Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Perjodohan Ryan dan Tiara


__ADS_3

Merantau ke kepulauan Riau


Part 74


POV TIARA


Setelah berada di depok kampung halaman kami tak sabar rasanya membahas perjodohan itu. Rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Kata orang kalau mau mengambil hati orang yang kita cinta, dekati dulu orang yang terkasihnya. Ya, keluarga nya.


Lihat kiri kanan, sudah banyak perubahan kampung ini. Pembangunan sudah merata, jarang terlihat gubuk derita seperti 20 tahun yang lalu. Ah, ternyata aku sudah tua.


Tiara membersihkan rumahnya yang sudah lama tidak di sentuh. "Ma! Kapan kita ke rumah, ryan?"


Ibumenoleh. "Kamu menerima perjodohan itu? Bagaimana dengan ryan?"


"Ryan masih diam, ma. Belum bicara apa-apa."


Ibu menyudahi pekerjaannya. "Loh! Kalian ini bagaimana? "


"Entahlah, ma!"


"Apa Ryan tidak menyetujui perjodohan kalian?"


"Itu dia, entah setuju entah tidak. Kita bicarakan sama keluarga nya dulu. Kalau tidak terima, aku akan cepat mencari yang lain. Aku juga butuh kepastian."


"Usahakan jodoh, Tiara! kita sudah tau dia siapa, sifatnya bagaimana. Tidak usah mencari yang baru yang tidak tau sifatnya." Ujar ayah tiara.


Entah dari mana ayahnya datang, setiba di rumah langsung keluar mungkin bersilaturahmi pada tetangga.


"Iya, mama maunya begitu. Tapi, ryan sepertinya tidak setuju. Lihat aja muka Tiara lesu aja. Filling seorang ibu untuk anaknya itu tidak pernah salah."


Ayah menoleh ke arahku. "Benar ryan tidak setuju? Apa alasannya? Apa kurangnya tiara? Sudah kita didik dengan baik agar tidak berpacaran dan salah pergaulan. Apa lagi yang di cari ryan?"


"Itu, tiara aja tidak tau. Malam nanti kita kerumahnya. Kita harus pastikan ujung perjodohan itu.


***


Malam berlalu, ibu sudah menghubungi ibunya Ryan kami akan bertamu malam ini. Aneh memang pihak perempuan pula yang bertamu. Sebelum pergi kami sempat makan dulu, sebab tidak semua tuan rumah mengerti etika menyambut tamu.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"waalaikumsalam. Ayo! Masuk!"


Rumah ryan juga sudah berubah banyak yang merantau kalau panjang umur tabungannya di bawa pulang ke kampung halaman, rumahnya sudah berubah.


"Kak tiara!" Sapa Anya adiknya ryan.


"Anya! Kamu udah besar aja. Dulu masih sangat kecil." ujar ibu mengusap kepala anya.


Di ruang tamu


Tante ratih menyiapkan minuman dan cemilan "Silahlan di makan!"


"Gimana kuliah kamu Tia! Udah selesai?"


"Alhamdulillah, sudah tante."


"Bagaimana kabarnya ayah ryan?" Ujar ayah.


"Masih di rumah sakit. Ada saudara yang sedang menjenguknya.


"Begini jeng. Kita kesini ingin membicarakan perjodohan mereka. Apa ryan sudah membuat keputusannya?"


"Ryan sedang keluar. Loh, kok tanya kami! Mereka yang menjalaninya. Tiara, ryan bilang apa aja ke kamu?"


Semua mata memandang ke arah tiara, orangtuanya kaget tak percaya ucapan putrinya. Ryan, lelaki yang di idam-idamkan untuk menjadi menantu menolak putrinya. Hatinya masih bertanya-tanya, apa kurang putrinya?


"Ryan menolak perjodohan ini? Tapi apa alasannya?" Ujar tante ratih menatap kami satu persatu.


"Begini, bunda ryan. Coba tanya anaknya! Kenapa ryan menolak menikah dengan Tiara? "


"Ryannya sedang keluar. Saya telpon dulu."


Tit tit


"Hallo! ryan. Pulang sebentar" Tak butuh waktu lama ryan sudah sampai di rumah.


"Ryan! Duduk dulu."


"Kamu menolak perjodohan ini. Apa alasannya?"


"Jadi, ibu menyuruhku pulang untuk membicarakan hal ini?"

__ADS_1


"Iya, Nak, ryan. Kami butuh kepastian. Kasihan tiara di gantung tidak memakai tali. Tiara sudah bilang kamu menolak perjodohan ini apa alasannya?"


"Baiklah. Saya jawab to the poin aja ya. Pertama kita sudah bersahabat sejak kecil, seumuran, satu sekolah, bahkan satu kampus. Sekarang sudah berada di kampung halaman. Saya tidak bisa menikah dengan orang terdekat."


"Yang kedua, sejak dulu saya sudah menolak perjodohan ini dengan alasan di atas. Tapi, seperti nya Tiara tidak pernah mundur. Saya tau tiara anak baik. Tapi, maaf. Om! Tante! Tia! Sekali lagi saya bilang saya menolak perjodohan ini."


"Yang ketiga, saya sudah memiliki calon sendiri. Jauh sebelum perjodohan ini. Itu aja."


Jedarrrr


Alasan ryan menolak ku karena tidak bisa menikah dengan orang dekat dan sudah ada wanita lain sebelum aku? Tapi siapa? Nana? Amelia? Amelia kurasa tidak mungkin dia sudah tunangan lalu siapa lagi? Ya, allah sakit bangat.


Katanya hati tidak bisa di paksa, artinya aku yang selama ini memaksanya untuk menerima ku. Apa aku egois? Tapi, aku memperjuangkan jodohku. Tapi, kalau ryan bukan jodohku. Ya, sudah, aku terima. Mungkin kita bukanlah yang terbaik. Aku yakin jodoh pasti bertemu entah kapan itu tidak pernah ku tau.


Semua pasang mata memandang ryan "Ryan! Ujar ayah yang kecewa dengan keputusan ryan. Selama ini kalian dekat sama sekali tidak tertarik pada tiara? Alasannya tidak bisa menikah dengan orang terdekat yang kedua sudah punya calon sebelum tiara? Ryan, asal kamu tau. Kita sudah percaya pada kamu, sudah memperhatikan mu dari dulu."


Tiara kami didik dengan penuh kelembutan agar menular sifat lembut kami padanya ke suami ya kelak. Kami batasi pergaulan nya agar tidak berpacaran tidak pula sembarangan mencari teman agar tubuhnya tetap suci untuk suaminya kelak. Tiara ikuti itu karena kami sudah berhasil kami didik menjadi anak yang berbakti agar tertular baktinya pada suaminya kelak. Tapi, ada orang yang menolak nya.


Tapi, alsanmu cuma dua. Ya, sudah. Kalau Nak ryan tidak mau ya sudah kami tidak bisa memaksa. Tiara bisa mencari yang lain, yang tulus mau menerima nya apa adanya. Kalau begitu. Kami permisi dulu. Assalamualaikum."


"Tunggu dulu!" Tante ratih menghalangi kami pergi tapi tetap memaksa jalan. Hati ayah sedang terluka butuh waktu lama menyendiri untuk memulihkan emosinya.


"Sudan, ma!" Ujar ryan.


"Ryan! Wanita seperti apa yang kamu mau?"


"Sudah, ma! Jangan ikut campur sama pilihan ku. Sekarang tiara sudah aman, dia bisa mencari yang lebih baik dariku."


***


Perasaan ku hancur bangat. Baru kali ini merasa sakit bangat. Ayah dan ibu masih berkutat di kamar. Akhirnya aku menyerah juga memperjuangkan satu hati yang beku. Entah apa yang ada di diri wanita itu? Kok bisa-bisanya ryan bucin padanya.


Untuk menghilangkan sakit hati mending aku ke jakarta aja, bekerja dan mencari jodoh.


"Ma! Pa! Tiara berangkat dulu, ya!" Aku menyalami ayah dan ibu.


"Kamu pergi lagi? Walaupun kami didik kamu menjadi anak rumahan. Tapi, kakinya tetap gatal ingin jalan."


"Selagi ada kaki kenapa di anggurin, ma."


"Ya, sudah hati-hati di jalan." ujar ayah.

__ADS_1


Papa dan mama tidak tau aku akan bekerja di kantor tempat ryan melamar kerja. Baiklah kita lihat siapa yang akan duluan sampai di jakarta. Kita bertemu lagi. Aku akan berjuang untuk mendapatkan mu kembali. Aku tidak rela kamu di miliki wanita lain.


Next


__ADS_2