu semua, hanya sebagian aja itu hanya mereka yanh tak memanfaatkan waktu di rumah untuk banyak membaca.
"Ya gitu lah."
"Kita makan seafood aja! Na."
" Sate padang dan es jagung juga! Da."
"Rakus kita ya!"
"Usia muda, Da!"
"Oh, iya, usia muda usia sedang rakus makan."
"Setelah makan kita telusuri setiap tempat di sekitar ini ya! Da! Biasa ngambil gambar."
"Ok."
Selesai makan dan istirahat sejenak, sholat dan melanjutkan perjalanan tak terasa udah jam 15.00wib padahal belum belanja. Lekas ngambil foto termasuk di seberang Harbour Bay terdapat rumah panggung masyarakat yang mendiaminya kebanyakan Suku melayu Asli batam. Entah kenapa pribumi di disini tergeser tempat tinggal di tanah kelahiran sendiri. Pas kami tanya, mereka juga punya usaha yang tak kalah fantastis sama perusahaan Asing. Berarti mereka hanya hidup sederhana tidak mau menghamburkan harta.
Masuk kedalam pusat perbelanjaan Mall 21 Matahari Nagoya hill. Sangat besar memang. Kalau ingin mengikuti *****, ingin membeli semua yang ada disini, hanya uang gak ada, ada uang ratusan juta enak buat biaya kuliah mobil, usaha, atau umroh. Tak lupa aku membeli baju, tas, dan sepatu buat Ibu, Angga, dan Fatih. Nanti Bang Faisal marah gak ya, Aku berfoya-foya?"
Tak lupa membeli Makanan dan buah-buahan untuk orang rumah. Aku kalau ada uang tidak perhitungan kok tapi tak boros juga, Aku bisa mengelola keuangan tanpa di kasih ke saudara yang bisa dia habiskan sendiri dan orangtua.
"Banyak bangat belanjaan! mu,Da."
"Iya, Na, udah setahun ini gak belanja, mana ada orang di kota ini yang betah gak belanja selama setahun selain, Aku."
"Waktu libur, kemana aja?"
"Tidur aja di rumah, malas keluar sendiri, malas juga bareng teman, mereka suka hutang sesuka hati dan tidak akan pernah menggantinya setelah itu mereka menjelekkan, membully dan membabukan saya."
"Gitu amat punya teman, Da! Lalu kamu balas gak?"
"Ya, enggak, diam aja, kalau di balas suaranya sekencang petir, gemetarnya itu sampai ke ubun-ubun."
"Kalau gitu enakan mereka membully, mu Da! jadi setiap hari mereka kayak gitu?"
"Sedang enggak mood aja!"
"Oh, kiran tiap hari."
__ADS_1
Next....