
Merantau ke kepulauan Riau
Part 60.
"Kapan ya? Tapi penuhi dulu syarat dariku kemaren! Gimana!"
Ryan terdiam cukup lama, lagi-lagi keberatan dengan syarat yang kuberikan. Kata orang, jadi perempuan jangan memberatkan calon suami dengan mahar yang banyak dan nafkah yang tidak sesuai kemampuan. Sebab sebaik-baiknya perempuan yang lebih murah maharnya, sudah menikah tidak menuntut nafkah yang di luar kemampuannya.
Hei, bung. Kita ini sudah hidup di zaman berapa? Aku memang tidak meminta mahar yang tinggi. Toh, apa salahnya ajukan syarat untuk mengetes apakah dia mau berjuang untuk aku atau tidak. Kalau dia mencintai kita, di akan memperjuangkan apa yang wanitanya mau. Bukan berarti mereka yang kurang mampu tidak bisa berjuang. Kalau sebaliknya, dia akan berkata wanita itu bukan dia aja, banyak yang lainnya.
Memang tidak bisa di ramal mereka yang sukses berjuang untuk wanitanya di awal sebelum menikah akan tetap menjadi lelaki yang bertanggung jawab begitupun sebaliknya.
Begitu juga mereka yang gagal berjuang di awal pernikahan mereka akan gagal lagi bertanggung jawab ketika sudah menikah nanti. Rumah tangga gonjang- ganjing, biaya hidup semakin besar. Tanggung jawab kurang, istri dan anak yang jadi korban. Allah memang sudah menjamin rezeki untuk semua makhluk hidup. Tapi, sesuai kemampuannya juga, harus berusaha, kalau tidak. ya tidak ada rezeki. Allah juga tidak akan menerjunkan uang dari langit. Jadi, ya susahnya double.
Akan tetapi ini aku lakukan untuk melindungi diriku sendiri dari lelaki yang salah setidaknya susahnya tidak double.
Memang harus hati-hati mencari lelaki, cinta bukanlah segalanya. Menikah bagiku cukup sekali untuk seumur hidup. Harus di pikir matang-matang sebelum terjadi. Tapi, kalau pernikahannya sudah terjadi tidak sesuai dengan ke hendak hati. Netizen bilang "sabar, itu ujian dalam rumah tangga. Semuanya sudah menjadi takdir yang harus di jalani." Membosankan.
Bagiku memang sudah menjadi takdir sebelum itu pilihan kita. Selagi kita bisa memilih, kenapa tidak memilih. dengan mengasah skill, bekerja dulu, menabung untuk hari esok. Uang memang bisa di cari, semua itu tidak semudah karangan orang di novel. Tapi, kembali lagi ke atas, kalau terjadi tidak sesuai ke hendak hati. Ya, tuhan lah yang tau, yang penting aku sudah berusaha memilih yang terbaik.
Jangan berlindung di balik kata TAKDIR atas semua kesalahan yang kita buat.
***
Sudah seminggu lama nya semenjak obrolannya di taman bunga, hubungan mereka menjadi renggang. Ryan sulit di hubungi. Telpon tidak di angkat, WA tidak di balas. Nana merasa, "Apa Ryan menjauhinya karena syarat di ajukan terlalu berat? Huh, kok cemen hanya. Belum berperang sudah kalah."
"Kok , temanmu itu tidak pernah datang lagi, ya, Na?" Ujar Ibu, selama Ryan sering ke sini. Ryan pintar mengambil hati ibu dan yang lainnya.
"Tidak tau, Bu. Sibuk sama kerjaannya mungkin."
"Ryan, sudah kerja?"
__ADS_1
"Belum tau. Terakhir kali, dia sibuk nyari kerjaan kesana-kemari kemari." Ujar Nana berbohong tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Malam hari, Nana gelisah tidur mutar kanan-mutar kiri seperti jarum jam. Perasaan yang sulit di artikan, antara rindu dan cemburu. Pandangan kosong ke atas lihat WA, tidak ada status atau pesan dari Ryan. Lihat Aplikasi logo biru tidak ada pembaruan status.
"Duh, Ryan kemana ya? Kok menghilang tanpa jejak. Ya, allah. Dadaku sesak, kenapa ini? Tidak bisa aku seperti ini." Nana meremas dadanya. "Huh, kenapa pedih bangat ya?"
"Duh, Ryan. Balas WA ku. Kalau kamu menghilang karena keberatan dengan syarat yang ku ajukan, aku bersedia menarik syarat itu. Aku tidak akan memberatkan mu. Aku juga tidak mau di cap perempuan yang tidak baik." Batin Nana.
***
"Ryan, Alhamdulillah. Kita bertemu, kamu kemana aja? Tidak menghubungi ku? Ryan aku minta maaf tidak akan memberatkan mu. Percayalah, jangan cuek kan aku.
Namun Ryan hanya diam
Nana memegang tangan Ryan erat seperti tidak mau kehilangan. "Ryan, kok kamu diam? Ibu dan yang lainnya menanyai mu loh, sudah dua minggu tidak ke rumah."
Ryan diam dan pergi
**"
"Astagfirullah. Hanya mimpi." Nana bangun dari alam mimpi, perasaan tak menentu, keringat dingin bercucuran, dada yang terasa panas dan dentuman jantung yang cepat seperti habis maraton. "Astagfirullahal'azim, Astagfirullahal'azim, Astagfirullahal'azim.
"Aku sampai keringatan? Jarang bangat keringatan malam-malam begini. Jantungku rasanya berdentum hebat bangat."
"Di mimpi Ryan pergi? Pergi kemana? Itu seperti nyata. Entah kenapa perasaanku tidak karuan, rasa rindu yang mendera hati, bayangan wajahnya, tutur katanya lembut tapi tegas. Ryan aku kangen kamu. Kamu kemana?"
"Ryan, aku kangen kamu." Batin Nana, sambil mengambil ponsel mengecek ternyata zonk.
Lama termenung, Nana memilih menunaikan sholat malam minta pada tuhan agar di berikan jodoh yang baik. Kalau jodohnya jauh dekatkan lah, kalau dekat persatukanlah. Nana tidak sanggup menahan rindu sendirian.
"Kata orang kalau kita merindukan seseorang, apa seseorang itu merindukan kita juga?" Entahlah, hanya orang itu dan tuhan lah yang tau. Mending besok aku cari Ryan ke kosnya.
__ADS_1
***
Malam berganti siang, Nana masih berkutat di kamar, mengecek seluruh sosial media teman-teman Ryan. Apakah Ryan meninggalkan jejak di salah satu sosmed temanya. Ternyata zonk.
Nana memilih keluar sendirian mulai ke kos Ryan ternyata zonk. Kata pemilik kos, Ryan sudah pindah tapi tidak tau kemana. Bertemu. Fero, Fero pun tidak tau temannya kemana.
"Ada apa, Na!" Ujar Fero.
"Kamu tau, ryan kemana?" Nana memandang Fero dalam-dalam berharap ada secercah harapan.
"Tidak tau kemana, memangnya dia pergi gak bilang-bilang."
"Benaran, kamu tidak tau Ryan kemana? Kalian kan dekat, satu lokal, tetanggaan lagi kok gak tau dia kemana?"
"Sumpah, Na. Gak tau bangat. Kita teman-temanya tidak ada yang tau dia kemana. Memangnya kalian berantam?"
"Tidak, ya sudah kalau gitu. Maaf udah mengganggu waktunya. Aku pergi dulu.
Sudah semua teman-teman Ryan yang dia temui mereka tidak tau kemana. Termasuk teman wanitanya.
Ingin bertanya pada Tiara tapi segan
Pergi ke pantai Ranoh, Marina dan Taman bunga dekat mall top 100. Nana hanya melamun mengingat kenangan indah mereka berdua ketiga piknik dan merencanakan masa depan.
"Kemana kamu ryan aku rindu. Angin sampai kan salam ku pada hamba tuhan yang satu ini. Ryan."
Tulis Nana di buku diary.
Ryan kemana ya ?
Next dulu
__ADS_1